
"Akhir akhir ini di kediaman Wei… kau sudah tahu?"
"Ahh, apa maksudmu yang 'itu'?"
"Benar, menurut rumor yang beredar seseorang yang membantai keluarga itu adalah seorang dari ras iblis?!"
"Aku juga dengar begitu, apa menurutmu makluk keji itu sungguh membantai keluarga Wei?"
"………pasti begitu."
Zhen mendengar banyak obrolan yang menceritakan dirinya. Terutama rumor tentang iblis jahat yang membunuh kelurga bangsawan Wei. Dirinya menjadi sangat terkenal. Yah, dari pada makluk suci seperti naga, dirinya lebih digambarkan sebagai iblis jahat yang menumbalkan satu keluarga besar.
Tapi ada dua orang yang terus menatapnya dari meja di sampingnya. Mereka mengawasi gerak gerik Zhen secara diam diam. Merasa tidk nyaman, Zhen bangkit dari bangkunya berjalan keluar dari kedai. Dua orang berpakaian misterius segera bangkitmengikuti Zhen keluar.
Sampai diujung gang buntu kedua orang itu memojokkannya.
"Kenapa kalian mengikutiku?"
Kedua orang itu saling pandang kemudian kembali melihat Zhen. "Tuan muda, apa kau bisa meluangkan waktu mengobrol dengan kami? Tenang saja, kami tidak akan mencelakaimu." ujar salah satu dari mereka.
"Benar, kami bisa berjanji." seru yang lain.
"Mari ikuti permainan mereka, Zhen!?" ujar Qiyu.
Meskipun curiga karena saran dari Qiyu ia mengikuti kemauan mereka. "Baiklah, kemana kita akan bicara?"
Kedua orang itu saling melempar senyum, "Mari ikuti kami!?"
Mereka berdua menuntun Zhen kesuayu tempat yang mana tempat itu adalah sebuah gubuk tua. Dengan sekelilingnya adalah hutan dan Yin Qi yang pekan.
Zhen memperhatikan dengan was was disekitarnya. Kenapabmereka ingin bicara di tempat yang mencurigakan seperti ini. Tempat ini terlalu pas untuk menculik seseorang. 'Menculik seseorang? Tunggu!?" Zhen segera meloncat mundur namun kedua orang itu dengan cepat melempar bubuk putih ke arahnya.
"Uhuk uhuk!? Uhuk!?" pernafasannya seketika menjadi sesak dan pandangannya menjadi kabur.
Bruk
...***...
Saat membuka mata terlihat langit langit yang mana adalah bebatuan yang bersinar ungu. Tiba tiba muncul kepala seirang wanita menghalangi bebatuan tersebut.
"Hallo." sapanya datar.
Zhen langsung terbelalak kaget, ia bangun tanpa pikir panjang.
Duak
"Akh!?" jadilah kepala mereka beradu. Zhen memegangi keningnya yang teramat sakit seakan menabrak batu. Ia melirik wanita tanpa ekspresi tapi menatap dengan mata menyipit padanya. "Sshh, siapa kau?" tanyanya jengkel. Gara gara dia kepalanya benjol.
"Yueyin Zhu, siapa kau?" jawabnya dengan meniru omongan Zhen.
"Ming… tidak, Zhen." balasnya. Tidak perlu menambahkan kata 'Ming Jia' pada namanya. Nama itu hanya masa lalunya.
Zhen melihat sekitar tempat ini. "Kau tahu tempat apa ini?"
"Tidak." jawab wanita itu singkat dengan masih memperhatikan Zhen.
"Apa kau juga diculik?"
"Tidak." jawabnya masih singkat. Masih memperhatikan Zhen lebih dalam dan dekat.
Zhen melirik tak nyaman dengan tatapan wanita itu yang sangat berlebihan. Namun ia berusaha tidak menghiraukannya. "Lalu kenapa kau bisa berakhir disini?" tanyanya lagi.
"Karena kau." jawabnya singkat.
Segera dia menjauh dari wanita itu, "Apa yang kau lakukan?" tanyanya waspada. Ia khawatir wanita itu melakukan hal aneh pada dirinya.
Wanita itu malah tersenyum seram.
"Dasar aneh." gerutunya jelas. Baru kali ini ia bertemu seseorang seaneh wanita di hadapannya. Rambut putih yang seperti bulan itu terlihat indah jika disisir dengan rapih, wajahnya kotor dengan bercak darah, pakaiannya semrawut acak acakan bahkan robek, dan yang lebih para dari itu semua, dia aneh, gila, misterius, menyeramkan.
"Ah, aku pikir dia mirip seseorang." ujar Qiyu melirik ke arah Zhen.
"Hemph, untungnya aku tidak gila seperti dia." ujar Zhen bersyukur.
'Yang kumaksud adalah kau!?' pikir Qiyu.
"Mereka datang." ujar wanita itu tiba tiba.
Zhen menengok ke arah pintu besar. Keluar beberapa orang berjubah hitam, bertopeng lengkap dengan tudung. Ada lima dari mereka yang mengelilingi kedua orang itu. Zhen bersiap akan menyerang mereka. Tapi sebelum itu…
"Hormat kami pada Yang Mulia!?" serentak mereka berseru bersama memanggil Zhen dengan sebutan 'Yang Mulia' . Bukan hanya itu, mereka bahkan berlutut menundukkan kepala mereka.
"Apa yang terjadi?" gumam Zhen.
"Entahlah, kau pikir aku tahu?" jawab Qiyu juga bingung.
Ia menatap tajam mereka berlima, "Huh, apa kalian sedang menggunakan trik murahan lagi?" serunya dengan senyum sinis.
"Kami tidak berani Yang Mulia!?" jawab mereka serentak.
Lagi lagi panggilan 'Yang Mulia' itu mengganjal dalam pikiran Zhen. Kenapa mereka nenyebutnya Yang Mulia padahal ia bukan siapa siapa? Ini terlalu mencurigakan. Adakah seseorang yang ingin menjelaskan kenapa?
"Yang mulia, anda pasti bingung." ujar salah satunya.
"Ya, cepat jelaskan!?" jawab Zhen dingin.
"Yang Mulia, kami adalah pengikut dari Raja Yama. Dan anda adalah seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi penerus dari Raja Yama. Seseorang yang akan menjadi Raja Yama selanjutnya pastilah dia terlahir dengan janin iblis. Kami merasaka adanya kekuatan kegelapan dari anda, karena itu kami yakin anda pasti adalah penerus dari Raja Yama selanjutnya." jelas pria itu.
Mendengar cerita itu tidak bisa membuat Zhen percaya. Raja Yama apanya, dirinya bahkan memiliki kutukan yang menguras daya hidupnya. "Kau yakin itu bukan karangan orang tua berjenggot putih?" tanya Zhen tak percaya.
"Benar Yang Mulia!? Kami tidak berani berbohong!?" jawab tegas orang itu.
'Aku tidak menyangka ada perkumpulan sesat seperti ini di dunia manusia. Mereka mengira aku Raja Yama hanya karena merasaka energi iblis. Padahal aku juga memiliki api murni yang bisa memurnikan.' pikirnya. Zhen melirik wanita itu yang masih memperhatikannya. "Baiklah, aku percaya. Lalu apa yang ingin kalian lakukan pada kami?" tanya Zhen.
"Kami akan menumbalkan rubah itu sebagai kebangkitan penuh anda Yang Mulia!? Dengan begitu kekuatan anda akan bangit sepenuhnya dan kembali menguasai tiga alam termasuk alam dewa." Pernyataan mereka bukan main.
"Hmm, alam dewa ya? Apa kalian sadar dengan apa yang kalian katakan?" tanya Zhen.
"Ya, kami sepenuhnya sadar Yang Mulia!?" jawabnya mantap.
Ingin menguasai alam dewa, mereka benar benar tidak mengenal langit. Ambisi mereka sangat besar ingin menguasai tiga alam. Tapi alam dewa? Itu membuatnya tertarik. Bagaimana jika ia mencoba menguasai alam dewa? Kalau dirinya gagal, tinggal mengorbankan kepercayaan sesat ini saja. Siapa suruh mengangkatnya jadi Raja Yama seenaknya.
Zhen langsung bersikap layaknya orang berkharisma, "Baiklah, aku menerima ketulusan kalian. Jangan tunda waktu lagi, ayo kita mulai ritualnya!?" ujar Zhen. Mau Raja Yama atau apapun itu, tujuannya adalah menjadi penjahat terkenal.
"Baik."
Ritual segera dimulai. Altar Zhen berdiri mulai memancarkn cahaya merahnya. Terdapat beberapa lingkaran mantra yang terpasang. Zhen rasa mereka benar benar menganggapnya sebagai calon Raja mereka, buktinya lingkaran ini memperkuat elemen kegelapannya.
Saat Zhen fokus dengan ritual, dia melihat wanita aneh itu tak bergeming sedikitpun meskipun akan menjadi tumbalnya. 'Haah, aku merasa kasihan padamu. Tapi kau harus bahagia karena menjadi salah satu bagian dari diriku mulai sekarang. Wanita an…' senyum licik Zhen luntur ketika melihat wajah wanita itu seperti menyerupai seseorang.
Ibunya!?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...