Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Malam pertama?



Dean turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam mansion nya. Dengan di ikuti Aldric, keduanya menaiki anak tangga dan berhenti di depan kamar Sena.


"Kau bisa pergi, aku akan mengurusnya" ujar Dean.


"Eung, baiklah kalau begitu" ucap Aldric. Aldric langsung pergi meninggalkan Dean.


Tanpa berfikir panjang Dean langsung membuka pintu dan untuk pertama kalinya ia masuk ke kamar Sena. Sena yang sedang membaca buku dengan setelan dasternya tentu sangat terkejut. Ia langsung beranjak bangkit dari tempat tidurnya, Sena berdiri dengan kepala menunduk. Sena tersentak saat Dean membanting pintu dengan keras.


"Kau lupa dengan peraturan yang ku buat?" tanya Dean to the point. Sena hanya diam sembari memainkan jemarinya. "JAWAB!!" bentak Dean. Dean berjalan menghampiri Sena, Sena yang menyadari itu langsung mengangkat pandangannya dan mundur seketika hingga dia menabrak tembok.


Dean mencengkram dagu Sena dan membuat wanita itu meringis.


"Kau fikir kau bisa hidup bebas disini?" tanya Dean.


"S-sakit! lepaskan" ucap Sena meringis.


"Kau fikir aku akan diam saja? Aku membenci orang yang melanggar aturan ku" ucap Dean penuh penekanan.


"T-tapi tuan juga tidur bersama tunangan tuan kan? kenapa tuan tidak membebaskan saya?" tanya Sena gugup. Dean melepas kan tangannya perlahan.


"Apa katamu?" tanya Dean.


"Tuan bebas melakukan apapun bahkan tidur dengan wanita lain padahal tuan sudah menikah" jawab Sena. "Tuan pergi keluar kota tanpa mengatakan apapun kepada saya, dan ternyata tuan pergi dengan wanita itu. kenapa tuan tidak membebaskan saya saja?" tanya Sena memberanikan diri.


"kau membandingkan kebebasanku dengan kebebasan mu?" tanya Dean. "Apa kau lupa, ayahmu sudah menjual mu jadi aku bebas melakukan apapun padamu. Bahkan jika aku mengurung mu dan membiarkan mu mati kelaparan di ruang bawah tanah tetap tidak akan ada yang marah ataupun peduli lagi padamu!" tukas Dean marah.


"apa hati tuan terbuat dari batu? tuan membeli gadis lalu tidur dengan wanita lain?" sindir Sena. Entah darimana ia bisa mendapatkan keberanian untuk mengatakan itu. Dean tertawa mendengar apa yang baru di katakan Sena.


"Ayahmu benar benar pembohong. Dia bilang kau adalah gadis penurut, dia benar benar harus diberi pelajaran" tukas Dean. Setelah itu Dean keluar dan pergi dari hadapan Sena. Sena menghela nafas lalu terduduk lemas di lantai.


****


Dean duduk di sofa empuknya dan menyandarkan kepalanya. Hari ini benar benar melelahkan baginya apalagi memarahi Sena tadi cukup menguras tenaganya. Entah kenapa tapi Dean sangat kesal karena akhir akhir ini Sena selalu pulang terlambat. Dean menghela nafas.


...(*beberapa jam yang lalu)...


Dean berjalan menyusuri setiap koridor gedung universitas NIAGARA. Hari ini ada perayaan kelulusan dan wisuda di universitas miliknya itu. Dean di undang sebagai tamu yang sangat terhormat. Saat acara sudah selesai, Dean dan Aldric berjalan keluar menuju lobi karena mobil mereka sudah menunggu disana. Tiba tiba seorang wanita datang menghampirinya, dan wanita itu adalah Yoan.


"Bisa kita bicara?" tanya Yoan. Dean menatap heran pada wanita itu.


"Kau siapa?" tanya Aldric. Belum sempat menjawab, Dean sudah akan masuk ke dalam mobil.


"tunggu, ini tentang istrimu, Sena" tukas Yoan. Mendengar itu seketika membuat Dean berbalik.


"Siapa kau? dan apa yang kau bicarakan?" tanya Aldric. Yoan tertawa sinis.


"aku tau semuanya tuan, apa anda tidak mengingatku?" tanya Yoan pada Aldric.


"apa yang kau mau?" tanya Dean malas.


"kita harus bicara" ucap Yoan.


"katakan" tukas Dean. Yoan kemudian mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto.


"Apa tuan tau dia pergi dengan lelaki lain?" tanya Yoan. "Dia bahkan tidak menganggap anda dan malah memilih menghabiskan waktu dengan lelaki itu" ucap Yoan.


Dean tertawa kecil. "Lalu? apa hubungannya dengan ku?" tanya Dean.


"wah, tuan pulang lebih awal tapi dia malah sibuk makan malam dengan teman temannya" ujar Yoan.


Yoan tersenyum smirk. "Sebentar lagi Dean akan menceraikan Sena karena ini" ujar Yoan dengan percaya dirinya. Setelah itu dia pun pergi dan menghilang dengan mobilnya.


****


Sena masih terdiam dan terduduk di lantai masih dengan posisi awal. Tiba tiba ia teringat keluarganya, ia tau Dean pasti tidak main main dengan ucapannya. Sena membulatkan matanya, ia langsung bangkit dan berlari keluar. Sena berhenti di depan kamar Dean, ia sedang mengumpulkan keberanian untuk bisa masuk atau bahkan sekedar mengetuk pintunya. Sena membuka pintu perlahan, ia melihat Dean yang sedang membuka jasnya dan melemparkannya ke sofa begitu saja.


"T-tuan" panggil Sena gugup. Dean berbalik untuk melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya.


"Siapa yang sudah memberimu izin untuk masuk ke kamarku?" tanya Dean dengan wajah dinginnya yang membuat Sena seketika merinding.


"T-tuan tolong maafkan saya" ucap Sena dengan kepala menunduk. Dean tertawa sinis.


"Aku bukan pemaaf" tukas Dean. "Kau berulah, dan aku benci wanita seperti itu" imbuhnya. Dean merenggangkan dasinya. "Apapun bisa terjadi saat aku ingin melakukannya. Jadi kau bersiaplah, mungkin pemakaman ayahmu akan segera di umumkan" ucap Dean dengan tawa mengejek. Dean berjalan melewati Sena dan hendak membuka pintu tapi ia terkejut saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh kakinya.


"Tuan tolong maafkan saya" ucap Sena yang sudah berlutut dan memegangi kaki Dean. Suara tangisan kecil keluar dari bibirnya.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Dean sembari memberontak.


"Tuan tolong jangan usik keluarga saya lagi" ucap Sena masih dengan nada memohon. "Saya berjanji akan menuruti semua perintah anda tuan! saya tidak akan melanggar peraturan lagi" imbuhnya. Mendengar itu Dean langsung tersenyum tipis.


"Berdiri" ucap Dean dingin. Sena menggeleng kuat.


"Tidak tuan, saya akan terus seperti ini jik ...."


"Berdiri!" bentak Dean. Sena tersentak saat Dean membentaknya. Sena perlahan berdiri masih dengan kepala menunduk. Dean memegang dagu Sena dan mengangkatnya perlahan hingga tatapan keduanya bertemu. "Kau tau aku suka gadis penurut kan?" tanya Dean dengan senyum manisnya. Sena menelan ludahnya samar, melihat senyuman di wajah tampan itu membuatnya kagum sekaligus ngeri.


"Astaga tidak kenapa dia tersenyum seperti itu?" batin Sena. Melihat orang dingin seperti Dean tersenyum manis seperti itu membuat Sena berfikir pasti ada sesuatu yang tidak baik.


"T-tuan" panggil Sena.


"eum?"


"Maafkan aku, tolong jangan ganggu keluargaku" ujar Sena.


"Baik aku tidak akan mengganggu keluargamu lagi, tapi ada satu syarat" ucap Dean.


"Syarat?" tanya Sena bingung. "syarat apa tuan?" tanyanya lagi. Dean menurunkan tangannya yang berada di dagu Sena masih dengan senyuman di bibirnya.


"Naik" suruh Dean.


"N-naik? naik kemana tuan?" tanya Sena bingung. Dean mengisyaratkan Sena untuk naik ke tempat tidur dengan gerakan matanya. Namun Sena benar benar tidak paham dengan bahasa isyarat seperti itu.


Dean menghela nafas lalu berjalan melewati Sena. "Naik ke tempat tidur, aku akan ganti baju. Jika aku keluar dan kau tidak ada disana aku akan benar benar menghukum mu" ucap Dean yang setelah itu masuk ke ruang ganti. Sena melebarkan matanya sampai sampai bola matanya seperti akan keluar.


"apa dia gila? apa yang akan dia lakukan?" batin Sena panik. Ia melihat ke arah pintu keluar, lalu beralih melihat ke arah tempat tidur, dan bergantian seperti itu hingga beberapa kali. Sena menghela nafas kasar, ia kemudian melangkahkan kakinya dan naik ke atas tempat tidur. Sembari memilin jemarinya ia mencoba menghilangkan rasa gugupnya.


Tak lama pintu ruang ganti terbuka dan Dean muncul dengan pakaian tidurnya. Ia berjalan menghampiri Sena yang sudah menunggunya di tempat tidur. Tidak, bukan menunggu tapi dipaksa untu menunggu.


"Apa yang kau tunggu?" tanya Dean yang saat ini sudah merebahkan tubuhnya. Sena terkejut dengan pertanyaan itu.


"Maaf tuan, saya akan keluar sekarang" ucap Sena. Namun saat Sena hendak turun sebuah tangan menariknya.


"Kau sudah masuk, dan aku tak akan melepas mu" ucap Dean pada Sena yang kini sudah jatuh di dada bidang miliknya. Dean membalikkan posisinya sehingga dia yang berada di atas.


"T-tuan" Sena ingin mengatakan sesuatu namun terhenti saat bibir lelaki itu perlahan maju dan menjamah wajahnya.


Dan malam itu, menjadi titik awal munculnya rasa cinta di hati Sena untuk Dean.