Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Perpustakaan



Sena berjalan ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin. Seperti kadal di tengah gurun pasir yang sangat kehausan, Sena meneguk habis minuman kaleng yang ada di tangannya.


"Ah ini sangat menyegarkan sekali" Ucap Sena sembari mengusap sisa air di bibirnya.


"Apa menurutmu itu bagus untuk pencernaan?" Tanya Dean yang muncul dari belakang. Sena yang terkejut langsung berbalik.


"Sudah pulang?" Tanya Sena. Dean berjalan mendekat.


"Eung, aku sangat merindukanmu sehingga aku ingin selalu pulang lebih awal" Jawab Dean. Mendengar itu Sena tersenyum malu.


"Kenapa tuan jadi begini?" Tanya Sena malu. Ia tersentak saat Dean menarik pinggangnya. "A-apa ini? Nanti ada yang lihat" Ucap Sena sembari berusaha melepaskan diri.


Cup


Satu ciuman mendarat di bibir mungilnya.


"Kenapa jika ada yang melihat? Kau istriku" Kata Dean dengan wajah datarnya.


"T-tapi ...."


"Berhenti mengatakan tapi, aku mau mandi" Ujar Dean. Sena mengerutkan keningnya heran.


"Kamar mandinya tidak pernah berpindah tempat, silahkan jika ingin mandi" Ucap Sena dengan senyum terpaksa.


"Ah begitu? Sekarang kau tidak lagi mengurusku? kau tidak lagi memilihkan baju untukku? Celana? Celana dal ...." Ucapan Dean terhenti saat Sena dengan cepat langsung menutup mulut Dean menggunakan tangannya.


"Tuan, tidak bisakah kau mengecilkan suaramu?" Tanya Sena frustasi. "Baiklah, ayo saya temani" Sena langsung menarik Dean dan membawanya ke kamar. Dean hanya tersenyum tipis melihat Sena seperti itu kepadanya.


Setelah berada di dalam kamar, Sena langsung melepaskan tangan Dean.


"Tuan mandilah, aku akan menyiapkan baju untukmu" Ujar Sena.


"Mandi bersama" Ucap Dean. "Tanganku sakit karena menabrak rak buku jadi aku tidak bisa menggosok bagian belakangku" Imbuhnya.


"Menabrak rak buku? apa itu parah? bagaimana bisa itu terjadi?" Tanya Sena panik dan langsung memeriksa tangan suaminya.


"Kau mengkhawatirkan ku?" Tanya Dean dengan senyum jahilnya.


"Tidak, tapi jika tuan sakit itu akan sangat merepotkan ku" Jawab Sena. Dean tertawa tidak percaya.


"Apa kau benar benar istriku?" Tanya Dean. Sena tertawa sembari mengangguk-angguk an kepalanya. Dean yang gemas langsung memeluk Sena dengan erat.


"Tuan ingin membunuhku?" Tanya Sena kesal karena Dean terlalu kuat memeluknya. Dean melepaskan pelukannya lalu tersenyum manis. Ia mencubit kedua pipi Sena.


"Berjanjilah kau akan tetap bersamaku, agar aku bisa selalu menjagamu" Ujar Dean. Sena tersenyum dan mengangguk lagi.


"Aku percaya padamu" Ucap Sena. Keduanya kembali berpelukan lagi.


*****


Pagi ini, Sena dan Dean sedang menikmati sarapan bersama. Kali ini Dean yang memasak untuk Sena.


"Bagaimana(rasanya)?" Tanya Dean pada Sena yang sedang mengunyah makanan. Sena terus mengunyah dan perlahan memberikan jempolnya sembari tersenyum.


"Ini enak sekali, uh kenapa tidak dari kemarin kemarin saja memasaknya?" Tanya Sena.


"Baiklah kalau begitu setiap pagi aku akan memasak untukmu" Ujar Dean sembari mengelus rambut Sena.


"Tidak itu tidak perlu, aku mengerti tuan pasti sibuk" Ucap Sena.


"Meskipun tidak setiap hari tapi aku pasti akan memasak untukmu" Ujar Dean dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya.


"Baiklah" Sena kembali mengunyah makanannya. "Tuan tidak pergi ke kantor?" Tanya Sena.


"Sebentar lagi, selesaikan saja makanannya" Jawab Dean. Sena hanya menganggukkan kepalanya.


Dari pintu utama Aldric masuk, seperti biasa ia selalu terlihat tampan dan rapi.


"Selamat pagi" Sapa Aldric.


"Selamat pagi tuan!" Balas Sena semangat.


"Tuan kita harus ke villa Timur, penjaga villa mengatakan banyak perusahaan yang ingin membeli wilayah villa Timur, penjaga mengatakan bahwa villa itu tidak di jual tetapi akhirnya mereka malah membuat kerusuhan" Ucap Aldric.


"Em baiklah ayo pergi" Ajak Dean sembari mengancingkan jasnya. Ia hendak bangkit dari duduknya tapi tangan Sena menahannya.


"Semua baik baik saja?" Tanya Sena. "Tuan akan pulang kan?" Tanya Sena lagi. Dean tersenyum lalu mengangguk, ia membungkuk dan memberikan satu ciuman di kening Sena.


Di satu sisi, Viana sedang memperhatikan Sena dari jauh. Tadinya ia ingin menemui Sena tapi langkahnya terhenti karena kehadiran Aldric. Viana berjalan menghampiri Sena yang sedang termenung.


"Nona" Panggil Viana. Sena langsung menoleh dan mendongak, senyumnya mengembang.


"Duduklah" Ujar Sena yang hendak menarik satu kursi di sampingnya.


"Tidak nona, saya sudah sarapan" Ucap Viana yang merasa tidak enak. "Apa kita jadi pergi ke perpustakaan Nona?" Tanya Viana.


"Tentu, aku sudah menantikan hari ini" Jawab Sena antusias.


"Apa nona sudah memberitahukan kepada tuan Dean? Disana selalu ramai pengunjung, tuan Dean mungkin tidak akan setuju" Ujar Viana takut takut.


"Kalau begitu jangan beritahu dia" Bisik Sena sambil cekikikan. "Baiklah ayo pergi" Ajak Sena. Viana hanya bisa menghela nafas berat dan bergegas menyusul Sena yang sudah lebih dulu pergi.


Sena melongo melihat apa yang ada di depannya. Sebuah perpustakaan terbesar ketiga di dunia.


"Viana lihat cantiknya!" Ucap Sena setengah berteriak.


"Ini adalah aset yang harus kita jaga nona" Ujar Viana.


"Kau pernah kesini?" Tanya Sena. Viana mengangguk.


"Waktu SMP" Jawab Viana. Sena mengangguk dengan mulut yang berbentuk huruf O.


"Itu luar biasa" Ujar Sena. "Ayo kita masuk" Ajak Sena.


Waktu terus berputar, jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Viana menghampiri Sena yang sedang asik memilih buku.


"Nona ingin makan sesuatu?" Tanya Viana.


"Steak pasti enak" Jawab Sena.


"Ayo kita pergi" Ajak Viana.


"Makannya disini saja, aku sedang asik membaca" Ucap Sena.


"Kita tidak boleh membawa makanan dari luar nona, tapi jika nona mau masih ada kantin perpustakaan di lantai dua" Ujar Viana.


"Hfttt baiklah ayo pergi" Ucap Sena akhirnya.


Keduanya berjalan santai. Keduanya berhenti ketika sudah sampai di depan cafe.


"Nona silahkan memilih meja nomor berapa, saya akan memesan makanannya" Ujar Viana. Sena mengangguk setuju.


Sena mulai memilih meja yang ingin ia duduki. Tapi ia tersentak saat seseorang menepuk bahunya dua kali. Sena langsung berbalik dan kemudian menghela nafas lega.


"Arka, kenapa mengagetkanku?" Tanya Sena kesal. Arka tertawa kecil.


"Maaf" Ucap Arka. "Kau sendiri? Dan sedang apa kau disini?" Tanya Arka.


"Ini kantin dan sudah jelas aku akan makan" Jawab Sena dengan tawa kecilnya.


"Tidak semua orang yang ada di kantin itu untuk makan, Sena" Ujar Arka sembari menarik hidung Sena.


"Kau sedang apa disini?" Tanya Sena.


"Mencari buku" Jawab Arka.


"Perpustakaannya ada di lantai tiga" Ujar Sena. Arka menganggukkan kepalanya.


"Aku lapar makanya aku kesini" Ucap Arka. Sena hanya memasang wajah datarnya.


"Nona, ayo makan" Ujar Viana yang baru datang dan tidak menyadari keberadaan Arka. Viana terdiam saat melihat Arka tersenyum padanya. Ia dengan cepat mengalihkan pandangannya dan mengajak Sena menjauh.


"Boleh aku bergabung?" Tanya Arka. Kedua wanita itu saling pandang.


"Tidak! Boleh!" Jawab keduanya bersamaan. Viana mengerutkan keningnya saat Sena menjawab boleh.


"Tapi nona ...."


"Tidak apa apa, ayo" Ajak Sena. Ketiganya memilih meja nomor enam dan mulai menikmati makanannya.


Di meja lain, seseorang mengambil ponselnya dan mulai melakukan panggilan.


"Tuan, Mereka bertemu"