
Dean sedang sibuk mengamati setiap gambar yang muncul di laptopnya. Dengan ekspresi wajah yang serius dan kening yang berkerut menandakan bahwa ia benar benar sedang berfikir keras saat ini.
"Apa yang kau lihat dari tadi?" tanya Aldric yang sudah lebih dari satu jam menunggu Dean berbicara. "Hei, aku tidak digaji hanya untuk berdiam diri. Setidaknya ajaknya aku berbicara, Aish tolong ingatkan aku bahwa pria di depanku ini adalah bosku" keluh Aldric kesal sembari menggaruk kepalanya.
"Berhenti mengeluh, sekarang bantu aku memilihnya" ujar Dean. Aldric menghela nafas dan dengan berat menghampiri Dean.
"Apa ini? sedari tadi kau hanya mengamati ini?" tanya Aldric terkejut. Pasalnya yang ia lihat di laptop Dean adalah gambar pantai dan villa. "Kau ingin membangun hotel disana?" tanya Aldric heran.
"Tidak, aku ingin mengajak Sena liburan" jawab Dean. Aldric menatap Dean dengan kedua mata lebarnya.
"Apa dugaan ku benar? wah kau benar benar sudah jatuh cinta padanya ya?" tanya Aldric menggoda. "Aku akan tertawa keras sekarang" ucap Aldric yang setelah itu benar benar tertawa.
"Hei apa kau mau mati?!" teriak Dean.
"Tidak, tapi apa kau bisa menyangkalnya kali ini?" tanya Aldric. Dean hanya melengos dan mengabaikan pertanyaan dari Aldric.
"Cepatlah bantu aku" ucap Dean kesal.
"Baik baik" Aldric mulai mengamati setiap gambar dan memperhatikannya. Ia menunjuk satu gambar. "Ini bagus" ujar Aldric. Dean mengangguk setuju.
"Baiklah, kita berangkat besok" ujar Dean.
"Kenapa tidak di villa Timur saja?" tanya Aldric.
"Aku tidak akan pernah membawa Sena kesana" jawab Dean.
"Kau takut dia mengetahuinya?" tanya Aldric.
"Tidak juga. Aku hanya tidak ingin orang lain mengetahuinya" jawab Dean.
"Dia bahkan bukan orang lain lagi" Aldric mengambil kunci mobilnya di meja. "Aku akan menyiapkan mobil dan akomodasinya" Aldric keluar dan meninggalkan Dean sendirian.
Dean masih terdiam, ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Sena.
"Kau dimana?" tanya Dean setelah panggilan terhubung.
"Di toko" Jawab Sena.
"Kenapa kau masih bekerja?" tanya Dean. Ia memang tidak tau bahwa Sena masih bekerja, karena ia selalu berangkat lebih awal setiap pagi.
"Karena aku memang masih bekerja" jawab Sena polos.
"Pulanglah. Berhenti dari pekerjaanmu hari ini juga" perintah Dean.
"K-kenapa? kenapa tiba tiba seperti ini?" tanya Sena panik.
"Aku akan menjemputmu sekarang" Dean langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Dean bangkit dan berjalan keluar dari kantornya.
Sena meletakkan ponselnya dengan kasar. Ia menghela nafas panjang sembari menggaruk tengkuknya.
"Ada apa nona?" tanya Viana yang baru muncul dengan membawa paper bag berisi beberapa novel.
"Tuan Dean akan menjemput ku" jawab Sena.
"Wah benarkah? tumben sekali" ucap Viana sedikit heran sekaligus terkejut.
"Dia menyuruhku berhenti bekerja" ujar Sena.
"Kenapa?" tanya Viana. Sena mengedikkan bahunya.
"Terserah dia saja" ucap Sena menyerah. Percuma saja ia melawan, Dean tidak akan mendengarkannya.
"Kalau begitu nona silahkan bersiap siap" ujar Viana.
"Aku akan menemui pak Galuh dirumahnya" ucap Sena.
"Siapa pak Galuh?" tanya Viana terkejut.
"Bos ku, pemilik toserba ini" jawab Sena. "Rumahnya tidak terlalu jauh dari sini" tambahnya.
"Tapi bagaimana jika tuan Dean sampai dan anda tidak berada disini?" tanya Viana takut.
"Aku sebentar saja" jawab Sena. Sena bergegas pergi dan meninggalkan Viana.
******
Bunga mawar merah, mawar putih, tulip, atau Krisan? Krisan? yang benar saja. Dean sedang berada di toko bunga, ia sedang berfikir ingin membelikan bunga untuk Sena.
"Kepada siapa anda akan memberikannya?" tanya penjual.
"istriku" jawab Dean tanpa melihat sang penjual.
"Bunga mawar adalah yang paling cocok tuan"
"Baiklah, buatkan satu untukku" ujarnya.
"Baiklah tunggulah sebentar, anda bisa membayarnya di kasir" ujar sang penjual yang kemudian meninggalkan Dean dan segera membuatkan apa yang pria itu minta.
Dean melihat jam pintar yang ada di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, ia menghela nafas.
"Harusnya aku meminta Aldric saja yang membelinya" ucapnya kesal karena pesanannya tak kunjung datang.
"Sudah tuan" Penjual itu membawa sebuah rangkaian bunga mawar yang sangat cantik dan memberikannya pada Dean. "Terima kasih, silahkan datang kembali" ujarnya. Dean mengangguk dan berlalu pergi.
Saat keluar dari toko bunga, Dean tanpa sengaja bertemu dengan Arka. Keduanya saling melemparkan tatapan tidak suka.
"Kau ingin membeli bunga juga? kali ini untuk pemakaman siapa?" tanya Dean. Arka tertawa kecil.
"Bagaimana jika aku membeli bunga untuk pemakaman mu nanti?" Tanya Arka.
"Apa tidak terlalu cepat? bagaimana jika kau duluan yang mati?" tanya Dean.
"Maka aku tidak akan melihat mu lagi" jawab Arka.
"Ck, aku juga berharap begitu" ucap Dean yang hendak meninggalkan Arka.
"Kau membelikan bunga untuk Aldric?" tanya Arka mengejek.
"Aku punya istri, tentu saja untuk istriku. Aku bukan orang yang sudi mengganggu istri orang" sindir Dean yang berlalu meninggalkan Arka. Dean mengepalkan kedua tangannya guna menahan emosi di dadanya.
Dean berlalu meninggalkan Arka, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobilnya melaju menyisir jalanan menuju ke tempat dimana Sena berada.
Dean turun dan langsung menemui Sena di meja kasir, tapi nyatanya ia tidak melihat keberadaan sang istri. Viana menghampiri Dean yang terlihat kesal.
"Tuan, nona Sena pergi keluar sebentar" ujar Viana yang mencoba tetap tenang dan menyembunyikan rasa takutnya.
"Kemana?" tanya Dean.
"Menemui bosnya di rumahnya" jawab Viana. Dean langsung melayangkan tatapan tajamnya.
"Beraninya dia menemui pria lain" tukas Dean. "Kenapa kau disini dan tidak menemaninya?" tanya Dean kesal.
"Maaf tuan" Ya, Viana tidak bisa menyangkal. Harusnya ia menyusul Sena walaupun Sena melarangnya.
"Sekarang bagaimana?" tanya Dean kesal.
"Saya akan me ...." ucapan Viana terhenti saat pintu terbuka. Sena masuk dengan santai tapi kemudian ia terkejut saat melihat Dean sudah berada di depannya.
"Sa-sayang" Sena berjalan menghampiri Dean yang sudah memasang wajah dinginnya. Sena mengisyaratkan agar Viana keluar lebih dulu dan Viana pun langsung menurut.
"Darimana saja kau?" tanya Dean.
"Menemui bosku" jawab Sena.
"Kenapa harus dirumahnya?" tanya Dean.
"Aku menemuinya untuk mengatakan bahwa aku akan berhenti bekerja. Karena ini sangat tiba tiba jadi ada baiknya aku langsung kerumah nya saja" jawab Sena.
"Ck, omong kosong. Kau kan bisa menungguku" tukas Dean. Sena terdiam, padahal jika ia menunggu malah semakin membuat keadaan menjadi lebih buruk.
"Maaf" ucap Sena akhirnya. Dean menghela nafas, lalu menarik Sena kedalam pelukannya.
"Aku mengkhawatirkan mu" ucap Dean. Sena terdiam sejenak lalu membalas pelukan suaminya.
"Aku hanya sebentar" ujar Sena.
"Lain kali tunggu aku atau minta Viana menemanimu" ujar Dean tegas. "Atau aku bisa memecatnya dan menggantinya dengan yang lebih baik?" tanya Dean.
Sena dengan cepat mengangkat kepalanya dan menggeleng kuat.
"Tidak, lain kali aku akan memintanya menemani ku" ucap Sena.
"Baiklah, ayo kita pulang" ajak Dean. Keduanya keluar dari toserba dengan tangan yang saling bertautan.