
Sudah hampir seminggu Zhen mengurung diri di kamarnya. Tak sedikitpun ia menampakkan dirinya didepan orang lain di waktu itu. Sedangkan keempat tetua yang menunggunya sudah siap sedari tadi menunggu kedatangannya.
''Kenapa dia masih belum datang? Lu Yao, apa kau yakin dia mengatakan hari ini?" tanya salah satu tetua, tetua itu berambut merah, bertubuh kekar yang mengenakan jubah, memakai topeng, orang orang biasa memanggilnya tetua Yuan.
"Kau tidak percaya padaku?"
"Aku bukannya tidak percaya, tapi ada yang bilang dia tidak pernah keluar akhir akhir ini. Kau pasti lebih tahu, kalau baj*ngan itu seperti bom waktu. Aku khawatir saat keluar dia akan meledak membuat kekacauan."
"Ah, kau tidak perlu khawatir. Karena itu termasuk rencanaku."
"Apa_"
Brak Saat pintu terbuka dengan kasar disana ada Zhen yang sudah siap dengan jubah dan topengnya. Ia berjalan menuju para tetua berdiri, "Ayo kita berangkat!?" ujarnya
Lu Yao mempersiapkan membuka portal.
Tetua Yuan melihat dari lubang mata topeng terlihat tatapan Zhen yang terlihat lelah. Kantung matanya hitam juga tatapannya terlihat buram. 'Apa dia sudah menjalankannya? Bagus sekali, aku jadi tidak sabar dengan itu.' pikirnya sangat senang.
Portal terbuka, "Silahkan~" Lu Yao mempersilahkan Zhen lebih dulu.
Zhen melirik tajam Lu Yao kemudian berjalan memasuki portal.
Keluar dari portal ia sampai di daratan timur, Kota pelabuhan klan iblis langit. Dirinya disambut dengan terpaan angin laut. Dirinya seperti berada di dunia lain. Sebab yang terlihat disini adalah para siluman setengah manusia setengah hewan.
Nyuut
Zhen mengernyit, sakit kepalanya berdenyut denyut seperti akan pecah,
'Bunuh mereka, Hancurkan semuanya, Jangan sisakan satupun!?'
Bisikan bisikan aneh mulai terdengar berdengung di kepalanya. Kata kata itu terus berputar putar seakan mencuci otaknya. Untuk sesaat ia mulai kehingan kontrol dirinya sendiri. Seketika bayangan gelap disertai kabut hitam menjalar ke seluruh kota. Bersamaan dengan itu orang orang yang dibawanya memencarkan diri memenuhi tugas mereka.
"Kyaaa!?"
"Aaahh toloong!?"
"Aagh!?"
Dalam sekejap kota dipenuhi teriakan. Para siluman kehilangan kemampuan mereka. Entah apa yang terjadi tapi mereka menjadi sangat lemah.
Zhen tersenyum senang kota ramai dengan teriakan teriakan meminta tolong. Seketika senyumnya tiba tiba pudar, 'Tunggu, apa yang terjadi?tapi Kenapa sudah di serang? Apa aku yang melakukannya? Kapan?' pikirnya bingung.
"Kerja bagus, Yang Mulia. Kami akan menyelesaikan tugas kami!?" ujar Lu Yao.
Zhen sampai ke dalam istana kediaman pemimpin klan iblis langit. Ternyata dalamnya sangat luas. Untuk seseorang yang mudah tersesat seperti dirinya perlu beberapa jam menemukan ruangan musuh. "Dimana tempatnya?" Zhen berkeliling mencari ruangan paling mewah. Ia pernah dengar kalau pemimpin klan iblis langit menyukai sesuatu yang mewah. Jadi kemungkinan besar pintu ruangan tempatnya berada adalah pintu yang terlihat paling mewah. Terlihat satu pintu besar yang di hiasi permata pada pinggirnya. "Ah~ pasti itu!?" ujarnya langsung memasuki pintu tersebut.
Dibuka pintu mewah itu. Dalamnya benar benar sangat mewah. Tercium bau wangi bunga plum di musim semi. Tidak hanya itu, seluruh kain di ruangan ini adalah kain sutra terbaik berwarna warni. Ada banyak vas bunga yang mahal. Bagaimana tidak, vasnya saja dilapisi permata. Belum lagi bunganya juga terlihat sangat cantik. Tapi apa benar ini ruangan pemimpin Klan iblis langit? Kenapa rasanya seperti ruangan seorang wanita?
"Ketua klan iblis langit? Apa kau disini?" panggil Zhen terang terangan. Masa bodoh dengan reputasi buruknya, sekarang dirinya hanya ingin segera menyelesaikan urusannya.
Terlihat seorang wanita tengah santai tidur menyanggah miring di atas kasur lembutnya. Dirinya sangat terkejut ketika mendengar ada suara seorang pria di kamarnya. Mata hazelnya melirik ke arah suara yang ternyata seorang pemuda berjubah hitam. pemuda itu mengenakan topeng. 'Seorang pria? Tidak mungkin pelayan, apa mungkin si janin iblis?' pikirnya. Dia menurunkan kaki jenjangnya turun dari posisi nyamannya. Perempuan itu menyalakan dupa merah yang berbau harum di atas mejanya.
Akhirnya dia menampakkan dirinya di hadapan Zhen. Seorang wanita berambuh hitam ikal ditutupi selendang merah rose, tubuhnya ramping nan indah, berkulit sawo matang, bermata hazel, dia memakai pakaian mewah seperti pakaian penari dari timur, dan wajah cantiknya tertutupi cadar sutra berwarna merah rose. "Siapa kau? Berani sekali kau masuk ke kamar putri pemimpin klan!?" ujarnya tegas tapi tidak mengintimidasi.
"Ah, aku salah kamar." ujar Zhen. Ketika dirinya ingin pergi, wanita itu mencegahnya.
"Tunggu, lupakan omonganku barusan. Aku hanya bercanda, mari kita mengobrol sebentar, bagaimana?" cegatnya sembari senyum di balik cadarnya.
"Tidak, aku sedang…" tiba tiba pandangannya buram dan kepalanya pusing. Zhen melihat wanita itu jadi dua, lalu bertambah banyak. 'Apa yang terjadi? Kapan dia memasang perangkap?' pikirnya. Matanya terasa sangat berat, ditambah lagi ia belum tidur seminggu lebih. Rasanya Zhen ingin langsung tidur saja.
Puk
Aruxi, wanita yang dihadapan Zhen, putri dari pemimpin Klan iblis langit. Dia menangkap Zhen sebelum jatuh ke bawah. "Fu fu fu~ bukankah sudah kubilang? Mari berbincang sebentar." ujarnya tersenyum puas. Dia memapah Zhen menuju tempat tidurnya, membaringkannya di atas kasur.
Dia menatap topeng Zhen, "Aku penasan dengan wajah dibalik topeng jelek ini. Seperti apa wajahnya? Hah, dia pasti sangat jelek sampai sampai malu memperlihatkannya pada orang lain. Aku ingin lihat seberapa buruk wajahnya." ujarnya dengan tekad yang bulat. Aruxi membuka topeng yang menutupi wajah Zhen.
Ketika melihat wajahbpemuda itu, mata hazelnya membulat tak berkedip. "Ya ampun…dia…" wajahnya sendiri langsung merona melihat wajah Zhen. 'Bagaimana bisa dia menutupi wajahnya dengan topeng jelek? Seharusnya dia memperlihatkannya ke seluruh dunia!?' teriaknya dalam hati. "E ehem, yah, tidak buruk." lanjutnya. Haruskah Aruxi menarik kata katanya kembali yang mengatakan kalau Zhen itu jelek?
"Tapi, dia terlihat sedang sakit?" tangannya mengelus pipi Zhen yang terasa panas. Wajahnya terlihat pucat, dengan kantung mata yang menghitam. Dia menautkan alisnya, Aruxi menyadari sesuatu ketika berkontak dengan Zhen, 'Tunggu, ini bukannya…'
Mata Zhen terbuka ketika Aruxi masih membelai pipinya.
"Ah…" rasanya sangat canggung dirinya ketahuan memegang pipi seseorang. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak bermaksud bur_"
Bruk
"Ukh!?"
Tiba tiba Zhen menjadi ganas, ia menarik Aruxi ke tempat tidur dan mencekik lehernya kencang. Niat membunuh yang dikeluarkannya cukup untuk membuat semua bunga di vas layu mengering.
"Kau… hentikan…" Aruxi baru menyadari kalau tatapan pria itu kosong. 'Dia masih belum sadar, tapi tubuhnya bergerak sendiri?'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...