
"Uhuk uhuk!?" darah hitam keluar dari mulut Jiayuan. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan pedang miliknya yang menembus dadanya. Tapi wajahnya tersenyum senang.
Zhen tidak bisa lagi memegang pedang. Ia mundur dengan mata yang terbelalak kaget. Dirinya tidak begitu mengerti keadaan sekarang. Tanpa dirinya sadari air mata menetes di pipinya. Bagaimanapun ia masih ingat ketika dirinya dan Jiayuan makan ikan bakar bersama.
Jiayuan mengambil pedang di dadanya dan melemparnya asal. Dia berjalan mendekat pada Zhen dan memeluknya erat. Saat Zhen lahir, Jiayuan tidak pernah memeluknya sampai anak ini menghilang. Tapi saat dirinya sedang di ambang kematian dirinya baru memeluk Zhen erat. "Sebagai permintaan maaf aku akan memberikan semua Qi yang kumiliki padamu." bisiknya pelan.
Perlahan lahan Jiayuan mentransfer semua Qi miliknya. Tubuhnya berangsur angsur menjadi lemah dengan semua Qi yang mengalir keluar. "Maafkan aku." gumamnya pelan.
Bruk
Dia bersimpu dengan mata terpejam.
Zhen mematung ditempat melihat Jiayuan sudah tidak bergerak lagi.
"Heh, setidaknya dia tahu diri dan mau bertanggung jawab!? Bocah, aku bisa merasakan energi luar biasa mengalir di tubuhmu!? Qi dari kultivator seribu tahun tahun memang sangat luar biasa. Dengan Qi sebesar ini kau bisa memasuki ranah Transcended!? Ki ki ki ki ki ki ki ki……… apa kau mendengarku?"
"Aku membunuhnya… aku membunuhnya… aku membunuhnya…" ujarnya panik.
Qiyu menatap aneh Zhen yang panik setelah membunuh Jiayuan. Dia tak mengerti dengan pikiran pemuda ini. Bukankah beberapa saat yang lalu ia menikmati membunuh penjaga itu? Lalu mengapa sekarang malah panik dan ketakutan.
"Apa… yang kau lakukan?" tanya seorang pemuda berambut putih panjang, dia mengenakan anting giok biru pada telinga kanannya, dan memegang pedang panjang berlumur darah. Wajahnya terlihat agak mirip dengan Jiayuan. Dia adalah Ming Jiajun.
Jun melesat menebaskan pedangnya secepat cahaya.
Jrat
"Agh!?" meskipun sudah menghindar secepat mungkin, tapi kecepatan Jun lebih cepat darinya. Zhen menutupi dadanya yang tertebas pedang Jun. 'Sakit sakit sakit sakit sakit sakit sakit…' ia merasa nyawanya akan melayang saat ini jika dirinya tidak segera kabur.
Jun menopang Jiayuan yang sudah tak bernyawa. "Ayah!? AYAH!?" teriaknya dengan air mata yang menetes. Dia menatap Zhen sengit dengan rahang yang mengeras.
"Aku,… harus kabur… hah… hah…" Zhen berusaha bangun. Darah terus mengalir deras dari dadanya. Sepertinya beberapa tulang rusuknya patah dan tulang dadanya juga. "Aku…harus_ khk!?" tiba tiba tepat ketika dirinya bangun logam dingin menembus lehernya. Didepannya ia melihat mata merah yang menatapnya tajam penuh amarah dengan air mata membasahinya.
Duak
Jun menendang perut Zhen hingga terpental beberapa langkah.
Tangannya memegangi leher yang tertembus pedang. Rasa sakit terus berdatangan tak pernah berhenti. Zhen yang cengeng menangis menahan sakit pada leher dan dadanya. Kalau seperti ini bukankah lebih baik dirinya mati saja? Mengapa ia tidak segera mati dan harus merasa kesakitan seperti ini.
Jleb
Tidak memberi kelonggarran Jun menusuk perut Zhen.
Jrat jrat
Tanpa henti menebas dan menusuk sampai tidak ada nafas yang tersisa.
Sampai akhirnya, Zhen mati dengan mata terbuka karena kesakitan.
Jun menggenggam erat pedangnya menatap miris pemuda yang jauh lebih muda darinya itu. Dia berbalik pergi meninggalkan Zhen yang telah dibunuhnya.
Di sisi lain, Qiyu menatap Zhen yang mati di bunuh Jun. 'Dasar, kau memang benar benar bernasib sial. Pertama kali keluar dari bawah tanah, dan langsung bertemu seseorang yang kuat sepertinya. Kau mati dengan mengenaskan. Bersyukurlah karena jiwa kita terikat satu sama lain. Haih, kehidupanku kali ini sangat menyedihkan.' Qiyu mangasap dan masuk ke tubuh Zhen.
Terlihat cahaya pada mata Zhen kembali, putih pada matanya pelahan lahan berubah menjadi hitam. Tubuhnya terbangun dengan luka yang beregenerasi dalam beberapa detik.
Krek krek krek
Jun terbelalak ketika melihat seseorang yang baru dibunuhnya hidup kembali. "Kau, bagaimana bisa kau masih hidup?" tanyanya heran.
Bukannya menjawab, Zhen malah tersenyum lebar dengan seram.
"Dasar gila!?" Jun menggunakan jurus seribu pedang cahaya. tercipta ratusan pedang di langit berwarna putih. Pedang pedang itu semuanya menghunus ke arah Zhen. Dan menyerangnya seperti anak panah yang dilontarkan.
Zhen mengangkat tangannya ke depan, tanah tanah disekitarnya berubah menjadi hitam gelap. Rantai rantai berujung runcing keluar dari dalam tanah menghalau semua pedang yang menyerang. Tatapan tajam terlihat di mata Jun, sedangkan Zhen tersenyum jahat.
'Bagaimana dia bisa hidup kembali? Aku yakin telah membunuhnya, aku telah mencabik cabik semua organ dalamnya dan mematahkan lehernya. Tapi dalam sekejap dia bisa memulihkan dirinya. Selain itu, putih matanya juga berubah menjadi hitam, aku yakin ada yang tidak beres dengan bocah itu.' pikirnya. Setelah beberapa saat memperhatikan, Jun membulatkan matanya. Ada sesuatu yang dirinya lewatkan. Dan bagian yang dia lewatkan adalah bagian terpenting dari semua pertanyaannya.
Dalam sekejap dirinya sudah berada di belakang Zhen, "Apa kau adalah Ming Jiazhen?" tanya Jun tepat disamping Zhen.
Ekspresi wajah Zhen terlihat kaget, dia berbalik sembari melancarkan serangan.
Sontak Jun langsung menebas serangan yang datang. Saat dia kembali melihat Zhen, pemuda itu sudah menghilang. "Kemana dia?"
...***...
"Haaa!? hah… hah…" mata Zhen terbelalak dengan nafas yang memburu. Zhen bangun dengan panik, ia memegangi lehernya yang sebelumnya patah, dadanya yang tertebas, jantungnya yang ditusuk, perutnya yang ditusuk, dan tulang tulangnya yang dipatahkan. Semuanya sembuh tanpa sedikitpun sakit. "Aku, masih hidup!? Ha ha ha ha… aku masih hidup!? Aku masih hidup!? AKU MASIH HIDUP!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…"
"Gila…" gumam Qiyu.
Traass traass
Terdengan suara deras air di luar gua. "Air?" Zhen berjalan mendekati luar gua. Dirinya melihat air didepan mulut gua mengalir deras. "Apa ini?"
"Kau tidak tahu? Ini adalah air terjun!? Dasar bodoh, seperti ini saja kau tidak tahu." ujar Qiyu sinis.
"Air terjun?" gumamnya.
"Zhen apa kau pernah melihat air terjun?" tanya Huai Yu.
"Ail teljun? Ailnya lompat?" tanya Zhen kecil.
"Pfft, benar!? Airnya lompat ke bawah batu yang menjulang tinggi." jawabnya.
"Waah!? Zhen mau liat ail teljuun!?" teriaknya antusias sambil berlari berputar putar.
Zhen teringat seantusias apa dirinya membayangkan air terjun dulu. "Heh he he he he he he he he he he…"
"Ya ampun, kau cekikikan lagi? Apa kau benar benar sudah gi… LAA!?"
Tiba tiba Zhen berlari melompat keluar air terjun.
"HWAAAAA!?"
"HWAAA HA HA HA HA HA HA HA HA…"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...