
Suasana pagi begitu sejuk. Viana keluar dari kamar mandi dan berjalan ke meja hias untuk mengeringkan rambutnya. Ia melihat ke tempat tidur saat ponselnya berdering.
"Tuan Aldric? kenapa dia meneleponku?" Viana bertanya tanya sendiri. Dengan agak takut ia mengangkatnya.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Aldric.
"Baru saja diangkat sudah marah marah" Batin Viana. "Ada apa tuan?" Tanya Viana.
"Ayo keluar" Ajak Aldric. Viana mengerutkan keningnya.
"Kemana?" Tanya Viana.
"Entahlah. Baiklah aku akan menjemputmu jam 8 malam nanti" Ucap Aldric yang dengan sepihak langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Viana melongo. "Apa barusan dia mengajakku dinner?" Tanya Viana kaget.
Setelahnya ia menoleh saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Viana fikir itu Aldric jadi ia cepat cepat membenahi rambutnya. Ia berjalan kearah pintu dan setelah membukanya yang ia lihat hanyalah wajah Sena yang sedang tersenyum manis kearahnya.
"Hai, kau sibuk?" Tanya Sena.
"Tidak nona, silahkan masuk" Ujar Viana. Sena dengan senang hati masuk dan mendudukkan bokongnya di pinggiran kasur.
"Kau sudah mandi?" Tanya Sena. Viana menganggukkan kepalanya. "Kau sudah sarapan?" Tanya Sena lagi. Kali ini Viana menggeleng.
"Ayo saya temani makan nona" Ujar Viana.
"Kenapa aku? kan kamu yang belum makan" Ucap Sena.
"Saya tidak lapar nona, ayo saya temani" Ujar Viana.
"Aku ingin makan buah-buahan saja" Ucap Sena. "Perutku seperti mual ingin muntah" Imbuhnya.
"Jangan jangan nona hamil!" Terka Viana. Sena terkejut mendengar itu.
"Bagaimana bisa?" Tanya Sena.
"Tentu bisa, wah nona harus periksa ke dokter kandungan" Ujar Viana.
Sena belum bisa percaya, antara senang atau malah sedih. Sena takut Dean belum benar benar menerimanya.
"Ayo temani aku membeli novel" Ajak Sena.
"Tapi nona harus sarapan dulu" Ujar Viana.
"Iya iya, tapi temani ya" Ucap Sena. Viana mengangguk mengiyakan.
Di meja makan sudah ada beberapa menu makanan. Sena duduk lalu menyuruh Viana untuk duduk di sampingnya.
"Duduklah" Ujar Sena.
"Tidak, saya akan disini saja nona" Tolak Viana halus.
"Kau menolak ku?" Tanya Sena. "Jahat sekali" Imbuhnya. Viana menghela nafas, lalu duduk di samping Sena.
"Tapi, dimana tuan Dean nona?" Tanya Viana.
"Dia sudah pergi ke kantor pagi pagi sekali" Jawab Sena. Viana mengangguk mengerti. "Viana" Panggil Sena sedikit berbisik.
"Ya, ada apa nona?" Tanya Viana.
"Omong omong, apa kau menyukai tuan Aldric?" Tanya Sena. Sepertinya ini bukan pertama kalinya Sena menanyakan soal itu tapi tetap saja itu membuat Viana terkejut.
"Tidak nona" Jawab Viana.
"Tapi sepertinya tuan Aldric menyukaimu" Ujar Sena.
"Itu tidak mungkin nona, kami jelas berbeda" Ucap Viana.
"Kau pasti melihat perbedaan yang sangat jauh antara aku dan tuan Dean" Ucap Sena. "Menurutku kalian cocok" Imbuhnya.
Viana hanya tersenyum malu, ia tidak tau tapi hatinya menjadi bahagia hanya karena Sena mengatakan itu.
******
Setelah makan, Sena dan Viana langsung bergegas keluar untuk membeli novel. Dengan di antar oleh pak Rey Sena dan Viana turun dan meminta pak Rey untuk menunggu diluar saja.
"Viana, kau ingin membeli sesuatu?" Tanya Sena. Viana sedikit berfikir.
"Aku ingin membeli baju nona" Jawab Viana.
"Baiklah, aku yang akan membayarnya" Ujar Sena.
"Ah tidak tidak, terima kasih banyak nona tapi itu tidak perlu" Tolak Viana yang merasa tidak enak.
"Kau masih menganggap ku orang lain?" Tanya Sena sewot. "Ayo aku temani, dan pilih yang kau suka" Ujar Sena.
Sena dan Viana masuk ke butik baju, kedua wanita itu kini sedang melihat lihat pakaian yang sekiranya nyaman untuk di pakai.
"Terlalu seksi" Ujar Sena. "Aku takut kau tidak nyaman saat mengenakannya nanti" Imbuhnya.
"Benar juga, bagaimana kalau yang ini?" Tanya Viana.
"Bagus" Jawab Sena. "Tapi omong omong kau akan memakainya kemana?" Tanya Sena heran.
"Aku akan pergi bersama tuan Aldric" Jawab Viana malu malu. Sena terkejut namun setelahnya ia tersenyum sumringah.
"Aku tau pasti ada sesuatu diantara kalian" Ucap Sena.
"Tidak nona" Ucap Viana malu.
Sena tersenyum senang. "Kau mau yang itu? ambillah" Ujar Sena.
"Tapi ini terlalu mahal nona" Ucap Viana.
"Tidak apa, jika ada wanita lain yang boleh menghabisi uang suamiku wanita itu adalah dirimu" Ujar Sena. "Anggap saja ini hadiah untukmu" Imbuhnya.
"Terima kasih banyak nona" Viana langsung membawa baju yang ia suka ke meja kasir.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, keduanya berjalan ke tempat pak Rey memarkirkan mobilnya.
Keduanya sedang bercanda gurau, tiba tiba langkah Viana terhenti. Ia terdiam melihat seorang pria tua yang sedang menatap kearahnya.
"Viana, ada apa?" Tanya Sena. Sena kemudian beralih menatap pria tua itu.
"Dia ayahku" Ujar Viana. Jelas itu membuat Sena terkejut.
Setelah meminta izin pada Sena, Viana dan sang ayah memilih duduk di resto yang tak jauh dari lokasi Sena berada.
"Bagaimana kabar ayah?" Tanya Viana.
"Apa tidak seharusnya ayah yang menanyakan itu?" Tanya sang ayah.
"Aku baik baik saja" Jawab Viana. "Dimana ibu?" Tanya Viana.
"Sedang memilih baju" Jawab sang ayah. "Kenapa kau tidak pernah kembali kerumah?" tanyanya.
"Aku belum sempat" Jawab Viana.
"Belum sempat atau belum ingin?" Tanya sang ayah.
"Ayah makanlah yang banyak" Ujar Viana mengalihkan pembicaraan.
"Kau tidak merindukan ayah?" Tanya sang ayah. Viana menunduk sembari terus mengaduk jusnya. Viana mencoba menahan tangisnya saat ayahnya menanyakan hal itu.
"Aku harus pergi sekarang ayah, Nona Sena pasti sudah menungguku" Ujar Viana.
"Kenapa cepat sekali?" Tanya sang ayah.
"Aku sedang bekerja ayah" Jawab Viana.
"Jika sempat pulanglah kerumah nak" Pinta sang ayah. Viana mengangguk mengiyakan lalu bangkit dari duduknya.
"Ayah mau ku antar pulang?" Tanya Viana. Sang ayah tersenyum lalu menggeleng.
"Ayah akan menunggu ibumu disini" Jawab sang ayah.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu" Ucap Viana yang setelah itu melangkah pergi keluar dari resto.
Viana dengan wajah murung berjalan menghampiri Sena yang sudah menunggunya. Sena sangat menyadari perubahan wajah wanita itu.
"Viana, ada apa?" Tanya Sena saat Viana menghampirinya.
"Tidak ada, nona sudah selesai?" Tanya Viana. Sena mengangguk.
"Kau berbohong" Ujar Sena. "Katakan saja apa yang ingin kau katakan" Imbuhnya. Kini keduanya sudah masuk kedalam mobil.
"Bagaimana bisa aku tidak memeluknya tadi?" Tanya Viana. Mendengar itu Sena tertegun. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan gadis itu. Tentang penyesalan dan juga rasa rindu untuk keluarganya.
"Kenapa kau tidak melakukannya tadi?" Tanya Sena. Viana menghela nafas.
"Saya bahkan tidak sanggup berlama lama melihat wajahnya" Jawab Viana. "Ayahku adalah yang paling terluka setelah hari itu, saya tidak tau bagaimana cara menyembuhkannya sehingga saya memilih menghindar. Itu lebih baik daripada harus terus melihat luka yang tak akan bisa saya sembuhkan" Ujar Viana.
"Bukannya itu malah akan menyakitinya? melihatmu menjauhinya, itu pasti akan menjadi luka baru untuknya" Ucap Sena.
Viana menghela nafas panjang. "Entahlah nona, saya bingung" Ucapnya.
"Itu pasti sangat berat untukmu, tapi aku juga tau kau pasti bisa melewatinya" Ujar Sena. "Oh iya, omong omong gaun yang kau beli tadi untuk apa?" Tanya Sena.
"Ah ini? Tuan Aldric mengajakku jalan nanti malam, saya tidak punya baju bagus jadi saya fikir saya perlu membeli satu" Jawab Viana.
"Wah apa kalian akan berkencan?" Tanya Sena antusias.