Villain'S

Villain'S
Bab 17. Gadis yang jatuh cinta



Zhen tersenyum jahat, "Benar, aku akan menyerang mereka duluan dengan teknik rantai andalanku!? Dan kemudian aku akan menusuk mereka sampai semua darah mereka keluar!? Ki ki ki ki ki ki…" ia cekikikan memikirkan bagaimana ia akan menyerang lawannya.


Wei Wei membulatkan matanya dengan penyerangan Zhen, "Itu… apa maksudnya?"tanyanya tak mengerti. "Tunggu, jangan bilang kau mengartikan perkataanku dengan artian lain?" tanyanya curiga.


"Kenapa? Bukankah itu strategi yang bagus?" ujarnya masih terlihat senyum jahat di wajah belia nya.


Sontak Wei Wei syok mendengarnya. 'Apa dia hidup di jaman kuno? Tidak mengerti tentang perempuan yang menembak laki laki? Apa itu masuk akal?' pikirnya heran. "Haiss, bukan itu maksudku!? Maksudku adalah kau pasti banyak mendapat pernyataan cinta dari para gadis, iya kan?" jelasnya.


Bukannya mengerti anak laki laki itu memandang penuh tanya maksud perkataan Wei Wei. 'Apa maksudnya itu?' wajah polosnya menanyakan itu.


"Cinta!? Cin-ta!? Kau tahu, kan?" tanyanya sampai geram. Ada ya orang seperti Zhen?!


"Aku tahu. Tapi aku tidak mengerti dengan hal yang seperti itu." ujarnya malas. Ternyata maksud perkataan Wei Wei adalah perasaan cinta. Perasaan kasih sayang yang ditujukan untuk orang lain. Mendengar katanya saja sudah membosankan.


"Apa? Lalu bagaimana kalau ada gadis yang menyukaimu?" tanya Wei Wei penasaran.


"Untuk apa mereka menyukaiku?" ujarnya.


Ini tak bisa dipercaya. Setelah sekian tahun Wei Wei menjalani hidupnya baru kali ini bertemu dengan orang macam ini. "Haah, wajah tampanmu sia sia." ujarnya.


Yah, bahkan Wei Wei sempat terpesona dengan rupa anak itu. Bagaimana tidak, lihat bagaimana bentuk wajahnya yang porsi yang pas, alisnya tebal melengkung dengan tegas, kulit putih mulus, mata dengan iris merah vertikal yang menakutkan tapi menawan, hidung mancung, bibir tebal merona, rambut hitam legam yang panjang, tubuh yang tinggi, ia sempurna dalam bentuk fisik. Namun siapa yang menyangka mentalnya seperti anak kecil dan psikopat.


Karena, Zhen adalah anak laki laki yang tidak mengenal cinta.


...***...


"Tuan, apa anda dan nona ini akan menginap? Penginapan kami akan tutup, jika anda ingin menginap anda bisa memesannya sekarang." ujar salah satu pelayan.


Zhen menatap gadis itu tertidur setelah mengoceh tidak jelas. Ia juga memandang kesekelilingnya yang tampak sepi. "Ya, aku akan menginap. Dan antarkan perempuan ini ke kamar yang berbeda." ujarnya.


"Baik."


Pelayan wanita itu memapah Wei Wei ke kamarnya. Sedangkan Zhen memesan kamar yang lain. Saat Zhen akan beranjak pergi ke kamarnya mengikuti pelayan, ia melihat seorang gadis pada salah satu meja, dia berambut putih, dengan mata merah redup, kulitnya pucat, dan dia mengenakan pakaian merah terang bertudung.


Gadis itu terus menatapnya tanpa berkedip. Salah satu tangannya terangkat. Mulutnya mengucapkan kata kata dengan suara kecil seperti berbisik, "Hallo." yang terdengar datar, sangat pas dengan ekspresi wajahnya yang juga datar.


"Tuan, apa kau baik baik saja?" tanya pelayan itu.


Zhen berbalik menatap pelayan itu yang menatapnya heran, "Siapa gadis aneh yang duduk disana?" tanya Zhen sembari menunjuk tempat gadis itu duduk.


"Gadis aneh? Tapi disana tidak ada siapapun." ujar pelayan tersebut.


"Apa?" Zhen mengernyit tak mengerti. Ia kembali menengok ke arah yang ditunjuknya. Ajaib nya tak ada siapapun disana.


"Waw waw waw, kurasa ada gadis gila yang mengirimkan kesadaran spiritualnya untuk menemuimu." ujar Qiyu.


"Kesadaran sprirutual?"


"Ya, kau akan mengerti saat sudah mencapai puncak tertinggi. Kurasa gadis yang kau lihat adalah seorang ahli yang mencapai puncak."


"Yang benar saja, kenapa banyak orang gila disekitarku?!"


Qiyu menatap malas Zhen yang tidak sadar dirinya sendiri juga gila, "Tidak sadar diri." gerutunya.


...***...


"Apa apaan si gila itu? Dia tertawa sendiri." ujar seorang pria bertopeng dan mengenakan jubah bertudung.


"Biarkan saja, lagipula dua hari lagi dia akan menjadi pengorbanan terakhir kita untuk Raja Yama." ujar lelaki bertopeng yang lain.


Datang seorang pria bertopeng yang lain dari arah pintu besi. Dia menghampiri gadis itu yang masih cekikikan sendiri. "Apa ada yang membuatmu senang?" tanya pria itu.


Gadis berambut putih yang acak acakkan dengan banyak noda darah itu menatap tajam pria bertopeng didepannya.


"Cucu dari White Jade Chen Zinyu, tidak kusangka aku berhasil menangkapmu. Raja Yama pasti akn senang jika kuhadiahkan darah Jiangshi hidup yang memiliki pembuluh blood fox. Kau akan menjadi pengorbanan terbaik kami!?" ujarnya dengan senyum jahat dari balik topengnya.


"Khi khi khi khi khi khi khi… bodoh!?" ujarnya.


Mata pria itu terbelalak marah dengan ejekan gadis gila didepannya.


Plak


Duak duak


"GADIS GILA SEPERTIMU TERLALU BERUNTUNG!? SEANDAINYA BLOOD FOX TIDAK MENGALIR DI PEMBULUH DARAHMU SUDAH DARI DULU JAL*NG SEPERTIMU MATI!?" dengan brutal pria itu memukul dan menendang gadis itu.


Dua orang penjaga menatap dengan ngilu bagaimana atasan mereka memukuli gadis itu.


Setelah selesai memukuli gadis itu, pria bertopeng melangkahkan kakinya pergi.


"Raja Yama… tidak sabar bertemu…" gumamnya dengan senyum jahat di wajahnya yang penuh darah.


...***...


Zhen menatap keluar jendela sambil termenung. Sejujurnya ia sedang dalam dilema. Dirinya keluar dari hutan hitam tanpa tujuan seperti ini. Tidak, sebenarnya ada. Sayangnya ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menjadi penjahat terkenal. Qiyu bilang yang dilkukan penjahat terkenal adalah melakukan pembunuhan, pengorbanan, Melakukan transaksi gelap, memperbudak orang lain dan lain sebagainya yang termasuk perbuatan jahat.


Namun yang diinginkan Zhen adalah sesuatu yang lebih berkelas dari itu. Sesuatu yang lebih hebat dari yang dikatakan Qiyu padanya.


"Kyaaa!?"


Terdengar suara teriakan dari kejauhan.


Zhen mencium aroma anyir darah yang kental. Ia segera berlari menuju tempat kejadian. Saat ia keluar ada banyak sekali orang berkumpul di depan kamar. 'Bukankah itu…' Zhen berlari menerobos kerumunan orang.


"Hiks… Wei Wei kenapa ini harus terjadi padamu!?" tangis seorang pria yang terlihat familiar. Dia memeluk Wei Wei yang bersimbah darah di perutnya.


"Jadi dia yang mati?!" ujar Zhen.


Pria itu mendelik tajam melihat Zhen. Dia berdiri dan berjalan menuju Zhen sambil menunjuk ke wajahnya, "Kau!? Bukankah kau bilang kau kekazihnya? Bagaimana bisa kau membiarkan Wei Wei terbunuh?!" ujar pria itu sewot.


"Oh? Aku bukan kekasihnya." ujar Zhen langsung mengaku. "Aku tidak tahu siapa yang membunuhnya, jadi_"


Buk


Dengan sangat keras pria itu menonjok Zhen keras sampai hodung pemuda itu berdarah. "Apa yang kau katakan? Bren*sek!?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...