Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
keluargaku sayang



Hari sudah petang, matahari mulai terbenam dan waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sena masih terus berjalan mencoba mencari dimana keberadaan ayah ibu dan kakaknya. Sena hendak kembali ke rumah lamanya untuk mencari informasi dari para tetangga mengenai kemana perginya ayat dan ibunya. Di dekat gang kecil yang berdekatan dengan rumahnya Sena bertemu dengan Bu Intan, tetangga sekaligus guru sekolahnya sewaktu di sekolah dasar.


"Sena" panggil Intan. Sena menoleh dan sedikit terkejut, Sena kemudian berjalan menghampiri Intan.


"Sore Bu, apa kabar?" tanya Sena.


"sangat baik" jawab Intan sembari tersenyum. "kau mau kemana?" tanya Intan dengan tatapan khawatir.


"Bu, apa saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Sena to the point. Intan menganggukkan kepalanya. "Apa ibu tau kemana ayah dan ibuku pergi?" tanya Sena. Intan terdiam.


"Kau sudah tau apa yang terjadi pada rumah mu?" tanya Intan. Sena mengangguk.


"Apa ibu tau dimana orang tuaku sekarang?" tanya Sena. Intan menggeleng pelan.


"Ibu tidak tau, nak" jawab Intan. "yang ibu tau kakakmu Yoan pergi meninggalkan ayah dan ibumu" imbuhnya. mendengar itu Sena benar benar terkejut.


"Yoan pergi?" tanya Sena kaget. "Apa dia sudah gila? apa yang wanita itu fikirkan sebenarnya?" tanya Sena kesal. Sena kemudian membungkuk dan memegang kedua lututnya yang terasa sakit karena terus berjalan.


"kau akan kemana setelah ini?" tanya Intan. "kau bisa tinggal bersama ibu untuk sementara" imbuhnya. Sena kembali menegakkan tubuhnya lalu menggeleng.


"Tidak bu, saya harus mencari orang tua saya, saya yakin mereka belum jauh dari sini" ucap Sena.


"tapi hari sudah mulai gelap" ucap Intan.


"Tapi saya khawatir pada mereka" Sena sudah tak kuat menahan tangisnya. "Bagaimana ini?" tanyanya bingung. Intan tidak bisa mengatakan apapun lagi, ia tau Romi dan Sarah tidak pernah menyayangi Sena apalagi Yoan yang paling banyak membuat Sena menderita.


"Kenapa kau harus khawatir pada orang orang yang sudah menyakitimu nak?" tanya Intan sembari mengelus punggung gadis itu.


"Mereka tetaplah orang tuaku Bu" jawab Sena. "Bagaimana pun mereka sudah membesarkan ku meskipun tidak dengan cinta dan kasih sayang" imbuhnya.


"Ibu sempat menawarkan bantuan dan memberikan tempat tinggal tapi ibu mu menolak keras" ujar Intan. Ia kemudian seperti mengingat sesuatu. "Tapi ibu sempat mendengar percakapan mereka, ibumu sempat mengatakan bahwa ia akan kembali ke desa J. tapi ibu tidak terlalu menanggapinya" ujarnya.


"Desa J?" tanya Sena. Intan menganggukkan kepalanya.


"Apa kau tau?" tanya Intan. Sena mengangguk.


"Sena harus pergi sekarang, terima kasih banyak bu" Sena pergi begitu saja meninggalkan Intan.


"Gadis yang malang" batin Intan.


****


Viana masih terdiam di tempatnya memikirkan Sena yang sudah dua hari tidak kembali ke mansion. Viana bahkan tidak tau apa yang terjadi dan ia juga tidak berani bertanya pada Aldric. Viana lagi lagi mencoba untuk menelepon Sena berharap Sena akan menjawab teleponnya. Viana juga sudah berkali kali mengecek di toserba tapi ia tidak melihat keberadaan Sena disana.


Viana bangkit dan keluar dari kamarnya mencari Aldric yang sempat ia lihat beberapa saat yang lalu. Benar saja, Viana yang melihat Aldric di taman belakang langsung berlari menghampiri sang tuan.


"Tuan" panggil Viana. Aldric yang merasa terpanggil langsung berbalik dan menatap Viana heran.


"Ada apa?" tanya Aldric.


"Boleh saya bertanya?" tanya Viana. Viana menghela nafas. "Apa yang terjadi pada nona Sena tuan?" tanya Viana.


"Kau sangat ingin tau? kenapa tidak tanyakan langsung pada tuan Dean?" tanya Aldric. Viana menundukkan kepalanya.


"Maaf tuan" Viana hendak berbalik dan pergi meninggalkan Aldric.


"Besok kau sudah bisa kembali ke perusahaan lagi" ujar Aldric. Viana terdiam lalu berbalik menatap Aldric.


"Maksud tuan saya tidak bekerja untuk nona Sena lagi?" tanya Viana.


"Baik tuan" Viana langsung meninggalkan Aldric yang masih terus menatapnya.


"Gadis bodoh" ucap Aldric yang masih setia menatap punggung gadis yang perlahan menjauh. "Apa dia tidak tau dengan siapa dia berbicara?" tanya Aldric heran. Aldric kemudian kembali bermain dengan ponselnya.


*****


Sena masih terus mencari. Saat Intan mengatakan bahwa ayah dan ibunya kembali ke desa J, ia langsung bergegas pergi kesana. Tapi nyatanya ia tidak menemukan siapa siapa disana. Hari sudah gelap, setelah dua hari berkelana Sena memilih untuk kembali mendatangi desa J dan berharap ayah ibunya benar benar ada disana.


Dari kejauhan senyuman di bibir Sena merekah. Ia melihat ayahnya yang sedang membuang sampah. Sena dengan cepat langsung menghampiri ayahnya.


"Ayah" panggil Sena. Romi melihat kesana kemari untuk mencari sumber suara. Romi terkejut saat melihat Sena berjalan mendekatinya.


"Kenapa kau kesini?" tanya Romi heran.


"Aku khawatir dengan ayah dan ibu" jawab Sena. Romi menghela nafas kasar.


"Sarah!" panggil Romi.


"Ada apa lagi?" tanya Sarah yang muncul dari dalam rumah. Tak jauh dari reaksi Romi sebelumnya, Sarah juga tak kalah terkejut melihat kehadiran Sena yang tak di sangka sangka.


"Ibu" panggil Sena. Sarah dengan geram langsung menarik Sena untuk masuk ke dalam rumah. Romi dengan cepat langsung menutup pintu.


"Apa yang membawamu datang kesini, hah?!" bentak Sarah.


"Harusnya kau ada di rumah suamimu sekarang, kalau dia tau kau disini dia pasti akan marah besar!" teriak Romi.


"T-tapi aku rindu kalian" ucap Sena. "Dan tuan Dean sudah menyuruhku pergi, makanya aku pergi untuk mencari kalian" imbuhnya.


"Maksudmu?" tanya Romi.


"Kau di usir?" tanya Sarah juga. Sena menggeleng.


"Aku tau tuan Dean adalah dalang dari semua ini, dia yang sudah membakar rumah kita" ucap Sena. "Aku sangat mengkhawatirkan kalian" imbuhnya.


Sarah tertawa sinis, tanpa aba aba ia langsung menarik rambut Sena dan membenturkan kepala gadis itu ke dinding hingga beberapa kali. Sena meringis merasakan pusing di kepalanya.


"Apa kau sudah gila?" bentak Sarah. "Kau mau jadi apa setelah keluar dari rumahnya? kenapa kau selalu menyusahkan ku?!" teriak Sarah.


"Bu maaf" ucap Sena. Air matanya lolos begitu saja karena bukan sambutan hangat yang ia terima melainkan sebuah siksaan fisik. Sena kembali meringis saat Sarah mendorongnya dengan keras hingga ia jatuh ke lantai.


"Kenapa kau selalu menyusahkan kami?" tanya Romi yang tampak frustasi.


"Kenapa kalian tega melakukan ini padaku?" tanya Sena terisak. Sarah memberi satu tendangan keras di tubuh Sena sehingga membuat gadis itu tersentak. Sena menjerit kesakitan saat Romi memijakkan kakinya di punggung Sena dengan sangat keras.


"apa kau tau apa yang terjadi setelah ini, hah?!" teriak Romi. Romi kemudian menarik Sena untuk duduk dan bersandar dengan meja. Sarah menarik Romi dan mengambil posisi.


"Rasakan ini gadis bodoh!" teriak Sarah sembari memberi tamparan keras pada Sena. Dan itu berlangsung hingga beberapa kali.


"Ayah, ibu tolong hentikan" Isak Sena. Namun Sarah dan Romi tidak peduli sama sekali. Mereka justru semakin menggila dan terus memukuli Sena.


"aaaaaaaaaa!" Sena kembali menjerit saat punggung mungilnya lagi lagi harus menerima pijakan dan sepakan.


Setelah puas memukuli Sena, Romi dan Sarah mengusir Sena dan menyuruh putrinya itu untuk pergi sejauh mungkin.


Sena dengan langkah gontai terus berjalan, ia merasakan tubuhnya benar benar akan hancur. Apalagi kini di wajah dan tubuhnya terdapat banyak luka lebam. Sudut bibirnya terasa perih karena tamparan dari Sarah. Sena menangis terisak, kepalanya begitu pusing. Gadis malang itu tak sanggup lagi menahan rasa sakitnya. Ia pun terjatuh dan perlahan kehilangan kesadarannya.