
'Kenapa dia tiba tiba menanyakan namaku? Apa dia tahu sesuatu?' pikir seseorang yang baru saja memperkenalkan diri bernama Lu Yao.
"Lu Yao? kau sepertinya cukup pintar dari pada para serangga ini. Apa kau yang berhasil melacak keberadaanku?" tanya Zhen.
Ternyata soal bagaimana mereka berhasil menemukannya. Itu melegakan jika hanya soal melacak, "Terima kasih dengan pujiannya Yang Mulia. Benar, saya yang berhasil menemukan Yang Mulia di hutan ini." jawabnya ramah.
"Sudah kuduga kau yang paling pintar dari para monye_ maksudku orang orang ini." ujarnya antusias dengan senyum ramah tamah.
Terlihat tatapan tatapan sengit dari balik topeng mereka. Tanpa Zhen lanjutkan kata kata sebelumnya, mereka tahu ia akan berkata apa.
"Yang Mulia, dia…" Lu Yao ingin bertanya soal Li Zheyang yang dari awal mendengar mereka.
"Oh, benar!? Namanya Li Zheyang!? Dia yang menyelamatkanku, berkat dia aku berhasil selamat." ujar Zhen memperkenalkan Li Zheyang.
"Ooh, jadi kau dokter yang telah menyelamatkan Yang Mulia!?"
"Kau masih begitu muda tapi begitu berbakat!?"
"Kami pasti akan membalas kebaikanmu!?"
Zhen melihat mereka yang dengan cepat menjilat Li Zheyang. Tiba tiba saja ia ingin membuat semuanya menjadi lebih dramatis, "LI ZHEYANG!?" teriaknya tiba tiba membuat semua orang kaget. Mereka menatapnya dengan penuh tanya. "Ha ha ha ha ha, terima kasih banyak berkatmu aku bisa selamat!?" desak Zhen hingga membuat bocah itu mundur.
"O oh, iya, itu tidak masala_"
"Tapi Li Zheyang, kau telah mendengar percakapan kami. Percakapan itu sangat rahasia, kau tahu?"
"A apa maksud_"
Jleb
"Karena itu rahasia aku tidak bisa membiarkanmu hidup, Li Zheyang!?" ujarnya menusukkan belati dengan sangat dalam.
"Uhuk!? Kau!?" Li Zheyang menatap tak percaya apa yang dilakukan Zhen padanya. Menusuknya? Dan itu dalam!?
Duak
Tidak hanya itu tapi ia juga menendangnya hingga berguling ke tanah.
"Yah, terima kasih Li Zheyang. Dan selamat tinggal!?" terlihat senyum jahat pada wajahnya yang tampan.
"Kau… bed*bah… bren*sek…" dia menutup matanya setelah melihat kepergian Zhen dengan kelima orang berjubah hitam.
...***...
Zhen pergi bersama orang orang ini. Kembali pada kehidupan penjahatnya. Mempertimbangkan mereka buru buru mencarinya sepertinya mereka memiliki masalah penting saat ini.
Saat ini pun mereka terus menempel bersamanya di aula ketua.
"Yang Mulia, kenapa anda membunuhnya? Dia bisa menjadi bantuan kita!?"
"Aku sudah muak dengan omongan cerewet dan sikap kurang ajarnya!? Orang sepertinya sangat pantas untuk mati." jawab Zhen dengan sedikit senyum puas.
Beberapa dari mereka meneguk ludahnya kasar. Mereka harus menjaga sikap mereka dengan benar sekarang.
"Yang Mulia, kami sudah mempersiapkan pasukan untuk menyerang kekaisaran Tang!? Hanya menunggu perintah anda." ujar Lu Yao.
"Itu bagus, malam ini kita akan menyerang kekaisaran Tang!?"
...***...
"Ukh uhuk uhuk… apa yang…terjadi?" Li Zheyang membuka matanya. Saat ia membuka matanya dirinya masih berada didalam hutan. Waktu menunjukkan sore, dirinya ingat berjalan bersama Zhen berkeliling hutan mencari kelinci liar. Tapi malah bertwmu orang orang berbaju hitam.
"Sialan!? Sudah kuduga tidak ada hal yang baik jika berhubungan dengan penjahat!?" ujarnya. Dia memegangi lukanya yang sakit. Tapi anehnya, lukanya berhenti mengeluarkan darah meskipun mendapat tusukan yang dalam. "Tunggu, apa mungkin dia tidak menusuk organ vitalku? Tidak ada luka lain selain luka ini." ujarnya.
Li Zheyang mendongak ke atas, ternyata langit sudah berwarna kuning kemerahan. Dirinya harus segera pulang jika tidak akan ada hewan buas yang muncul.
Di dalam rumah Li Zheyang mengobati lukanya yang tidak begitu parah dan bisa sembuh dalam beberapa hari. "Kenapa dia tidak membunuhku? Apa mungkin dia membuat kesalahan?" ujarnya heran.
Sekarang Zhen sudah kembali ke tempatnya. Mungkin saat ini pemuda jahat itu sedang mendiskusikan bagaimana penyerangan terhadap kekaisaran lain. Atau mungkin sekarang dia berencana untuk menyerang sepuluh klan besar. "Apapun itu semoga kau baik baik saja bersama orang orang menyeramkan itu." ujarnya.
Gggruuukk
"Ah, benar. Aku harus masak!?" dia segera bergegas menuju dapur untuk memasak sesuatu.
...***...
Zhen menengadahkan tangan kanannya mengumpulkan Yin Qi kebencian mereka. Malam ini hujan deras, membuat semua mayat di ibu kota basah kuyup. Zhen berjalan jalan menggunakan payung hitam berjalan di tanah yang dibanjiri darah.
Tak
Sesuatu seperti kerikil dilemparkan ke arahnya. Dia melihat seorang pria dewasa yang masih hidup dengan hanya satu tangan. Sedangkan kedua kakinya terpotong beserta tangannya yang lain.
"Matilah kau!? Dasar iblis!?"
Mata merah Zhen semakin terang, tanoa sadar ia menyerap kehidupan pria dewasa itu.
"Aagghh!?" seketika itu pula pria itu menjadi kakek tua yang renta.
"Kalau kau ingin hidup, kau seharusnya diam saja." ujar Zhen. Ia kembali berjalan jalan. Dalam jalan jalannya, ia bertemu dengan seorang wanita dengan anaknya yang berhasil selamat. Mereka meringkuk ketakutan melihat Zhen.
Zhen memberikan payungnya untuk ibu dan anak itu. Dari tatapannya ia langsung tahu mereka begitu membencinya. Karena itu Zhen segera pergi dari hadapan mereka.
Klatak
Payungnya di lemparkan ke arahnya. Itu membuatnya marah ketika seseorang tidak menghargai kebaikannya.
"Aaagghhh!?"
"Aaahhh!?"
Zhen tidak bisa mengendalikan kekuatannya yang seenaknya menyerap daya hidup orang lain. Ia mencoba menghentikannya tapi sayangnya itu terlambat. Kedua ibu dan anak itu telah mati. Ia mengambil payungnya, "Kalau tidak mau ya sudah." ujarnya kesal.
Ia kembali berjalan tanpa tujuan jelas. Kali ini, ia melihat setangkai bunga merah kehujanan. Namun bukan kehujananair hujan, tapi kehujanan darah dari atasnya. Zhen berjalan menghampiri bunga tersebut, tidak lupa ia mematika teknik pengumpul energinya. Kali ini ia ingin memayungi bunga saja yang tidak akan menolak pemberiannya.
Sekarang bunga itu tidak akan kehujanan air darah, Zhen tersenyum tipis melihat payungnya akhirnya berguna.
"Yang Mulia!?" panggil Lu Yao.
Panggilan itu langsung membuyarkan senyum Zhen yang tadinya senang. Ia melirik Lu Yao di belakangnya.
"Yang Mulia, kami sudah selesai menjarah." lapornya.
"Oh, benarkah? Aku dengan kekaisaran Tang sangat kaya, apa kalian mendapatkan banyak harta?" tanya Zhen sembari berbalik memasang wajah puasnya.
"Ya, kami mendapatkan banyak harta, maukah anda melihatnya Yang Mulia?"
"Hmm, banyak ya?" ujar Zhen sembari berjalan mendekat. Dia menatap lama Lu Yao di hadapannya.
Rasanya sangat cemas ketika Zhen hanya berdiri menatap lama dirinya tapi tak mengatakan apapun. "Ada apa Yang Mulia?" tanya Lu Yao sembari tersenyum gugup di balik topengnya.
"Tanganmu!?" ujar Zhen.
"Baik." Lu Yao mengulurkan tangannya ke depan, tiba tiba……
Jleb
Zhen menusuk punggung tangan Lu Yao dengan belati.
"Aaagh!?" Lu Yao merintih kesakitan ketika belati itu berusaha di majukan hampir membuat talapak tangannya menjadi dua bagian. Dia mengeraskan rahangnya menahan sakit yang teramat. 'Apa yang dilakukan baj*ngan ini?!" Kenapa dia tiba tiba menjadi liar?' pikirnya Lu Yao marah. Namun dia harus memendam kemarahannya.
Melihat wajah kesakitan Lu Yao membuat senyum puas di wajah Zhen, "Apa kau marah?" tanya Zhen.
Lu Yao menahan emosinya dengan pertanyaan yang sudah jelas itu, "Tidak, Yang Mulia." jawabnya harus.
"Ooh~ tidak~ " Zhen membela telapak tangan Lu Yao.
"Ugh!?"
"Baguslah~ Aku khawatir kau akan marah Lu Yao~ sekarang mari kita lihat harta yang banyak itu!?" ujarnya dengan wajah yang ceria. "Kau yang pimpin jalannya!?"
"Baik." Lu Yao berbalik berjalan didepan Zhen. Seketika itu pula matanya terlihat sangat marah dengan rahang yang mengeras.
...xgtΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...