Villain'S

Villain'S
Bab 41. Pemimpin klan



Di atas sebuah meja Zhen memperhatikan persediaan tanaman tanaman herba yang mulai menipis. Ada empat akar red flame herb yaitu sebuah akar tebal berwarna merah sepanjang telapak tangan, sepuluh ginseng sepuluh ribu tahun, dua buah herba immortal snow yaitu bunga berkelopak biru dengan tiga kelereng hijau di tengahnya, tiga belas lembar rumput spirit. Zhen masih membutuhkan satu bahan lagi setidaknya untuk membuat beberapa resep obat lagi.


"Dimana aku harus mencarinya?" ujarnya. Hutan bambu ini dipenuhi dengan kabut. Ia juga hanya tahu hutan hitam tempat penuh tanaman herba dan spirit. Sedangkan disini, entahlah.


"Kakek datang~" ujar Chen Zinyu dari arah pintu masuk.


Zhen segera memasukkan kembali herba herba tersebut ke dalam cincin penyimpanannya. Ia masih belum percaya dengan Chen Zinyu. Mana mungkin dirinya percaya dengan kakek aneh yang mengaku orang baik itu. Meskipun dia sering kali membawa makanan enak dari luar.


"Ggrrr, aaa!? Aaa!?" Zhu'er meloncat loncat berusaha meraih bungkusan besar makanan yang dipegang Chen Zinyu tinggi tinggi.


'Dia tidak pernah kenyang ya?' pikir Zhen sembari bangun dan mengembunyikan kedua tangannya ke belakang. Karena Zhen selalu melihat Zhu'e makan setiap ia melihatnya. Jadi rasanya aneh kalau gadis itu ingin makan lagi dan lagi.


"Eeh, tidak boleh Zhuzhu!? Kau tidak boleh makan semuanya!? Zhen juga pasti lapar~" ujar Chen Zinyu memasuki rubah dengan Zhu'er yang mengikutinya. Dia menatap Zhen yang terlihat masih canggung tidak berani menatapnya langsung.


Bruk


Dia meletakkan bungkusan itu di atas meja dan membuka isinya. Ada banyak makanan seperti bakpau, pangsit, mie, ayam dan tumis. Chen Zinyu merapikan semuanya diatas meja sedangkan Zhu'er bersiap dengan air liurnya yang terus menetes. "Nah~ Ayo makan~" ajaknya dengan senyum ramah.


"Makan." ujar Zhu'er datar. Dan dengan wajah datarnya itu hampir semua yang ada di meja di ambil olehnya.


Zhen menatap aneh gadis itu. 'Jiangshi yang aneh.' pikirnya melihat Zhu'er dengan rakus memakan potongan daging besar.


Chen Zinyu menatap Zhen yang terus terusan canggung dengannya. Apa mungkin karena dirinya adalah tetua di dalam klan. Bisa jadi Zhen canggung karena hal itu. 'Tidak boleh begini.' pikirnya.


"Zhen'er~ kau tidak ingin makan?~" tanya Chen Zinyu dengan senyum ramahnya.


"Ah, i itu…" Zhen menatap semua makanan di meja dengan menelan keras ludahnya. Tentu saja ingin, bahkan ingin sekali. Dirinya harus mengambil bagiannya sebelum Zhu'er menghabiskan semuanya. "Kau tidak memanggilku tuan muda, lagi?" tanya Zhen mengalihkan topik.


"Heh~ untuk apa aku memanggil seseorang yang telah membunuh pemimpin klan sebagai tuan muda?" tanya Chen Zinyu melirik licik Zhen.


Zhen menggertakkan giginya kesal, "Sudah kubilang, aku tidak membunuhnya!? Kenapa kau tidak percaya padaku?" sentaknya kesal.


"Hm~" Chen Zinyu melirik tangan Zhen yang disembunyikan dibelakang. 'Samar samar tercium bau herba. Oh!? Apa mungkin herbanya mulai menipis? Itu masuk akal, dia sudah pergi terlalu lama dari hutan. Mana mungkin herba yang mana bahan utama pembuatan obatnya tidak habis. Kita lihat berapa lama dia bisa bertahan tanpa obat itu.' pikir Chen Zinyu dengan senyum liciknya.


"Bagaimana aku bisa mempercayai omongan bocah yang kabur dari rumah jika tidak melakukan kesalahan? Bukankah alasanmu kabur itu karena memiliki salah?" Chen Zinyu semakin memojokkan Zhen.


"Itu…" kata katanya tercekat, ia tidak ingin orang orang terus salah paham padanya. Dadanya terasa sesak ketika ingin menjawabnya, "Itu, karena kalian ingin membunuhku!? Aku… juga ingin hidup…hiks…" air matanya yang hangat berjatuhan ke bawah.


"Aduh…" sepertinya Chen Zinyu sudah keterlaluan menggidanya. 'Jadi rumit, kan.' gerutunya dalam hati.


"Sungguh… hiks… aku tidak… membunuhnya…" karena sejujurnya ia juga sedih Jiayuan meninggal.


Chen Zinyu tidak tahu harus merbuat apa untuk menenangkan bicah cengeng didepannya. Karena mengasuh Zhu'er itu lebih mudah karena dia gadis yang pendiam dan penurut. Walau kadang kadang sering memakan sesuatu yang tidak pantas dilihat. "B baiklah baiklah!? Aku percaya padamu. Jadi berhenti menangis dan ma__ loh? Mana makanannya?" saat melihat meja makanannya ludes tak tersisa. "Zhu_" saat Chen Zinyu ingin memanggil Zhu'er, dirinya melihat gadis itu memberikan paha ayam pada Zhen.


"Makan." ujarnya dengan wajah datar dan tanpa rasa bersalah padahal dirinya melalap habis makanan di atas meja. Sen-di-ri-an.


...***...


"Haah, aku merasa menjadi orang jahat." ujarnya menghela nafas. Chen Zinyu menghempaskan tangannya yang seketika itu kabut yang menghalangi jalan menghilang. "Menghadapi bocah yang cengeng benar benar merepotkan."


Flashback


"Chen Zinyu!?" panggil pemimpin klan, Ming Jiayuan. Dia duduk di kursi pemimpin klan dengan bersimbah darah. Keluar banyak darah dari dadanya, tebasan pedang, dan baju penuh robekan yang berdarah darah. Dan keadaan di sekitar yang berantakan. Beberapa mayat tetua bahkan bergeletakan.


"Ya, pemimpin klan." Chen Zinyu menatap keadaan Jiayuan yang mengenaskan. "Haruskah aku memanggil tabib?"


"Tidak, itu tidak perlu."


"Tapi pemimpin… lukanya semakin melebar. Racunnya akan semakin menyebar. Jika terus dibiarkan maka_"


"Jangan khawatir, aku memang ingin bertemu Huai Yu di sana." ujarnya sembari tersenyum.


Chen Zinyu tak bisa berkata apa apa lagi kalau begitu, "Ternyata anda bisa jadi bodoh juga." ujarnya sembari tersenyum. "Sungguh tak bisa dibayangkan. Empat belas tahun lalu anda mengatakan itu padaku. Tapi sekarang malah sebaliknya."


Jiayuan tersenyum lemah, "Ya, aku sudah menjadi bodoh. Dan aku yang bodoh ini ingin memberikan perintah bodoh padamu." Jiayuan tersenyum lagi, "Buat dia jadi gila."


Chen Zinyu terbelalak kaget mendengar perintah itu. "Apa?"


"Bukankah membuat hal yang gila adalah keahlianmu?"


"Hmm, boleh saja. Tapi apa bayaranku?"


"Satu per tiga kekayaanku."


"Setuju!?"


Sekarang


"Haaah, pemimpin klan, itu bukan perintah bodoh. Tapi perintah yang kejam namanya. Meskipun aku senang melakukannya, tapi ya ampun~ aku merasa sangat jahat." Chen Zinyu menghela nafas lebih panjang dari sebelumnya. Kemudian tersenyum senang diam diam. 'Buat dia jadi gila, dipikir berkali kalipun aku tidak tahu apa maksudnya. Apa karena dia dendam padanya jadi harus kubuat jadi gila? Tapi, dia tidak terlihat dendam atau membencinya. Malah, dia terlihat sangat menyayanginya.' pikirnya.


"Sudah kuduga!? Pemimpin klan memang orang yang aneh!?" ujar Chen Zinyu.


"Pemimpin mana yang kau maksud, tetua Chen?" tanya seseorang. Dari suaranya terdengar kalem dan tegas.


Chen Zinyu langsung berhenti melangkah dan beralih melirik pria muda di sampingnya. Seorang pria muda memakai jubah, berambut hitam panjang kebiruan, berparas rupawan dengan mata kiri yang buta. Dia adalah Sion. "Oh ya ampun~ pemimpin klan? Sedang apa anda disini?" tanya Chen Zinyu langsung ramah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...