
Sena terus memijat kepala Dean dengan lembut. Ia menelan ludahnya karena tenggorokannya yang terasa kering sekarang. Dean terus menatap Sena dengan mata tajam nan indahnya. Sena tersentak saat Dean tiba tiba menarik pinggangnya. Tatapan keduanya lagi lagi bertemu.
"Kenapa? kau gugup?" tanya Dean dengan wajah datar. Sena tidak menjawab, ia membeku di tempat. "Bukannya kita sudah pernah melakukannya?" tanya Dean menggoda.
"T-tuan, apa yang anda lakukan?" tanya Sena.
"Apa yang aku lakukan rupanya? ini hal yang wajar" jawab Dean.
"T-tapi ...." Sena kembali tersentak saat Dean semakin menarik pinggangnya. Dean mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga Sena.
"Ayo kita lakukan lagi" bisik Dean. Sena membulatkan matanya, tapi ia tidak bisa melakukan apapun karena bibir Dean sudah berhasil mengenai lehernya. Sena menggigit bibir bawahnya, mencegah agar suara desahan tidak keluar dari mulutnya.
"Tuan ... aakhh!" pekik Sena saat Dean menggigit lehernya.
Dean menggiring Sena untuk naik ke atas ranjang. Tangannya mulai merayap dan berhenti di tempat yang entah sejak kapan menjadi favoritnya.
Sena terus berusaha menahan gairahnya namun ternyata ia tidak bisa. Setelah jeda yang panjang, malam kedua pun terjadi.
Dean membuka matanya perlahan, ia terkejut saat melihat Sena masih berada di pelukannya. Ditatapnya wajah mungil itu, tiba tiba ia menyunggingkan senyumnya. Tangannya tergerak untuk menyentuh pipi Sena. Lenguhan kecil keluar dari mulut wanita itu, Sena membuka matanya dan ia juga terkejut saat melihat Dean sedang menatapnya. Dean mencium kening Sena lalu kembali menutup matanya.
"Tidurlah lagi, ini masih terlalu pagi" ujar Dean dengan mata terpejam.
Sena memandangi wajah Dean untuk beberapa saat, lalu ia tersenyum dan kembali menutup matanya.
*****
Aldric menghela nafas gusar. Ia tampak gelisah karena beberapa menit yang lalu ia mendapat telepon dari Dean yang memerintahkannya untuk memanggil Viana kembali. Aldric sudah mencoba untuk menelepon Viana tapi tidak ada jawaban sama sekali. Aldric dengan terpaksa harus mendatangi tempat tinggal Viana dan bagaimana pun caranya ia harus bisa membawa Viana kembali. Setelah mencari cukup lama, Aldric akhirnya mengetahui dimana letak apartemen Viana. Aldric bergegas mengambil mobilnya dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Di tempat lain, seorang wanita sedang sibuk membereskan pakaian yang baru ia keluarkan dari kopernya. Viana sedang sibuk menyusun kamarnya yang tampak berantakan sampai ia tidak menyadari bahwa sudah beberapa kali ponselnya berdering.
Viana menaiki kursi untuk menaikkan kopernya. Viana menoleh saat bel pintunya berbunyi. Ia turun lalu berjalan menuju pintu dan melihat siapa yang datang. Viana terkejut saat melihat yang datang adalah Aldric. Awalnya ia tidak berniat untuk membukakan pintunya tapi ia mengurungkan niatnya saat ponselnya berdering dan ia yakin itu adalah Aldric. Viana membuka pintunya perlahan.
"Tuan, ada apa datang kesini?" tanya Viana sedikit gugup.
"Nona Sena memintamu kembali ke mansion" jawab Aldric. Yang sebenarnya adalah Aldric sedang berbohong. Ia teringat ucapan Dean beberapa saat yang lalu.
"Jangan menyebut nama ku, jangan membawa bawa nama ku. Katakan padanya jika Sena yang memintanya kembali ke mansion" Itulah yang di ucapkan Dean pada Aldric dengan nada penuh penekanan.
"T-tapi bukannya ...."
"Kalau kau mau kau bisa membereskan barang barang mu lagi, aku akan menunggu di mobil" Ucap Aldric sembari berjalan meninggalkan Viana.
Viana hanya melongo saat Aldric meninggalkannya. Ia tidak habis fikir kenapa ada manusia seperti Aldric. Viana masuk kedalam kamarnya.
"Apa salahnya dia menunggu disini? tidak maksudku menunggu diluar. Kenapa harus di mobil? apa dia fikir aku tidak perlu bantuan?" omel Viana. Ia hendak mengabaikan Aldric, tapi mengingat bahwa Sena yang memintanya untuk kembali membuat pertahanannya hancur.
Viana kembali mengemasi barang barangnya sembari terus mengomel tentunya. Hanya karena Sena yang memintanya jadi ia akan menurutinya. Viana keluar dari apartemennya dengan membawa koper dan tas ranselnya.
Ia menghembuskan nafasnya saat melihat Aldric sedang duduk sembari bermain ponsel. Viana berjalan menghampiri pria itu.
"Saya sudah selesai" ucap Viana. Aldric menoleh.
"Kenapa lama sekali?" tanya Aldric. Viana hanya diam dan tak berniat untuk menjawab. "Masuklah" suruh Aldric. Pria itu membuka bagasi mobil dan memasukkan barang barang Viana.
Viana sudah berada di dalam mobil. Ia sedikit melirik saat Aldric masuk dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Tuan, apa nona sudah pulang ke mansion?" tanya Viana. Aldric mengangguk mengiyakan. "Apa nona Sena benar benar di culik? lalu siapa yang menculiknya? dan apa alasannya?" tanya Viana.
"Kau benar benar ingin tau?" tanya Aldric. Viana menganggukkan kepalanya.
"Aku ingin tau siapa yang menculiknya. Aku berfikir, mungkin nona Jihan atau kakaknya nona Sena" jawab Viana.
"K-kenapa?" tanya Viana.
"Yang menculiknya adalah kakakmu" jawab Aldric. Viana menutup mulutnya karena terkejut.
"kakakku?" tanya Viana kaget.
"Kau benar benar tidak tau atau hanya berpura pura tidak tau?" tanya Aldric.
"Aku benar benar tidak tau tuan" jawab Viana. Gadis itu terdiam, ia tidak menyangka sang kakak bisa melakukannya. Apa dia sangat mencintainya? kenapa dia menculiknya? pertanyaan itu terus berputar di otak Viana.
"Sudahlah. Lakukan yang terbaik mulai sekarang" ujar Aldric.
"Baik tuan" sahut Viana. Keduanya terdiam dan tenggelam dengan isi fikiran masing masing.
****
Sena duduk di sofa sembari terus menatap wajah Dean yang sedang bekerja dengan laptopnya. Sena menoleh saat pintu di ketuk dan Aldric muncul.
"Tuan, saya sudah membawa Viana kembali" ucap Aldric. Mendengar itu Sena melebarkan matanya.
"Dimana dia?" tanya Sena.
"Di kamarnya" jawab Aldric. Sena berdiri dan hendak berlari keluar.
"Berhenti disitu" tukas Dean yang langsung membuat Sena membeku. Dean mengangkat pandangannya.
"Al keluarlah dan terima kasih" ucap Dean. Aldric mengangguk lalu segera keluar. Dean berdiri dan segera menghampiri Sena yang masih membeku.
"Kau ingin pergi begitu saja?" tanya Dean. "Apa kau tidak tau berterima kasih?" tanya Dean lagi. Keduanya saling berhadapan.
"Terima kasih tuan" ucap Sena sedikit membungkuk.
"Begitu saja?" tanya Dean. Sena menghela nafas.
"Lalu harus bagaimana?" tanya Sena.
"Ah baiklah kalau hanya begitu" Dean hendak meninggalkan Sena tapi Sena dengan cepat langsung memeluk Dean.
"Terima kasih banyak" ucap Sena. Dean menyunggingkan senyumnya lalu membalas pelukan Sena.
"Ku beri waktu 30 menit dan setelah itu kau sudah harus kembali kesini" ucap Dean.
"Kenapa begitu?" tanya Sena. Dean melepaskan pelukannya lalu berjalan melewati Sena.
"Pergilah sebelum aku berubah fikiran" ucap Dean. Mendengar itu membuat Sena dengan cepat berlari meninggalkan Dean.
Melihat Sena berlari keluar dari kamarnya membuat Dean tertawa lucu. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Aldric.
"Halo tuan" Terdengar suara Aldric di seberang telepon.
"Kau dimana?" tanya Dean.
"di belakang sedang memberi arahan pada beberapa pelayan" jawab Aldric.
"Kebetulan sekali, suruh salah satu dari mereka untuk membereskan barang barang Sena dan memindahkannya ke kamarku" ucap Dean.
"Em baiklah"
Sambungan langsung terputus. Dean meletakkan ponselnya, senyumannya merekah tanpa alasan yang jelas. Hatinya tidak terkontrol saat berada di dekat Sena, tapi Dean menyukainya.