
Seketika atmosfer di ruangan tersebut menjadi berat. Tekanan yang begitu berat dari seorang pemimpin klan.
Zhen mendongak ke atas melihat betapa tingginya pemimpin dari klan iblis langit. Dan betapa kuatnya tekanan yang dia berikan. "Ukh uhuk uhuk!?" ia muntah darah hanya dengan tekanannya saja. 'Dia adalah pemimpin klan iblis langit? Dia benar benar sangat kuat.' pikirnya sembari menahan tekanan yang luar biasa berat.
"Sial, kenapa semuanya diam? Apa tidak ada yang ingin menjelaskan situasi macam apa ini? Putriku ada disini bertarung dengan pria cantik yang memegang pedang. Dan ada seorang bocah penyakitan yang batuk seperti kakek tua sekarang. Jadi, siapa yang ingin menjelaskan?" tanya Zhukara. Tapi semuanya masih membungkam mulut mereka masing masing. Siapa yang berani kalau auranya saja aura membunuh seperti itu. "Aruxi!? Kalau begitu kau saja yang jelaskan!?" seru Zhukara.
"Hmph, aku masih marah dengan ayah. Jadi aku tidak mau menjelaskannya." Aruxi memalingkan wajahnya sembari menyilangkan tangan.
"Dasar gadis nakal!? Kalau begitu…" Zhukara memilih mana diantara dua orang lainnya untuk menjelaskan, dia melihat Zhen yang kurus kering, "Ah, jangan yang penyakitan. Kau!? Jelaskan!?" Zhukara menunjuk Sion untuk penjelasan.
Sion sedikit terperanjat karena dia tak menyangka harus menjelaskan situasi ini. Kalau dilawan, levelnya masih kalah jauh dengan Zhukara. Jadi akan lebih baik kalau dirinya menjelaskan apa yang terjadi. "Maaf berkunjung tanpa izin pemimpin klan iblis langit, aku kemari hanya untuk mengambil adikku yang kabur dari rumah!? Tapi kemudian nona ini menghalangiku." ujar Sion dengan kebohongannya.
Sontak Zhen langsung terbelalak kaget, "Tidak!? Bukan!? Aku bukan adiknya!? Dia ingin menculikku!?" seru Zhen.
"Hah?! Jadi mana yang benar? Kau adiknya atau bukan?"
"Bukan!?" jawab Zhen.
Zhukara memperhatikan Zhen lagi. 'Mata merah, seperti…' Zhukara mengangkat Zhen dengan satu tangan besarnya. Dia mengendus endus bocah itu. Dia bahkan sampai menjilat pipinya. Lalu mengecap ngecapnya seperti rasa masakan. Setelahnya dia terbelalak kaget. Dia memegang pinggang Zhen dengan kedua tangannya. Ekspresi wajahnya tampak sangat terkejut. "Woah!? Bocah guaiwu!? Aku menemukannya duluan!? Ha ha ha ha ha ha ha ha… Hadiahnya pasti jatuh ke tanganku!?" ujarnya senang. Dia masih tertawa riang.
Aruxi mengangkat sebelah alisnya. Dirinya merasa heran dengan tingkah ayahnya saat ini. Apa yang dimaksud ayahnya dengan hadiah akan jatuh ke tangannya. Dia ingin bertanya tapi sayangnya aksi marahnya masih berlangsung.
Sion menyipitkan matanya. Situasinya makin rumit karena Zhukara sudah menyadari siapa Zhen. Dia segera melesat menyerang Zhukara. Akan tetapi, perlawanannya itu sia sia. Zhukara mengulurkan tangannya ke samping dan dia menyentilkan jari jemarinya seperti menyentil lalat.
BRUAK
Hanya dengan sentilan tangan dari Zhukara Sion terpelanting ke belakang menghancurkan dinding batu dengan luka dalam yang parah. "Ugh!?" darah segar mengalir dari mulutnya. Betapa kuatnya level dari salah satu pemimpin 10 klan besar.
"Percuma saja. Kau tidak akan bisa menang melawan ayahku dengan ranahmu sekarang, bodoh." ujar Aruxi sembari melirik Sion.
Zhen terbelalak dengan omongan Zhukara. 'Apa maksudnya?' pikirnya masih belum paham. Zhen masih belum mengerti apa maksud omongan Zhukara. Tapi kalau Zhukara bilang begitu, artinya tempat ini juga tidak aman untuknya. Zhen mengepal erat tangannya.
"Ah, habis sudah. Sepertinya dia sudah marah." ujar Sion sembari bangun.
"Memangnya kenapa kalau dia marah? Toh ayahku lebih kuat darinya." ujar Aruxi.
Sion melirik Aruxi, "Oh." jawabnya singkat dengan nada dingin.
Sepertinya gadis itu kesal karena jawaban yang terlalu singkat. "Apa maksudnya itu, bre*gsek? Kau pikir ayahku lemah?" ujar Aruxi sewot.
"Siapa yang bilang dia lemah? Aku tahu dia kuat bahkan untuk mengalahkanku hanya dengan satu sentilan saja. Hanya saja bocah itu akan berubah menjadi iblis sesungguhnya jika dia marah. Kau tahu? Orang yang membuat mata kiriku buta adalah…"
"Aaghh!?"
"Bocah itu!?"
"A apa yang terjadi? Dan kemana bocah cengeng itu menghilang?" tanya Aruxi bingung.
Sion terdesak oleh dua orang ini. Sudah pasti Zhen bermain petak umpat lagi dengannya. Sekarang lebih baik dirinya pergi dari tempat ini. 'Situasinya berbahaya sekarang. Percuma kalau aku menghadapinya secara langsung. Lebih baik aku mundur dulu dan mencari si ular bodoh itu.'
"Hei?! Apa yang ter_ hah? kemana dia?" Aruxi melihat kanan kirinya yang tak terlihat lagi batang hidung Sion. Tak ambil pusing, Aruxi segera berlari ke arah ayahnya, "Ayah!? Apa yang terjadi? Dan siapa anak itu?" tanyanya banyak sekali. Karena rasa penasarannya yang begitu besar Aruxi lupa kalau dia sedang marah pada Zhukara.
"Sialan, nanti akan kujelaskan. Sekarang obati lukaku dulu!?" ujar Zhukara.
Aruzi menuntun Zhukara berjalan. Luka di dadanya terbilang sangat besar dari dada hingga ke perut. Dan anehnya regenerani ayahnya yang terbilang cepat, seperti melambat karena energi hitam pada lukanya.
...***...
Sion berlari sejauh mungkin.
Dari arah lain terlihat orang lain yang berjubah coklat seperti mengenal Sion. Terlihat senyum senang diwajahnya bertemu sekutu yang lebih dulu meninggalkannya, "Hoi!? Tunggu!? Sion!?" panggilnya.
Mendengar namanya dipanggil, Sion langsung menghentikan langkahnya. "Baru sampai? Dasar lambat." ujar Sion sinis.
"Maaf maaf~ aku pikir dia ada di kapal bajak laut itu. Kalau kau sudah tahu dia disini, kenapa tidak memberitahuku dari awal?!" protes pria berkulit agak hijau dan bergigi runcing seperti hiu, bernama Lejara.
"Bagaimana aku memberitahu seseorang yang sudah berlari duluan, hanya karena hadiah kecil?" sindirnya saat teman ularnya itu berlari mendahuluinya karena hadiah yang ditawarkan.
"Oh~ he he he he he he he…" Lejara menelusuri serltiap sisi Sion. Wanti wanti kalau pria es itu menyembunyikan bocah yang dicarinya dan mengambil semua hadiah untuknya sendiri.
"Dia tidak ada!? Jadi berhenti melihatku seperti itu." dia menyibak jubahnya memperlihatkan sisi kanan kiri yang kosong.
"Hah? Kemana lagi bocah itu lari?" tanyanya geram.
"Dia sempat berubah, tapi karena kutukannya sedang aktif perubahannya hanya sebentar. Sekarang mungkin dia sedang menahan kutukannya di suatu tempat." jelas Sion.
"Aagghh, dia benar benar bocah menyebalkan. Dia seperti tikus kecil." ujarnya jengkel.
"Tenanglah, dia tidak akan bisa lari jauh di malam hari. Kita bisa mencarinya besok pagi. Terlebih lagi aku perlu memulihkan lukaku. Aku akan bermalam di penginapan, kalau kau ingin mencarinya cari saja sendiri." ujarnya sudah tak perduli.
"Eh eh, kau tidak ingin hadiahnya?" tanya Lejara.
Tanpa jawaban langsung dan hanya lambaian tangan, Sion melompat ke bawah mencari penginapan.
Wajah bingung perlahan berubah menjadi senang dengan senyuman licik, "Dengan senang hati akan kuambil semuanya kalau begitu." ujarnya sembari menjulurkan lidahnya yang panjang bercabang dua seperti ular.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...