Villain'S

Villain'S
Bab 30. Di dalam mimpi



Li Zheyang mendengarkan cerita Zhen sampai akhir. Siapa yang menyangka kalau penjahat ini memiliki kutukan seperti itu. Dia hanya manggut manggut mendengar cerita Zhen tanpa ada niatan menyela hingga akhir. ''Aku mengerti sekarang, Jadi setiap tengah malam kutukanmu akan aktif dan membuatmu tidak bisa tidur, akhir akhir ini juga kau sering berpimpi buruk yang membuatnya tambah parah, dan kau sering berhalusinasi. Apa halusinasi itu mengganggumu?" tanyanya.


"Tidak, mereka transparan, jadi aku masih bisa membedakan kenyataan."


"Apa yang kau mimpikan?"


"Didalam mimpi aku berubah menjadi monster besar dan ada beberapa orang yang ingin membunuhku."


"Apa mereka semua orang orang yang kau kenal?"


"Tidak semua, tapi ada satu orang yang kukenal dan dia yang paling banyak menusukku. Dan kau tidak termasuk."


"Tentu saja!? Mungkin aku sudah mati duluan oleh kakimu!?" Li Zheyang memikirkan mimpi Zhen yang diceritakan padanya. "Aku memiliki firasat, mungkin mimpi itu akan menjadi kenyataan." ujarnya serius.


Zhen melirik Li Zheyang serius, "Benarkah?"


"Yah, itu hanya tebakan. Tapi lebih baik kau berhati hati untuk tidak menjadi monster dalam mimpimu. Kau yang lebih tahu dariku, ada banyak sekali orang di dunia ini yang menginginkan kematian penjahat besar sepertimu." ujarnya. Dia berdiri kembali menuju tanamannya yang belum selesai ditanam, "Oh, dan aku sarankan, kau harus banyak meditasi agar hatimu tenang. Saat ini kau tidak memerlukan obat, tapi ketenangan. Mungkin itu akan membantumu sedikit." sarannya sebagai rekan (tidak resmi).


"Li Zheyang!?" panggil Zhen.


Li Zheyang berbalik kesal karena sarannya masih belum cukup, "Apa?"


"Apa kau… mengasihani ku?" tanyanya dengan tatapan yang dingin, tajam, serta dengan niat membunuh.


Keringat dingin menetes di tengkuk Li Zheyang. Dia tahu pemuda ini mulai tidak waras dari waktu ke waktu dan bisa membunuhnya kapan saja. Perilakunya tidak bisa ditebak meskipun beberapa saat yang lalu dirinya masih mengobrol santai tapi bisa saja beberapa saat kemudian Zhen akan berpikir untuk membunuhnya. Kenapa? Karena dia sudah gila. Dirinya harus menjawab dengan jujur, namun kejujuran yang di sukai pemuda itu. "Tidak, aku sama sekali tidak kasihan dengan penjahat gila sepertimu, baj*ngan!?" jawabnya dengan umpatan.


Zhen membulatkan matanya mendengar jawaban khas Li Zheyang, "Pfft ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha… kau sangat jujur dokter~ aku menyukai kejujuranmu." Zhen bangun dari duduknya mendekati Li Zheyang berdiri, "Kau juga sangat pintar dokter~ Aku yakin seseorang yang pintar sepertimu akan bertahan hidup lebih lama dariku. Dan seseorang sepertimu mungkin lebih disukai daripada penjahat sepertiku. Bukankah begitu, dokter~?" tanya Zhen di hadapan Li Zheyang.


Akan tetapi kali ini tidak ada jawaban dari Li Zheyang. Yang terlihat dari matanya hanya tekad bertahan hidup, "……… pergilah bermeditasi si*lan!?" ujarnya.


"Hmm~ baiklah~ aku akan pergi meditasi. Mungkin saja aku akan menjadi sedikit pintar sepertimu dokter~" ujarnya berbalik masuk ke dalam rumah.


Satu jam setelah Zhen pergi, "Fiuhhh, dia benar benar sudah tidak waras!? Kalau aku salah menjawab, mungkin…" Li Zheyang membayangkan lehernya ditebas dengan belati yang di pegang pemuda itu secara terang terangan. 'Baiklah, Li Zheyang, kau harus lebih pintar dari psikopat itu agar bisa hidup!? Tapi apa hanya perasaanku saja, dia terlihat agak sedih hari ini. Kata katanya juga, itu menggangguku.' pikirnya.


...***...


Didalam rumah pada salah satu ruangan, Zhen bermeditasi seperti yang dikatakan Li Zheyang. Berkultivasi dengan bermeditasi, keduanya agak mirip. Namun kultivasi lebih fokus meningkatkan ranah. Sedangkan meditasi berfokus untuk mencari ketenangan dao, menata pikiran dan hati. Dirinya tidak pernah meditasi, tapi bukannya ia tidak tahu caranya meditasi. Ia tahu hanya saja tidak mempraktekkannya.


Baginya meditasi itu membosankan karena hanya diam saja. Lebih menyenangkan untuk berkultivasi karena jelas akan menjadi kuat dengan menjalaninya.


Beberapa jam kemudian, Zhen membuka matanya dari meditasi. Memang benar dirinya jadi lebih tenang setelah meditasi. "Sepertinya aku harus berterima kasih pada dokter kecil." ujarnya.


"Kalau begitu masakkan aku kelinci panggang yang enak!?" ujar Li Zheyang yang muncul sambil membawa tanaman obat yang dikeringkan.


"Kau sangat tahu cara memanfaatkan terima kasih seseorang." ujar Zhen.


"He he he…"


"Baik!?"


Zhen pergi keluar bersama Li Zheyang mencari kelinci liar.


Saat didalam hutan nya tak ada satupun hewan yang terlihat. Rasanya aneh karena hutan ini biasanya banyak hewan kecil liar, seperti ayam, kelinci, kalkum, sekarang burung saja tidak terlihat. Zhen melihat sekitar dengan waspada, "Dokter kecil, tetap dibelakangku!?" bisiknya.


"Ada apa?" tanya Li Zheyang.


"Ini tidak bagus, sepertinya ada serangga yang datang mencariku." ujar Zhen.


"A apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"kau tenang saja, mereka mengincarku. Kau pergi saja bersembunyi atau bunuh dirimu sendiri agar tidak tertangkap mereka."


"K kau gila!?"


Zhen kepikiran, apa mungkin serangga yang mencarinya adalah orang orang sesat itu?


Tidak lama muncul lima orang berjubah hitam yang mengenakan topeng. Ternyata benar dugaannya yang datang adalah orang orang sesat. 'Jadi yang datang mereka, ya? Sepertinya salah satu dari mereka adalah orang yang pintar.'


"Yang Mulia, anda tidak apa apa? Kami dengar anda terluka dan melarikan diri ke hutan ini." ujar salah satu pengikut. 'Heh, sialan!? Akhirnya ketemu juga kau naga sialan!?' pikirnya licik dengan tawa senang.


"Kami sangat mengkhawatirkan anda, kenapa anda tidak mengobati diri ke markas saja?" ujar salah satu pengikut lainnya, 'Dasar merepotkan!? Kenapa harus lari ke hutan yang luas ini? menyusahkan saja.' pikirnya dengan decakan kesal.


"Apa anda baik baik saja, Yang Mulia?" 'Ayo hancurkanlah lagi manusia manusia lemah itu!? dan jadilah anj*ng yang baik!?'


"Yang Mulia, siapa anak yang dibelakangmu?" 'Sialan, apa dia membawa beban ke markas? Bocah tidak berguna itu?'


Zhen membulatkan matanya melihat bagaimana mereka mengatakan hal hal baik namun berkata buruk di hati. Dirinya sudah tahu kalau mereka hanya ingin memanfaatkannya saja, tapi tidak ia sangka ternyata seperti ini pikiran mereka tentangnya. Sungguh sebuah komedi dirinya bekerja sama dengan para sampah ini. Tapi dirinya juga sama, karena ia juga memanfaatkan kekuatan mereka untuk bersenang senang.


"Syukurlah anda baik baik saja, Yang Mulia!?"


'Akhirnya aku menemukanmu, Ming Jiazhen!?'


Ada satu pikiran dari satu orang yang terdengar sangat terobsesi dengannya. Pikiran itu dari seseorang yang kini berada di hadapannya. Zhen menatap orang itu lama.


"Ada apa, Yang Mulia?" tanyanya.


"Siapa namamu?"


"Nama pengikut ini, Xu Yao Yang Mulia!?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...