
Sepanjang jalan Zhen melihat daftar yang ditulis Chen Zinyu di buku bersampul coklat. Daftar yang tertulis bisa dibilang sangat lengkap. Karena disana tertulis lengkap dengan sejarah hingga pemimpin yang sekarang. Disini tertulis klan yang terdekat adalah Klan Iblis Langit.
Klan Iblis Langit
Ciri ciri klan itu ialah memiliki satu atau dua tanduk, berkulit gelap atau agak gelap, memiliki tubuh yang tinggi dan besar, dan mayoritas kekuatan klan adalah api. Bisa dibilang mereka hanyalah siluman bar bar yang menyukai pertarungan.
Saat ini pemimpin mereka adalah Zhukara. Zhen sudah bertemu dengannya sebelum tinggal di hutan bambu. Ranah Zhukara saat ini berada di Yuzhou tingkat ke-30. Dalam hal kekuatan dia menang banyak. Tidak heran dia menjadi pemimpin terkuat rank-5 dari sepuluh klan.
Dan yang terpenting adalah di klan itu adalah salah satu anggota bertopeng yang bersembunyi.
"Hei, nak!? Apa kau ingin menuju kota Churyang? Jika iya ikutlah bersamaku!? Aku juga ingin kesana."
Pertanyaan seorang pak tua yang mengendarai kereta kuda jerami membuyarkan konsentrasi Zhen. Ia menengok ke pak tua tersebut, manik matanya sedikit bersinar karena ia melihat pak tua itu sebenarnya adalah seorang wanita muda bermata hijau zambrud. 'Anggota klan seribu wajah?' Zhen tersenyum manis pada pak tua yang menawarinya pergi bersama, "Tapi aku tidak akan membayar." ujarnya ketus.
"Hah? Ehm, baiklah." jawab pria tua (wanita itu) canggung.
Tanpa malu Zhen naik ke atas kereta memposisikan dirinya ke tempat yang nyaman. Ia menyenderkan punggungnya di pojok dekat dengan tempat duduk kusir.
"Apa kau memiliki kerabat di kota Churyang?" tanya pria tua (wanita muda).
"Tidak. Tapi aku memiliki teman disana. Sebelumnya aku pergi tanpa pamit dengan benar. Jadi aku merasa bersalah terutama pada ayahnya." jawab Zhen sembari masih membolak balik halaman buku. "Saat itu Ayahnya memelukku dengan sangat erat hingga beberapa tulang rusukku patah. Jadi aku ingin ganti rugi." lanjutnya dengan cengiran di wajahnya.
"Ahh, jadi begitu ya~" pak tua (wanita muda) itu merasa ceritanya agak tidak jelas. Tapi ya sudahlah, toh itu bukan urusannya. Yang menjadi urusannya adalah, bagaimana membawa Ming Jiazhen ke klannya. 'Aku sudah berhasil mengelabuinya sebagai orang tua, hanya menunggu waktu dia lengah.' pikir wanita itu tersenyum licik dibalik wajah tua samarannya.
Zhen menutup bukunya lalu menyimpannya kedalam cincin ruang. "Hei Cici~ mau mendengar ceritaku?"
Sontak pak tua (wanita muda) itu terbelalak kaget mendengar penumpang dibelakangnya mengetahui identitasnya. Tanpa pikir panjang dia menarik pedang tersembunyi di bawah tempat duduknya, mengarahkannya ke arah Zhen. Namun satu pedang yang dia arahkan ke Zhen, maka benda tajam lainnya menyusul. Lebih tepatnya beberapa duri besar berwarna hitam mengarah ke satu titik,… lehernya.
"Gawat~ gawat~ bagaimana ini… ada yang mencoba membunuh Cici. Bagaimana bisa seseorang mencoba membunuh wanita cantik seperti Cici~ Aku jadi takut~ ppfftt ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" Zhen terlihat sangat senang dengan tawanya yang renyah. Tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah panik dengan wajah sedikit pucat, "K kau tahukan aku hanya bercanda?"
Seketika pak tua itu berubah menjadi wujud aslinya. Seorang wanita berambut hitam legam dengan mata yang sehijau zambrud. Dia menatap aneh pemuda didepannya yang memang aneh. 'A apa dia gila? Tidak, justru ini bagus. Dengan begitu aku bisa membawanya dengan mudah. Posisiku di dalam Klan juga pasti akan naik.' pikirnya samar samar tersenyum licik.
"San (tiga)." ujar Zhen.
Jleb
"Ugh!?"
Sebuah anak panah hitam menusuk telapak tangan wanita itu. Membuat telapak tangannya tertancap hingga ke kayu.
"Er (dua)"
Jleb
"Aaghhh!?"
Kali ini sebuah anak panah menusuk paha mulusnya.
Beberapa kali ia bahkan menampar wajahnya sendiri sampai pipinya memerah. Zhen meneteskan beberapa tetes air mata palsu ke matanya. Langkah terakhir cukup membuat wajah mewek, "Hiks hiks, hu hu hu ya ampun… itu pasti sakit sekali… hu hu hu… maafkan aku…aku ingin berhenti, tapi… ini terlalu menyenangkan." terpapar senyum menawan di wajah kecilnya. Sampai sampai lawannya merona melihat senyum itu. Baru Zhen sadar kalau ia sudah keluar jalur dari dramanya, "Eh? Aku kan sedang menangis!? Hu hu hu hu hu hu, maafkan akuuu…"
Wanita itu berusaha mencari cara agar dirinya lepas dari orang gila didepannya. Selagi pemuda itu masih melanjutkan dramanya, dia harus melarikan diri. Seandainya dia masih memegang pedangnya. Tapi sayang sekali pedang yang dia pegang lepas dari tangannya.
Zhen menatap wanita itu yang berusaha keras mencari cela untuk kabur. "Kau beruntung sekali karena aku hanya akan menyerang tiga kali. Jadi hindari dengan baik untuk yang terakhir." ujarnya membuat wanita itu sedikit bernafas lega.
"Dimana ya aku harus menusuk panah yang terakhir?" ujarnya kebingungan. "Ah~ bagaimana kalau diwajah? Tapi sepertinya jangan, wajah sangat penting untuk Klan Seribu Wajah. Walaupun itu sudah tidak penting kalau kau mati. Kalau begitu…" Zhen melirik dada wanita itu, "Kalau disana pasti tidak apa apa kan? Semua orang suka dada wanita~"
Mata wanita itu terbelalak panik. Dia harus cepat cepat menghindar dari sana. Dia berusaha mencabut panah yang menancap di tangannya. 'Kenapa panah ini tidak juga tercabut?!' namun anehnya tak seincipun panah itu tergerak.
"Yi (satu)."
Whosh
Segera dia menghindari panah yang datang, untung saja dia berhasil menghindar. Kalau tidak, mungkin saja dadanya sudah berlubang.
"Huff…huff…" situasi ini sama sekali tidak menguntungkannya. Satu satunya cara agar dia dapat kabur hanya dengan memotong tangan dan kakinya. Tapi mana mungkin dia segila itu melakukannya.
Zhen masih tersenyum tipis dengan gagalnya serangan ketiga. Hal itu membuat wanita itu curiga, 'Kenapa dia begitu tenang? Apa mungkin serangannya masih belum…' untung sekali dia menyadari hal ganjil tersebut, karena…
Whosh
Segera dia menghindari panah sebelumnya yang berbalik kembali padanya.
Jleb
"Aaghh!?"
Panah yang terakhir akhirnya tertancap pada bahu kirinya.
Zhen bangun dari duduknya sembari menenteng kedua tangannya. Matanya menatap tajam wanita bermata hijau didepannya. 'Apa yang harus kulakukan selanjutnya?' pikirnya dalam hati. "Apa kau ingin hidup? Akan kuberikan dua pilihan! Pertama, mengikuti perintahku dan kedua, menjalankan perintahku lalu ketiga, melakukan perintahku!? Pilih!?" ujarnya dengan ekspresi serius!?
'Bukannya ini sama saja tidak memberiku pilihan? Dan dia bilang dua, kan? Kenapa jadi tiga?' pikirnya. Dia masih merasa kesakitan dengan panah panah yang menusuk tubuhnya.
"Yi (satu)…" Zhen mulai berhitung mundur. Terlihat jelas ia tidak sabar menunggu jawabannya. Padahal sudah diberikan banyak pilihan, tapi kenapa masih belum kunjung memilih.
"Er (dua)…"
Hitungan kedua masih belum mendapat jawaban. Wanita itu tampaknya masih ragu untuk memilih.
"Sa_(ti_)"
"B baiklah!? Aku, akan mengikuti perintahmu." teriak wanita itu. Bagaimanapun, dia tidak punya pilihan lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...