Villain'S

Villain'S
Bab 15. Kota Chiliang



Malam hari


Di tengah wilayah hutan yang berlapang, kereta dagang keluarga Li bermalam di sana. Ada beberapa pelayan yang memasak, karena sebagian pengawal adalah prajurit bayaran palsu alias bandit, sebagian besar rombongan berkurang drastis.


Li Shui melihat Kakek Peng membawa semangkuk sup yang mereka masak. Karena penasaran, dia menghampiri Kakek Peng. "Kemana kakek akan membawa sup itu?" tanyanya penasaran.


"Ah, nona muda?! Aku ingin membawanya ke bocah itu." ujar Kakek Peng.


Mendengar kata 'bocah itu' pasti merujuk pada anak laki laki yang bernama Zhen. Seketika dahinya mengernyit, "Kenapa dia tidak ambil sendiri? Aoa sekarang dia menjadikan Kakek Peng sebagai pelayannya? Hmph, dia memang tidak tahu malu." ujarnya.


"T tidak bukan begitu. Anak itu sekarang sedang sakit. Jadi aku membawakannya makanan karena dia tidak bisa mengambilnya sendiri." jelas Kakek Peng.


"Sakit? Kakek Peng jangan bohong!? Dia begitu kuat, mana mungkin dia bisa sakit. Tunggu, apa dia terluka saat bertarung tadi?" tanyanya khawatir.


"Tidak, sepertinya hanya sakit biasa."


"Hmm, sakit biasa, ya? Kemari, biarkan aku saja yang antar!?" ujar Li Shui langsung berjalan menuju kereta barang.


"T tapi…"


"Jangan khawatir Kakek Peng, aku akan mengantarnya untukmu!?"


Li Shui sampai di belakang kereta, tampak seorang anak laki laki sedang tidur menutup kepalanya dengan lengan. Saat didekat Zhen dia teringat dengan omongan kakaknya bahwa Zhen adalah anak yang berbahaya. Tapi dirinya tidak percaya kalau tidak membuktikannya secara langsung. "Hei, apa kau bangun?" tanya nya pelan.


Zhen membuka matanya, ia menatap atap atap kereta dengan pandangan yang kabur. Ia melihat ada seseorang di dekatnya. Gambaran yang dilihatnya tidak begitu jelas, "Kakek Peng?" tanyanya. Karena terakhir kali yang berbicara padanya adalah Kakek Peng. Ia duduk dan memperhatikan baik baik seseorang didepannya.


Wajah Li Shui merah merona ketika Zhen melihatnya dengan sangat dekat. Wajah anak itu memang merah dengan nafas yang memburu. "B bukan, aku bukan Kakek Peng!?" ujarnya sembari mendorong pelan tubuh Zhen menjauh.


"Bukan?…Lalu siapa?… Apa kau… Jiafen?…"


Li Shui bertanya tanya siapa itu Jiafen? "Tidak, bukan!? Aku juga bukan Jiefen. Aku Li Shui, kau ingat?" ujarnya.


"Li Shui?…Hmm… coba kupikir… tidak, tidak, tidak, … aku tidak… ingat…siapa itu… Li Shui?" tanyanya bingung.


"A apa? Kau tidak ingat aku?" tak bisa dipercaya, baru tadi siang mereka mengalami kejadian yang sama tapi sekarang Zhen dengan mudah mengatakan kalau dia tidak ingat sama sekali. "Hmph, kau bahkan tidak ingat padaku!? Aku tidak akan memberikan sup ini padamu!? Aku tidak ingin…"


Selagi Li Shui bicara Zhen memikirkan sesuatu, 'Apa aku bunuh saja Li Shui ini? Tahun ini umurku bertambah, jadi kutukannya semakin kuat. Aku menyadarinya saat masih berada didalam tempat itu.'


Gadis itu merona ketika Zhen terus menatapnya, "I ini!? Apa kau tidak ingin makan sup ini?" dia menyodorkan sup di depan wajah Zhen.


"Tidak, aku… tidak suka sup." ujar Zhen.


"A apa? B bagaimana dengan ini?" Li Shui memberikan roti pada Zhen.


"Tidak, aku… benci roti."


"Apa kau tidak lapar? Dan kau sedang sakit bukan? Kau harus makan agar cepat sembuh." ujarnya dengan nada yang melembut. Sejujurnya dia paling tidak bisa bersikap kasar pada seseorang yang sedang sakit.


"Keluarlah,… aku ingin… istirahat!?" ujarnya menatap tajam gadis itu dengan pandangan yang kabur.


Menatap mata merah vertikal yang tajam, membuat Li Shui takut bertatapan dengan Zhen. Dia menelan ludahnya kasar karena sejujurnya ia merasa ketakutan. "Baik, aku akan menaruh makananmu disini. Aku pergi." ujarnya segera pergi keluar dari kereta kuda.


Zhen menghilangkan kembali kekuatan yang ia kumpulkan di tangan. "Akan merepotkan… kalau dia mati.…"


"Yah, kau benar. Akan mdnjadi drama kalau kau membunuh seseorang disini. Apalagi kau menumpang di keretanya. Aku terkejut kau terlihat waras, ternyata kau berpikiran kedepan!? Aha ha ha ha ha ha…" lanjut Qiyu.


Keesokan paginya


"Kita berangkat!?" ujar Kakek Peng. Pagi pagi sekali mereka berangkat melanjutkan perjalanan. Kakek Peng melihat Zhen yang terlihat lesu dengan kantong mata yang menghitam. "Astaga, apa kau makan tadi malam? Kau terlihat tidak sehat." ujar Kakek Peng.


"Aku tidak suka sup." ujarnya.


"Meskipun kau tidak suka, kau seharusnya tetap memakannya. Itu penting untuk pertumbuhanmu. Tapi, pertinya kau… tambah tinggi? kemarin tinggimu bahkan tidak sampai bahuku. Tapi sekarang kau sudah setinggi aku." ujarnya kaget. Kemarin tinggi Zhen memang sangat pendek, tapi sekarang sudah setinggi Kakek Peng hanya dalam semalam. "Apa yang terjadi semalam?" tanyanya.


"Tidak ada, aku hanya merasa seperti ditarik keberbagai arah sampai tangan dan kakiku putus dan otakku meledak." jawabnya.


Kakek Peng melongo mendengar deskripsi kejadian tersadis yang pernah didengarnya. "Ah ha ha ha, candaanmu sangat lucu." ujarnya dengan sedikit tawa.


"Aku tidak bercanda."


"……"


...***...


Setelah beberapa jam dalam perjalanan, rombongan mereka akhirnya sampai di kota Chiliang, provinsi Henan. Zhen turun dari kereta setelah mereka sampai di tengah kota.


"Jadi ini yang namanya kota Chiliang? Hmm, ramai juga." ujarnya sambil melihat lihat kanan kirinya yang dipenuhi orang berlalu lalang.


Tanpa sengaja dia melihat seorang pria tua lusuh dan kotor dengan mangduk dekil di depannya. Melihat pria itu ia jadi teribgat dirinya yang tidak berbeda jauh darinya. "Ya ampun, dia pasti korban penyiksaan juga." ujarnya melas.


"Penyiksaan kepalamu!? Orang itu pengemis bodoh!? Mereka memang selalu kotor seperti itu!?" ujar Qiyu.


"Eh? Maksudmu dia sengaja kotor begitu? Dia sengaja tidak makan dan mandi?" tanya Zhen heran.


"Ehm, yah, kurang lebih begitu." jawabnya ragu. Tapi kebanyakan pengemis di dunia seni bela diri memang sengaja membuat diri mereka kotor untuk mendapatkan informasi. "Sudahlah, sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Qiyu.


Zhen bingung apa yang harus dirinya lakukan sekarang. Ini pertama kalinya ia keluar dari wilayah klan. Berada di wilayah makhluk lain, membuatnya bingung harus bagaimana. "Tujuanku adalah menjadi penjahat terkenal, tapi apa yang harus dilakukan penjahat?" tanyanya.


"Hah, bukannya sudah jelas?" Qiyu tersenyum jahat, mungkin karena ini adalah keahlian di bidangnya. "Buatlah kejahatan sebanyak mungkin!?" ujarnya dengan senyum yang melebar dan tatapan yang membara.


"Membuat kejahatan? Bagaimana?" tanyanya.


Qiyu mendelik heran mendengar Zhen bertanya 'bagaimana?' bukannya pertanyaan itu perlu ditanyakan pada anak laki laki yang sudah jahat sejak kecil? Qiyu membuat wajah tak enak menatap Zhen, 'Bocah sialan ini, dia sudah sangat jahat dengan tidak menyadari kejahatannya sendiri. Aku harus berhati hati.' pikirnya. "Yah, misalnya kau harus membunuh seseo…"


Bruk


"Akh!?" seseorang tiba tiba saja menabraknya dari belakang. Saat berbalik ke belakang, terlihat seorang wanita cantik bermata biru dengan wajah kemerah merahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...