Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Gara gara mie instan rasa kaldu



Di tengah hari yang panas, sebagian orang memilih beraktivitas diluar dan sebagian memilih untuk tidur di kasur empuknya. Mungkin tidak banyak yang memilih tidur tapi Sena adalah salah satunya. Wanita itu terus meringkuk di atas kasur, lagi lagi tubuhnya menjadi sangat lemas. Meskipun begitu ada sesuatu yang membuatnya merasa senang, yaitu kepulangan Dean. Sudah empat hari tidak bertemu, biasanya Sena akan bersikap biasa biasa saja. Tapi akhir akhir ini ia tidak ingin jauh dari Dean, ia terus merindukan suaminya. Bahkan ia menangis di tengah malam saat Dean tidak ada di mansion. Mual yang kerap kali memaksanya untuk mengeluarkan apa yang baru ia makan.


Sebentar tersenyum nanti murung lagi, begitulah Sena beberapa hari ini. Dean tidak meneleponnya sama sekali bahkan untuk sekedar menanyakan kabar. Sudut matanya tiba tiba berair. Pikiran negatifnya muncul kembali. Tentang ketakutannya pada kenyataan bahwa yang mencintai hanya dirinya seorang. Sena menghela nafas gusar lalu setelahnya merengek tak jelas. Anehnya, tiba tiba Sena ingin makan mie instan. Ia bangkit dan berjalan keluar kamar menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil satu batang sawi, daun seledri, telur, tak lupa bawang merah dan cabai. Mengambil mie instan yang diam diam ia beli di supermarket kemarin. Di mansion ini tidak ada yang di perbolehkan makan mie instan. Kalau kata Dean itu seperti menikmati lalu membunuh diri sendiri. Tidak peduli, Sena ingin makan sesuatu yang dulu sering ia makan. Tidak ada siapapun di dapur, hanya dia seorang. Tapi baru sebentar mendapat ketenangan dari harumnya kuah kaldu, suara kepala chef seperti ancaman untuknya.


"Nona ingin makan sesuatu? biar saya saja yang memasak" Kepala chef itu hendak mengambil pisau di tangan Sena tapi ia langsung mengangkat kedua tangannya saat Sena menodongkan pisau ke arahnya. Alih alih takut kepala chef malah tertawa kecil karena menyadari wajah Sena yang memang imut imut gimana gitu.


"Jangan mendekat, aku psikoterapi" Sena masih bertahan dengan posisi awal.


"Psikopat" Kepala chef membenahi ucapan Sena.


"Ah benar" Sena mengangguk setuju. Ia menurunkan pisaunya dan tersenyum manis. "Aku sudah selesai, tinggal masukkan daun seledri" Sena menaburi daun seledri yang sudah ia potong kecil kecil di atas mie yang sudah matang. Sedikit menunduk dan memejamkan mata sembari menghirup aroma kaldu yang khas.


"Tapi nona tidak boleh makan mie instan" Ujar kepala chef.


"Bibi mau?" Tanya Sena sembari menyodorkan mangkuknya.


"Tidak, nona tidak boleh makan ini" Kepala chef sudah akan mengambil mangkuk itu tapi Sena dengan cepat menariknya kembali dan membawanya menjauh.


"Sekali saja" Sena memohon dengan tampang melasnya. "Jika tuan Dean tau aku menangis karenamu, mungkin dia lebih marah lagi" Ucapnya dramatis. Ratu akting is back!.


Kepala chef menghela nafas. Membiarkan Sena makan mie instan itu tidak mungkin, tapi jika Sena menangis karenanya benar saja mungkin Dean akan lebih marah lagi padanya.


"Tapi jika tuan tau nona makan mie instan tuan pasti marah, nona" Ucap kepala chef.


"Kalau begitu usahakan dia tidak tau ya" Sena tersenyum dan berlalu meninggalkan kepala chef yang masih melongo. Sena kembali ke kamarnya dan memilih duduk di balkon. Menikmati angin yang berhembus sesekali meneguk kuah mie dengan sendoknya.


"Enak juga hidup jadi orang kaya" Ucap Sena cekikikan. Sena melahap habis mie yang tersisa di mangkuknya. Sesaat setelahnya, Sena menoleh ke belakang saat pintu kamar terbuka. Matanya membulat dengan mulut yang masih penuh dengan mie. Dengan cepat ia mengunyah makanannya dan meletakkan mangkuknya. Ia berlari dan memeluk Dean yang baru pulang dengan wajah lelahnya. Bodohnya, ia tidak menyembunyikan mangkuk yang masih menyisakan kuah kaldu.


"Sudah pulang!" Teriak Sena sembari masuk ke dalam pelukan Dean. Dean awalnya tersenyum senang, tapi hidungnya sangat peka dengan sesuatu yang asing di kamarnya.


"Kau makan mie instan?" Tanya Dean. Sena langsung terdiam, nyawanya seperti melayang ke udara. Seketika ia ingin menjadi batu saja. "Sena, jawab aku" Dean melepaskan pelukannya lalu menatap Sena serius.


"Kau berbohong padaku?" Tanya Dean seperti orang yang tidak pernah berbohong saja. Sena menatap Dean dengan wajah gugupnya.


"A-aku hanya ingin saja" Ucap Sena akhirnya. Dean menghela nafas panjang.


"Apa kau tau apa yang terkandung di dalamnya? Terlalu banyak bahan kimia disana. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada pencernaan mu hanya karena keinginanmu yang konyol itu?" Keinginan yang konyol katanya. "Kau tau aku tidak suka sesuatu yang asing berada di kamar ku kan?" Dean meninggikan intonasinya pada wanita yang selalu merindukannya itu.


Sena merasa sesak sedang menjalari dadanya. Tubuhnya lemas, bukan karena kemarahan Dean soal mie instan tapi soal pernyataan Dean barusan. Sena baru sadar bahwa Dean tidak suka "sesuatu yang asing" dan bukan "barang yang asing". Ia juga asing, tiba tiba ia merasa dirinya sangat asing untuk berada di kamar Dean. Sena menatap ke sembarang arah, tatapannya sendu dan menyiratkan kekecewaan disana.


"Apa tuan tau bagaimana aku menangis hanya karena merindukanmu? Tapi sekarang tuan membuatku merasa asing berada di kamar ini" Sena mengambil mangkuk miliknya dan meninggalkan Dean sendirian di kamarnya.


Dean menyambar vas bunga yang berada di sampingnya hingga terjatuh dan pecah di lantai. Ia menjerit seperti orang kesurupan. Dean tidak tau kenapa ia bisa mengucapkan kata kata itu, kata kata yang sudah susah payah ia hindari agar Sena tidak lagi merasa asing berada di dekatnya . Awalnya ia ingin mengejar Sena, tapi kakinya tak mampu bergerak. Alhasil ia terduduk dan membiarkan penat di seluruh tubuhnya menghilang.


******


Mendung mulai merayap dan menghiasi langit sore dengan awan hitamnya. Sena masih terduduk dengan memeluk lututnya. Di sebelahnya ada Viana yang terus memperhatikan nonanya. Setelah keluar dari kamar Dean, Sena mengajak Viana duduk di pinggiran kolam ikan yang letaknya berada jauh di belakang mansion. Disini banyak pondok yang bisa di pakai oleh para pelayan untuk istirahat di jam jam bersantai. Tapi sore ini semua pelayan kembali bekerja, dan jadilah hanya mereka berdua yang tersisa. Viana mendongak saat suara gemuruh mulai sampai ke telinganya. Ia menatap Sena kasihan.


"Nona, ayo masuk. Sebentar lagi hujan" Ucap Viana. Sena menggeleng.


"Lihat itu, ikan itu mengejar ikan yang ini tapi yang ini terus menghindar dan malah mendekati ikan yang sudah berkeluarga" Sena mendongeng lagi. Viana tertawa kecil.


"Bagaimana nona tau ikan itu sudah berkeluarga?" Tanya Viana.


"Lihat saja, dari tadi berduaan terus. Apa menurutmu mereka bahagia?" Tanya Sena. Viana menggeleng memberitahukan bahwa ia juga tidak punya jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Sena.


"Nona sudah rintik" Ucap Viana sembari menunjuk air kolam yang bergelombang karena mendapat tetesan air dari langit.


"Tapi aku tidak mau kembali ke kamar" Sena lagi lagi menolak untuk di ajak pulang. Tapi setelahnya, keduanya berlari dan naik ke pondok saat hujan deras tiba tiba datang. Tidak, bukan hujannya yang salah. Sedari tadi langit sudah memberi tanda, tapi manusianya yang memang keras kepala.