Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Apa yang terjadi?



Viana mendudukkan bokongnya setelah lelah membereskan barang barang yang akan ia bawa kembali ke apartemennya. Ia menghela nafas kasar.


"Seharusnya aku fikirkan lagi keputusanku untuk membawa semua barang barang ku hari itu" ucap Viana. "Kalau begini melelahkan sekali" imbuhnya sembari menyandarkan kepalanya pasrah.


Setelah melihat ponselnya Viana benar benar terkejut karena ia baru sadar kalau hari sudah malam. Dengan cepat ia langsung bergegas mengambil kopernya dan segera keluar dari kamarnya. Viana menyeret kopernya dengan kesusahan, ia mencoba menelepon supir untuk mengantarkan mobilnya.


"Halo, pak tolong antar mobil saya ke mansion tuan Dean. Malam ini saya akan pulang ke apartemen" ujar Viana setelah panggilan tersambung.


"Maaf nona, tapi mobil nona sedang di servis" ucap sang supir. "Haruskah saya mengambil mobil yang ada dirumah nona?" tanyanya. Viana menghela nafas, kalau papa nya tau ia pasti tidak akan di izinkan untuk kembali ke apartemen.


"Tidak usah pak, saya naik taksi saja" ujar Viana.


"Tapi ini sudah malam nona, tuan pasti akan sangat marah kalau tau nona naik taksi malam malam begini" ucap sang supir lagi.


"Kalau begitu usahakan ayah tidak tau, oke? aku tutup dulu" Viana langsung mematikan teleponnya dan menaruh ponselnya kedalam tasnya. Viana keluar dari pintu utama dan langsung mengedarkan pandangannya. Ini sudah sangat malam pikirnya.


Tiba tiba ia mendengar langkah kaki seseorang dari belakang. Dengan refleks Viana langsung menoleh ke belakang. Matanya seketika melebar saat tau yang berjalan di belakangnya adalah Aldric. Viana melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menghindari Aldric.


"Hei tunggu!" langkah kaki Viana seketika terhenti. Aldric segera menghampiri Viana yang sudah berhenti.


Viana berbalik perlahan. "Tuan memanggil saya?" tanya Viana.


"Menurutmu aku memanggil siapa?" tanya Aldric. Viana hanya tersenyum tipis. "Kau baru akan pergi?" tanya Aldric. Viana mengangguk.


"Maaf tuan" ucap Viana.


"aku hanya bertanya, kenapa kau meminta maaf?" tanya Aldric. "Bukannya aku sudah memberitahukan padamu, kenapa sampai malam begini kau baru akan pergi?" tanya Aldric lagi.


"Saya membereskan semua barang barang dan tidak menyadari kalau ini sudah malam" jawab Viana. "Kalau begitu saya akan pergi sekarang, selamat malam tuan" Viana sudah akan berbalik.


"Kau pulang dengan siapa?" tanya Aldric.


"Sendiri. saya akan menunggu taksi di depan" jawab Viana.


"Taksi?" tanya Aldric bingung. Viana menganggukkan kepalanya. "Apa kau fikir ada taksi di malam malam begini?" tanya Aldric kesal.


"Saya bisa pesan taksi online, atau saya akan berjalan sedikit dan menunggu bus di halte" ucap Viana menahan kesal.


"Ck, tidak baik perempuan malam malam begini naik taksi online, ikut aku" ajak Aldric yang berjalan melewati Viana. Tapi Viana belum bergerak sama sekali, ia masih terdiam di tempatnya sampai akhirnya Aldric menoleh ke belakang.


"Apa yang kau tunggu? apa kau akan berdiri disitu sampai besok?" tanya Aldric. Mendengar itu, Viana bergegas mengejar Aldric yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Ck tega sekali dia membiarkanku membawa koper ini sendirian" gumam Viana yang tidak bisa di dengar oleh Aldric tentunya. Viana membuka pintu dan hendak masuk.


"Hei, kau fikir aku supir mu ya?" teriak Aldric saat melihat Viana hendak duduk di belakangnya. Viana melengos lalu beranjak pindah.


Aldric mengemudi dengan santai dan tidak ada percakapan apapun selama beberapa saat. Viana terus memandang keluar, lagi lagi ia mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Itu sangat melukai hatinya, apalagi saat tau bahwa Arka menyukai perempuan lain dan perempuan itu adalah Sena. Viana tidak pernah berfikir untuk membenci Sena bahkan setelah ia tau bahwa Sena menjadi alasan kenapa Arka meninggalkannya.


"Apa aku harus menghilang sekarang? bagaimana jika hatiku kembali padanya? Bagaimana aku menjelaskan pada hatiku bahwa ini salah? jika dua tahun lalu aku tidak gegabah, apa rasa sakitnya akan berbeda? apa rasa sakitnya tidak akan sama seperti sekarang?" Viana menghela nafas. Viana terus bertanya tanya pada hatinya namun tidak menemukan jawaban apapun. Viana tersentak saat mobil tiba tiba berhenti.


"Ada apa tuan?" tanya Viana.


"Apa dia sudah gila? kenapa dia tertidur di jalanan?" tanya Aldric kesal. Viana sontak mencari sesuatu yang di maksud oleh Aldric. Aldric hendak membuka pintu tapi Viana langsung mencegahnya.


"Bagaimana jika ini adalah modus perampokan?" tanya Viana takut. "Tuan jangan keluar" imbuhnya. Aldric terus memperhatikan tangan Viana yang masih memegang lengannya. Setelah menyadari itu, Viana langsung melepasnya.


"Tidak akan ada yang merampok disini" ucap Aldric. "Kau bisa tunggu disini kalau kau takut" imbuhnya. Aldric kemudian turun dan berjalan ke depan.


"Apa dia sudah gila? bagaimana jika dia di rampok?" tanya Viana yang sudah ketakutan. Viana langsung membuka pintu dan keluar setelah melihat Aldric yang memanggilnya dengan melambaikan tangan.


Viana membulatkan matanya saat melihat siapa yang sedang pingsan.


Mobil melaju dengan kencang menuju ke rumah sakit. Entah apa yang terjadi, Viana kini benar benar panik dan khawatir pada nona nya yang sudah tidak berdaya.


"Nona bangun!" seru Viana sembari menepuk pipi Sena pelan. "Nona Sena, ayo sadarlah" imbuhnya. Viana kemudian melihat ke depan. "Tuan, apa masih jauh?" tanya Viana.


"Tidak" jawab Aldric singkat. "Kau bisa diam tidak?" tanya Aldric kesal.


"Apa tuan bisa diam disaat kondisi darurat seperti ini?!" teriak Viana tak kalah kesal yang membuat Aldric sedikit tersentak.


Sesampainya di rumah sakit, Sena langsung mendapat penanganan pertama di ICU. Viana meremas tangannya pelan, fikirannya kini tertuju pada Arka. Bagaimana jika Arka tau? Viana takut kakaknya akan sedih dan Viana juga takut jika nanti akan terluka saat melihat Arka mengkhawatirkan Sena.


Aldric sedari tadi menyadari kegelisahan pada diri Viana. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon Dean.


"Halo" Suara Dean terdengar di seberang telepon.


"Tuan kami menemukan nona Sena di jalanan" ujar Aldric.


"Lalu?" tanya Dean yang terlihat masih kesal.


"Dia terluka parah" jawab Aldric. "Dokter sedang menanganinya sekarang" imbuhnya.


"Urus saja semua administrasi nya, setelah itu kau bisa meninggalkannya disana" ucap Dean. Aldric hanya melengos saat Dean mematikan panggilannya. Aldric kembali menghampiri Viana yang masih terlihat gelisah.


"Apa dokternya sudah keluar?" tanya Aldric.


"Belum tuan" jawab Viana. Aldric kini mendudukkan bokongnya dengan mata yang masih terus menatap kearah Viana.


Ditempat lain, ada seorang pria yang sedang dilanda dilema. Dean bimbang harus kerumah sakit atau tidak. Ia bahkan tidak tau apa tujuannya dia datang kerumah sakit, tapi entah kenapa perasaannya tiba tiba menjadi ragu untuk mengabaikan Sena.


Dean memejamkan matanya mencoba untuk tertidur. Tapi ditengah usahanya untuk tertidur, ia kembali teringat kenangan bersama sang nenek. Apalagi saat SMA ia pernah di tolak oleh seorang gadis dan akhirnya ia mengadu pada sang nenek.


*Flashback*


Dean menghampiri sang nenek yang sedang duduk di sofa sembari menonton televisi.


"Kau sudah pulang?" tanya sang nenek yang menyadari kehadiran sang cucu.


"Eung" jawab Dean singkat.


"Ganti pakaian mu dulu, setelah itu kita makan bersama" ujar nenek.


"Nek, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Dean.


"apa itu?"


"Apa cinta itu harus selalu berbalas?" tanya Dean.


"Siapa yang bilang begitu? tentu saja tidak, kau mencintai seseorang?"


"Tidak. aku hanya bertanya saja" jawab Dean.


Sang nenek menghela nafas. "Saat cintanya tidak berbalas, biasanya seseorang akan memilih pergi atau terus bertahan dengan rasa sakitnya. Dan orang yang tidak bisa membalas cintanya biasanya akan memilih untuk menjauh atau belajar untuk mencintai. Cinta bisa tumbuh dengan kebersamaan dan rasa peduli" ujarnya.


Dean menghela nafas. "Suatu saat aku akan berada di posisi itu. Aku harus pergi atau bertahan? Menjauh atau belajar mencintai?" tanya Dean.


"Pilihan ada di tanganmu. Namun saat seseorang menyukaimu, tidak ada salahnya untuk belajar menyukainya" ujar sang nenek.


Flashback end**


Dean bangkit dari tidurnya, mengambil jaket dan kunci mobilnya. Dean langsung bergegas pergi kerumah sakit untuk menjenguk dan melihat keadaan Sena.