
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Sinar matahari menyusup melalui celah celah tirai. Sena mengedipkan matanya berkali-kali mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Sena duduk dan merenggangkan otot ototnya. Ia langsung menoleh saat pintu terbuka dan Viana muncul perlahan.
"pagi nona" sapa Viana. Sena melambaikan tangannya dengan wajah polos baru bangun tidur.
"Kenapa tidak membangunkan dari tadi?" tanya Sena. "Aku terlambat bekerja" imbuhnya.
"Saya sudah meminta izin untuk nona" ucap Viana.
"Izin apa?" tanya Sena.
"Izin bahwa nona tidak bisa pergi bekerja hari ini" jawab Viana. Sena seketika melebarkan matanya.
"Tapi kenapa?" tanya Sena bingung.
"Tuan Aldric yang memerintahkan saya" jawab Viana. Sena menghela nafas berat. "Nona masih harus istirahat" ujar Viana. Sena melengos kesal.
"Padahal aku tidak sakit" ucap Sena kesal.
"Saya akan siapkan air untuk nona" Viana langsung pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air untuk nona nya mandi. Setelah itu ia pergi ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian. Viana keluar dengan membawa handuk.
"Silahkan nona airnya sudah saya siapkan" ujar Viana.
"Apa begini rasanya menjadi seorang ratu? air untuk mandi saja sudah di siapkan" ucap Sena. "Tapi aku tidak suka" imbuhnya. Sena kemudian bangkit dari tempatnya dan berjalan menghampiri Viana. "Ini terakhir kalinya aku melihatmu membawakan handuk untukku" ucap Sena lalu setelahnya tersenyum sembari berjalan masuk ke kamar mandi.
"Dia memang gadis aneh" gumam Viana sembari tersenyum.
Viana sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Karena jenuh, Viana keluar dan akan menunggu nona nya di meja makan saja.
Viana keluar dan berjalan menuju ruang makan. Viana seketika menegang kala melihat Aldric berada tak jauh di depannya. Viana sudah akan memutar balik, tapi suara Aldric lagi lagi menghipnotisnya. Viana berbalik perlahan dan terkejut karena saat ini Aldric sudah berada tepat di hadapannya.
"Tuan memanggil saya?" tanya Viana.
"Bagaimana keadaan nona Sena?" tanya Aldric.
"Nona Sena baik baik saja, sebentar lagi ia akan turun setelah mandi" jawab Viana.
"Jangan biarkan Nona Sena bertemu dengan lelaki itu lagi, mengerti?" tanya Aldric. Viana mengangguk cepat. "Baiklah aku percaya padamu" ucap Aldric dan setelahnya langsung pergi meninggalkan Viana. Viana menghela nafas berat.
"Dia selalu membuatku gugup" batin Viana sembari berjalan kearah ruang makan.
Hampir setengah jam menunggu, Viana hendak pergi menemui nona nya. Namun suara seperti langkah kaki membuat Viana menghentikan niatnya. Viana berjalan menuju ruang utama untuk melihat siapa yang baru saja masuk ke mansion Dean.
****
Arka sedang duduk di ruang kerjanya sembari memainkan pena miliknya. Fikiran nya tertuju pada Sena yang sekarang sudah berstatus sebagai istri orang. Arka menghela nafas, Arka beralih memikirkan siapa yang sudah membuat Sena terluka seperti itu. Arka memikirkan satu nama saat ini. Arka kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Yoan. Tak butuh waktu lama panggilan tersambung.
"Halo Yoan, ini aku Arka. kau dimana?" tanya Arka.
"Arka, aku sedang di lokasi pemotretan" jawab Yoan.
"Bisakah kita bertemu sekarang?" tanya Arka.
"Kau bisa datang kesini" ujar Yoan.
"baik. kirim lokasimu sekarang" ucap Arka. Setelah itu sambungan terputus. Yoan langsung mengirimkan lokasinya saat ini. Dan tanpa pikir panjang Arka langsung bergegas pergi ke tempat Yoan berada.
Beberapa saat kemudian, Arka sampai di lokasi pemotretan. Ia kembali menelepon Yoan dan memintanya untuk keluar sebentar. Yoan benar benar menemui Arka di depan gedung pemotretannya.
"Yoan, apa kabar?" tanya Arka.
"Seperti yang kau lihat" jawab Yoan. "ada apa? kenapa minta ketemu?" tanya Yoan.
"Langsung saja, kau yang melakukan itu pada Sena?" tanya Arka. Raut wajah Yoan langsung berubah, ia bahkan bisa membenci walau hanya mendengar namanya.
"Kau yang melukai Sena di depan tempat kerjanya kemarin kan?" tanya Arka to the point. Yoan tertawa sinis.
"Ada banyak orang di kota ini, tapi kenapa kau hanya mencurigai ku?" tanya Yoan.
"Tapi hanya kau yang tidak menyukainya" ucap Arka.
"Hanya aku? apa dia gadis sebaik itu hingga membuatnya disukai semua orang kecuali aku?" tanya Yoan. Yoan menatap tajam pada Arka. "Aku tidak suka kau ikut campur, urus saja urusanmu sendiri. Jika kau sangat menyukainya, bawa saja dia pergi" tukas Yoan.
"Ya, aku memang akan membawanya pergi dan menjauh dari iblis sepertimu" ucap Arka sengit. Setelah itu Arka langsung meninggalkan Yoan dan pergi dengan mobilnya. Yoan tersenyum smirk.
"Itu bagus. Kalau bisa secepatnya" Gumam Yoan. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam dan melanjutkan pemotretannya.
******
Setelah mandi, Sena bersiap siap untuk turun. Sena keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga, setelah sampai di ruang makan ia tidak menemui Viana disana. Ia kemudian bertanya pada salah satu pelayan.
"Dimana Viana?" tanya Sena.
"Di ruang utama nyonya" jawab pelayan itu. Sena menatap bingung.
"Kenapa dia disana?" tanya Sena.
"Sepertinya ada tamu, nyonya" jawab pelayan itu lagi. Sena mengangguk-angguk mengerti. Karena penasaran, Sena berjalan dan menghampiri Viana di ruang utama. Dari jauh Sena melihat Viana sedang berbicara dengan seorang wanita cantik.
"Viana" panggil Sena. Viana spontan menoleh ke belakang dan sedikit terkejut dengan kedatangan Sena. Viana dengan cepat menghampiri Sena.
"Makanan sudah di siapkan nona, nona bisa menunggu di ruang makan" ujar Viana. Sena menatap wanita yang juga sedang menatapnya itu, ia kemudian beralih menatap Viana.
"Siapa dia?" tanya Sena pelan.
"Bukan siapa siapa, Mari saya antar nona" Viana hendak menarik tangan Sena.
"Siapa kau?" tanya Jihan. Viana menghela nafas gusar, habis sudah fikirnya.
"Aku?" tanya Sena menunjuk dirinya sendiri.
"Kau siapa? kenapa kau ada disini?" tanya Jihan. Sena berfikir sejenak. Sena bingung harus menjawab apa sedangkan tidak ada yang tau bahwa dia adalah istri Dean.
Sena menghela nafas. "Aku istri tuan Dean" jawab Sena. Mendengar itu, Jihan terdiam dengan wajah terkejut. Namun setelahnya ia tertawa terbahak-bahak. Sena kesal dengan tawa seperti itu, itu seperti sebuah ledekan baginya. Sena menatap Viana lagi. "Siapa dia?" tanya Sena. Viana terdiam.
"Dia Ji ...."
"Aku adalah tunangannya" tukas Jihan.
"T-tunangan?" tanya Sena gugup. Tiba tiba hatinya menjadi sesak. Jihan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
"Kau tidak tau? aku dan Dean sudah bertunangan Tiga tahun yang lalu" ucap Jihan. Sena tertawa tidak percaya.
"Benarkah?" tanya Sena pada Viana. Viana yang sebelumnya hanya bekerja di bagian perusahaan tentunya tidak terlalu tau perihal Jihan.
"Kau butuh bukti?" tanya Jihan. Ia kemudian menunjukkan cincin di jari manisnya masih dengan senyum di bibirnya.
"Hanya itu?" tanya Sena. Karena tidak mau kalah Sena juga menunjukkan cincin pernikahannya. "Aku juga punya" ucap Sena dengan percaya diri. "Kau tunangannya? aku istrinya" imbuhnya.
Jihan tertawa kecil. "Tapi dia tidak mencintaimu" ucap Jihan. Itu cukup menjadi tamparan keras untuk Sena karena itu adalah faktanya.
"Nona Jihan, mohon anda bisa pergi sekarang juga" ucap Viana. Ia tau nona nya pasti sangat kesal sekarang.
"Aku akan pergi. Tapi aku ingin memberi tau sesuatu pada wanita itu" ucap Jihan. "Kau tau saat Dean pergi ke luar kota, Kami ... tidur bersama" ucap Jihan dengan senyum kemenangannya. Jihan berbalik kemudian pergi begitu saja meninggalkan Viana dan juga Sena. Hatinya hancur setelah mendengar itu, padahal ia tau kemungkinan seperti ini sangat memungkinkan untuk terjadi.