Villain'S

Villain'S
Bab 26. Dokter kecil



Lima hari yang lalu


Jauh didalam hutan seorang anak laki laki berusia dua belas tahun masih berada didalam hutan. Dengan hanya berbekal lampu lentera dia menerangi jalannya menuju perjalanan pulang setelah mencari kbat obatan. "Sial, ini sudah hampir larut malam. Semoga tidak ada serigala atau hewan buas apapun yang muncul dan menerkamku!?" ujarnya dengan tergesa gesa.


Ggrrr


Sontak langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara menggeram dari serigala. 'Mulut sial!?' gerutunya dalam hati. Seharusnya ia tidak mengatakan apapun tentang serigala. Tanpa melirikpun dia tahu bahwa dibelakangnya ada beberapa pasang mata yang menyala.


Dia berbalik ke belakang, keluar lima ekor serigala. Tatapan mereka ganas dengan taring yang tajam. Mereka mulai lari menyerang anak itu.


Sontak anak itu langsung melempar lentera nya ke kawanan serigala. Untungnya hal itu membuat pergerakan mereka terhambat yang bisa memberikan waktu untuk dirinya lari dari kejaran serigala kelaparan. "Hah…hah…hah…hah…"


Ggrrr ggrr ggrr


Beberapa serigala mengejarnya dari belakang.


Larinya begitu cepat dan tak memperhatikan sekitar. Sampai sampai…


Gabruk


"Ugh kenapa bisa ada batu ditengah jalan?!" gerutunya kesal.


Ggrrrrr…!? Wuff…wuff…kyuu…


Anak itu merasa aneh dengan suara geraman serigala itu. Terdengar seperti anak anjing yang dimarahi. Dia melihat kelima serigala itu agak ragu mendekat seperti takut akan sesuatu. Kemudian dia melihat ke arah yang ditakuti serigala yang mengejarnya.


Terlihat seirang pemuda yang berdarah di dadanya. "Aah~" ternyata mereka takut dengan pemuda itu. Dia bangun mendekati pemuda itu, "He he he he he, kenapa kalian diam saja di sana? Takut? Takut yah? Ayo kemari kalau kalian berani!?" dengan sengaja dia memprovokasi lima serigala yang mengejarnya.


Ggrr…


Dengan geraman terakhir itu mereka berjalan menjauh.


"Blee!? Dasar pengecut!? Wuuu…" anak itu berhasil selamat berkat pemuda yang misterius ini. Dia melihat keadaan pemuda itu yang bisa dibilang…sekarat? Masih ada nafas dari hidungnya, juga masih ada detak jantung meskipun lambat. "Aku harus menolongnya!?" ujarnya bersiap untuk membawa pemuda tersebut.


Pluk


Sesuatu jatuh dari pemuda tersebut ketika anak itu menggendongnya. "Apa itu?" dia memungut benda yang jatuh dari pemuda tersebut. Alangkah terkejutnya dia saat melihat topeng hitam dengan pola bunga teratai di topengnya. "Ini…"


Bruk


Anak itu langsung menjatuhkan Zhen dengan kasar. Melempar topeng hitamnya pada Zhen. "Aku tidak akan pernah mau membantu iblis sepertimu!?" teriaknya marah. Dirinya berasal dari kekaisaran yang Zhen hancurkan. Mana mau dirinya menolong seseorang yang telah membunuh orang orang dari negaranya.


Dia berjalan menjauh dari Zhen, namun baru beberapa langkah dirinya berjalan kelima serigala sebelumnya masih menunggunya untuk di terkam. "Kalian pikir aku takut? Tidak, aku tidak takut pada kalian!?" teriaknya sombong agar terlihat menakutkan. Tapi semakin ia berjalan menjauh, para serigala juga semakin berjalan mendekatinya. Di saat itulah ia mulai merasa takut lagi, "A aku tidak takut, aku hanya ingin mengambil tanaman obatku yang ketinggalan." ujarnya berbalik langkah kembali.


Dirinya tidak bisa membohongi diri sendiri untuk tidak takut.


"Hmph, aku hanya akan menolongmu sekali karena serigala segala itu, mengerti?!" ujarnya galak sembari menggendong Zhen kembali ke punggungnya.


...***...


Li Zheyang membalut perban sembari berpikir, 'Kenapa aku harus menolong pria yang telah membunuh keluargaku? Biarkan saja dia mati, lagipula dia orang jahat. Sama sekali tidak pantas hidup!?' pikirnya. Tapi tangannya tetap bergerak membaluti perban. "Lukanya sangat parah, tusukan pedang mengenai organ vitalnya. Kurasa dia akan menjalani masa koma beberapa hari. Yah, itu lebih baik daripada tidak mendapat perawatan sama sekali. Dengar ya, kau harus berterima kasih padaku karena telah menolong mu, mengerti?" tunjuknya pada Zhen.


"Ugh!?"


Li Zheyang langsung terperanjat mendengar erangan dari Zhen. "K kau tidak bangun, kan?" tanya nya takut. Ternyata Zhen sama sekali belum sadar. Tapi ekspresi wajahnya terlihat kesakitan, 'Ah, aku tahu! Kurasa dia sedang bermimpi buruk karena telah berbuat banyak dosa dalam koma nya!? Hm, rasakan, siapa suruh kau menjadi orang jahat.' pikirnya. Perlahan dia mulaib menjauh dari Zhen ke tempat pembuatan obat. Siapa yang tahu kalau iblis itu bangun dan akan langsung membunuhnya? Nyawa seorang tabib itu berharga.


Beberapa hari berlalu dan tidak ada tanda tanda Zhen akan bangun. Li Zheyang selalu rajin menjaga dan memeriksa pasiennya itu meskipun dia membencinya. Ini tidak lain hanya rasa tanggung dawab dari seorang tabib kecil.


"Oh iya, aku harus mencari rumput jiwa!? Aku akan pergi sebentar, ingat, saat kau bangun jangan menghancurkan rumahku, mengerti?" peringatnya keras. "……… kurasa aku akan gila karena selalu mengajaknya bicara." Li Zheyang pergi sambil membawa tas kecil untuk menaruh obat obatan di tasnya. Saat akan pergi dia menatap Zhen lebih dulu, dirinya khawatir bagaimana kalau saat Zhen bangun iblis itu membakar rumahnya? Tapi sudahlah, lagipula Zhen masih koma. Dia tidak akan bisa melakukan hal itu saat kondisinya kritis.


...***...


"I i i ini m makananmu, tuan!?" ujar Li Zheyang dengan sangat gugup dan tangan yang gemetar.


Zhen menatap heran tingkah Li Zheyang yang seperti melihat hantu. Bukankah dirinya hanya bangun dari koma, ia bukannya ingin membunuh orang yang sudah menolongnya. "Apa kau baik baik saja?" tanyanya heran.


"A a aku b baik baik saja tuan." jawabnya gemetaran.


Dia baik baik saja, tapi kenapa gemetaran seperti kelinci bertemu singa? Hanya ada satu kemungkinan Li Zheyang ketakutan. Tabib kecil itu mengetahui identitasnya. "Apa kau dari_"


"M maafkan aku tuan!? Aku benar bebar hanya menolongmu!? Aku tidak berusaha mencelakaimu ataupun memberi racun padamu!? Aku bersumpah dengan nama dewa pengobatan!?" sujud takutnya pada Zhen membuat pemuda itu melongo dengan tingkah Li Zheyang.


"O oh, begitu…" tapi melihat bocah parno didepannya membuatnya ingin menjahilinya. "Hmm~ jadi kau 'hanya' mengobatiku dan tidak meracuni apalagi 'mengumpat' dibelakangku, kan~" ujarnya.


Li Zheyang sedikit bergeming dari sujudnya mendengar kata 'umpatan' disebutkan. Sebab dirinya selalu mengumpat di belakang Zhen. "I itu… tidak…?" jawabnya penuh keraguan.


'Dia benar benar mengumpat dibelakangku?! Beraninya dia… tapi dia sudah menolongku, sudahlah. Aku akan melupakan umpatannya.' Zhen melirik makanan yang dibuat oleh Li Zheyang. Saat ia mencicipinya, rasanya sangat… sampah. Panggangan kelincinya bahkan lebih enak dari masakan ini. "Sudah, bangunlah! Aku sudah memaafkanmu." ujarnya.


Li Zheyang bangun dari sujudnya, tapi ekspresi wajahnya tidak begitu baik. "Memaafkan?" ujarnya pelan namun masih terdengar. Apakah iblis itu yang harus memaafkan ataukah dirinya? Yang mana yang benar?


"Kenapa?" tanya Zhen. Meskipun dirinya jahat, tapi dirinya cukup pandai membaca emosi seseorang. Yang dilihatnya sekarang adalah perasaan benci, dendam, marah, takut, bingung yang segalanya terpancar dari wajah Li Zheyang. "Apa kau marah padaku?" tanyanya dengan sangat polos.


Li Zheyang menatap marah Zhen dengan tangan mengepal erat. Dia melirik ke arah lain, "Tidak." jawabnya singkat.


Zhen berdiri mendekati Li Zheyang, "Benarkah? Aku lihat kau sangat marah padaku. Ah, apa karena aku menghancurkan negaramu? Rumahmu?…… Keluargamu?" tanya Zhen tepat di wajah Li Zheyang hingga mata mereka bertemu.


'Mata itu, mata yang melihat kejam setiap orang yang berteriak kesakitan!?' Li Zheyang mengepal erat tangannya dengan tatapan menahan luapan amarah di hatinya.


Zhen bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Anak ini memiliki kemarahan kebencian yang teramat besar padanya. Ia berbalik badan sambil berpangku tangan, "Baiklah~ baiklah~ aku mengerti~ Karena kau memiliki dendam padaku, mau bagaimana lagi. Kalau begitu apa kau mau mencoba membunuhku setidaknya sekali?" tanya Zhen yang tentu saja membingungkan Li Zheyang.


"Apa?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...