
"Ya ampun~ pemimpin klan? Kenapa anda bisa disini?" tanya Chen Zinyu dengan nada liciknya.
"Hmm, tetua Chen memang hebat, dapat mengetahui penyamaranku dengan cepat." puji Jun sembari melepas topeng kulit serta rambut palsunya yang seketika itu menunjukkan rambut aslinya yang berwarna putih. Serta menunjukkan wajahnya rupawannya yang lain dengan mata yang tidak buta dan berwarna biru.
Chen Zinyu menyipitkan matanya dengan senyum licik yang samar, "Oh ho ho ho ho, mana mungkin pak tua ini tidak mengenali majikannya sendiri." ujarnya. Dia memperhatikan penyamaran Jun sebelumnya, "Omong omong pemimpin klan, kalau anda menyamar sebagai orang itu, apakah dia sudah…"
"Oh? Ya, dia menemui nasib buruk yang lain. Aku hanya memanfaatkan wajahnya saja." ujarnya ramah.
"Ooh, jadi, apa anda sudah menemukan apa yang anda cari?" tanya Chen Zinyu.
"Tadinya sudah, tapi kurasa aku terlalu meremehkannya. Jadi, dia lepas lagi!?" jawabnya riang. Dengan senyum riang pula.
Chen Zinyu sampai tidak tahu harus merespon bagaimana. Dirinya hanya bisa memaksakan senyum canggung di depan Jun. 'Sudah kuduga!? Pemimpin klan yang ini juga aneh!?' pikirnya. "Oh!? Tapi ada apa anda mencariku? Apa ada kompetisi lainnya yang ingin diumumkan?" tanyanya yang penasaran alasan Jun mencarinya sampai ke hutan bambu.
Saat Chen Zinyu menanyakan alasannya, Jun langsung kembali berwajah serius. "Tetua Chen, aku sudah mendapatkan informasinya." ujar Jun.
Dengan tatapan serius pula Chen Zinyu menatap Jun. Lalu tersenyum remeh pada pemuda didepannya, "Informasi apa memangnya, pemimpin klan?" tanya Chen Zinyu.
Helaan nafas kecil terdengar dark Jun. Sudah pasti pak tua ini meremehkannya yang masih seorang pemimpin muda dari klan besar. Yang umurnya bahkan tidak sampai setengah dari umur Chen Zinyu. "Tentu saja tentang, orang yang membunuh anakmu!?" ujarnya langsung membuat Chen Zinyu terbelalak. "Bagaimana? Apa kau ingin berbarter informasi denganku tetua?" tanya Jun.
Chen Zinyu menatap serius Jun, "Lupakan saja Pemimpin klan, aku sudah tidak perduli lagi dengan pembunuhnya. Lagi pula apa yang bisa kuberikan untuk anda? Tidak ada informasi yang bisa ku barter dengan anda." tanya Chen Zinyu.
"Benarkah?" tanya Jun masih menatap Chen Zinyu. Sedangkan pak tua itu menatap santai pemimpin klan-nya dengan senyum santai pula. "Haah, baiklah kalau itu keinginan Tetua. Tapi jika kau ingin berbarter, temui saja aku." ujar Jun sembari menarik tudungnya menutupi kepalanya. Perlahan dia mulai pergi menjauh.
Selepas kepergian Jun, seketika Chen Zinyu menghela nafas panjang. 'Apa Pemimpin klan sudah mulai mencium bau busukku?' pikirnya. Setelah beberapa lama diam ditempat, dia kembali melanjutkan perjalanannya.
"Hmm,… sial."
...***...
Beberapa minggu kemudian
Guprak
"M maaf, maafkan aku!?" Zhen membereskan beberapa botol yang jadi berantakan karena dirinya. Sangat sulit untuk bertahan tanpa adanya herba yang biasa ia konsumsi. Tanpa adanya herba untuk membuat obat, ia tidak bisa tidur dengan tenang. Ia duduk disamping Chen Zinyu yang masih enak enak minum. "Tetua Chen, kapan kau akan mengambil herbanya?" tanya Zhen.
Chen Zinyu memperhatikan bagaimana Zhen memanggilnya. Itu mengingatkannya pada baj*ngan rambut putih beberapa minggu lalu yang mengungkit kematian putranya. "Sialan…" gumamnya.
"Apa?" tanya Zhen.
"Bukan kau. Tapi bed*bah yang kutemui tempo hari."
"Oh…"
"Aku memiliki banyak urusan disini. Belum lagi Pemimpin klan sudah mulai curiga padaku. Tunggulah sebentar lagi. Jika kau bersabar sedikit lagi aku pasti akan mengambilkan herba yang banyak untukmu." jelas Chen Zinyu.
Chen Zinyu memperhatikannya langsung. Perubahannya bisa dibilang lumayan drastis. Lebih baik dari yang dulu, dalam hal buruk. 'Kerja keras memang tidak mengkhianati hasil.' pikirnya sembari tersenyum bangga. Tapi tiba tiba dia kepikiran sesuatu, 'Eh? Tapi bagaimana kalau hasil yang mengkhianati kerja keras? Bukankah semuanya akan sia sia.' pikirnya kembali menjadi rumit. "Ehm, Zhen'er? Ada apa? Kau terlihat lelah." ujar Chen Zinyu.
Zhen menatap Chen Zinyu sedikit aneh. Padahal dirinya sudah menjelaskan sebelumnya. "Bukannya aku sudah pernah menjelaskannya padamu?" tanya Zhen. Meskipun konsentrasinya sedikit buyar tapi ingatannya masih sangat jelas kalau dirinya pernah menjelaskan situasinya pada Chen Zinyu.
"Apa? Benarkah? Kapan itu? Sepertinya aku melupakannya~ pak tua ini hanya ingat kau membutuhkan herba~" ujarnya menunjukkan tampang yang sangat polos.
"Hah?…" Zhen merasa kalau dirinya sedang dipermainkan oleh pria tua ini. Seandainya dia bukan tetua sudah dari awal ia ingin membunuhnya. Sayangnya pak tua didepannya adalah tetua ke tiga didalam klan. Dan kekuatan seorang tetua bukanlah main main. "Akhir akhir ini kutukannya makin kuat karena aku tidak mengkonsumsi herbaku lagi. Karena itu, kapan tetua Chen akan mengambil herbanya?" desaknya.
"Ya ampun~ jadi begitu~ tapi yang aku lihat kau masih baik baik saja? Apa kau mencoba membohongiku?" Chen Zinyu mengeluarkan sedikit dari hawa membunuhnya.
Sontak Zhen kaget karena hawa membunuh pria tua itu keluar. Apa dirinya melakukan kesalahan? Ia memang tidak menjelaskan secara detail rasa sakitnya. Seperti sakit kepala yang mendera, dan dadanya yang sakit setiap malam. Tekanan yang dirasakan lebih berat ketika berhadapan dengan Zhukara. "Aku, tidak membohongimu…sungguh… ukh uhuk!? uhuk!?"
Chen Zinyu segera menarik kembali hawa membunuhnya setelah melihat anak didepannya batuk darah. 'Kutukan naga… itu kutukan yang hanya berlaku untuk ras naga. Jika mendapatkan kutukan itu, artinya kejahatan yang dilakukan sudah dilewat batas. Jangan harap bisa hidup lama jika terkena kutukan. Herba hanya meredakan setengah dari rasa sakitnya. Aku ragu dia bisa melewati usia dua puluh tahun.' Chen Zinyu meneguk arak di sampingnya.
Zhen menatap botol putih yang dipegang Chen Zinyu, "Apa yang tetua minum?" tanya Zhen.
"Hm? Ini? Ooh, ini dukuang."
"Dukuang?"
"Ya, ini minuman keras. Dan ini sangat mahal karena ini dukuang kelas satu." Chen Zinyu kembali meneguk dukuangnya. Khusus untuk hari ini ia hanya ingin minum minum. Karena hari ini adalah hari peringatan kematian anaknya. "Kenapa kau terus melihatnya? Kau mau?" tanyanya.
Tiba tiba terlintas ide dipikirannya. Pak tua itu menggapit kedua rahang Zhen, "Aah!? Aku punya ide bagus!? Dari pada herba, kenapa kau tidak minum dukuang saja? Khu khu khu khu khu… itu ide yang brilian~" wajahnya yang memerah dan pandangannya yang sayu, pak tua ini sudah sangat mabuk.
Zhen terbelalak dengan apa yang ingin dilakukan pak tua gila ini."T tidak, aku tidak ma_"
"Sstt!?" tanpa aba aba Chen Zinyu langsung menegukkan botol araknya ke mulut Zhen.
Klang
Di lemparnya asal ke tempat botol botol arak sebelumnya. "Nah bagaimana? Enak kan?" tanyanya.
Tanpa jeda hingga botolnya habis pak tua mabuk ini meminumkan paksa Zhen meminum dukuang. "Itu…hik…pahit…hik…" entah karena pertama kali minum atau karena terlalu kaget, dirinya jadi cegukan.
"Haaah? Pahit? Hmmm, oh!? Itu mungkin karena kau pertama kalinya minum dukuang. Kalau yang kedua kalinya pasti tidak." pak tua itu mengambil botol lain.
"Itu…hik…cukup…hik…" pandangannya terasa berkunang kunang setelah meminum minuman aneh itu.
"Eeh, mana boleh begitu~" senyum licik dari pak tua itu menunjukkan bahwa dia ingin membuat Zhen minum lagi.
Sedangkan di pojokan Zhu'er asik memakan burung mentahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...