
Zhen membuka matanya terbelalak, Ia segera bangun dari tidurnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah atap yang gelap. Ia bangun melihat kesekelilingnya yang hanya dipenuhi warna hitam dan hanya bisa melihat dirinya sendiri, "Ini didalam mimpi? Terakhir kali aku ingat sedang… mabuk bersama pak tua itu." suaranya terdengar suram. Ia mengepal tangannya erat dengan alis yang tertaut kesal, dan bibir yang mengerucut, "Sialan!? Beraninya dia membuatku minum arak?! Awas saja kalau aku sudah dewasa, aku akan… akan…" tanpa ada kata kata yang terucap lagi ia hanya terdiam.
"Aku bahkan tidak yakin bisa dewasa. Kutukan ini membuat nyawa ibu menghilang hanya dengan beberapa tahun. Bagaimana denganku nanti?" ujarnya merasa sedih. Orang orang begitu menginginkannya, padahal ia sendiri sedang butuh pertolongan.
"Sstt!?"
"Padahal aku sudah berencana keliling dunia, menikmati makanan di seluruh dunia, mencoba semua biskuit, dan melihat kucing…" ia hanya pernah mendengar nama hewan ini tapi belum pernah melihatnya. Tentunya ia diam diam menguping pembicaraan para pelayan yang membicarakannya. Dan akhirnya ia jadi penasaran. Karena katanya hewan itu lucu.
"Sstt!?"
Matanya mulai berair, "Tapi malah…malah… hiks…"
"Ssttt!?"
"Sstt!?"
"Sstt!?"
"Aahgh, siapa itu?" teriaknya jengkel. Dirinya jadi tidak bisa sedih dengan benar gara gara suara itu. Tapi, bukankah ini mimpinya? Kenapa bisa ada suara orang lain yang terdengar. 'Tunggu dulu, apa ini bukan mimpi? Apa tempat ini alam batin? Tapi kenapa alam batinku ada orang lain didalamnya? Jangan jangan, pak tua itu juga ada disini?' pikirnya.
Muncul segumpalan kabut hitam kebiruan didepannya. Kabut itu makin lama semakin besar dan mengelilinginya, "Ming Jiazhen!? Kau benar benar sudah melupakanku ya?! Dasar bocah nakal!?"
Saat mendengar suara itu Zhen mengernyitkan dahinya. Ia seperti pernah mendengarnya di suatu tempat.
"Di saat aku berjuang melawan kutukan sialanmu, kau malah melupakanku."
Zhen jadi ingin mendengarnya lebih jelas lagi apa yang dimaksud pria ini. "Kutukan?" hanya ada satu kutukan yang dirinya miliki, yaitu…
"Ya, kutukan nagamu!? Berterima kasihlah padaku karena telah membuat kutukannya bertahan hanya sampai kau menginjak usia dewasa."
Matanya terbelalak mendengar itu. Bingung bercampur heran. Ia masih belum mengerti dengan yang dikatakan kabut misterius ini. Bagaimana bisa kutukannya hanya sampai dirinya menginjak usia dewasa. Tapi itu bagus, dirinya hanya harus bertahan sampai saat itu tiba. 'Tunggu, usia dewasa, apa maksudnya usia dewasa ras naga? Itu artinya…' Zhen menatap pelan kabut didepan dengan tatapan bertanya. "Apa… maksudmu usia dewasa ras naga?" tanya Zhen pelan.
"Benar, kau hanya harus menunggu delapan puluh enam tahun lagi!?" jawab kabut hitam terdengar riang.
Mulut kecilnya menganga tak percaya. Delapan puluh enam tahu lagi, katanya? Zhen tidak yakin ia masih bisa hidup sampai saat itu tiba. "Kau pasti bercanda." gumamnya pelan.
"Apa?"
"Mustahil. Mana mungkin aku bisa bertahan hidup selama itu!? Mungkin aku sudah mati lebih dulu karena kutukannya." ujarnya tersirat sedih pada suaranya.
"Ck ck ck, anak zaman sekarang selalu berpikir buruk sebelum mencobanya. Dengar ya, bocah cengeng, jangan katakan padaku itu mustahil sebelum kau mati." begitulah kata kabut hitam.
"Hiks…" terlihat wajah Zhen yang mewek. Kata kata kabut itu terlalu menusuk hatinya.
"A apa? Kenapa kau tiba tiba menangis? Dasar cengeng!? Berhenti menangis!?"
Zhen mengusap air matanya. Setidaknya ia harus bersyukur dengan yang ia dapatkan saat ini. Dirinya hanya harus bertahan delapan puluh enam tahun lagi, "Terima kasih, pria aneh." ujarnya.
Kalau kabut itu memiliki wajah, mungkin saat ini dia sedang terbelalak kaget. "Hmph, dasar bocah nakal!? Ternyata kau sudah tahu siapa aku." ujarnya terdengar kesal.
Mana mungkin ia bisa lupa dengan suara itu. Dia adalah pria aneh saat dirinya masih kecil. Dan seseorang yang telah menyelamatkannya. Walaupun mungkin ingatannya kadang kacau, tapi untuk hal hal seperti ini ia ingat.
Zhen membuka matanya lebar lebar. Kali ini ia benar benar bangun. Saat ia duduk kepalanya terasa pening. Apa ini adalah efek dari minum alcohol? Bagaimana bisa pria tua itu menyukai sesuatu yang membuat kepala pening? Tapi, satu hal penting yang Zhen sadari. "Malam ini tidak terlalu sakit." gumamnya pelan. Ia melirik Zhu'er yang tertidur lelap di sampingnya. 'Ugh, lagi lagi dia tidur di sini.' pikirnya merasa risih. Dirinya segera menjauh dari gadis itu.
"Sepertinya malam ini suasana hati tetua sedang buruk. Apa karena itu hari ini?" ujar seseorang samar samar. Adanya suara orang lain selain mereka bertiga disini, itu membuatnya kaget.
Dirinya bangun di tengah malam. Tidak disangka masih ada seseorang yang bangun dan berkunjung di tengah malam. Di luar rumah masih ada Chen Zinyu yang masih meneguk Dukuang mahalnya. 'Apa orang itu temannya?' pikir Zhen. Ia ingin mendengarkan lebih percakapan mereka. 'Syukurlah aku sering berlatih menajamkan indraku.' pikirnya sembari tersenyum puas. Zhen memfokuskan untuk menggunakan teknik penajam pendengaran.
Jadi dirinya bisa mendengarkan percakapan mereka dari tempatnya meskipun agak jauh.
"Hah? Dasar pengganggu!? Jika sudah tahu pergilah!?"
'Nah, sekarang sudah terdengar sangat jelas.' pikir Zhen senang.
"Tetua~ jangan seperti itu. Aku kemari tidak memiliki niat buruk apapun~ percayalah."
"Semua ular berbisa mengatakan hal seperti itu pada awalnya. Tapi nantinya pasti akan menggigit. Seperti yang kalian lakukan pada pemimpin klan kami." ujarnya santai sembari meneguk arak.
Mendengar itu, Zhen terbelalak kaget. 'Apa maksudnya?'
"Ular berbisa? Sepertinya panggilan ular berbisa ini juga berlaku pada tetua yang meskipun tahu kebenarannya tapi tetap diam." ujarnya. Terlihat Chen Zinyu menatap terang terangan pria di berjubah hitam di sampingnya. "Hm? Apa aku salah?" tanya pria itu terdengar polos.
Tanpa mengatakan apapun Chen Zinyu meneguk kembali araknya. "Ada apa kau kemari?" tanyanya mengalihkan topik. "Jika ajakan kerja sama, maaf, aku menolaknya."
"Tetua tenang saja, aku tidak akan mengajak kerja sama. Aku kemari karena, ingin meminta anak yang tetua sembunyikan." ujar pria itu, seketika membuat Zhen kaget.
Ia tidak menyangka sudah ada yang mengetahui keberadaannya.
"Heh, bagaimana jika aku menolak? Apa kau akan memaksaku untuk menyerahkannya padamu? Atau mencoba menyergapku dengan orang orang yang bersembunyi dibalik dinding bambu?" ujar Chen Zinyu. Dia tersenyum meremehkan kepada pria bertopeng. "Dasar, yang kalian bisa hanya mengeroyok. Pengecut sekali~" terdengar tawa kecil di akhirnya yang mana tawa meremehkan.
Orang orang yang bersembunyi dibalik dinding bambu saling memandang satu sama lain dengan tatapan kesal. Tidak mereka sangka persembunyian mereka diketahui secepat ini. Dan lagi mulut pak tua itu sangat licin. Saat mereka akan beranjak menyerang, pria berjubah hitam yang mengenakan topeng wajah tersenyum mengangkat tangan kanannya seakan memberi aba aba untuk tidak menyerang.
Pria itu berjalan mendekat selangkah, "Tetua, anda tahu siapa anak yang coba anda lindungi? Dia adalah reinkarnasi dari seseorang. Anda mungkin sudah tahu kalau Ming Jiazhen yang sebenarnya sudah mati. Hanya membutuhkan sedikit waktu untuk membuatnya menjadi malapetaka. Sebelum itu terjadi, lebih baik anda menyerahkannya pada kami. Dengan begitu, kami pasti akan mengembalikannya ke dunia bawah tempat seharusnya dia berada."
"Pfftt, ha ha ha ha ha…" tiba tiba saja Chen Zinyu tertawa keras.
"Maaf?"
"Reinkarnasi, ya… ha ha ha ha ha, itu lelucon yang bagus!? Kalian bisa membuat teater kecil dengan cerita yang bagus. Kalian bisa pergi sekarang!?" usirnya. Dia kembali meneguk arak di botol terakhir.
Untuk beberapa saat hening di tempat itu.
"Baiklah, kami akan pergi. Tapi nanti kami akan kembali lagi." ujar pria bertopeng sembari sedikit membungkuk. Seketika hilang dalam sekejap bersama dengan bawahannya.
Chen Zinyu meletakkan botol araknya, 'Reinkarnasi, kacung itu bicara terlalu banyak. Tapi, terima kasih sudah membantu pekerjaanku.' pikirnya dengan senyum yang licik sembari melirik ke arah rumah.
"Mati… aku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...