Villain'S

Villain'S
Bab 12. Teknik pertama “Chain”



"Kau idiot!? Mana mungkin kami akan melakukan apa yang kau suruh!? Kami sekte Mo Rong tidak akan pernah membunuh sesamanya!?" ujar pemimpin mereka dengan lantang dan tegas.


Mendengar itu Zhen membulatkan matanya. Sungguh persatuan yang sangat indah. Ia tersenyum bangga dengan jawaban pria itu, "Aku sangat bangga dengan jawaban itu!?" ujarnya.


Tentu saja dengan bangga orang orang dari sekte Mo Rong itu mengangkat tinggi tinggi dagu dan dada mereka.


"Dengan begitu aku bisa membunuh kalian malam ini." lanjut Zhen, senyum bangganya pada mereka masih belum berubah. Tapi wajah bangga mereka langsung menjadi waspada.


"Tetap waspa_"


Jrat


"Aagh!?"


Belum satu detik berlalu sudah ada satu korban yang jatuh. Pria itu menggertakkan giginya dengan situasi yang tiba tiba berubah. "Semuanya serang anak itu!?"


Zhen bisa merasakannya, kepalanya sudah sedikit terasa ringan. Tapi tetap saja ini masih belum cukup. Masih kurang untuk membuatnya tidur nyenyak.


Dalam satu gerakan Zhen menyerang mereka semua dengan rantai. Teknik pertama dari tujuh rantai dunia bawah, The barred of chain. Gerakan yang lincah dan cepat dapat dengan lihai menggunakan teknik rantai.


"Aagh!?"


"Aagh!?" satu demi satu mereka terbunuh.


Setiap dirinya membunuh makan denyutan hebat dikepalanya akan berkurang. Suara suara berisik di kepalanya juga akan semakin berkurang. "Aha ha ha ha ha ha ha ha…" Zhen sangat menikmati kebebasannya di dunia luar. Ia bisa semakin kuat dengan banyaknya orang orang yang menawarkan diri untuk mati.


Pria dari sekte Mo Rong tersebut tidak bisa tinggal diam melihat kawan kawannya di bantai tanpa perlawanan oleh anak laki laki gila dari klan siluman. Dia menyiapkan teknik unggul dari sektenya. Dragon slayer blade. "Hyaaah!?, Rasakanlah teknik sekte Mo Rong!? Dragon slayer blade!?" dia menyerang Zhen dengan teknik membunuh. Pedang yang dipegangnya mengeluarkan cahaya terang.


Zhen langsung menengok ke arah pria tersebut, dia melemparkan rantainya dan dengan mudah mengikat pedang besar milik pria tersebut. "Teknik membunuh naga katamu?"


Mata pria itu terbelalak ketika pedangnya dapat dengan mudah di tangkap. Dia melihat anak laki laki didepannya dengan mata merah terang vertikal dan putih yang berubah menjadi hitam. Perlahan keluar dua tanduk yang kemudian membuat cabang di kedua sisi keningnya. "Nama teknik itu sangat angkuh. Akan kuperlihatkan bagaimana naga sesungguhnya padamu!?" ujar Zhen dengan senyum lebar yang terlihat jahat.


Pupil mata pria itu bergetar, kaki kakinya terasa lemas, tangannya tak bisa berhenti gemetar. Wajah ketakutan dan keputus asaan terpampang jelas pada wajah yang sebelumnya dipenuhi kebanggaan.


Cuuurrr


Air seni keluar dari bawah pria itu.


Langsung saja raut wajah Zhen menjadi kesal "Ukh, kau sangat jorok!? kau tahu seberapa mahal aku menyewa kamar ini?" kesalnya.


"M ma maaf!? Maaf!? Kumohon ampuni nyawaku wahai naga yang agung!? Budak ini tidak akan pernah mengusikmu lagi!? Kumohon lepaskan aku malam ini!? Kumohon!?" mohonnya sampai berlutut.


Zhen melongo melihat perubahan sikap yang sangat drastis ini. Apa penampilannya semenyeramkan itu sampai sampai membuat pria angkuh ini berlutut meminta ampun?


"Baiklah, aku akan mengampunimu. Tapi dengan dua syarat!? kau harus merahasiakan bertemu denganku malam ini. Apapun yang terjadi jangan pernah mengungkap identitasku!?" ujar Zhen.


"B baik baik!? Budak ini tidak akan mengatakannya pada siapapun!? Lalu apa yang kedua wahai naga yang agung?"


"Yang kedua…" Zhen tersenyum jahil.


Beberapa saat kemudian


...***...


Seorang pelayan wanita berkepang dua membawa makanan dan minuman untuk kamar yang ditempati Zhen. Sesaat sebelum membuka pintunya terlihat senyum baik diwajahnya. Namun setelah sesudah membuka pintu,


"Kyaaaahh!?" teriaknya lantang setelah melihat banyak darah dan mayat di lantai.


Zhen mengernyitkan matanya dengan teriakan kencang di kamarnya. "BERISIK!?"


Jleb


Ia melempar belati yang hampir menggorok leher pelayan tersebut. Namun hanya memotong salah satu kepang pelayan tersebut. Zhen melebarkan matanya menatap pelayan wanita yang tengah ketakutan tersebut. Sudah jelas dari pakaiannya dia seorang pelayan. Ia bangun dari tempat tidurnya sembari menundukkan kepalanya, "Maafkan aku. Apa kau tidak apa apa?" tanyanya sembari menatap lurus ke arah pelayan tersebut.


"Hiie…" pelayan wanita itu menatap ketakutan melihat mata Zhen. 'M matanya terlihat menakutkan. Ta tapi, dia cukup, sopan?'


Zhen melirik nampan di pegangan pelayan itu, "Apa itu makanan untukku? Terima kasih." ujarnya sopan sembari mengambil nampan dari pelayan tersebut.


"I i iya t tuan muda." ujar pelayan itu gemetaran. Dia menunduk sembari melangkah mundur untuk pergi.


Zhen menatap rambut pelayan tersebut yang terpotong oleh dirinya. "Tunggu." serunya membuat pelayan itu bergenti dan menatapnya dengan penuh tanya. "Aku akan merapikan rambutmu." ujarnya.


"Ap apa?"


Beberapa menit kemudian


Pelayan tersebut entah bagaimana duduk di atas kursi dengan dambut yang terpotong rapi. Pipi pipinya merona dengan perhatian yang didapatkannya dari anak laki laki yang sopan. Kalau dibandingkan umurnya dengan Zhen tentu jawabannya adalah dirinya jauh lebih tua. Tapi, melihat dari pantulan cermin didepannya yang memperlihatkan wajah fokus anak laki laki itu yang sedang memotong rambutnya, 'D dia sangat tampan, apa dia dari keluarga terkenal? Pasti begitu.' pikirnya. "Ehm, t terima kasih sudah ingin memotongkan rambutku. S sebenarnya aku sudah lama ingin…"


Disaat pelayan itu bicara Zhen sebenarnya tidak mendengarkan. Dirinya hanya fokus dengan potongan rambut yang harus rapi.


"Euh, apa ini? Tiba tiba jadi anak sopan, baik, nan bertanggung jawab hah? Hentikan saja, kau tidak cocok melakukannya." cibir Qiyu bicara di kepala Zhen tanpa menampakkan dirinya.


"Diam!?" ujarnya dingin, tanpa ia sadari pelayan itu langsung terdiam ketika Zhen mengatakannya.


Setelah selesai, Zhen membuka kain yang menutupi tubuh pelayan tersebut. "Sudah selesai, kau bisa pergi sekarang." ujarnya ramah.


"B baik, te terima kasih." ujar pelayan itu menatap takut Zhen. Dia masih shok setelah di bentak diam oleh Zhen yang nyatanya bukan untuknya. Dia segera berlari kecil pergi keluar.


"Kyak kyak kyak kyak kyak, pelayan itu bahkan sampai lari ketakutan melihatmu bersikap sopan." ujar Qiyu yang kini sudah memperlihatkan wujud gagaknya.


Terlihat raut wajah kesal, "Itu semua gara gara kau yang berisik!?", ujarnya kesal. Ia melangkah keluar dengan langkah kesal.


Brak


Tutupnya kencang. "Hiks…"


Terdengar suara isakan dari balik pintu, "Haih, ternyata masih sama. Dasar bocah cengeng."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...