Villain'S

Villain'S
Bab 16. Acting



Bertemu dengan seorang gadis yang mengenakan pakaian mewah, dan cantik, dia seperti seorang putri dari keluarga besar. Saat bertatapan dengan wanita itu, dia menatap Zhen dengan mata melebar dan mulut yang sedikit menganga. Tatapannya seperti takjub disertai kagum.


'T tampan sekali…' pikir wanita itu.


Zhen menatap heran mengapa gadis didepannya melihat dengan tatapan tak sopan seperti itu pada dirinya. Apa dirinya masih terlihat kecil kurus dan dekil seperti saat didalam sel? Tidak mungkin. Dirinya sudah mandi meskipun tidak setiap hari. Ia juga sudah berusaha makan banyak untuk mengisi tubuhnya yang kekurangan nutrisi. Bahkan tubuhnya sudah mengalami pertimbuhan mendadak yang dilalui dengan keringan dan erangan. Tidak mungkin dirinya terlihat seperti dulu.


"Itu dia!? Disana!?" teriak seseorang dari kejauhan. Mereka mendekat pada Zhen dan gadis itu.


Melihat asal suara, gadis itu langsung terlihat panik. Dia gelagapan dengan apa yang akan dirinya lakukan. Dilihat sekilaspun sudah jelas, dia dikejar eh orang orang itu.


Tanpa peringatan gadis itu langsung mengambil posisi dan memeluk lengan kiri Zhen dengan tangan yang berkeringat dingin. Sepertinya dia memiliki rencana di kepalanya.


Seorang pria tinggi dengan pedang di genggamannya mendekati mereka. Pandangannya menatap sinis ke arah Zhen dan beralih menatap lembut ke gadis itu, "Wei Wei!? Kenapa kau menempel pada pria itu? Kemarilah dan kita pulang bersama ku!? Aku akan_"


"Tidak!? Jangan memaksaku untuk pulang!? Aku ingin pergi bersama kekasihku!? I iya kan?" gadis itu menatap Zhen dengan tatapan penuh kode. "Kumohon katakan kau kekasihku!?" gumamnya pada Zhen.


Zhen memegangi perutnya yang lapar. Ia sama sekali belum makan tadi malam sampai siang ini. Kenapa ia harus terlibat dengan drama dua kekasih? Saat dirinya akan beranjak pergi meninggalkan gadis itu, dengan cengkraman yang kuat gadis itu menarik lengan Zhen dan kembali memeluk lengannya.


"Kalau kau mengaku kau kekasihku akan kubelikan makanan paling enak di penginapan paling terkenal di Chiliang!?" bisiknya dengan sedikit nada ancaman pada suaranya.


'Makanan paling enak?' pikirnya membayangkan betapa enaknya makanan paling enak itu. Senyum senang sedikit terlihat di wajahnya. Dengan sigap Zhen memeluk gadis itu dari belakang, "Benar, kami adalah sepasang kekasih yang tak terpisahkan!? Iya kan, sayang~?" ujar Zhen sembari menenpelkan pipinya pada pipi gadis bernama Wei Wei tersebut. Sedangkan gadis itu mematung dengan wajah memerah seperti akan meledak.


"Sa_sayang? Beraninya kau memanggil Wei Wei dengan panggilan tidak sopan seperti itu?! Apa kau tahu siapa dia?" ujar pria itu geram. Terlihat di raut wajah dia sangat kesal.


"Hm? Aha ha ha ha apanya yang tidak sopan. Sangat wajar kalau kami saling memanggil nama dengan sebutan 'sayang'. Karena kami saling mencintai, benar kan sayang?" tanya Zhen melirik Wei Wei yang sudah tidak bisa mengontrol ekspresinya.


"Be be be benar. Sa.Yang!?" jawabnya kaku dan canggung. 'A a a a apa ini? Bukankah dia terlalu berlebihan?' pikirnya sambil berteriak dalam hati.


Pria itu mengepalkan tangannya erat. Menatap dengan sengit ke arah Zhen yang menatapnya licik dengan senyum yang terlampau percaya diri. Dengan hati dongkol dia pergi terburu buru. Diikuti dengan bawahannya yang terdiri dari tiga orang.


Setelah mereka pergi cukup jauh, Zhen melepas pelukannya dari gadis itu.


"A anu, a apa kau…"


"Makanan."


"H hah?"


"Kau bilang ingin membelikanku makanan kan? Karena aku sudah membantumu, belikan aku makan paling enak yang kau katakan itu!?" ujar Zhen. Inilah saat saat yang ditunggunya, makanan enak!?


...***...


Duk


Dengan sengaja dan frustasi Wei Wei menempelkan ketingnya di atas meja dengan cukup keras. "Haah, nasibku sangat malang~" ujarnya frustasi. Dia meneguk arak pada botolnya langsung. "Huaaa hu hu hu…hiks…" setelah meminum arak barulah ia meluapkan segala emosi yang dipendamnya.


Zhen melihat semua makanan sudah habis dimakannya tanpa sisa. Karena yang membayar adalah gadis didepannya, ia beranjak pergi tanpa ingin mengucapkan sepatah kata seperti 'terima kasih' atau 'aku pergi' dan sejenisnya. Bagaimana lagi, tidak ada yang mengajarinya untuk mengucapkan itu.


Greb


Namun lagi lagi tangannya di cekal oleh gadis yag tengah mabuk itu. "Kau…mau kemana? Pergi tanpa mengucapkan apapun? Dasar tidak sopan!? Apa orang tuamu tidak mengajarimu, hah?" ujarnya khas orang mabuk.


Mendengar kata 'orang tua' tiba tiba membuatnya sedikit kesal bercampur sedih. "………Makasih!?" ujarnya terdengar terpaksa.


Gadis itu mengerucutkan bibirnya mendengar nada tak enak didengar. "Sudahlah, aku akan memaafkan terima kasihmu yang tidak tulus itu. Sebagai gantinya kau harus mendengarkan keluhanku!?" ujarnya.


"Hmph, aku sibuk." ujarnya.


Beberapa menik kemudian


"Huaaa, jadi, jadi dia terus mengabaikanku padahal aku sudah menyatakan dengan tulus perasaanku padanya…" dengan wajah yang berderai air mata Wei Wei meneguk lagi dan lagi araknya.


Dengan Zhen yang meminum susuk sapi. Hanya dengan sogokan susu sapi dengan mudah dirinya mengiyakan permintaan Wei Wei. 'Ini tidak terlalu manis, tapi enak.' pikirnya tidak mendengarkan ocehan Wei Wei tentang laki laki yang disukainya tapi mencampakkannya. "Apa aku boleh memesan susu sapi lagi? Ini sudah habis." tanya Zhen.


Wei Wei menatap sebal Zhen, anak itu malah lebih peduli dengan susu sapinya dari pada mendengarkan ceritanya. "Ya, pesan saja lagi!? Yang banyak sampai semua susu sapi di penginapan ini habis!?" ujarnya kesal.


"Baiklah."


Pelayan membawakannya susu sapi lagi. 'Ini akan jadi minuman favoritku!?' pikirnya. Ya, ia rasa dirinya menyukai minuman ini.


"Dasar, pria tampan sepertimu pasti tidak akan kesulitan memilih wanita. Mereka akan datang sendiri tanpa kau minta, iya kan?" ujar Wei Wei dengan tatapan sebalnya.


Zhen melirik Wei Wei heran, kenapa gadis ini mengatakan sesuatu yang tidak dimengertinya. Tentang cinta lah, wanita lah, pria tampan lah, ia tidak mengerti kenapa dia begitu memikirkannya.


"Coba katakan padaku, berapa banyak wanita yang menembakmu?" tanyanya kesal bercampur penasaran.


Di tembak? Apa maksudnya wanita yang menyerang dengan pola tembakan padanya? Kalau iya, dirinya tidak pernah. "Heh, aku tidak pernah membiarkan mereka menembakku!? Karena aku yang akan menyerang mereka duluan!?" ujarnya percaya diri.


Wei Wei membelalakkan matanya, dirinya cukup kaget Zhen akan menyerang duluan. Padahal anak itu tidak terlihat seperti itu. "Aku tidak menyangka kau sangat agresif." ujarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...