
Zhen berlari ditengah malam di keramaian malam festival. Berkali kali ia melihat ke belakang memastikan mereka tidak mengikutinya. Semuanya menjadi kacau. Jalan jalan keliling dunia, makan makanan enak dan makan berbagai biskuit. Semua ini karena 'mereka' terus mengejarnya.
Duk
Brak
Kakinya tersandung membuatnya harus menabrak beberapa benda. Ia bangkit lagi sembari berjalan pincang memasuki gang sempit antara dua toko. "Aduh… sakit sial!?" umpatnya pelan sembari mengelus elus lengannya yang lecet. Zhen duduk bersandar di balik tempat sampah besar. "Hari yang sangat sial." ujarnya sembari memijat mijat kepalanya yang sakit.
Ssshh
Terdengar suara ular berdesis. 'Ini, seperti suara ularnya pria ular. Apa pria ular sudah menyebar pasukan ularnya untuk melacak keberadaanku? ' Zhen menajamkan penglihatannya ke segala tempat mencari suara ular yang familiar itu. Tapi percuma saja, pandangannya berkunang kunang karena efek dari kutukan naga. "Hmph!?" tiba tiba saja ada yang membungkam mulutnya dengan tangan dingin yang diperban. Tubuhnya tidak bisa melawan karena sudah dikunci oleh seseorang yang datang entah dari mana. Kunciannya sangat kuat, apa karena Zhen dalam keadaan lemah? Atau memang orang ini yang terlalu kuat? Tunggu, dia orang kan? Kenapa auranya seperti hantu? Tidak, jiangshi?
Tapi berkat jiangshi ini ular yang awalnya menuju kemari sudah pergi menjauh karena auranya. Zhen bisa bernafas. Mudah jika membunuhnya, tapi yang menjadi masalah adalah pria ular bisa tahu kalau ularnya terbunuh di suatu tempat. Dan dengan mudah dia akan melacak lokasinya.
"Hhhss… hhah… hhah…"
Tes tes
Terdengar suara nafas yang tidak tahan ingin menggigitnya disertai dengan air liur yang terus menetes. Zhen segera melepaskan diri dari kuncian jiangshi ini sesaat dia lengah. Sekarang barulah terlihat seseorang kira kira setinggi dirinya, dia memakai jubah hitam, seluruh tubuh diperban, tapi masih terlihat bagaimana mulutnya menganga meneteskan liur, dari sisi kanan kiri lehernya terlihat rambut berwarna putih yang sebagian lagi tertutupi tudung.
Zhen berusaha bangun tapi tubuhnya terlalu berat dan kepalanya terlalu pusing untuk bangun. Ia mengambil pisau tanpa gagang yang tergeletak di tanah dan menodongkannya ke jiangshi itu.
"Hhah… hhah… hhah…" jiangshi itu masih meneteskan air liurnya, dia merangkak mendekati Zhen sedangkan Zhen mundur darinya.
Pisau tanpa gagang itu menyayat tepak tangan Zhen. Membuat darah yang keluar terlihat jelas. 'Gawat, aku dengar kalau jiangshi akan semakin ganas kalau mencium darah.' pikir Zhen. Ia melirik jiangshi tersebut.
"Hi hi hi hi hi hi hi hi…" terdengar suara tawa dari jiangshi itu. Dari tawanya seperti seorang gadis.
greb
Dia menggenggam tangan Zhen. Bahkan jiangshi itu menjilati darah yang keluar. Sontak Zhen kaget, "L lepas!? Kalau tidak aku akan membunuhmu!? Aku tidak bercanda!?" ancamnya. Tapi seperti angin lalu, jiangshi itu tidak perduli. Perlahan tangannya merambat ke dada Zhen bersamaan dengan tubuhnya yang mendekat. Sekarang terlihat jelas seperti apa matanya. Tidak seperti jiangshi lain yang bermata putih penuh, mata jiangshi ini sangat bening dengan manik berwarna merah. Bulu matanya panjang lentik dan berwarna putih.
"Ooaahh!?" ujarnya dengan senyum jahat dan nafas yang… sangat bau!?
Zhen yang sedari tadi menahan sakit kepalanya, tiba tiba harus dilanda bau nafas bak sampah, pingsan ditempat.
Bruk
"Hm? Aao?"
...***...
"Hm~ mm~ hm~ hm~ hm~" Zhen kecil merasa nyaman digendong oleh ibunya. Diiringi lantunan lantunan lagu dari suara merdunya. Dan suara musik bambu yang tertiup angin. Meskipun jelas mimpi, tapi ia tidak ingin bangun.
Ia memelik erat ibunya seakan tidak akan pernah melepasnya.
"Aaaahhh!?" teriaknya bangun dari mimpi indahnya. "Mimpi?" tanyanya. Tapi sebentar, ia merasa aneh. Kakinya tidak merasa berjalan, tapi saat ini dirinya sedang dibawa ke hutan bambu di malam hari. Zhen melihat ke bawah, dan melihat seseorang tengah menggendongnya. "Ehm…"
"Ao?" tiba tiba orang itu menengokkan kepalanya kebelakang dan memperlihatkan wajah datar gadis gila itu.
"Hah?! Kau!? Kenapa kau menggendongku?! Dan…" tangannya memeluk erat gadis itu. Zhen langsung menarik lagi tangannya. Amit amit berpelukan lagi dengannya. Ia menengok ke belakang, tidak terlihat lagi kota yang ramai. Hanya ada goyangan bambu bambu dimalam hari. 'Sepertinya ini cukup jauh dari kota Churyang.' gadis jiangshi ini sudah menyelamatkannya dua kali. Satu untuk ular, dan dua untuk membawanya jauh dari kejaran. "Kau ingin membawaku kemana?" tanya Zhen kembali melihat ke depan.
"Kakek."
'Kakek? oh, dia punya kakek? ' pikirnya. "Ngomong ngomong, kau sangat kuat ya? Bisa menggendongku seperti ini. Aku ingin jadi kuat sepertimu, tapi…" 'malah sakit sakitan seperti ini.' lanjut Zhen dalam hati. Ia menyenderkan kepalanya ke pundak gadis jiangshi. Sepertinya dia tidak bisa bicara lancar seperti makhluk lain. Yang dia katakan hanya A - O - A - O dan satu dua kata. "Hoamm!?" tanpa disadari ia terlalu nyaman sampai tidur di pundak gadis jiangshi.
...***...
…tak
tak!?
Tak!?
Suara potongan bambu membuat Zhen mengerjapkan matanya. Ia mengucek ngucek matanya karena sinar matahari yang terlalu silau melalui jendela. Saat membuka matanya, ia berada di dalam sebuah rumah yang terbuat dari bambu.
Ia bangun melihat ke sekeliling. Beberapa perabotan sederhana dan suara seseorang memotong bambu. Zhen berjalan keluar mengintip dari balik pintu bambu. Terlihat seorang pria paruh baya sedang merakit bambu bambu yang dipotongnya menjadi sebuah kursi panjang nan lebar. Ada juga gadis jiangshi yang menolongnya sedang duduk memandangi pria paruh baya itu.
"Kenapa tidak mendekat dan melihat kemari?" ujar pria itu masih membelakanhi Zhen.
''Dia bicara dengan siapa?" bisik Zhen pelan.
"Dengan mu, tuan muda."
"Eh?"
Pria itu berdiri berbalik melihat tepat ke arah Zhen. Dia tersenyum ramah ke arahnya. 'Merah?' Zhen melihat mata pria itu berwarna merah. Tidak ada selain klannya yang memiliki ciri khas seperti itu. 'Tapi, kenapa seseorang sepertinya di tempat seperti ini? Apa jangan jangan, dia juga ingin menangkapku?' pikirnya yang mulai curiga. Ia melihat gadis jiangshi itu yang sudah berdiri. Matanya terbelalak senang, senyuman lebar yang terkesan jahat terukir di wajah penuh perbannya.
"Zhuzhu, kau tidak boleh tersenyum jahat seperti itu. Kau menakuti tuan muda." ujar pria paruh baya itu.
"Takut?" tanya gadis itu. Dengan cepat ekspresi wajahnya berubah datar. Lalu melihat Zhen dari tempatnya dia menunjuk bocah itu, "Lemah." ujarnya tanpa ekspresi.
Zhen terbelalak mendengar ucapan gadis itu. Ia merasa tidak terima harus dibilang lemah. Meskipun benar begitu, tapi kalau menghadapi beberapa master dirinya masih sanggup. Melihat mereka begitu ramah, ralat kecuali gadis jiangshi. Zhen mendekat ke arah mereka. Kalau dipikir pikir jika mereka memang mengincar dirinya, sudah sejak malam tadi mereka membawanya kembali ke klan. Tapi buktinya ia masih berada di hutan bambu ini.
"Hallo~" sapa ramah pria paruh baya itu melambai dengan tampang yang cukup bodoh.
"Hallo." sapa datar gadis itu mengangkat satu tangannya menyapa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...