
Zhen melihat orang orang itu begitu senang dengan emas dan harta yang mereka jarah. Tanpa Zhen lihat wajah mereka yang tertutup topeng ia bisa tahu kalau mereka tersenyum lebar. Dan terlihat didalam hati mereka, sebuah ketamakan akan harta dan kekayaan.
"Kalian terlihat sangat senang?" ujar Zhen.
Mereka langsung melihat Zhen, "Oh!? Yang Mulia, coba lihat harta benda ini. Semua ini adalah harta milik anda Yang Mulia!?" 'Baj*ngan sepertimu mana tahu nilai harta ini. Lebih baik aku ambil sedikit nanti kalau kalau penyakit gilanya kumat.'
"Hmm~ Ya, aku bisa melihatnya."
"Yang Mulia, ayo kita bangun istana anda dengan harta ini!?" 'Istana untuk orang gila sepertimu? Heh, mimpi saja.'
"Semua ini milik anda Yang Mulia!?" 'Semua ini milikku!?'
Dirinya tersenyum seperti orang bodoh mendengarkan semua kemunafikan orang orang ini, "Ooh~ Senangnya~ Memiliki harta sebanyak ini. Tapi maafkan aku…" ujarnya.
"Maaf?"
Jrat
"Ukh… hukh… kukh…"
Dalam sekejap Zhen menusukkan berbagai rantai ke salah satu diantara mereka. Tubuh mereka membatu melihat salah satu teman mareka mati di tempat.
"Kepalaku mulai sakit dan ada banyak suara di kepalaku untuk membunuh kalian. Ya ampun, apa aku sudah gila membunuh rekanku sendiri? Yah, maaf ya~ aku harus menumbalkan salah satu dari kalian~ Jika aku tidak membunuhnya, apa kalian rela menumbalkan diri sendiri untukku?" tanya Zhen menatap tajam orang orang sesat itu.
Guld
Mereka menelan ludah mereka sendiri. Rasanya tidak bisa berpikir apa apa mata yang dipenuhi niat membunuh. Mereka tahu dengan pasti saat menatap mata Zhen, kegilaannya sedang kambuh.
"Tidak apa apa Yang Mulia. Jika untuk anda apapun akan kami korbankan!?" seru Lu Yao.
" Ya ya, dia benar. Apapun itu."
Zhen tertawa senang mendengar mereka begitu inginnya hidup, "Aha ha ha ha ha… aku tidak percaya kalian seloyal ini. Kalau begitu, berikan aku tiga orang lagi untuk kubunuh, bisa kan?" tanya Zhen.
"I itu…"
Jrat jrat jrat
"Aagh!?"
"Aaagghh!?"
Dalam sekejap tiga orang mati dengan rantai yang menusuk berbagai arah, tebasan bayangan, dan terakhir di lilit hingga remuk tulang belulangnya.
"Bagus sekali, sekarang bisa tidur dengan nyenyak malam ini." ujarnya senang, sangat senang. Dia berjalan menjauh pergi meninggalkan mereka yang mematung.
Keheningan di tempat itu sangat hening. Yang terdengar hanya suara hujan.
"Lu Yao, sampai kapan kita harus bersabar dengan orang gila itu?! Apa sampai dia membunuh kami semua termasuk kau?" tanya salah satu dari lima tetua di penuhi kemarahan.
"Dia gila!? Apa kau tidak lihat bagaimana dia membunuh dengan mudah rekannya sendiri?"
"Semakin hari kegilaannya semakin parah, kali ini dia membunuh secara terang terangan. Apa kau pikir orang sepertinya bisa menjadi pemimpin kita?"
"Kau harus menggunakan 'itu' padanya!?"
"Xuan benar, kau harus menggunakan 'itu' untuk mengendalikannya. Dia sudah sangat kelewatan. Dia bahkan membunuh tetua Fang!?"
Lu Yao menatap tiga tetua yang tersisa termasuk dirinya, "Bersabarlah sedikit lagi. 'Itu' masih belum siap sekarang. Untuk mengendalikan anj*ng gila itu, memerlukan persiapan yang matang. Ketika saatnya tiba, kita yang akan mengendalikan dia sepenuhnya!?" ujar Lu Yao penuh keyakinan dan ambisi.
"Aha ha ha ha ha ha ha…"
"Aha ha ha ha ha ha ha…"
"Aha ha ha ha ha ha ha…"
Di dalam kamarnya Zhen duduk di atas kursi termenung melihat vas bunga yang cantik. Akhir akhir ini hidupnya sangat membosankan. Ada banyak orang orang yang ingin memanfaatkan dan membunuhnya. Mau bagaimana lagi, ia sudah terjerumus masuk terlalu dalam bersama mereka. Dirinya yang memulai, dirinya juga yang harus menyelesaikan.
Zhen tertidur di atas meja,
Dirinya terbangun didalam mimpi. Melihat sekelilingnya dipenuni genangan darah, sedangkan dirinya sendiri berdiri di atas gunung mayat. Meskipun ini mimpi, tapi bau anyir darah tercium jelas. Ini adalah mimpi yang seminggu terakhir ia mimpikan. Didalam mimpi itu, ia merasa bukan menjadi dirinya sendiri. Melainkan orang lain.
Kaaak kaak kaak
Suara burung gagak terdengar di suatu tempat. Zhen langsung menengok ke arah burung gagak tersebut yang terbang menuju dirinya. Mata merah gagak itu, sudah pasti itu adalah 'Qiyu? Qiyu, apa awan jahat itu melepaskanmu? Qiyu!?' teriak. Zhen dalam hati. Mulutnya sulit digerakkan dan tubuhnya bergerak sendiri bukan karena keinginannya.
"Mereka datang." ujar Qiyu.
Mimpinya kali ini, agak berbeda. Seharusnya yang datang adalah sepuluh orang termasuk Jun. Tapi kini yang datang adalah keempat tetua yang tersisa. 'Apa yang terjadi? Kenapa kali ini berbeda?' pikirnya.
Salah satu di antara mereka membunyikan lonceng perak.
Ting ting ting
Seketika seluruh tubuh Zhen merasa aneh. Saat mendengar suara lonceng tersebut Zhen seperti mendengar seluruh dunia menggemakan suara lonceng. "Aaagghh!?"
Brak!?
Zhen terbangun dari tidurnya dengan tangan menggeprak meja. Ia menengok kanan dan kirinya melihat sekeliling, ternyata ini kamarnya. "Fuhh, ini kamarku." ujarnya merasa lega.
Tok tok tok
Sontak ia merasa kaget dengan ketukan pintu. "Siapa?" tanya Zhen waspada.
"Ini saya Lu Yao."
"Lu Yao? kenapa datang tengah malam begini?"
"Ada yang perlu saya tanyakan."
"Katakan saja disana!? Jangan masuk!?" ujarnya.
Lu Yao mengernyit heran mengapa dirinya tidak boleh masuk. "Tapi ini sangat penting."
"Kalau begitu lain kali, pergilah!?"
"Tapi_baiklah, akan saya katakan di sini. Kapan kita akan melakukan penyerangan ke klan iblis langit di lakukan?" tanya Lu Yao akhirnya dia menyerah untuk masuk.
"Bulan depan."
"Itu terlalu lama."
"Minggu depan."
"Baiklah, akan saya siapkan dari sekarang portal menuju daratan timur." ujar Lu Yao, dia tersenyum licik di balik topengnya. "Saya undur diri."
Suara langkah kaki Lu Yao menjauh. Zhen duduk atas tempat tidurnya, "Dia yang membuat portalnya? Dia lebih kuat dari yang kubayangkan." ujar Zhen. 'Dan lebih ambisius dari yang kupikirkan. Kenapa dia sangat terburu buru? Bukannya menikmati emas seperti tetua yang lain, dia malah ingin secepatnya menyerang klan lain.' pikirnya.
"Zhen… Zhen… matilah bersama kami… Zhen…"
"Bajingan sepertimu pantas mati…"
"Pergilah ke neraka…"
Kepalanya tidak bisa berpikir jernih dengan semua ilusi yang dilihatnya. Ilusi orang orang yang pernah dibunuhnya. Ini adalah efek samping dari kutukan naga. "Pergilah!? Jangan menggangguku!?" ujarnya lelah. Ia melirik vas bunga yang beberapa saat yang lalu di pandanginya. Bunga di vas menjadi layu dengan sangat cepat, "Kenapa bunga itu jadi kering?" tanyanya heran.
Ia melihat sisa Qi hitam tertempel pada bunga tersebut. "Apa aku menggunakan kekuatanku tanpa kusadari saat tidur?" ujarnya. Jelas jelas ia melihat bunga cantik itu masih segar, tapi saat ia bangun bunga itu layu. "Sial, masalahku bertambah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...