
Duak
Aruxi memukul keras hidung Zhen hingga mengeluarkan darah. Syukurlah pukulannya membuahkan hasil karena cekikan Zhen mengendor.
Bruk
Segera wanita itu meraih kantong pewangi kecil di pinggangnya. Mengambil sedikit bubuk didalamnya dan meniupkannya pada Zhen. Pemuda itu jatuh ke atasnya. Aruxi segera mengikat tubuhnya dengan kain selimut. Untungnya ia memiliki bubuk hewan buas yang biasa untuk menjinakkan monster. Tapi siapa sangka Aruxi harus menggunakan bubuk tersebut. Bubuk yang cukup kuat untuk membius naga.
"Huff, sial, kenapa aku harus melalui semua ini? Dia tidak sadarkan diri sekarang, aku yakin kemampuannya juga menghilang untuk sementara. Yah, itu cukup untuk mereka melawan balik." ujarnya sembari tersenyum miring.
...***...
"Si*lan!? Apa yang terjadi? Kenapabpara siluman ini mendapatkan kekuatan mereka kembali? Apa yang dilakukan si b*doh itu?" keluh kesal salah satu tetua Yuan.
"Untuk sekarang, mari kita mundur!? Situasi kita yang terpojok sekarang!?" ujar tetua yang lain.
Lu Yao menatap ke arah kediaman pemimpin klan iblis langit. 'Sepertinya ada yang bermain main denganku.' pikirnya dengan tatapan yang sinis.
...***...
Zhen membuka mata dan terbangun dari tidurnya. Dia melihat wanita yang sebelumnya tengah mengolesi salep ke lehernya. "Siapa kau?" tanyanya.
Mendengar suara Zhen sudah bangun, Aruxi menatap kaget pemuda itu. "Ini baru tiga puluh menit dan kau sudah sadar? Aku pikir setidaknya beberapa jam." ujarnya heran dan agak kecewa. "Sial, bahkan bubuk hewan buas hanya berpengaruh sebentar padanya." gumamnya pelan.
Ya, Zhen juga inginnya begitu. Ia ingin tidur lebih lama setidknya satu jam. Tapi tubuhnya memaksa untuk bangun. Zhen memandangi Aruxi, "Kau siapa?" tanyanya ulang.
Kini Zhen sudah bangun, dirinya juga belum sepenuhnya memperkenalkan diri. "Namaku Aruxi, putri pemimpin klan iblis langit!? Apa kau punya pertanyaan?" ujarnya percaya diri.
"Putri pemimpin klan iblis langit?" guman Zhen. Tiba tiba Zhen teringat dengan orang orang sesat, 'Aku tidak sadarkan diri selama tiga puluh menit, kabutku pasti juga sudah hilang karena aku pingsan. Jika kabutnya hilang, orang orang itu mungkin akan…' tidak sadar Zhen malah tersenyum senang. "Kik kik kik kik kik kik kik…" tawanya sedikit seram.
Aruxi menatap merinding mengapa tiba tiba pemuda itu tersenyum dan tertawa seperti itu. 'Apa ada yang salah dengannya? Tertawa dengan wajah seperti itu, sepertinya dia memang tidak waras seperti rumornya. Penjahat kejam yang gila? Dia terlihat seperti rumornya.' Aruxi banyak mendengar rumor dari sana sini. Kabar burung yang mengatakan kalau penjahat bertopeng yang akhir akhir ini menjadi terkenal, karena kekejamannya sebenarnya adalah orang gila. Sepertinya rumor itu tidak sepenuhnya salah.
Karena pemuda yang dilihatnya sekarang memang gila. "Dengar, apa kau ingin membuat kesepakatan denganku?" tanyanya.
Zhen menatap penuh tanya, "Kesepakatan?"
"Ya, bukankah, kau memiliki penyakit yang namanya 'kutukan naga'?" tanya Aruxi.
Sontak mata Zhen melebar mengetahui bahwa Aruxi mengetahui kutukannya.
"Sangat mudah mengetahuinya, melihat bola matamu, dan wajahmu yang pucat, sepertinya tebakanku benar." lanjutnya dengan percaya diri.
Zhen sempat berpikir untuk menutupi matanya yang sangat mencolok ini, tapi seperti ada gunanya ia tidak menutupinya. "Lalu? Apa kesepakatannya?" tanyanya tertarik.
"Pertama, kau harus menarik kembali pasukanmu. Jangan pernah menyerang klan iblis langit, apa kau setuju?"
Yang pertama adalah keuntungan untuk Aruxi, sedangkan Zhen melum mendapatkan keuntungannya. "Yang kedua?" tanyanya mengabaikan yang pertama.
"Yang kedua, aku akan membantumu untuk mengurangi efek dari kutukan naga!?" ujar Aruxi.
Zhen terbelalak mendengar kesepakatan yang kedua. Sepertitinya dia sangat kaget, "Itu… Kenapa tidak dihilangkan saja?" ekspresinya terlihat kecewa dan menggerutu. Apa ia terlalu berharap? Mengurangi katanya? Kutukan ini sudah sangat menyiksanya, ia akan sangat bahagia kalau kutukannya lenyap.
Aruxi terlihat sangat kesal dengan ekspresi Zhen, "Kenapa kau kecewa begitu? Mengurangi itu sudah yang terbaik, apa kau pikir kutukan dari langit itu mudah dihilangkan? Ugh, sudahlah, jadi? Apa kau setuju dengan kesepakatan ini?" tanya Aruxi kembali ke topik.
Melihat Zhen yang masih terlilit selimut, Aruxi berpikir untuk melepasnya. Lagi pula sekarang mereka rekan. "Akan kulepaskan ikatan_"
"Tidak perlu, ikatannya sudah lepas." ujar Zhen sembari menyingkirkan selimutnya.
Aruxi sangat kaget selimut yang ia ikat kencang kencang sudah terlepas dengan sendirinya, tidak, lebih tepatnya dilepaskan dengan mudahnya. Meskipun itu hanya selimut dan mukan tali atau rantai, tapi tangan dan kakinya benar benar terikat kencang sampai dia khawatir apa terlalu kencang. Tapi sepertinya kekhawatirannya itu sia sia. 'Dia bisa saja menyerangku sejak awal, apa dia sengaja tidak melakukannya? Atau, dia sudah memperkirakan kesepakatan ini?' pikirnya. "Bukankah kau harus menarik mundur orang orangmu?"
"Tanpa disuruh pun mereka sudah mundur."
Aruxi mengangkat sebelah alisnya heran mengapa pemuda itu begitu yakin dengan orang orangnya, "Sepertinya kau cukup dekat dengan mereka." celetuknya. Namun sepertinya bukan ide bagus mengatakan hal itu didepannya. Sebab Zhen menatapnya dingin setelahnya. 'Apa aku salah bicara?'
"Karena aku sudah menepati kesepakatan pertama, kau harus menepati kesepakatan kedua bukan?" tanya Zhen menagih janjinya. Ia tidak sabar dengan kesepakatan kedua.
"Baik, tunggu disini sebentar!?" wanita itu seperti mencari sesuatu di ruang kerjanya. Dia membawa sekotak penuh lilit merah.
"Apa itu?"
"Ini adalah lilin khusus yang kubuat, kau harus menyalakannya setiap malam saat kutukanmu kambuh. Walau tidak membuat kutukanmu hilang, namun lilin ini masih bisa mengurangi rasa sakitnya."
Zhen mengambil kotak lilin tersebut, dan menyimpannya dalam cincin ruang. Ia melirik Aruxi, menatapnya lekat dari atas sampai bawah. Berambut merah bergelombang, kulit sawo matang, memiliki dua tanduk hitam, dan bermata hezel. Ciri ciri itu sama persis dengan salah satu pembunuhnya didalam mimpi. Hanya saja pembunuh itu laki laki berotot kekar.
"Ada apa?"
"Apa ayahmu memiliki ciri ciri yang sama sepertimu?" tanya Zhen.
"Tentu saja, kami ayah dan an_ kenapa kau tiba tiba menanyakan itu?" tanyanya curiga. Dia tahu betul apa yang terjadi dengan keturunan naga yang mendapat kutukan. Rata rata dari mereka akan meninggal sebelum dewasa. Namun mereka yang berhasil bertahan, akan menjadi gila. Pikiran mereka sama sekali tidak bisa ditebak. Jika hari ini teman, besoknya adalah musuh. Seperti itulah mereka, persis seseorang didepannya. "Kau, tidak berencana membunuh ayahku kan?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Hm~ apa ketahuan?" tanyanya dengan senyum sarkas.
"Kau!?" Aruxi menarik kerah Zhen, wajah pemuda itu tersenyum jahat. Apa keputusannya sudah tepat membuat kesepakatan dengan penjahat ini? "Kalau kau berani membunuh ayahku, maka tidak akan kuberikan lilin khusus padamu. Kau akan menjadi naga gila yang diburu semua orang!?" ancamnya.
"Pfft… ha ha ha ha ha ha ha…"
"Apa yang lucu?" tanyanya kesal.
Zhen mencekik leher Aruxi, "Kau mengancamku?" tanyanya dengan tatapan dingin dan niat membunuh yang besar.
"Kuhk…" seharusnya Aruxi tidak membuat kesepakatan dengan pria gila ini. Disaat dirinya kesulitan bernafa karena niat membunuh yang besar, tiba tiba niat membunuh Zhen hilang. Perhatian pria itu teralihkan ke arah lain di belakang Aruxi. 'Lihat kemana dia? Bukannya disana tidak ada apa apa? Tidak, apa jangan jangan dia mulai melihat ilusi? Kalau begitu dia sudah benar benar gila.' dia melepas tangan Zhen dengan paksa. Memegangi lehernya yang memerah.
Zhen melirik Aruxi yang menatapnya tajam. "Baiklah~ aku tidak akan membunuh ayahmu~ Tapi setiap bulannya, kau harus memberiku sekotak lilin~" ujarnya sambil tersenyum manis di wajahnya.
"Enyahlah baj*ngan!?"
"Aku akan enyah~" seperti kata Aruxi, Zhen akan enyah dari hadapannya. Ia berjalan menuju jendela, namun tidak lama ia terlihat kebingungan menengok kanan kirinya, "Ngomong ngomong, dimana pintu keluar kediaman ini?" tanyanya.
Aruxi menunjuk ke kanan masih dengan wajah kesal.
"Oh…" dengan begitu Zhen enyah dari hadapan wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...