
Flashback
"Tetua ketiga, Chen Zinyu?" panggil seseorang dari belakang Chen Zinyu.
Merasa terpanggil Chen Zinyu berbalik ke belakang. 'Bukankah dia si wanita gila? Kenapa dia kemari? Oh, apa ini yang disebut sebagai ketertarikan sesama orang jahat?' pikirnya. Sungguh sebuah kejutan baginya karena Nyonya kedua yang terjenal gila dan jahat mengunjungi tempatnya yang seperti neraka. Bagaimana tidak, disekelilingnya penuh dengan bau darah dan beberapa jiangshi yang dirantai. Belum lagi peralatan aneh yang entah untuk apa diatas meja.
"Nyonya kedua? Waah, suatu kehormatan anda berkunjung ke tempat pak tua ini. Ada urusan apa anda kemari?" tanya Chen Zinyu sembari tersenyum. 'Ayo kita basa basi saja. Toh dia cuma wanita gila.'
Huai Yu melirik ke salah satu dinding. Dia melihat seorang anak berambut putih dengan seluruh perban ditubuhnya. Tangan dan kakinya dirantai, tatapannya terlihat seperti hewan buas yang terancam. Huai Yu berjalan menuju gadis kecil itu yang mana mengeluarkan hawa membunuh untuknya.
"Ah, Nyonya kedua dia…"
"Raurr!?" gadis kecil itu meraung seperti monster. Tapi raumannya hanya sampai disitu karena Huai Yu mengeluarkan hawa membunuh yang lebih mengancam. Mungkin karena insting gadis itu menjadi sedikit jinak tapi tatapannya masih menatap tajam.
Terlihat senyum licik diwajah cantik Huai Yu, "Tetua ketiga, kau menciptakan sesuatu yang menarik. Tapi meskipun dia menarik, dia hanya jiangshi biasa tanpa akal." ujar Huai Yu.
Alisnya tertaut mendengar wanita itu menghina cucunya. Meskipun itu memang benar, tapi mendengarnya langsung itu tidak menyenangkan. "Cukup dengan itu, apa alasan anda kemari?" tanya Chen Zinyu mulai menatap tajam Huai Yu.
"Akhirnya tetua serius bicara denganku. Apa tetua ingin, anak ini memiliki kecerdasan? Kebetulan sekali aku memiliki satu gulungan yang masih bisa dipakai sekali." Huai Yu memegang gulungan hitam di tangannya.
"Apa maksudnya jiangshi hidup? Heh, jiangshi hidup hanyalah legenda. Itu tidak benar benar ada, apa Nyonya kedua ingin membohongi seorang pria tua?"
"Hmm, tidak? Aku bisa merasakan bagaimana kau menyayangi anak ini. Karena itu, aku ingin memberimu kesempatan. Jiwanya masih tersisa, jadi mungkin masih ada kesempatan jika tetua melakukan ritualnya sekarang. Karena besok, dia mungkin akan sepenuhnya menjadi jiangshi yang ada di belakang ku." jelas Huai Yu. Terlihat di belakangnya jiangshi tanpa akal yang meneteskan air liur dan memakan bola matanya sendiri.
Chen Zinyu melirik Zhu'er kecil yang menatapnya tajam. Dirinya teringat dengan bagaimana senyuman kecil nan polos anak itu sebelum mati dan menjadi jiangshi. Kemudian kembali melihat tajam Huai Yu, "Baik, akan kuterima bantuan ini. Tapi apa bayaran yang Nyonya kedua inginkan?"
Wanita itu tersenyum puas dengan jawaban Chen Zinyu. Tapi kemudian raut wajahnya berubah suram dan telihat penuh dendam. "Ada banyak orang jahat yang mengincar Zhen kecil ku. Setiap hari mereka bisa menjadi siapapun dan mengambilnya dariku!? Beraninya…beraninya… BERANINYA MEREKA!?" teriaknya di akhir.
Chen Zinyu merasa wanita ini jadi gila kalau membicarakan anaknya yang semua orang tahu sudah mati. 'Kurasa dia benar benar sudah gila seperti yang dirumorkan.' Chen Zinyu menyiapkan kursi agar mereka bisa bicara sambil duduk. "Yah, itu pasti sulit bagi anda Nyonya. Mari duduk dulu dan tenangkan diri anda." ujarnya. Tidak di sangka Huai Yu menurutinya dan langsung duduk. "Jadi, apa yang anda inginkan dari pak tua ini?" tanya Chen Zinyu sembari duduk bersebrangan.
"Bukan hal yang besar, aku hanya ingin tetua ketiga melancarkan rencana jangka panjangku saja. Karena aku tidak akan bisa melancarkannya." ujarnya kembali normal.
"Rencana apa?"
Huai Yu tersenyum lebar mendengar pertanyaan itu, "Rencana untuk…"
Sekarang
Tak!?
"Haah, mereka memang benar benar suami istri yang cocok. Bahkan pemikiran mereka sama. Membuat pak tua ini harus bekerja keras!?" ujarnya sembari membelah bambu.
Tak!?
"Selamat pagi Kakek Chen!?" sapa seseorang dengan ceria.
"Oh iya, selamat pagi Zhe…n?" Chen Zinyu segera berbalik kebelakang memastikan suara yang menyapanya itu benar Zhen atau bukan. Karena kalau Zhu'er itu mustahil. Tapi yang mata kepalanya lihat adalah seorang anak laki laki empat belas tahun yang tersenyum ceria berdiri tepat didepannya. "Tunggu, kau benar Zhen'er kan? Si bocah cengeng dan pemalu?" tanya Chen Zinyu memastikan.
"Hm? Jahatnya~ aku benar benar Ming Jiazhen!? Seorang bocah laki laki yang tampan dan imut~" jawabnya dengan penuh percaya diri.
Chen Zinyu tercengang melihat kepedean bocah itu yang kemarin kemarin tidak berani menatap matanya. "Eeh?! Yah… kau memang tampan sih, tapi… emm… bagaimana ya mengatakannya… Apa kau sudah merasa lebih baik? Atau perlu kubawakan herba seperti permintaanmu tempo hari? Kau masih terlihat pucat, lebih baik kau istirahat didalam." ujarnya sebisa mungkin terlihat ramah.
"Tidak apa apa~ sekarang sudah lebih baik. Oh, dan kakek Chen tidak perlu mengambil herba. Aku sudah tidak membutuhkannya." jawabnya dengan ramah tapi juga terlihat agak menyeramkan.
'W waahh, sepertinya aku berhasil? Tapi rasanya aneh melihatnya berubah sedrastis ini.' pikir Chen Zinyu dengan senyum yang awkward.
Setelah itu semua gerak gerik, cara bicara, dan bagaimana Zhen bersikap semuanya berubah. Selama beberapa hari ia terus dan terus bersikap ceria. Ia seperti menjadi orang lain. Dan yang paling menonjol adalah…
"Uhuk…" Zhu'er mengeluarkan darah dari mulutnya. Tapi tidak peduli mau keluar berapa banyak darah paha ayam ditangannya tetap dia makan.
Tentu saja Chen Zinyu menetap Zhu'er khawatir, "Ehm, Zhuzhu sayang, sepertinya kau harus berhenti makan. Ayamnya beracun." ujar Chen Zinyu. Dia tahu kekhawatirannya percuma karena Zhu'er adalah jiangshi hidup. Jadi meminum sebotol racun sekalipun tidak akan membunuhnya.
Chen Zinyu menatap tajam Zhen. Selama seminggu ini Zhen terus memberi racun pada makanan mereka. Bagaimana bisa bocah itu ingin membunuhnya dan Zhu'er. Dan bagaimana caranya dia menebar racun dengan cepat tanpa sepengetahuannya. "Baiklah, ini sudah cukup. Apa yang kau inginkan dengan meracuni kami? Bagaimana jika pak tua ini mati?" tanya Chen Zinyu.
"Tapi Kakek Chen belum mati kan~?" ujar Zhen dengan senyum manisnya.
'Maksudmu aku harus mati dulu begitu? Logikanya terlalu tidak masuk akal.' pikirnya memasang wajah jengkel. "Cepat katakan apa yang kau inginkan?" ujarnya.
"Aku ingin keluar dari hutan bambu, bisakah Kakek Chen menghilangkan formasinya?"
"Baik, itu mudah. Tapi aku tidak akan menjamin keselamatanmu ketika di luar. Zhu'er akan mengantarmu sampai keluar hutan. Apa itu cukup?" ujar Chen Zinyu.
"Aku juga ingin Kakek Chen membuat sebuah daftar."
"Daftar apa maksudmu?"
Ekspresi Zhen terlihat dingin, "Daftar informasi sepuluh klan besar, lima kekaisaran, dan orang orang bertopeng yang membunuh Jiayuan!?" hawa membunuh yang kuat terpancar keluar darinya.
Chen Zinyu mulai memahami mengapa Zhen meminta dibuatkan daftar. Namun yang tidak ia mengerti adalah mengapa sepuluh klan besar juga. Dengan kutukan naganya mustahil anak itu mengalahkan sepuluh pemimpin klan yang ranahnya berada jauh di atas. 'Tapi melihat bagaimana dia akan membuat kekacauan mungkin akan menyenangkan.' pikirnya sembari tersenyum licik, "Hooh, apa kau ingin balas dendam pada orang orang yang membunuh ayahmu? Aku bisa mengerti itu. Tapi untuk apa kau meminta informasi tentang sepuluh klan dan kekaisaran juga?"
Bibirnya yang mungil tersenyum lebar, lebih mirip seperti senyum jahat. "Tentu saja untuk menjadi penjahat terbesar yang paling ditakuti sepanjang masa!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...