
Seiring lama mantra dibacakan, lingkaran mantra yang dibuat Lu Yun bersinar merah , Zhen merasa tubuhnya semakin panas dan dingin secara persamaan. Kepalanya dipenuhi dengan banyaknya lontaran kebencian. Rasa haus darah memenuhi hasrat membunuhnya. Semua itu membuat kepalanya ingin meledak. "Aaaggghhh!?" teriak kencang sembari meremas kepalanya. Ia mencakari wajah dan kepalanya sendiri hingga terkelupas berdarah.
'Sakit sakit sakit sakit sakit sakit sakit sakit sakit sakit sakit sakit
Siapapun tolong aku!?
Aku membenci semuanya,
Aku ingin membunuh semua orang,
BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI BENCI AKU MEMBENCI KALIAN SEMUA!?
AKU SANGAT MEMBENCI MEREKA!?'
Asap hitam legam keluar dari lingkaran yang dibuat Lu Yun. Menyelimuti tubuh Zhen yang meronta ronta kesakitan.
Setelah beberapa menit, asap itu menghilang dan mendapati Zhen sudah berdiri diam. Penampilannya sudah berubah menjadi wujud setengah naga. Matanya yang tertutup terbuka memperlihatkan manik merah menyala bersinar terang dengan garis vertikal, dan luka cakaran yang mengelupas kulit wajahnya dan seluruh tubuhnya dengan ajaib sembuh seketika. Tidak ada yang berubah banyak dari penampilannya, tapi aura yang dikeluarkan terasa sangat berbeda. Aura Zhen kini terasa sangat berbahaya.
Senyum puas terlihat di wajah Lu Yun. "Katakan, siapa aku?" tanyanya dengan penuh ketidak sabaran.
"Tuanku." jawab Zhen lembut memuji dengan sedikit membungkuk. Terlihat dari wajahnya sebuah senyum tipis.
Lu Yun tak bisa lagi menyembunyikan ekspresi jahatnya, "HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA… MING JIAZHEN!? AKHIRNYA AKU BISA MENGENDALIKANMU KAU BAJ*NGAN GILA!?" teriaknya tak tertahankan. "Sekarang, berlutut!?" perintah Lu Yun.
Sesuai apa yang di katakan Lu Yun, Zhen berlutut satu kaki di hadapan Lu Yun.
Tapi Lu Yun masih belum puas. Dia merasa Zhen seperti tidak sepenuhnya terpengaruh mantranya. Rasanya Zhen masih berada jauh diatas memegang kendali, sedangkan dirinya berada dibawahnya meskipun sekarang pemuda itu sedang berlutut di bawah kakinya. Lu Yun ingin menguasai pemuda itu sepenuhnya dan setelahnya mengalihkan kekuatan Zhen padanya. Tapi sebelum itu Zhen harus menjadi bonekanya lebih dulu. "Ming Jia Zhen!?" panggilnya.
Sesuai panggilan Lu Yun, Zhen mendongakkan kepalanya ke atas dengan senyum tipis yang masih terlihat di wajahnya.
Lu Yun melihat Zhen dengan tatapan sinis sambil mengernyit tak suka. Apa apaan senyum di wajahnya itu? Sangat menyebalkan melihat senyum di wajah Zhen. "Kenapa kau terus tersenyum? Apa aku terlihat lucu di matamu?" tanyanya dengan tatapan sengit.
Zhen berhenti tersenyum dan melihat heran Lu Yun, "Tidak, kenapa tuanku terlihat lucu? Tuanku lebih terlihat seperti… pelawak." jawabnya dengan kembali tersenyum di akhir.
BUK
Dengan penuh amarah Lu Yun memukul pipi Zhen hingga keluar darah di sudut bibirnya. Zhen melihat malas Lu Yun yang melotot marah mendengar dirinya dihina sebagai pelawak. "………"
Lu Yun sangat marah saat ini. Apa Zhen benar benar dalam kendalinya? Atau dia hanya pura pura untuk menipunya? Dia akan tahu setelah mengujinya. "Ming Jiazhen!? Apa kau akan mematuhi semua perintahku?" tanyanya dingin.
"Tentu, tuanku!?" jawabnya masih tetap sopan dan tersenyum tipis.
"Kalau begitu bunuh dirimu sendiri sekarang!?" perintahnya tanpa pikir panjang.
"……" Zhen terdiam mendengar perintah yang diharuskan membunuh dirinya sendiri. Tapi tidak lama kemudian ia kembali tersenyum tipis, "Baik, tuanku!?" ia mengeluarkan jarum hitam yang panjang dengan kekuatan kegelapannya. Tanpa ba-bi-bu lagi Zhen mengarahkan jarum itu ke samping lehernya.
jleb
Jarum menembus seperempat lehernya.
"Berhenti!?" perintah Lu Yao.
Darah mengalir deras dari lukanya. Zhen tanpa ragu membunuh dirinya sendiri sesuai perintah Lu Yun.
Zhen melirik tangan Lu Yun yang meremas bahunya keras.
"Aku memiliki tugas untukmu!? Pergilah ke dunia atas, buat dunia atas menjadi lautan darah. Bagaimanapun caranya kau harus memerangi mereka dan membuat kekuatan mu bertambah kuat!? Aku akan memberimu waktu sepuluh hari. Jika kau tidak juga membuat dunia atas kacau, aku akan membuatmu merasakan rasa sakit itu lagi,kau paham?!"
"Baik, tuanku!?"
Setelah itu Lu Yun pergi meninggalkan Zhen sendirian.
Beberapa detik setelah Lu Yun pergi, Zhen bangun dari posisinya. Ia mengibas ngibaskan bahu tempat Lu Yun meremasnya. "Ayo pergi membunuh semua orang!?" ujarnya dengan senyum tipis.
...***...
"Aaaggghh!?"
"Tooollooonngg!?"
"Aaahhh!?"
Pasukan prajurit hitam membantai setiap orang yang di lihatnya. Belum lagi semua anak panah di langit yang siap menembus jantung seyiap orang. Ditengah tengah itu semua ada Zhen yang diam berdiri mendengar semua jeritan mereka.
"MATILAH IBLIISS!?"
Jleb
Zhen lebih dulu menusukkan pedang hitamnya ke dada pria itu.
Jrat
Kepala pria itu ditebas. Dengan kejam ia meminum darah yang mengalir dari leher yang terpotong.
"Ah ha ha ha ha… ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha …" tawanya yang senang terdengar menggelegar di dengar semua orang. Mereka melihat takut Zhen. Tiba tiba tawanya berhwnti, dia melihat orang orang yang menatapnya, "Kenapa? Kenapa kalian melihat ku seperti itu?" tanyanya penasaran dengan tatapan takut orang orang padanya. "………Aku tahu. Kalian ingin aku meminum darah kalian juga bukan?! Dengan senang hati!?" ujarnya senang.
Sontak semua orang mencoba kabur dari Zhen.
Namun gerakan Zhen sangat cepat. Satu persatu tubuh bereka di tebas, di penggal, ada pula yang di potong. Dan Zhen melumuri tubuhnya dengan darah mereka semua. Ia meminumnya seperti air sambil tertawa.
Habis semua orang di bantai, menyisakn Zhen yang bermandikan darah dengan para prajurit kegelapan. Ia duduk diatas tumpukan mayat. Wilayah ini sudah dibersihkan, tinggal ke wilayah selanjutnya.
Zhen menyebarkan asap hitam di sekelilingnya. Asap hitam itu menggumpal membentuk burung gagak bermata merah. "Kalian tahu apa yang harus di kerjakan. Pergilah!?" ujarnya.
Burung burung itu terbang ke berbagai tempat. Apa yang dilihat para burung gagak bisa terlihat oleh Zhen. Berkat mata mereka Zhen tidak tersesat. Ia turun dari gunung mayat untuk kembali berburu.
Meong
Dengan sigap Zhen langsung menodongkan pedang. Namun yang terlihat hanya kucing kecil berbulu merah. Hanya kucing tak perlu dihiraukan. Karena itu Zhen kembali melanjutkan langkahnya.
"Hallo!?"
Zhen kembali menodongkan pedangnya. Kali ini yang dilihatnya adalah, seorang gadis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...