
Rombongan mereka dikepung oleh para bandit yang masing masing memegang senjata. Ketua mereka adalah pria besar dengan pedang besar di pundaknya.
"Serahkan barang barang kalian atau nyawa kalian sebagai gantinya?!" ancam pria itu.
Kakek Peng sangat cemas dengan keadaan sekarang. Sebab jumlah bandit jauh lebih banyak dari jumlah prajurit bayaran yang mereka miliki. Ada lima puluh dari pihak musuh, sedangkan dari pihak mereka sendiri kurang lebih dua puluh orang. Ini tidak bagus dan situasinya buruk.
"Ini buruk, situasi kita tak menguntungkan. Oh dewa, kenapa ini harus terjadi. Kenapa mereka tiba tiba muncul sebanyak ini. Padahal jalur ini aman sebelum sebelumnya." ujar kakek Peng. 'Apa jangan jangan…' kakek Peng melirik Zhen disampingnya.
"Apa? Apa kau curiga aku yang membawa mereka? Teganya kau berpikir begitu!?" ujarnya merasa tersakiti. Dirinya juga ingin pergi dengan aman, sangat aneh kalau ia membuat situasi ini.
"L lalu, siapa?"
"Mana aku tahu?!" jawabnya tak peduli.
Di dalam kereta kuda milik keluarga Li. Seorang pria melihat keluar jendela dengan sangat gelusah. Tak disangka perjalanannya akan dihadang bandit. Dia melihat ketua prajurit bayaran berada tak jauh darinya menunggangi kuda, "Ketua Wen!? Kenapa kalian diam saja? Lawan mereka!?" ujarnya tak sabar.
Proa bermarga Wen itu menatap sinis pada tuan muda Li.
Wush
Tanpa diduga dia menodongkan pedangnya pada leher tuan muda Li, majikannya sendiri.
"A apa yang kau lakukan ketua Wen?! Kenapa kau menodongkan pedangmu padaku?" tanya tuan muda Li terkejut.
"Kakak!?" teriak Li Shui membuang tampak khawatir. Dia berlari menuju kakaknya, namun belum sampai kaki seseorang membuat kakinya tersandung ,
Bruk
"Ugh!?"
Belum bangun dari tempatnya terjatuh, besi dingin tertempel di lehernya.
"Shui'er!?" teriak tuan muda Li.
"Pfftt ha ha ha ha ha ha ha bodoh!? Ha ha ha ha ha ha ha ha dia sangt bodoh!? Ha ha ha ha ha ha ha ha…" Zhen tertawa cekikikan tanpa mengenal situasi. Tanpa dirinya sadari semua orang menatapnya aneh.
Tuan muda Li menatap aneh Zhen yang menertawai adiknya jatuh, "Apa dia orangmu?" tanyanya masih menatap aneh Zhen.
"Aku tidak memiliki anggota gila sepertinya." jawab ketua Wen sama sama menatap aneh Zhen.
"Ha ha haaah…" Zhen mengusap air mata yang sedikit keluar dari sudut matanya. Saat berhenti tertawa, ia baru sadar kalau semua orang menatap aneh dirinya, "Kenapa?" tanyanya bingung. Memangnya salah tertawa di saat ada yang lucu?
"Hei bocah!? Apa kau tidak tahu situasi macam apa ini?" tanya seseorang bertubuh tinggi, berotot kekar, dan berwajah seram dengan kepala botak.
Zhen menyilangkan kedua tangannya, menatap songong pria botak itu dengan senyuman yang terlampau percaya diri, "Apa aku harus tahu? Hah? Botak?" tanyanya dengan senyum yang semakin lebar.
Urat urat terlihat menonjol pada kepala botak pria itu, "Si kep*rat KECIL INI!?" dia mengepalkan tangannya, meninju wajah Zhen.
Namun dalam sekejap yang ditinjunya hanya udara, "DIMANA KEP*RAT ITU?" tanyanya marah.
Tiba tiba wajah Zhen dengan senyum seramnya muncul tepat didepan wajahnya. Tanpa diduga ia sudah duduk di atas bahu pria botak tersebut.
Krak
Dengan sekali putar Zhen memutar kepala pria berbadan besar itu.
Bruk
Zhen menepuk nepuk tangannya setelah membunuh pria itu.
"Serang diaaa!?" teriak kepala bandit.
Serentak seluruh bandit berlari menyerang Zhen.
Mata Zhen terlihat semakin tajam dengan penglihatan yang luar biasa hebat. Matanya bergerak dengan sangat cepat melihat berbagai arah lawan yang menyerang. Tidak hanya itu gerakannya juga sangat cepat sampai tak bisa diikuti dengan mata biasa.
Dalam sekejap rantai melilit leher para bandit dan memutuskannya dari tubuh mereka. Juga ada yang langsung menembus jantung mereka. Sungguh pemandangan yang sadis untuk dilihat.
Masalah jumlah tak masalah selagi dirinya bisa mengatasi mereka. Lagipula mereka terlalu lemah.
"Ugh, tembak dia!?" teriak kepala bandit.
Bruk
Kakek Peng tampak berlindung di bawah kereta barang. Karena posisinya sama dengan Zhen. Terkecuali kuda kuda yang mati tertembak panah. 'Siapa sebenarnya bocah ini' pikir kakek Peng.
Dengan sangat cepat Zhen melontarkan semua anak panah dengan rantainya.
"Aaggh!?" serentak banyak dari pihak bandit yang terkena anak panah.
Terlihat senyum senang diwajah Zhen.
"Berhenti!?" teriak seseorang.
Zhen langsung menengok ke belakang melihat ketua prajurit bayaran menempelkan pedangnya ke leher Tuan muda Li.
"Jika kau tidak berhenti makan kepala orang ini akan kupenggal!?" ujarnya.
"Tidak!? Kakak!?" teriak Li Shui.
"Tuan muda!?" teriak para pelayan.
"Hei, bocah!? Kau harus berhenti!? Jika tidak tuan muda akan mati." bujuk Kakek Peng.
Terlihat senyuman jahat di wajah ketua prajurit bayaran. 'Bagus, dengan begini kami bisa__'
kwaak kwaak
Tiba tiba seekor burung gagak merecoki ketua prajurit bayaran. "A apa apaan burung ini?!" ujarnya sembari mengibas ngibaskan tangannya mengusir burung gagak.
"Kau lengah!?" ujar Zhen tiba tiba berada tepat didepannya. Ia mencolok kedua mata ketua prajurit bayaran dengan kedua jarinya.
"Aahhh!? Aahh!?"
"Berisik!?" Zhen menyerang dada ketua prajurit bayaran dengan rantainya.
"Ketua!?"
"Ketua!?"
Mendengar beberapa bandit yang memanggil pria yang baru saja dibunuhnya, sepertinya pria itu memang ketua mereka. Sudah jelas bagaimana jalur dagang ini di kelilingi bandit. Zhen berbalik menatap senang ke arah mereka, "Ada yang ingin mati lagi?" tanyanya.
Namun mereka hanya diam tak bersuara.
"Hmm~ Biasanya akan ada beberapa orang bodoh yang ingin balas dendam seolah olah mengatakan 'Sepertinya hari ini hari yang bagus untuk mati!?' ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" tawanya.
Salah satu yang terkuat dari mereka mengatakan, "Mundur…"
"A apa? tapi_"
"APA KAU TIDAK MENDENGARKU? MUNDUR!?" teriaknya sengit.
Mereka segera berlari pergi meninggalkan tempat itu. Beserta dengan prajurit bayaran yang di sewa keluarga Li.
"A anu, terima kasih sudah menolongku!?" ujar Tuan muda Li.
Zhen melirik pria muda di sampingnya. Dia berpakaian bagus dan rapi. "Jadi kau yang bernama 'Tuan muda Li'?" tanya Zhen sembari mendongak ke atas. Pria muda berpakaian rapi dan terlihat mahal ini adalah Tuan muda kedua dari keluarga Li.
"I iya, itu benar!?"
"Hmm, sebenarnya aku tidak peduli kau mati terbunuh atau tidak…" ujarnya sembari menyilangkan tangan.
"Hei!?" bentak Li Shui tidak terima, namun Tuan muda Li menahannya.
"Tapi karena aku menumpang pada keretamu, anggap saja ini bayaran untuk tumpangannya!?" lanjutnya. Kemudian berjalan meninggalkan mereka.
"Kakak, jenapa kau menahanku untuk memberi pelajaran pada bocah tidak sopan itu?" tanya Li Shui kesal.
"Sshh, jaga mulutmu!? Aku telah menemui berbagai macam orang, dan firasatku mengatakan, dia orang yang berbahaya." ujarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...