
Zhukara berusaha melepaskan serangannya yang masih terus berlanjut. Tapi anehnya dirinya tak bisa menghentikan serangan. Seperti ada yang mengendalikan Inner Qi miliknya selain dirinya. Dan orang itu adalah, bocah yang kini ada didepannya.
'Aku bisa menyerap Inner Qi miliknya? Bagaimana bisa?' pikir Zhen bingung. Ia melirik pria besar tersebut yang berusaha memutus paksa serangannya. Sebuah senyuman lebar terlihat jelas di wajahnya. Bukankah ini saat yang tepat untuk balik mengejeknya?
"Ada apa pemimpin klan? Apa kau kewalahan melawan bocah sepertiku? Ya ampun~ apa aku terlalu berlebihan?" ujarnya dengen ekspresi yang dibuat buat.
Zhukara mengernyit tak senang mendengar perkataan Zhen. Rahangnya mengeras memelototi bocah itu. "HMPH, JANGAN SOMBONG DULU!?" teriaknya.
Dduak
"Ugh!?"
Tiba tiba saja Zhukara membenturkan kepalanya ke kepala bocah itu.
Seketika dirinya langsung mundur ke belakang sembari memegang kepalanya yang seperti dipukul batu besar. 'Pintar juga dia memutus paksa dengan mengerang kepalaku.' pikirnya.
Buk
Sebuah pukulan mendarat tepat diwajah Zhen.
Duk Buak
Pukulan susulan yang lain datang silih berganti. Membuat perlahan lahan tubuh bocah itu dipenuhi darah. Dipukul seperti ini membuatnya mengingat kembali bagaimana dulu beberapa pria berotot memukulnya hingga pingsan. "Dulu bagaimana ya mereka melakukannya?" gumamnya.
Brak!?
Zhen menabrak dinding batu hingga retak. Tak terlihat lagi warna kulit di wajahnya. Yang ada hanya warna merah darahnya. Bahkan topengnya hancur saking kuatnya pukulan Zhukara.
"Ah!? Aku ingat!? Dulu mereka melakukannya seperti ini…" Zhen bangun dan langsung melesat ke arah Zhukara. Menyelimuti di sekujur tangannya dengan Qi luar. "Pertama, hidungmu!?"
Buak
Dengan keras ia meninju hidung Zhukara hingga mengeluarkan darah. Pria besar itu melesat ke belakang sama seperti Zhen sebelumnya.
krek
Terdengar suara tulang yang terkilir di bahu kanannya.
"Cih, dasar lemah!?" umpatnya untuk diri sendiri.
"Uhuk!? uhuk…uhuk…" Zhukara memuntahkan darah karena sebagian Inner Qi dalam dirinya tersedot keluar. 'Apa karena dia menyerap lebih banyak inner Qi dia menjadi semakin cepat?' pikirnya. Belum selesai dengan pukulan di hidung, Zhen datang kembali dengan menginjak perutnya keras. "Ugh!?"
Terlihat senyum lebar di wajah yang penuh darah. "Kedua, pukul lawan sampai pingsan!?" lanjutnya. Tanpa rencana atau teknik apapun Zhen hanya memukul Zhukara membabi buta. Sampai tangannya penuh darah hingga tulangnya sendiri yang retak, yang ia lakukan seperti robot yang diperintah. Mungkin karena energi internalnya di serap, Zhukara jadi jauh lebih lemah darinya.
Aruxi membulatkan matanya melihat ayahnya dipukuli oleh bocah tak dikenal. "Ayah…"
Zhukara pingsan dengan wajah yang sulit dikenali karena darah memenuhi setiap tempat diwajahnya.
"Kurasa begini cara mereka memukulku dulu." gumamnya. Terlintas kenangan yang tak menyenangkan. Dulu sekali kebencian orang orang terhadapnya tak terbentung. Hingga tiba hari mereka melewati batas. Terutama Jiafen, wanita itu yang paling menyiksanya. "Ck, tiba tiba aku jadi sangat marah." ujarnya sembari mengeraskan rahangnya.
Zhen berbalik ke belakang. Ia melihat para anak buah Zhukara memegang senjata mereka. Terutama Aruxi yang sudah bersiap dengan tinjunya. Bersiap ingin menyerangnya. "Bagus, bagus sekali~ Kebetulan sekali aku ingin melampiaskan kesalku." ujarnya dengan senyum lebar. Ia berjalan menuruni tubuh Zhukara, mengambil pedang yang ia temukan dalam langkahnya.
...***...
Di atas tempat duduk pemimpin klan Zhen duduk dengan bersimbah darah. Di pangkuannya ada pedang yang patah berlumur darah. Pada sisi kanan kirinya duduk para petinggi dari Klan Iblis Langit.
Tak disangka di paling kanan terlihat Aruxi yang juga termasuk petinggi dengan wajah babak belur. Dia menatap Zhen seperti seseorang yang pernah dijumpainya, 'Kenapa dia tidak membunuhku dan ayahku? Apa ada rencana lain yang baj*ngan ini sembunyikan?' pikirnya curiga.
Para petinggi itu saling pandang satu sama lain. Mereka seperti saling berkomunikasi hanya dengan tatapan mata. Ketakutan dan kegugupan terlihat sangat kentara pada ekspresi mereka. Sudah sepuluh menit Zhen hanya diam tanpa suara. Tapi kediamannya itu justru membuat mereka semakin khawatir akan nyawa masing masing. Bicara sati kata saja tidak berani mereka ucapkan, takut takut kepala mereka akan melayang terbang seperti petinggi sebelumnya.
"Jiangli!?" ujar Zhen.
Sontak semua petinggi langsung memperhatikan apa yang akan dikatakan Zhen selanjutnya.
"Bawakan aku seseorang bernama Jiangli. Karena aku seseorang yang murah hati, aku akan menunggu kalian membawanya hingga sore ini. Jika kalian tidak dapat segera membawanya, kepala kalian sebagai gantinya!?" ujarnya dengan tatapan yang dingin.
Glek
Aruxi segera berlari keluar mencari seseorang bernama Jiangli. Tidak sepertinya para petinggi yang lain saling pandang.
"Yi… er… san…"
Mendengar hitungan yang mulai dihitung, mereka semua segera mengikuti Aruxi keluar ruangan mencari seseorang bernama Jiangli.
"………"
Tinggal Zhen seorang yang duduk di kursinya yang cukup besar untuk tidur. "Hoam…aku lelah…" ia lelah dan ingin segera tidur. Tapi bahunya terlalu nyeri untuk itu. Terlihat seorang pelayan kecil yang gemetar ketakutan di pojok ruangan, "Heh!? Kamu yang disana!?" panggilnya kasar.
"I i i i i iya t tu tu tuan le leluhur!?" jawabnya gemetar.
Zhen mengernyit tak senang dipanggil tuan leluhur. "Siapa yang leluhurmu?! Kau pikir aku yang orang luar ini leluhurmu? Bodoh!?" ujarnya sembari melipat tangan.
'Tapi anda sendiri yang bilang leluhur kami.' pikirnya ketakutan.
"Bawakan aku tabib Li dari klinik sehat!?"
"Tabib Li?"
"Benar, Li Zheyang. Dia seorang anak kecil, cerewet, dan dia terlihat seperti seseorang yang mudah ditipu!? Cepat bawa dia padaku!? Jika tidak,…" Zhen menggerakkan jempolnya seperti memenggal kepala seseorang.
"B BA BA BA BAIK!? S SA SA SAYA AKAN S SE SEGERA KEMBALI D DAN MM ME MEMBAWA L LI Z ZHE ZHEYANG!?" pelayan kecil itu segera berlari dengan terburu buru seperti dikejar setan.
Beberapa saat kemudian
"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa aku bisa dibawa kemari?" teriak dari kejauhan seorang bocah yang membawa beberapa peralatan medis. Dia datang bersama dengan Youyi disampingnya.
"S sstt!? A anda tidak boleh bicara keras keras seperti itu!? N nanti pemimpin klan bisa marah!?"
"Hah, memang apa peduliku?"
"Hm?" Zhen yang menunggu cukup lama hingga tertidur di tempatnya terbangun karena suara keras Li Zheyang. "Oh, kau sudah sampai?" tanyanya masih mengumpulkan nyawa.
Li Zheyang terbelalak kaget melihat Zhen, ternyata pemimpin klan yang dimaksud adalah bocah itu. Dan darah di wajahnya, 'Sepertinya dia terluka parah.' pikirnya melihat darah menutupi wajahnya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa kau terlihat mengerikan?" tanya Li Zheyang Terbelalak sembari berjalan menuju Zhen.
"Aku mengalahkan pemimpin Klan Iblis Langit, lalu menjadi pemimpin klan, dan aku terluka di bahu. Jadi aku memanggilmu untuk mengobatiku!?" jelasnya.
"Apa?! Kau menjadi pemimpin klan? Dan kau mengalahkan pemimpin klan sebelumnya?" mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Berita ini benar benar seperti petir di siang bolong.
Begitupun dengan Youyi, baru kemarin dia mendengar bualan bocah itu yang ingin membuat Klan Iblis Langit bertekuk lutut dibawah kakinya. Dan sekarang itu benar benar terjadi. 'Keputusan bagus aku tidak melawannya.' pikirnya.
"Tapi, kau belum membayar tagihan sebelumnya bukan? Aku mau bayaranku yang sebelumnya!? Baru aku akan mengobati tanganmu!?" ujarnya meminta bayaran.
Pelayan kecil disampingnyalah yang ketakutan mendengar ucapan Li Zheyang. Bagaimana bisa bocah kecil ini begitu berani dihadapan orang gila itu.
"Baiklah, aku akan memberikanmu kertas emas. Apa itu cukup?"
"K kertas emas? Kau pasti bercanda." Li Zheyang sungguh tak percaya Zhen akan memberinya kertas emas. Itu adalah sebuah catatan hitam diatas putih yang mencatat sejumlah uang yang akan diberikan kepada pihak penerima tanpa memberitahu jumlahnya. Tapi karena namanya kertas emas, uang yang diberikan biasanya lumayan besar.
"Kau tidak lihat? Sekarang aku adalah pemimpin klan. Jadi semua kekayaan di tempat ini otomatis menjadi milikku, benar kan?" tanya Zhen sembari melirik si pelayan kecil.
"B be benar!?" jawabnya gugup.
Li Zheyang berbinar mendengarnya. Itu artinya Zhen menjadi sangat kaya bukan? Walaupun harta yang ia dapat adalah harta rampasan, tapi tetap saja tidak mengubah fakta bahwa Klan Iblis Langit menjadi miliknya sekarang. "K kalau begitu, dari pada kertas emas apa kau bisa merenovasi klinikku dan memberikan sejumlah herba sebagai gantinya?" tanya Li Zheyang.
Zhen diam sejenak menatap bocah yang menatapnya dengan mata berbinar tersebut. 'Mungkin tidak ada salahnya kalau aku berinvestasi padanya? Meskipun dia mudah ditipu tapi aku bisa menaruh si perempuan sebagai asistennya. Dengan begitu si perempuan bisa mengawasinya agar tidak tertipu lagi.' pikirnya.
"Baiklah, sebagai tambahan kau harus menjadikanku prioritas utama. Dan si perempuan juga harus jadi asistenmu."
Wajah Li Zheyang terlihat sangat senang mendengar kliniknua akan segera direnovasi. "Apapun itu tidak masalah. Yang penting kau harus menepati janjimu!?"
"Kau tidak perlu khawatir, aku pria tampan yang selalu menepati janjinya!?" ujarnya dengan senyum puasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...