Villain'S

Villain'S
Bab 37. Pertarungan Aruxi dengan pria misterius



Sosok itu menampakkan wujudnya. Dia membuka tudungnya yang menutupi sebagian wajahnya. Dia seorang pria berparas rupawan, rambutnya hitam kebiruan panjang dan berponi panjang, dan ada sebuah pedang berhias giok di pinggulnya. "Kau mungkin bisa mengelabui si bodoh itu, tapi tidak denganku." pria berekspresi dingin itu berjalan pelan semakin mendekat. "Dengan tubuh yang lemah itu tidak kusangka bisa lari sejauh ini. Sekarang, jangan kabur lagi. Ikutlah denganku, sekarang!?" pria itu mengulurkan tangannya pada Zhen.


Tidak, dirinya tidak boleh berakhir disini. Bagaimana caranya agar bisa kabur dari pria dingin itu.


Brak


"Cengeng!? Aku lupa kalau…" seketika Aruxi terdiam melihat ada satu orang lagi di kamar Zhen. Dia berusaha mencerna keadaan ini. Lelaki misterius mengulurkan tangan pada Zhen yang terlihat ketakutan. Ralat, berkaca kaca. Bocah itu sudah ingin menangis ketika Aruxi datang. "Ada apa ini?" tanya Aruxi.


Zhen berlari kecil menuju Aruxi. Namun tiba tiba pria misterius itu melempar berlati ke hadapn Zhen. Sontak Ia langsung menghentikan langkahnya.


"Diam disana!?" ujar pria itu dingin. Dia kembali memfokuskan pandangannya pada Aruxi. Akan tetapi tiba tiba wanita itu melesat datang padanya dengan pukulan ditangannya.


Pria itu segera mengambil pedangnya dan menahan serangan wanita tersebut. Dia menendang perut Aruxi dan memanfaatkan celah itu dengan mengayunkan pedangnya secara horizontal.


Aruxi menghindari serangan tersebut dengan mudah. Tidak lama berselang dia mengayunkan kakinya tepat ke kepala pria itu. Pertarungan mereka berlangsung sengit karena kedua sama sama ahli dalam bela diri maupun senjata.


Sedangkan ada seseorang yang tanpa perlu repot bertarung dan hanya makan biskuit enak duduk diam mengamati. Tidak ada yang bisa ia bantu dalam pertarungan. Apa lagi kalau waktunya sudah menjelang tengah malam. Lagi pula Aruxi terlihat sangat kuat menghadapi Sion. Benar, nama pria itu adalah Sion. Itu sebenarnya bukan nama aslinya melainkan nama samaran.


Alasan Zhen tahu namanya karena ia pernah ditangkap olehnya. Tapi berunyungnya ia berhasil kabur. Sion itu sangat kuat, tapi Aruxi juga sama kuatnya.


GUBRAK


Aruxi terpental ke belakang menabrak meja disamping Zhen. Melihat itu Zhen segera berlari menuju Aruxi yang tersungkur. "Aruxi Aruxi!? Kau tidak apa apa?" tanya Zhen.


"Ugh, kau tidak lihat aku kesakitan? Jangan tanya lagi bodoh!?" bentaknya kesal. Sudah tahu terlempar tapi masih bertanya.


Dibilang begitu hati Zhen yang lembut langsung ingin menangis.


Lagi lagi Aruxi tidak enak hati membuat seseorang menangis. Karena semua yang ada di kastil berhati keras, jadi tidak akan ada yang menangis meskipun dirinya berkata kasar. "Uhm, maksudku, aku tidak apa apa. Jadi diamlah dan makan lagi saja biskuitmu!?" ujarnya berusaha tersenyum, tapi malah terlihat seram.


"Pfft, iya." Zhen tersenyum senang. Karena wanita ini sangat lucu. Ia melirik Sion yang masih mengamatinya. Sepertinya kekuatan Aruxi saja masih belum cukup. Zhen perlu memberikan taktik pada wanita ini. Karena dia hanya benar benar bertarung menggunakan otot dan tidak menggunakan otaknya. "Aruxi, kemari…" bisik Zhen.


Ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. Mata wanita membulat ketika dibisikkan sesuatu oleh Zhen. "Itu,… untuk apa aku harus melakukannya? Aku bisa mengalahkannya hanya dengan kekuatanku saja." ujarnya.


"Kau tidak bisa mengalahkan Sion kalau dengan kekuatan saja. Sion itu kuat, dia juga pintar menggunakan otaknya saat bertarung." ujar Zhen.


Beberapa saat Aruxi terdiam.


"Apa maksudmu aku bodoh?"


"Iya!?" jawab Zhen dengan sangat jujur. Ditambah dengan ekspresi polos.


Aruxi mengepalkan tangannya ingin memukul Zhen. Tapi masih ada kesabaran dihatinya, "Aku sangat sangat sangat ingin memukulmu, cengeng!? Bersyukurlah karena kali ini aku masih sabar." Aruxi bangkit dengan memikirkan kembali taktik yang dibisikkan Zhen padanya.


"Apa kalian sudah selesai mengobrol? Kalau begitu bisa kau berikan bocah itu padaku, nona?" ujar Sion tanpa ekspresi.


"Heh, kalau saja kau tidak tampan sudah kuhabisi sejak awal. Jika kau ingin mengambilnya silahkan saja. Aku juga tidak peduli. Tapi aku sangat tidak suka kalau ada orang yang memasuki rumahku diam diam ditengah malam!?" ujar Aruxi. Sekarang Aruxi akan coba menggunakan rencana Zhen. Kalau rencana bocah itu berhasil maka dirinya bisa menang. Tidak perlu berpikir lama, Aruxi melesat menuju Sion yang juga telah bersiap.


Duak


krak


Dengan pukulan keras di tulang rusuk bagian kiri membuat tulang rusuknya retak.


Memanfaatkan waktu itu Aruxi menyiapkan serangan terakhir yang kuat. Terkumpul energi berwarna merah di sekitar tangannya. Dan menyerang sisi kiri Sion.


GUBRAK


Kini Sion yang terpelanting ke belakang.


"Eh?" Aruxi heran mengapa serangan yang jelas itu tidak bisa dihindari oleh pria itu. Padahal sebelum sebelumnya serangannya selalu dapat dihindari. Dia melirik Zhen yang tampak senang. Bocah itu mengacungkan dua jempolnya dengan senyum riang.


"Khi khi khi khi khi khi khi…" suara tawa licik terdengar dari Sion. Tubuhnya juga bergetar.


Aruxi menatap aneh pria itu. "Sial, apa dia akhirnya gila?" tanya Aruxi.


"Bocah itu sudah memberihumu rupanya."


"Memberitahuku?" Aruxi kembali pikir pikir ulang. Yang Zhen bisikkan hanya untuk terus menyerang sisi kiri pria itu. Tidak ada yang lain selain itu.


Sion melepas jubahnya dan melemparnya asal. "Mari kita akhiri pertarungan ini." ujar kembali berekspresi dingin. Dia melesat lebih cepat dari sebelumnya. Bertarung lebih agresif dan merespon lebih cepat.


Saat Aruxi perhatikan, mata kiri pria itu berwarna putih. 'Jadi begitu, mata kirinya buta. Pantas saja dia merespon lambat saat aku menyerang disebelah kiri.' pikirnya. Terlihat senyuman lebar diwajahnya, "Bagus!? Aku bisa membunuhmu dengan cepat dan mencicipi otakmu!? Kya ha ha ha ha ha ha ha ha…" seru Aruxi kegirangan.


Mereka kembali bertarung dengan sengit. Zhen lagi lagi hanya bisa menikmati pertarungan itu sambil makan biskuit kesukaannya. Ia tahu dalam sekali lihat, Aruxi adalah tipe tipe yang suka bertarung. Zhen tahu saat wanita bar bar itu menarik rambutnya. Dan anehnya dia lemah dengan seseorang yang lemah.


Bertemu dengan Sion yang tergolong kuat, pasti memicu semangat bertarungnya. Karena itulah sejak awal dia sudah mengambil langkah duluan. Kedatangan Sion benar benar di luar prediksinya. Tapi kedatangan Aruxi yang tiba tiba juga membantunya. Bisa dibilang, dirinya beruntung. Meskipun Aruxi benar benar tidak perduli dirinya diambil atau tidak, tapi berkat kesukaannya untuk bertarung ia selamat.


tap tap tap


Terdengar suara langkah kaki dari lorong. Zhen segera menajamkan pendengarannya. Suaranya terdengar berat, pasti dia seorang pria dewasa yang banyak makan. Langkahnya menuju kemari. 'Te tekanannya sangat kuat!? Siapa dia?' pikir Zhen merasa tertekan dengan tekanan pria ini.


Brak


"Ban*sat!? Siapa yang bertarung ditengah malam begini? Mengganggu tidurku saja!?" bentak seorang pria benar dengan otot ototnya yang menonjol. Pakaian yang terbuat dari bulu singa dan harimau, serta aksesoris aksesoris yang terbuat dari batu, manik, dan tulang. Dan bertanduk merah melengkung kedepan di kedua sisi kepalanya.


"A ayah?! Kenapa ayah bangun?"


Zhukara melirik Zhen heran, "Hmm, siapa ini?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...