
Zhen melihat sekelilingnya melihat berbagai orang berlalu lalang. Ada yang berdagang dan ada pula yang hanya berjalan jalan.
"Hei, sampai kapan kau ingin terus mengabaikanku? Ayolah, aku hanya menertawaimu sedikit saja!?" ujar Qiyu. Lagi lagi dirinya di abaikan. Dia melihat adanya beberapa kereta yang akan mengangkut beberapa barang menuju desa atau kota "Hei hei, lihat ke sana!? Kau bisa ikut menumpang pada mereka!?"
Zhen menengok kereta yang ditunjuk oleh Qiyu. Ada beberapa kereta termasuk diantaranya kereta barang dan kereta perjalanan. Ia berjalan ke arah kereta kereta itu. "Hei pak tua? Apa kalian akan pergi dari desa ini?" tanyanya.
'Siapa bocah ini?' pikir pak tua kusir. "Ya, kenapa kau bertanya?"
"Karena aku ingin ikut!? Kalau kau mau, aku bisa membayar. Aku punya uang!?" ujarnya terlihat polos.
"Kau bisa ikut dibelakang!? Dan kau tidak perlu membayar." ujarnya.
Zhen menatap kursi kosong disamping pak tua itu. "Boleh aku duduk disampingmu? Aku takut jika dibelakang, disana banyak orang orang yang menyeramkan." serunya dengan air mata yang akan keluar.
Tidak pernah dirinya melihat seseorang secengeng anak laki laki itu. Tapi yah, tentara bayaran di belakang memang agak menyeramkan. Tentara bayaran yang disewa untuk melindungi kereta kereta barang ini berbeda dengan biasa yang disewa seperti biasanya. "Ya, baiklah. Asal jangan membuat keributan!?" ujarnya.
"Baiklah!?" jawabnya bersemangat. Zhen langsung duduk disamping pak tua. Tak lama waktu berselang mereka pergi meninggalkan desa. "Pak tua siapa namamu?"
"Panggil saja paman Peng."
"Paman?" Zhen memperhatikan pria tua bernama paman Peng. Ia memperhatikan dari atas sampai bawah dengan teliti sampai pak tua itu gugup. Bagaiamanpun ia melihatnya, pria tua itu terlihat seperti pria tua. "Kau terlihat terlalu tua untuk dipanggil paman. Aku akan memanggilmu kakek Peng!?" ujarnya.
"……" Kakek Peng hanya bisa terdiam oleh anak laki laki yang entah datang dari mana ini.
"Kita akan pergi ke mana?" tanyanya.
"Kita akan pergi ke kota Chiliang. Tuan muda keluarga Lu pemilik barang dagang ini berasal dari kota Chiliang, mereka ke desa ini karena ada keperluan bisnis dengan kepala desa. Aku sudah berkali kali ke desa ini, tapi aku belum pernah melihatmu. Apa kau pengembara?" tanya pak tua Peng.
"Apa itu pengembara?" bisik Zhen pada Qiyu.
"Orang yang pergi ke mana mana."
"Oh benar benar, aku pengembara?" jawabnya polos sampai terlihat mencurigakan.
Kakek Peng menatap penuh pertanyaan pada Zhen. 'Pengembara yang mencurigakan.' pikirnya. "Siapa namamu nak?"
"Namaku Zhen. Aku pengembara." ulangnya.
Kakek Peng makin menyipitkan matanya, "Berapa umurmu?"
"Umurku 14 tahun dan aku pengembara." ulangnya lagi.
Kakek Peng makin menyipitkan matanya, 'Sudah kuduga dia tidak normal.' pikirnya sangat yakin. Dari baju yang kebesaram sampai perilakunya yang tidak tentu, dia sangat yakin anak laki laki ini tidak normal. Tapi satu hal lain yang dia yakin, anak laki laki itu adalah anak yang kesepian. Karena tatapan matanya sering terlihat kosong ke depan. "Ini untukmu!?" kakek peng memberikan tanghulu pada Zhen.
Zhen melirik tanghulu pemberian kakek Peng. "Apa ini?" tanyanya sembari melihat lihat permen buah tersebut.
"Makan saja, aku membeli beberapa untuk cucuku. Dia sangat menyukai tanghulu di desa ini. Kehilangan satu tanghulu saja tidak apa apa. Aku masih punya banyak." ujarnya.
Zhen menggigit satu buah, "Ini manis."
"Tentu saja manis dasar bodoh!? Ha ha ha ha ha…" tawanya terdengar renyah.
"Apa aku harus membunuhnya? Dia memanggilku bodoh." bisik Zhen sembari mengunyah permen buahnya.
"Jangan."
...***...
Dalam perjalanannya yang membosankan Zhen bertemu dengan anak perempuan berambut coklat. Anak perempuanbitu tampak seusia dirinya. Kakek Peng bilang dia adalah adik tuan muda dari keluarga Li. Namanya Li Shui. Dia duduk tepat dibelakang Zhen didalam kereta barang. Sedari tadi yang anak perempuan itu perhatikan hanya wajah Zhen dari samping dengan pipi putihnya yang merona.
"Ada apa dengan anak ini? Apa dia gila? Dia terus terusan menatapku. Aku rasa otaknya sudah miring." bisik Zhen.
"Kau benar benar tidak tahu? Dasar jahat, mengatai gadis yang sedang jatih cinta dengan otak miring. Kau pria yang sangat jahat, ck ck ck ck." Qiyu menggeleng gelengkan kepalanya.
"Apa maksudnya itu?" ujarnya kesal. Zhen melirik Li Shui yang tampak memerah saat bertatapan dengan dirinya.
Kakek Peng yang mengendarai kuda paham dengan apa yang terjadi di belakang dan sampingnya, 'He he he he, tampaknya nona muda sedang jatuh cinta dengan anak ini.' pikirnya.
"H hah?" sontak Li Shui langsung memerah dengan pertanyaan Zhen. 'A apa dia tahu kalau aku…' pikirnya dengan wajah semakin memerah.
"Aku tanya apa kau sedang jatuh cinta? Dengan…… gagakku?" lanjutnya.
"A apa?" wajah tak percaya terlihat jelas pada Li Shui.
Kakek Peng bahkan sampai melingo dengan pertanyaan di luar nalar dari Zhen.
"Hei, apa kau serius menanyakan itu?" tanya Qiyu.
Wajah Li Shui tidak lagi memerah karena malu, tapi memerah karena kesal.
Plak
Tamparnya untuk dirinya sendiri.
Zhen melebarkan matanya tak percaya. "Apa kau yakin dia tidak miring?" bisik Zhen.
"Sekarang aku tidak yakin." jawab Qiyu mulai berubah.
"Huff… " Li Shui membuang nafas pelan sembari menyilak rambut nya yang tergerai ke depan. "Bodohnya aku berpikir pria tampan sepertimu adalah pria pintar." ujarnya sembari menutup tirai kereta rapat rapat.
"Apa maksudnya itu?" bisik Zhen tidak paham.
"Artinya kau bodoh."
Di balik pepohonan terlihat beberapa bandit yang bersiap untuk menyergap kereta dagang Keluarga Li. Mereka bersenjata tajam dengan baju khas seorang bandit.
Zhen menatap jauh ke depan, dengan mata naganya yang tajam dan bisa melihat dari kejauhan dengan jelas ia melihat adanya aliran Qi dibalik banyaknya pohon di depan. 'Ada setidaknya lima puluh aliran Qi didepan. Siapa mereka? Mereja sepertinya ingin menyergap kereta kuda ini melihat mereka bersembunyi.'
"Kakek Peng, kakek Peng!? Didepan ada banyak orang jahat bersembunyi dibalik pohon. Aku rasa mereja ingin menjahati kita!?" lapornya pada pak tua Peng.
Terlihat kerutan pada dahi kakek tua itu. 'Orang jahat? Apa maksudnya adalab bandit? Aku harus segera memberi tahu para pengawal itu.' pikirnya. Dia melihat ke belakang sembari melambai pada seorang pria besar berbadan kekar.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Sepertinya ada bandit didepan. Kumohon kalian harus bersiap." ujar kakek Peng.
"Bagaimana kau tahu ada bandit di depan?" tanya kapten pengawal keheranan. Tidak mungkin seorang kusir kuda tua seperti kakek Peng lebih hebat darinya yang tidak menyadari adanya musuh didepan.
"Anak di sebelahku yang memberi tahu ku." ujarnya.
"Heh, jangan percaya anak anak!?" ujarnya tak percaya. Dia kembali berjaga pada posisi sebelumnya. "Ck, ada ada saja."
"Ada apa kapten?"
"Bukan apa apa, cuma orang tua yang pikun."
Zhen melihat raut wajah tak enak dari kakek Peng.
"Apa kau yakin melihat bandit didepan sana?" tanyanya cemas.
"Ya, aku benar benar melihatnya dan jumlah mereka puluhan." jawab Zhen santai.
Sontak mata kakek Peng terbelalak kaget, "P puluhan?"
Klang
Tiba tiba serangan dari berbagai sisi terarahkan pada mereka. Untungnya Zhen menangkis anak panah yang di tujukan pada kakek Peng.
Keringat dingin terus bercucuran dari tengkuk pak tua itu.
"Bukankah aku sudah bilang, ada orang jahat dibalik pohon. Kenapa masih tidak percaya?" ujar Zhen sembari tersenyum puas melihat wajah kaget mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...