Villain'S

Villain'S
Bab 6. Menawarkan diri



Zhen terbaring dengan menatap langit langit yang gelap. Pada mulut dan bagian lehernya terlihat darah merah membasahinya. Rasanya anyir seperti darah. Yah, namanya juga darah. Tapi untuknya yang sudah memakan roti keras yang berjamur dan sup basi yang rasanya seperti muntahan, rasa ini menempati pada peringkat ketiga yang terbaik setelah roti berjamur.


"Baru kali ini kepalaku terasa ringan." ujarnya masih menatap langit langit. Meskipun masih ada denyutan dan suara suara yang berisik, "Apa aku harus membunuh lebih banyak lagi?" ujarnya sembari bangun. Ia melirik penjaga pintu sel yang kepalanya sudah terputus, lalu ia melirik pintu sel yang terbuka lebar. Penjaga malam ini hanya satu orang. Karena biasanya ada dua, 'Apa terjadi sesuatu di atas?' pikirnya. Lama kelamaan terlihat senyum lebar di wajahnya yang kotor oleh darah.


"Qiyu, aku penasaran dengan di atas, apa kau juga penasaran?" tanya Zhen sembari melirik Qiyu yang berada di pundak kanannya.


"Hmph, aku sama sekali tidak penasaran karena yang terkurung disini hanya kau!?" jawab Qiyu tidak peduli.


"Kalau begitu…" Zhen menggunakan Qi nya untuk membuka rantai yang merantai tangannya selama sembilan tahun.


Prang prang prang


Satu persatu dari rantai yang melilitnya terbuka dan jatuh ke bawah.


"Hei hei, setidaknya usap dulu darah di mulutmu!? Kau akan mengundang keributan nanti." ujar Qiyu.


"Ah, benar!?" Zhen mengusap darah dimulutnya dengan bersih. "Bagaimana sekarang?" tanyanya.


"Yah, lebih baik." jawab Qiyu. Setelah meminum darah, pipi tirus Zhen sedikit terisi, kantung mata hitam di bawah kelopak matanya juga berkurang, tubuhnya yang sekurus lidi juga sedikit terisi.


...***...


Trang trang trang


Ada banyak orang orang berjubah dan bertopeng melawan pasukan penjaga klan. Di lantai tergeletak banyak mayat dari pihak musuh maupun dari pihak sendiri.


"Wha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha, akui saja kekalahanmu Ming Jiayuan!? Racunku pasti sudah menyebar luas ke tubuhmu!? Sebentar lagi lau akan tamat dan klanmu akan menjadi milik kami!?" ujar senang pria bertopeng dan berjubah hitam.


"Hah ha ha ha ha ha… kau terlalu meremehkanku. Dan aku pikir kau terlalu bermimpi mendapatkan klan ku. Sangat disayangkan orang, kuat sepertimu adalah id*ot besar yang suka mengkhayal!?" ujar Jiayuan sarkas dengan senyum licik. Dia menahan efek racun dari pria didepannya dengan inner Qi.


Tatapan penuh amarah terlihat dari balik topeng marahnya. "Masih bisa membuka mulut!? Aku akan membungkan mulutmu selamanya Ming Jiayuan!?" teriaknya sembari menyerang dengan perasaan penuh emosi.


Serangan yang dipenuhi dengan emosi sangat mudah untuk dibaca oleh Ming Jiayuan. Dia menghindar dengan sangat mudah. Tanpa musuh sadari dia mengeluarkan pedangnya yang berwarna putih, Secepat kilat hanya dalam hitungan detik dia menggunakan teknik nya.


Jrat


Dalam sekejam kepala pria bertopeng itu terpenggal.


"Sungguh menyedihkan." ujarnya dingin. Dia mengambil penawar racun yang tersimpan dalam kantong pria bertopeng. Dan mendapatkannya dengan mudah. Saat dia akan meminumnya, ia teringat sesuatu yang menyedihkan.


Dia teringat dengan istri keduanya yang meninggal bertahun tahun yang lalu. Saat masih gadis dia adalah wanita paling cantik yangbpernah di temuinya. Dan dia adalah wanita paling berani mengajukan lamaran untuknya.


Flashback


"Jiayuan? Jadi nama ketua klan Guaiwu sepertimu adalah Ming Jiayuan? Hmm, nama yang cukup bagus. Mendengarnya saja akan membuat gadis gadis sepertiku berpikir kau adalah pria yang tampan, tapi ternyata kau benar benar tampan. Hmm…baiklah, aku suka namamu!? Menikahlah denganku dan membuat anak yang tampan sepertimu, bagaimana?'' ujar Huai Yu dengan berani.


''Hmm, kurasa menikah tanpa cinta itu bukan hal yang bagus. Kurasa?'' jawab Jiayuan.


Huai yu mengangkat sebelah alisnya tak mengerti, ''Yah, kurasa kau benar. Kalau begitu sekarang aku putuskan aku mencintaimu!?"


"Hah?"


"Apa kau tidak ingin melihat anak kita suatu hari nanti? Temanku sudah memiliki anak dan dia sangat lucu dan menggemaskan. Aku juga ingin memiliki anak sepertinya. Tapi untuk mewujudkan itu bukannya aku harus menikah? Dan kau, adalah pria paling tepat untukku!? Kau memiliki segalanya dari kekuasaan, rupawan, baik, dan ehm… dan kau juga mencintaiku sejak pertama kali bertemu!?'' ujarnya percaya diri.


Jiayuan membelalakkan matanya kaget mendengar Huai Yu mengatakan kalau dirinya juga mencintainya. "Jangan sok tahu, aku tidak mencintaimu hanya karena aku terus melihatmu." ujarnya yakin.


"Apa? Aku tidak bilang kau terus melihatku, apa kau benar benar hanya melihatku?" tanya Huai Yu dengan smirk di wajahnya.


Sekarang


"Ah, sial. Seharusnya aku tidak menikahimu hanya untuk kendali Ras Naga." Jiayuan tersenyum pahit mengingat kembali masa lalunya dengan Huai Yu. "Aku bukan pria baik seperti yang kau katakan. Aku menelantarkan anakmu seenaknya dan menekan kakakmu yang ingin menyerang klan. Aku pria bre*gsek yang membiarkan kesedihanmu karena kehilangan anak yang kau impikan. Aku bahkan tidak pernah menghiburmu, aku benar benar pantas mati."


"Disini benar benar penuh mayat. Apa kau pikir aku masih bisa meminum darah mereka?"


"………!?"


"Tidak? Kenapa tidak? Mereka masih hangat dan meneskan darah."


"………"


"Apa? Karena aku tidak membunuhnya langsung? Omong kosong apa itu?"


"………?"


Jiayuan mengernyit melihat seorang pria muda berambut sangat panjang selantai, bajunya yang compang camping, badannya yang kurus kering, dan dia sedang bicara dengan gagak di pundaknya. Tapi satu hal yang membuatnya terbelalak, saat ia melihat mata merah vertikal dan wajah yang mirip seseorang. "……… Ming Jiazhen?"


Sontak langkah Zhen terhenti karena seseorang menyebut namanya. Ia melihat pria yang telah lama tak ditemuinya. Saat melihat ia tak merasa rindu atau apapun. Dulu ia sangat berharap pria itu menolongnya dari dalan sel dan membawanya keluar dari sana lalu hidup bahagia. Tapi yah,… itu hanya angan angannya saja, tidak lebih. "Bukankah kau adalah pria bren*sek yang menelantarkanku?" tanyanya terang terangan.


Jiayuan membulatlan matanya mendengar Zhen memanggilnya bre*gsek. Padahal dulu ia sangat lucu menggemaskan. Tapi dirinya memang pantas dipanggil begitu, karena memang begitu adanya. "Benar, aku adalah pria bren*sek itu. Jadi, apa kau ingin membunuh pria bren*sek ini?" tanyanya sambil tersenyum.


Untuk beberapa lama Zhen terus menatap Jiayuan. "Tidak, tanpa kubunuh kau sudah sekarat." ujarnya sembari berjalan menjauh. Ia tidak ingin berlama lama mengobrol dengan Jiayuan, dirinya harus segera mencari seseorang untuk dibunuh agar sakit kepalanya hilang.


"MATI KAU!? HIYAAAHH!?" teriak seseorang padanya.


Zhen segera berbalik untuk menyerang, namun jaraknya terlalu dekat. Tidak ada waktu untuk menghindar apalagi menyerang.


Jleb


"khk khhk…'


Tiba tiba saja pria yang ingin menyerangnya mati tertusuk belati di lehernya.


Bruk


Orang itu jatuh mati seketika. Dari balik pria itu tampak Jiayuan dengan posisi melempar belati. Mulutnya mengeluarkan darah hitam. Racunnya pasti sudah menyebar luas di tubuhnya. Jiayuan mendekat menuju Zhen.


Sontak Zhen mundur satu langkah ke belakang.


"Aku mendengar percakapanmu dengan gagak aneh dipundakmu." ujar Jiayuan.


"Kwak? Aneh dia dia bilang?" ujarnya kesal.


Jiayuan melirik gagak di sebelah Zhen, "Meskipun aku tidak tahu dia bicara apa, tapi aku tebak kau sedang mencari tumbal, bukan?" tanya Jiayuan. "Untuk meredakan kutukan nagamu setidaknya dua orang harus di bunuh." lanjutnya.


Zhen sangat terkejut Jiayuan tahu semua itu. "Apa maumu__"


Tiba tiba tangan Zhen ditarik dan dipegangkan belati yang menghunus dada Jiayuan. "Aku menawarkan, bagaimana kalau aku menjadi salah satu tumbalmu?" tanyanya dengan senyum mempesona di wajahnya.


Jleb


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...