
Aldric melongo dengan tatapan penuh tanya. Saat ia bertanya dimana Anna, Viana pun langsung menunjukkannya. Namun bukannya manusia yang ia temui, melainkan seekor kucing yang sedang menyusui anaknya.
"Anna?" Seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Aldric hendak menyentuh Anna tapi Viana segera mencegahnya.
"Jangan di sentuh! Dia sedang menyusui" Viana mencubit tangan Aldric.
"Yang membuatmu bahagia waktu itu adalah Anna? Kucing jelek ini?" tanya Aldric. Viana hanya melirik tajam lalu kembali melihat kucing kesayangannya.
"Ini cantik tauk!" Viana tersenyum pada kucing yang sudah beberapa tahun menemaninya. Walaupun akhirnya ia yang pergi meninggalkan Anna. "Dia pasti kesepian, untung saja ada Elsa, dan Olav" Ujarnya.
"Siapa lagi itu?" Tanya Aldric.
"Anak anaknya" Jawab Viana. Aldric tertawa tidak percaya.
"Kau pengagum Disney?" Tanya Aldric. Viana mengangguk mengiyakan. "Kenapa tidak kau bawa saja?" Tanya Aldric. Viana menggeleng pelan.
"Mereka tidak pernah keluar setelah masuk kerumah ini, jadi pasti agak sulit mengurusnya" Viana mengelus kepala Anna dengan sayang. Melihat itu, Aldric juga ikut mengelus pucuk kepala Viana. Tak peduli jika saat ini Viana sedang menatapnya.
"Anak baik" Ujar Aldric dengan senyum di bibirnya. Sedangkan Viana tertegun dengan mata yang mulai memanas.
*****
Sena dan Dean sedang menikmati sarapan pagi. Tidak, hanya Dean yang menikmati sedangkan Sena tidak berselera makan sama sekali. Ia hanya membolak-balik makanan menggunakan sendok di tangannya.
"Ada apa?" Tanya Dean yang sedari tadi memperhatikan Sena. Sena menggeleng lalu tersenyum. "Kau mau makan sesuatu?" Dean mengambil tangan Sena dan menggenggamnya.
"Tidak, sayang" Jawab Sena. Masih ingin bicara, tapi tiba tiba ia merasakan mual. Dengan cepat ia berlari ke dapur, ia ingin muntah tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Sena merasa lemas, ia berkeringat padahal ia tidak melakukan apapun. Dean menghampiri Sena dan memegang kedua bahu wanita itu.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Dean khawatir. "Ayo kerumah sakit" Dean hendak melangkah tapi Sena menahannya sambil menggeleng pelan.
"Aku ingin istirahat saja" Sena memegang kepalanya yang tiba tiba menjadi pusing. Dengan sigap Dean langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar.
"Aku akan telpon Aldric" Dean mengambil ponsel di sakunya. Ia menoleh saat Sena menarik ujung jasnya.
"Aku baik baik saja, tuan bisa pergi ke kantor" Ujar Sena. Dean menatap Sena dalam dalam. Tatapannya menyiratkan kekhawatiran untuk sang istri.
"Kau yakin?" Sena mengangguk sembari tersenyum, mencoba untuk meyakinkan Dean bahwa ia baik baik saja. Dean mengusap pipi Sena lalu mencium kening wanita itu.
"Jika kau butuh sesuatu hubungi aku" Sena tertawa kecil yang langsung membuat Dean menaikkan sebelah alisnya. "Aku serius" Ucapnya.
"Ada Viana, dia akan menemaniku" Ujar Sena. Dean menatap malas ke sembarang arah.
"Jadi kau lebih membutuhkannya ternyata" Dean kembali menatap Sena saat wanita itu menarik ujung jasnya lagi.
"Pulanglah lebih awal" Ucap Sena dengan senyum manisnya. Dean mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, aku pergi" Dean berjalan keluar. Namun sebelum menutup pintu, sekali lagi ia ingin memastikan bahwa istrinya baik baik saja. Sena mengangguk dengan melambaikan tangan seolah berkata~Pergilah, aku baik baik saja~ begitu.
Dengan langkah berat, Dean meninggalkan mansion dan bersama Aldric menyusuri jalanan menuju perusahaan.
"Hari ini ada jadwal apa Al?" tanya Dean.
"Jam sepuluh ada Meeting dengan Arma group, lalu jam satu makan siang dengan direktur Chan dan jam tiga mengunjungi pabrik Selatan" Aldric menjelaskan dengan rinci. Dean menghela nafas gusar.
"Batalkan kunjungan ke pabrik Selatan" Ujar Dean. Aldric melirik melalui spion.
"Apa yang terjadi?" Tanya Aldric.
"Sena, dia sedang tidak enak badan" Jawab Dean.
"Sudah kerumah sakit?" Tanya Aldric lagi. Dean menggeleng. "Kan ada Viana yang akan menjaganya" Ucap Aldric.
"Aku tidak seutuhnya percaya dengannya" Dean menatap spion. "Dia banyak membuat masalah" Imbuhnya.
"Wah, kau membelanya?" Dean melipat tangannya didepan dada.
"Tidak" Sontak Aldric menyanggah pertanyaan Dean barusan.
"Lalu kenapa kau bilang dia tidak seburuk itu?" Dean menatap sinis pada Aldric.
"Memang kenyataannya begitu!"
"Memang kesalahanku adalah memperkerjakan seorang sepertimu" Dean memalingkan wajahnya.
"Aku juga berharap sebentar lagi akan ada yang menggantikan bosku" Ucap Aldric tak kalah sengit.
Keduanya memang sering berdebat seperti ini. Tapi bukan berarti Aldric tidak menghargai Dean sebagai bosnya. Jika sedang berdua mereka akan lebih terlihat seperti kakak beradik yang sangat dekat. Namun Aldric adalah sekretaris perfect jika di hadapan orang banyak. Ia akan menjaga harga diri dan kehormatan tuannya. Meskipun Dean sering berkata bahwa ia menyesal, sebenarnya tidak begitu. Aldric adalah orang yang paling mengerti dirinya setelah neneknya, Aldric tau segalanya. Itu sebabnya sampai saat ini Dean tidak pernah berfikir untuk mencari pengganti Aldric.
Aldric mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Halo, ada apa?" Tanya Aldric pada seseorang di balik telepon.
"Winandra tidak sengaja melepas selang oksigen!" Aldric membulatkan matanya.
"Lalu bagaimana?" Tanya Aldric.
"Dokter sedang memeriksanya!"
"Baiklah kami akan segera kesana" Aldric dengan cepat memutuskan sambungan teleponnya.
"Ada apa Al?" Tanya Dean.
"Winan melepas selang oksigen!" Jawab Aldric panik. Dean yang terkejut spontan melebarkan matanya. "Kita harus kesana, tapi ini adalah meeting penting dan juga pertemuan dengan direktur Chan tidak mungkin di batalkan" Ujar Aldric. Dean menghela nafas.
"Kita selesaikan dua jadwal ini dan setelahnya kita langsung kesana" Dean memijat pelipisnya yang terasa pusing. Aldric mengangguk setuju.
Setelah selesai meeting dan juga pertemuan makan siang dengan direktur Chan, Aldric dan Dean bergegas pergi ke villa Timur.
"Sudah mendapat kabar?" Tanya Dean. Aldric menggeleng.
"Terakhir dokter mengatakan bahwa kadar oksigen yang masuk ke tubuhnya sangat rendah dan menyebabkan hipoksemia" Jawab Aldric. Dean lagi lagi hanya menghela nafas gusar.
"Kita harus memperketat penjagaan" Ujar Dean.
"Dean" Panggil Aldric.
"Eum?"
"Apa tidak sebaiknya kita melepaskannya saja?" tanya Aldric takut takut. Dean menatap tajam pada Aldric yang menatapnya lewat spion.
"Kau tau kan seberapa berharganya nyawa seseorang?"
"Tapi kita hanya membuatnya tersiksa jika seperti ini!" Ujar Aldric. "Seharusnya dia sudah bisa hidup tenang, tapi sekarang dia malah kembali berjuang. Tidak, bukan dia yang berjuang tapi kita. Kita menahannya untuk pergi" Imbuhnya.
"Aku sedang tidak ingin membahas ini, Al" Ucap Dean. "Percepat laju mobilnya, kita harus segera sampai kesana" Sambungnya. Aldric menghela nafas.
"Kau memang keras kepala, terserah kau saja" Aldric akhirnya kembali mengalah. Bukan sekali, tapi beberapa kali ia sudah memberi peringatan kepada Dean. Tapi pria itu tidak pernah mengindahkan ucapannya.
Setelah sampai, Dean langsung turun dan di susul Aldric di belakangnya. Dean berlari untuk segera sampai ke villa. Ia membuka pintu dan menaiki anak tangga.
"Winandra!" Dean celingukan mencari seseorang yang ia panggil namanya barusan. Dean berbalik saat mendengar langkah kaki di belakangnya.
"Ayah!"