Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Bertengkar lagi



Viana berjalan ke ruang makan, ia menoleh saat seseorang berjalan mendekatinya. Aldric berhenti tepat di depannya dan itu membuat jantungnya berdegup kencang.


"Kau sudah baikan?" Tanya Aldric. Viana tersenyum lalu mengangguk.


"Tuan darimana?" Tanya Viana.


"Dari belakang" Jawab Aldric. "Kau mau sarapan?" Tanyanya.


"Eung, tapi rasanya malas sekali" Jawab Viana lesu.


"Kenapa?" tanya Aldric sembari menarik kan satu kursi untuk Viana. "Duduklah" Ujarnya.


"Terima kasih tuan" Viana duduk lalu menghela nafas. "Siapa yang berselera makan jika sendirian?" Tanya Viana.


"Nona Sena tidak sarapan?" Tanya Aldric.


"Wanita itu, dia datang lagi" Ucap Viana. Aldric mengerutkan keningnya.


"Wanita siapa?" Tanyanya.


"Mantan tunangan tuan Dean" Jawab Viana.


"Jihan?" Tanya Aldric dan Viana mengangguk membenarkan.


"Apa dia punya masalah dengan nona Sena? kenapa dia terus mengganggu?" Omel Viana.


"Punya masalah atau tidak itu bukan hal yang penting, yang menjadi pertanyaan kenapa dia bisa disini" Ujar Aldric. "Siapa yang memberitahunya kalau kita ada disini?" Tanya Aldric keheranan.


"Mungkin saja tuan Dean" Jawab Viana. Ia kemudian menatap curiga pada Aldric. "Jangan jangan tuan adalah dalang dibalik ini semua?" Tanya Viana.


"Hei jangan asal menuduh!" Seru Aldric tak terima. "Aku tidak mempunyai koneksi apa apa dengannya kau tau!" Tukasnya.


"Lalu siapa?" Tanya Viana.


"Dimana kalian melihatnya?" Tanya Aldric.


"Di tempat yang banyak bambunya itu, dia bersama tuan Dean disana" Jawab Viana. "Kasihan nona Sena, dia masuk ke kamar dengan wajah murungnya. Itu kenapa aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria, mereka sangat egois" Ucap Viana penuh penekanan.


"Tidak semua pria seperti yang ada di fikiran mu sekarang" Tukas Aldric sewot. "Aku berbeda" Imbuhnya. Viana tersenyum miring.


"Benarkah?" Tanya Viana. Wanita itu tertawa kecil. "Baiklah karena hanya aku dan tuan yang ada disini, maka tuan harus menemaniku makan" Ujar Viana.


"Kau memaksa?" Tanya Aldric.


"Tidak, jika tuan ingin pergi saya tidak akan melarang" Jawab Viana santai.


Aldric menghela nafas, ia membalikkan piring di depannya dan berharap Viana akan mengambilkan makanan untuknya.


"Bisa tolong ambilkan?" Tanya Aldric. Viana menoleh lalu mengangguk.


"Tentu" Viana mengambilkan nasi dan lauk untuk Aldric.


"Siapa yang memasak ini semua?" Tanya Aldric.


"Mungkin saja keong emas" Jawab Viana asal.


"Ck, yang benar saja" Aldric memasukkan satu sendok nasi ke mulutnya.


"Apa tuan pernah jatuh cinta?" Tanya Viana.


"Tidak" Jawab Aldric singkat. "Tapi aku mulai menyukai seseorang" Imbuhnya


"Wah, benarkah? siapa?" Tanya Viana.


"Kau benar benar ingin tau?" Tanya Aldric.


Viana tertawa lucu. "Tidak, saya hanya bercanda" Jawabnya.


Aldric memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya. Ia berdiri lalu mencuci piringnya sendiri.


"Aku akan mencari tuan Dean" Ucap Aldric yang kemudian berlalu meninggalkan Viana.


"Aku kira dia tidak bisa jatuh cinta" Ucap Viana setelah Aldric sudah menghilang dari sebalik pintu.


*****


Dean terus menatap tajam pada Jihan. Ingin sekali ia menghabisi wanita itu dan ia bisa memastikan bahwa tidak akan ada yang mengetahuinya.


"Atas dasar apa kau ingin menginap di villa itu?" Tanya Dean.


"Kau lupa? villa itu adalah milik pamanku" Ucap Jihan menyombong. Mendengar itu Dean langsung tertawa geli.


"Kau yakin?" Tanya Dean. "Mungkin kau yang lupa jika villa itu sudah menjadi bagian dari perusahaan ku" Ujarnya. Perkataan Dean seketika mengubah raut wajah Jihan.


"Tuan!" Dean berbalik saat mendengar Aldric memanggilnya. Aldric berjalan menghampiri Dean, tatapannya bertemu dengan Jihan dan itu membuat Aldric serasa ingin muntah.


"Ada apa?" Tanya Dean.


"Ayo kembali ke villa" Ajak Aldric.


"Eum, baiklah ayo" Kedua pria itu hendak berjalan meninggalkan Jihan.


"Dean! kau tidak bisa meninggalkan ku seperti ini!!" Teriak Jihan. Dean terus berjalan tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Jihan. Sedangkan Aldric berhenti lalu berbalik.


"Terima kasih sudah mengunjungi kawasan villa M untuk yang terakhir kalinya, semoga kita tidak bertemu lagi" Ucap Aldric lalu sedikit membungkuk. Ia berbalik dan menyusul Dean yang sudah jauh di depannya.


"HEI, KEMBALI KALIAN!" Teriak Jihan lagi.


Aldric dan Dean terus berjalan dan tidak menggubrisnya. Tak jauh dari villa, Aldric meminta Dean untuk berhenti.


"Apa kau sengaja mengundangnya kesini?" Tanya Aldric.


"Siapa?" Tanya Dean.


"Mantanmu" Jawab Aldric.


"Kau berfikir aku akan melakukannya?" Tanya Dean yang tak habis fikir.


"Sena melihatnya" Ucap Aldric to the point. Dean menatap tajam pada Aldric seolah bertanya apakah yang dikatakannya adalah benar.


"Kau bercanda?" Tanya Dean.


"Viana yang mengatakannya padaku, Sena bahkan belum sarapan pagi ini" Jawab Aldric. Dean menghela nafas gusar, ia berfikir Sena pasti salah paham dengan kehadiran Jihan.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Dean.


"Di kamarnya" Jawab Aldric. Tanpa pikir panjang Dean langsung berlari untuk menemui Sena di kamarnya.


Dean terus berlari dan setelah sampai di depan pintu ia mencoba membukanya, tapi ternyata pintunya di kunci. Dean menghela nafas panjang lalu segera mengeluarkan ponselnya. Dean mencoba menelpon Sena berkali kali tapi tidak diangkat.


Dean kemudian menelpon Aldric dan menyuruhnya untuk mengambil kunci cadangan yang ada pada penjaga villa. Tidak lama kemudian Aldric dan Viana datang secara bersamaan. Aldric langsung membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Dean masuk dan langsung menghampiri Sena yang sedang tertidur.


"Sena" Panggil Dean. Viana sudah gemetar karena ia takut disalahkan lagi.


"Ini bukan salahmu" Ujar Aldric yang mencoba menenangkan Viana.


"Hei bangun!" Seru Dean. Sena membuka matanya yang sembab itu secara perlahan. "Kau menangis?" Tanya Dean.


Sena menggeleng. "Tidak" Jawabnya. Dean menarik Sena agar terduduk. "Punggungku sakit" Ujar Sena agar Dean tidak memaksanya untuk duduk.


"Sakit lagi?" Tanya Dean. "Ayo kerumah sakit!" Ujarnya panik.


"Tidak, aku istirahat saja" Tolak Sena. Dean menghela nafas lalu berjalan kearah pintu.


"Kalian pergilah berdua entah kemana, jangan menggangguku dan juga Sena" Ucap Dean yang kemudian langsung menutup pintu. Aldric dan Viana melongo.


"Siapa yang akan mengganggunya?" Tanya Aldric tak habis fikir.


"Apa nona Sena akan baik baik saja?" Tanya Viana.


"Apa kau tidak dengar? jangan mengganggu mereka, bagaimana kita bisa tau apa yang terjadi dalam?" Tanya Aldric.


Keduanya menghela nafas berat. "Ayo kita pergi" Ujar Viana. Keduanya berjalan entah kemana.


Kembali kedalam kamar, Dean terus menatap Sena yang sedang berusaha memejamkan matanya.


"Aku tau kau tidak mengantuk" Ucap Dean. "Apa masih sakit?" Tanya Dean khawatir. Sena menggeleng dengan mata yang masih terpejam.


"Aku baik baik saja" Jawab Sena.


"Bukan aku yang menyuruhnya untuk datang kesini" Ujar Dean.


"Iya aku tau" Ucap Sena.


"Aku tau kau marah" Ucap Dean. "Berhenti mengabaikan ku seperti ini, Sena" Imbuhnya.


"Aku tidak marah" Ucap Sena. Tapi tak lama kemudian isakan kecil keluar dari mulutnya. Dean yang terkejut langsung menundukkan pandangannya dan melihat Sena menangis.


"Hei, maafkan aku" Ucap Dean. "Aku tidak tau kenapa dia ada disini, aku juga tidak mengundangnya untuk datang kesini. Aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya dan, kau salah paham" Imbuhnya.


Sena hanya menganggukkan kepalanya. Dean mengelus pucuk kepala Sena dengan lembut, ia merasa bersalah karena sudah mengacaukan hari hari yang seharusnya menjadi lebih menyenangkan untuk Sena.


"Maafkan aku yang terus menyakitimu, maafkan aku yang belum berhasil menyelesaikan masalahku sehingga ia terus mengganggumu"