Villain'S

Villain'S
Bab 25. Anak cengeng



Gluduk gluduk gluduk


"Sroot…" Zhen kecil mengelap ingusnya yang keluar. Ia melihat segumpalan awan hitam terlihat tepat didepannya. "Apa itu kau?" tanyanya masih mengusap air matanya.


"Ming Jiazhen!? Aku tidak menyangka jiwamu berbentuk anak cengeng." terdengar suara yang pernah mengajak Zhen bicara.


Mendengar suara dari awan mendung itu ternyata tebakannya benar. "Awan jahat!? Apa yang kau lakukan padaku?" tanyanya marah.


"Hmph, wujudmu sekarang tidak lain adalah mentalmu saat ini. Siapa yang menyangka mental pemuda jahat sepertimu adalah anak kecil yang cengeng." jawabnya.


Zhen kecil mengemut jari jarinya, "aku pikir mentalku adalah pria dewasa yang tampan." gumamnya. 'Ah, kenapa aku mengemut jariku? Memalukan!?' ia langsung mengeluarkan jari dari mulutnya, mengusapnya ke belakang baju. Pipinya memerah malu karena sikapnya benar benar berubah menjadi bocah. "Ehem, jadi, kenapa aku disini?" tanyanya mengalihkan topik.


"Jika kau berada disini artinya tubuhmu sedang sekarat!?"


Zhen kecil membulatkan matanya, memang benar ia sedang terluka parah. Tapi sekarat? Ia tidak sampai berpikir kesana. Saat ia hidup lagi itu karena ia memakan seperempat jiwa Qiyu. Namun karena sekarang Qiyu menghilang, ia tidak tahu harus bagaimana. "Dimana Qiyu? Kau pasti tahu dimana dia sekarang, bukan?" tanyanya curiga pawa awan jahat.


"Hah, apa kau akan memakan jiwanya lagi agar bisa menyembuhkan lukamu?" tanya awan jahat.


"Kau tahu?"


"Tentu saja aku tahu. Qiyu adalah bagian dari diriku, mana mungkin aku tidak tahu. Ming Jiazhen, jika kau ingin melewati koma maka berikan jiwamu padakku!? Aku akan memberikan kekuatanku untuk mu. Gunakan kekuatanku untuk menghancurkan dunia atas!? Bagaimana? Bukankah tujuanmu juga sama?" awan jahat semakin membesar dengan kilatan kilatan petir pada awannya.


Perkataan awan jahat bukanlah sekedar omong kosong belakang. Zhen bisa merasakan kebencian didalamnya. Tidak sepertinya yang ingin menghancurkan tiga dunia hanya untuk main main, awan jahat menghancurkan dunia karena kebenciannya. 'Aku akan terima terima saja kalau menerima kekuatan. Tapi aku harus memberikan jiwaku? Itu tidak mungkin!? Pasti ada konsekuensi menyerahkan jiwaku padanya. Aku tidak suka dia mengendalikanku.' ketika Zhen sedang memikirkan menyerahkan jiwanya atau tidak, tiba tiba saja terdengar suara yang tidak asing.


"Zhen…"


Pemilik suara ini terdengar sangat familiar bagi Zhen. Dirinya mendongak melihat suara indah itu, ternyata dia adalah ibunya, Huai Yu. "Ibu…?" mata besarnya terbelalak melihat ibunya ada dihadapannya. Ini mustahil, apakah ia bahkan berhalusinasi di tempat seperti ini? Tapi meskipun ia berhalusinasi, dirinya akan menikmati halusinasi itu. "IBUU!?" teriaknya kencang dengan air mata yang tak terbendung.


Greb


Pelukan hangat ibunya terasa sangat nyata. Bahkan wajah cantik Huai Yu masih sama di ingatannya. Air matanya tak henti henti menetes karena kerinduannya.


"Cup cup cup~ Zhen-ku masih saja cengeng~ Apa kau akan terus menangis didepan ibu?" ujar Huai Yu lembut sembari menepuk punggung kecil Zhen.


"A aku tidak cengeng, ini hanya debu yang masuk ke mataku!?" ujarnya sembari mengusap air matanya. Ia tersenyum senang malihat ibunya menatapnya hangat. Benar, hanya tatapan ibunya yang melihatnya dengan tulus. Tidak seperti tatapan dari orang orang yang pernah ditemuinya yang hanya menginginkan sesuatu darinya.


Huai Yu mengusap pipi Zhen kecil yang merona bahagia dan menatapnya berbinar binar. "Zhen-ku sayang~ apa kau ingin terus bersama ibu?" tanya nya dengan senyum lembut.


"Tentu saja!? Zhen ingin terus bersama ibu selamanya!?" jawabnya tanpa pikir panjang.


Namun, senyum hangat itu perlahan berubah menjadi senyum yang munafik. "Kalau begitu, kau harus memberikan jiwamu agar kita bisa selalu bersama!?"


"Ba_" kata yang akan keluar tercekat. Seperti ada seseorang yang menutup mulutnya. 'K kenapa mulutku tidak bisa…' dirinya sendiri bingung mengapa ia tidak bisa berkata 'baiklah' sepertinya biasa ia katakan pada ibunya. Meskipun samar samar, terdengar suara tipis yang melewati di telinganya.


''Lihatlah!?"


Mata merah vertikal Zhen berubah warna menjadi merah keemasan. Ia mengucek ngucek kedua matanya karena pandangannya tiba tiba terlalu menyilaukan.


"Zhen-ku? Apa kau tidak apa apa?" tanya Huai Yu khawatir.


Sebab, apa yang dilihatnya sekarang adalah, seorang tengkorak wanita berwarnahitam penuh dengan energi jahat. Zhen sama sekali tak bisa berkedip melihat yang dipeluk dan dirindukannya adalah tengkorak si*lan yang baru saja menipunya.


"Zhen~ bukankah ibu ada disini?" suara lembut dan hangat yang Zhen dengar berubah menjadi bass yang membesar dan menakutkan.


Giginya menggertak marah dan tatapannya berubah menjadi amarah kebencian yang besar, "Kau bukan ibu, si*lan!? Beraninya kau menipuku!?"


Tengkorak itu membeku di tempatnya. "Aaah~ ternyata kau sudah sadar ya? BOCAH!?" tengkorak itu berubah ganas dan menyerang Zhen.


Bruk


"Keuk!?"


Tangan tulang tengkorak itu mencekik Zhen sangat erat. Hingga wajahnya membiru hampir tak bisa mengambil nafas. "Kya ha ha ha ha ha ha ha tidak apa apa jika kau tidak ingin memberikan jiwamu. Aku akan mengambilnya tanpa persetujuanmu!?"


"Heuk… ukh…" dirinya harus melawan. Tapi lawannya ini terlalu kuat untuk dilawan. Bagaimana dirinya harus melawan.


brr


"Hm? Apa it_!?"


BLARR


Secara tiba tiba keluar api berwarna emas dari jantung Zhen. Membuat tengkorak itu melepas cekikannyanya.


Ini kesempatan! Zhen berbalik mendorong tengkorak itu memukul tepat ke wajahnya.


Krak


"Kyaaa!? Wajahku!?" teriaknya kesakitan.


Zhen kecil menggigit leher tengkorak tersebut, dan memakan jiwanya balik. Meskipun bentuknya berbeda, namun tengkorak itu masihlah sebuah jiwa.


"Apa, APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN!?" teriaknya sembari melepaskan Zhen dari tubuhnya.


Namun Zhen tetap kekeh bahkan memeluk tubuh tengkorak itu. Perlahan lahan jiwa tengkorak masuk kedalam tubuhnya dan menyatu dengannya.


Karena jiwanya sudah mulai terserao habis tidak ada perlawanan lagi. Disaat saat terakhir jiwanya, terlihat siluet tipis tranparan. Tengkorak itu berubah menjadi sebuah jiwa putih yang berwujud seseorang. Dia seorang wanita berambut panjang, bermata emas vertikal, berpakaian merah yang indah. Dia mengelus lembut kepala Zhen kecil. Bibirnya tersenyum cantik meskipun air matanya menetes, "Tetaplah hidup, Zhen kecil-ku!?" bisik tipis Huai Yu.


...***...


Mata Zhen perlahan terbuka dan mendapati dirinya berada di sebuah gubuk kecil. Seseorang sepertinya telah menyelamatkan hidupnya. Buktinya ada perban yang melapisi tubuhnya. Ia bangun dari atas tempat tidur, bengong di tempatnya. Menatap kosong ke depannya.


Datang seseorang dari arah pintu, tapi dia adalah seorang anak laki laki dua belas tahun. "Ah, k kau sudah b bangun?" tanya orang itu takut. Namun ketakutannya tertunda sejenak karena rasa heran di hatinya. "A apa lukamu sangat sakit? Kenapa kau menangis?" tanyanya lupa kalau beberapa saat yang lalu dia ketakutan.


Menangis? Maksudnya meneteskan air mata dari mata? Seperti anak cengeng? Ya, harus ia akui kalau dirinya memang cengeng. Tapi jujur saja, ia tidak tahu kenapa air matanya keluar tiba tiba begini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...