Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Sena hilang



Arka berjalan dari parkiran menuju kerumah sakit tempatnya bekerja. Suasana masih seperti biasanya, selalu ramai apalagi saat memasuki waktu pergantian shift. Arka masuk ke lift untuk naik ke lantai tujuh. Setelah sampai di lantai tujuh pintu lift terbuka. Saat hendak keluar, Arka melihat Viana dari kejauhan. Arka penasaran kenapa Viana bisa berada di rumah sakit ini, siapa yang sakit? fikirnya. Arka mengikuti Viana yang masuk ke toilet dan menunggunya di depan. Tak lama kemudian Viana keluar sembari membenarkan jas nya. Viana terkejut bukan main saat Arka menghadangnya.


"K-kak"


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arka.


"em tidak ada. Aku akan menemui dokter untuk pemeriksaan mata" jawab Viana. Gadis itu berusaha menutupi kegugupannya dan mencoba untuk tetap tenang.


"Mata siapa?" tanya Arka.


"Mataku tentu saja, jadi kakak fikir mata siapa?" tanya Viana sembari tertawa kecil.


"Jangan berbohong Viana" tukas Arka.


"Aku serius, kakak lihat mataku ini kan?" tanya Viana bercanda. Tapi ia tersentak saat Arka mendekatkan wajahnya spontan.


"Kau lupa kita sudah lama mengenal?" tanya Arka dingin. "Tidak sebentar aku hidup bersama denganmu, Viana" imbuhnya. Viana menelan ludahnya samar.


"Jika kakak tidak percaya, aku harus menjawab apa?" tanya Viana. "Memangnya apa yang mau kakak ketahui?" tanya Viana lagi.


"Untuk apa kau disini?" tanya Arka lagi.


"Bukannya sudah ku ...."


"Hari ini tidak ada dokter mata yang bertugas di rumah sakit ini" potong Arka. "Jawab yang sebenarnya" ucapnya.


"Kenapa? Apa kakak harus tau alasanku berada disini?" tanya Viana kesal. Hatinya menjadi sesak dan nafasnya mulai tidak beraturan. Tiba tiba ponsel Viana berdering, saat dilihat ternyata Aldric yang menelepon. Dengan cepat Viana mengangkatnya.


"Kau dimana? kenapa lama sekali?" tanya Aldric di seberang telepon.


"Maaf tuan. saya akan segera kesana" Viana langsung mematikan panggilannya dan hendak pergi tapi lagi lagi Arka menghalanginya.


"Sekarang apa?" tanya Viana.


"Siapa yang sakit?" tanya Arka. Viana hanya tertawa kecil.


"Kakak tidak perlu tau" jawab Viana yang setelah itu langsung pergi meninggalkan Arka.


"Aku tau kau menyembunyikan sesuatu" gumam Arka dan setelahnya berjalan menuju ke ruangannya.


Arka berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Tak jauh di depannya ia melihat Dean keluar dari ruangan pasien. Jelas itu mengundang perhatiannya dan Arka semakin yakin bahwa Sena memang sedang tidak baik baik saja. Arka melihat Dean masuk ke dalam lift di susul dengan Aldric di belakangnya.


******


Sena sedang membaca novel di atas tempat tidurnya. Sena bosan karena terus terbaring jadi ia meminta Viana membawakan novel untuknya. Sena masih asik membaca namun tiba tiba ia terkejut saat ada yang menarik bukunya. Sena terdiam ketika tau bahwa itu adalah ulahnya Dean.


"Kau harusnya istirahat dan bukannya membaca buku" tegur Dean.


"Saya bosan tuan" ucap Sena. "Apa saya sudah boleh pulang?" tanya Sena.


"Belum, tidak" jawab Dean. "Aku akan ke perusahaan sekarang, Viana akan menemanimu disini" ujar Dean.


"Kenapa saya belum boleh pulang?" tanya Sena. "Saya baik baik saja tuan" ucap Sena.


"Al ayo kita pergi" ucap Dean. Dean pergi begitu saja dengan Aldric di belakangnya.


"Dia mengabaikan ku lagi" ucap Sena kesal.


Tidak lama setelah Dean dan Aldric pergi, Viana masuk dengan wajah kesalnya.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Sena heran. Viana menggeleng.


"Nona, dimana tuan Aldric?" tanya Viana yang menyadari bahwa Aldric tidak ada disana.


"Baru saja pergi, dia dan tuan Dean pergi ke perusahaan entah untuk apa" jawab Sena. "Wah, tumben sekali kau menanyakan Aldric?" tanya Sena menggoda Viana.


"Bosan sekali" ucap Sena.


"Bukannya saya sudah membawakan novel untuk nona?" tanya Viana.


"Tuan Dean menyuruhku istirahat" jawab Sena malas. "Viana, ayo temani aku berjalan-jalan di taman" ajak Sena.


"Baik, ayo saya bantu" ujar Viana.


Sena duduk di kursi roda dan Viana mendorongnya pelan dari belakang. Kini keduanya sudah ada di taman rumah sakit.


"Menyegarkan sekali" seru Sena. "Aku akan mengambil gambar" ucapnya. Tapi ia baru tersadar bahwa ponselnya pasti tertinggal di mansion. Melihat itu Viana hendak menawarkan bantuan dengan menggunakan ponselnya saja. Tapi Viana juga baru ingat kalau ponselnya tertinggal di dalam.


"Saya tidak membawa ponsel anda dan ponsel saya juga tertinggal di dalam nona" ucap Viana.


"Ah begitu ya" ucap Sena dengan wajah murung.


"Bagaimana jika saya ke dalam sebentar untuk mengambil ponsel saya dan nona bisa menunggu disini" ujar Viana. Sena tersenyum.


"Eum baiklah. aku akan menunggu disini" ucap Sena. Viana langsung pergi untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam.


Viana melangkahkan kakinya dengan cepat dan langsung kembali setelah mengambil ponselnya. Saat hendak pergi, Viana tak sengaja menjatuhkan kotak obat yang ada di atas meja. Dengan cepat ia membereskan obat obatan yang berserakan.


Viana kembali ke taman untuk menemui Sena. Tapi saat ia kembali Sena sudah tidak berada disana. Viana yang panik terus mencari Sena ke segala sudut taman namun hasilnya nihil. Viana masih terus mencari tapi tidak ada tanda tanda keberadaan Sena. Akhirnya Viana menelepon Aldric untuk meminta bantuan.


"Ada apa?"


"tuan, nona Sena hilang" ucap Viana.


"Hilang? bagaimana bisa hilang?" tanya Aldric.


"Tadi nona Sena mengajakku ke taman rumah sakit. Dia ingin mengambil gambar jadi aku meninggalkannya sebentar untuk mengambil ponsel ku lalu saat kembali nona Sena sudah tidak berada di tempatnya" jawab Viana panik.


"Kenapa kau meninggalkannya? apa kau sudah gila?" bentak Aldric yang ikut panik.


"Maafkan saya tuan" ucap Viana takut.


"Kau sudah mencarinya?" tanya Aldric.


"Sudah. saya sudah mencari ke semua tempat yang ada di rumah sakit ini, tapi tetap tidak ada" jawab Viana.


"Baiklah, aku akan segera kesana" Setelah itu sambungan langsung terputus. Viana menghela nafas berat, ia benar benar takut sekarang.


****


Dean baru keluar dari ruangan setelah selesai melakukan rapat dengan beberapa kliennya.


"Darimana saja kau?" tanya Dean pada Aldric yang baru datang.


"Dari rumah sakit" jawab Aldric ngos-ngosan.


"Ada apa? kenapa dengan nafas mu?" tanya Dean.


"Nona Sena menghilang" jawab Aldric.


"Bagaimana bisa menghilang?" tanya Dean terkejut. "Dimana Viana?" tanyanya.


"Sekarang tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera menemukan nona Sena" ujar Aldric.


Keduanya langsung menuju ke mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya Aldric sudah menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari Sena. Ia juga mengirim beberapa orang ke rumah sakit untuk melihat rekaman cctv. Dean mengepalkan tangannya kuat menahan emosi di dadanya.


"Apa kau mencoba membodohi ku? apa aku salah menilai mu? Kau ingin lari ternyata. Ku fikir kau berbeda, dasar jalang. Aku akan membunuhmu ketika aku menemukanmu nanti" antara marah atau khawatir, Dean terus mengumpat dalam hati.