
Byuur
Zhen tenggelam didalam air bersama Qiyu. Ia menarik bururung itu ke atas. Dirinya keluar dari dalam air, ternyata kedalaman kolam ini hanya sedadanya saja. Selebihnya air mengalir ke sungai. Ini hebat, ia sudah tidak mandi bertahun tahun. Sekarang dirinya bisa membersihkan dirinya sepuasnya.
"DASAR GILAA!? KENAPA KAU IKUT MENARIKKU!?" teriak kesal Qiyu.
Zhen menelengkan kepalanya tak mengerti, "Eh, aku tidak menarikmu. Kupikir kau akan terbang jika aku melompat ke bawah. Tapi kau malah ikut terjun bersamaku."
"Apa? Kau tidak menarikku?"
"Ya, untuk apa mengajak gagak membosankan sepertimu ikut mandi." jawab Zhen sembari menggosok tangannya yang dipenuhi darah kering.
Sekarang yang menjadi pertanyaannya, kenapa Qiyu merasa ada yang menariknya ikut bersama Zhen terjun ke bawah? Tentu dirinya tidak sebodoh itu hingga tidak menggunakan sayap. 'Ini tidak benar, pasti ada sesuatu yang salah. Tapi apa?' pikirnya.
"Tunggu sebentar, ada sesuatu yang ingin kupastikan!?" ujar Qiyu. Dia terbang menjauh satu meter.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Zhen heran.
Qiyu masih merasa aman aman saja. Dia lanjut terbang sejauh sepuluh meter. Masih aman terkendali, hingga dia pergi satu kilo meter dan tidak terlihat batang hidungnya.
"Kapan dia akan kembali?" tanya Zhen.
Tampak dari kejauhan hitam kecil mendekat dengan kecepatan tinggi. "Hwaaaa!?"
Buk
Gagak itu kembali menabrak Zhen, "Kau sudah kembali?!" ujarnya semangat.
"Tidak, bagaimana bisa? Jelas jelas tadi…" Qiyu melirik Zhen, dengan curiga, "Kau!? Apa yang kau lakukan padaku?" tanyanya.
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya berpikir kapan kau akan kembali dan kau benar benar kembali. Bukankah itu hebat? Aku seperti bisa mengendalikanmu." jawabnya sembari tersenyum manis.
"Itu tidak mungkin bisa hanya karena kau ingin!? Untuk menghidupkanmu kembali aku memakan jiwa mu!? Seharusnya aku yang bisa mengendalikan mu!?" ujarnya kesal.
"Tidak Qiyu, kau salah paham. Sebenarnya, aku yang memakanmu, bukan kau yang memakanku!?" jawabnya kini senyumnya berubah menjadi senyum jahat.
Qiyu terbelalak dengan apa yang barusan dikatakan Zhen. "Beraninya kau…" dia menatap marah Zhen.
"Jangan marah begitu~ aku hanya bisa mengendalikanmu. Lagi pula kau juga tidak dirugikan apa apa." ujarnya acuh tak acuh.
"Tidak dirugikan apa apa? Kau tahu apa artinya kalau kau memakanku? Itu_" Qiyu berhenti berteriak. 'Tidak, aku tidak boleh mengatakan lebih dari ini pada orang gila sepertinya. Dilihat dari wujudku yang masih ada, dia hanya memakan seperempat dari jiwaku. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orang gila macam dia suatu hari nanti.' pikirnya waspada.
"Hwoaah!? Apa ini? Ada adik cantik yang sedang mandi?" ujar seseorang dari arah hutan.
"Kita mendapat jackpot besar he he he he."
Dua orang laki laki berpakaian pelancong mendekati kolam. Pakaian mereka terlihat cukup bagus, senjata yang mereka bawa juga seperti kualitas tinggi.
"Hai cantik, kemarilah berkenalan dengan kakak ini." rayu pelancong 1 sembari mengedikkan mata.
Zhen menatap suram mereka berdua. Bisa bisanya orang orang mengira dirinya adalah perempuan. Tapi sangat menyenangkan bisa mempermainkan mereka. Ia tersenyum mempesona yang membuat kedua pria makin kepincut. Zhen membuka baju robeknya, membuka celana lusuhnya. Membuat kedua pelancong makin deg degan. Zhen berjalan mendekat menuju tepi kolam.
Kedua pria itu langsung bersiap melihat tubuh seksinya. Namun angan angan indah mereka runtuh seketika saat melihat ke bawah wanita cantik yang mereka lihat berbadan rata dan memiliki barang yang sama seperti mereka di bawahnya.
"K KAU LAKI LAKI!?" teriak keduanya bersamaan dengan wajar teramat sangat kaget.
"Benar, aku laki laki." ujarnya dengan senyum puas melihat wajah kaget mereka.
Mereka bangun sembari mengibas ngibas pakaian mereka. Keduanya saling pandang seperti sedang memberi kode.
"Maafkan kami, nak!? Kami kira kau adalah perempuan karena wajahmu sangat cantik."
"Benar, tapi kalau dilihat lihat kau memang anak laki laki." ujar mereka berdua.
Zhen bersedekap tangan menatap tegas kedua orang itu, "Tentu saja. Kalian sudah melihat bagian bawahku, bagaimana mungkin kalian masih berpikir aku perempuan."
Kedua pelancong itu hanya bisa tersenyum kaku dengan omongan Zhen. "K kau benar. Kalau begitu bagaimana kalau kau memakai baju? Bukankah dingin jika tidak pakai baju?" tanya salah datu pelancong sembari menyiapkan sesuatu dari balik punggungnya.
"Kalau bagitu, berikan baju kalian!?"
Mata mereka berdua terbelalak ketika Zhen meminta baju mereka. "Apa maksudmu?" tanya salah satu pelancong.
Smirk licik terlihat diwajah Zhen, "Benar, baju kalian!? Lagipula kalian akan mati, jadi tidak apa apa bukan jika kalian memberikan baju pada seseorang yang tidak punya baju?" ujarnya, sepertinya Zhen mengetahui apa yang direncanakan kedua orang ini.
"Heh, sialan!?"
Tanpa basa basi mereka mengeluarkan senjata yang telah lama dipersiapkan. Namun belum satu detik berlalu, suara rantai bergericik menembus kepala mereka. Tamat.
Zhen melirik beberapa serigala dari balik bayangan pohon. Mereka enggan mendekat karena insting mereka mengatakan Zhen berbahaya. "Kalian ingin memakan mereka?" tanya Zhen senunjuk dua orang yang baru saja dibunuhnya.
wuff wuff
"Hmm, baiklah, tunggu sebentar!?" Zhen mengambil pakaian kedua orang itu beserta senjata mereka. "Nah, sekarang makanlah!?" ujarnya sembari tersenyum ramah.
Tidak lama setelah itu beberapa ekor serigala memakan kedua mayat pelancong. Mereka memakannya dengan lama dari uung kepala sampai ujung kaki. Sedangkan Zhen memakai pakaian yang baru saja dia ambil. Sayangnya pakaian kedua pria itu terlalu besar untuk tubuhnya yang kekurangan gizi. Tangannya bahkan sampai tak terlihat karena lengan baju yang terlalu besar. "Ugh, kenapa ini besar sekali. Aku harus banyak makan agar cocok di tubuhku. Hm?" Zhen melirik ke arah sungai, ternyata disana ada beberapa ikan.
Matanya berbinar melihat makanan didepannya. Ia mengerahkan sedikit Internal Qi untuk mengangkat air yang berisi ikan. Mengeluarkan ikan ikan itu ke daratan. Membuat api dengan api sejati miliknya, membersihkan ikan, membuat pasak untuk menusuk ikan, dan terakhir memanggangnya. Karena ia tidak memiliki bumbu seperti Jiayuan, jadi makan saja seadanya.
Benar, Jiayuan. Mengingat pria dewasa yang tampan menawan itu membuatnya sedih lagi. "Hiks, hik, hu hu hu huaaa… hiks… huaaa" ia menangis begitu mudah mengingat pria itu.
"Ugh, kau sangat menyedihkan!? Dasar cengeng!?" gerutu Qiyu.
Hari itu Zhen menikmati makanan pertamanya setelah keluar dari sel yang gelap. Mulai hari ini dirinya tidak akan memakan roti berjamur ataupun sup basi yang rasanya seperti muntahan dan sampah. Ia hanya akan memakan makanan yang enak enak saja. Agar ia bisa tinggi, berisi, dan tampan seperti Jiayuan. Meskipun makanan pertamanya ia makan dengan tangisan yang keras, tapi rasanya tetap mantap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...