Villain'S

Villain'S
Bab 19. Skandal 2



'Wei'er? Apa yang dia maksud adalah wanita yang telah mati itu?' pikir Zhen. Ia melihat kertas mantra yang masih melekat kuat. "Tidak, bukan aku pembunuhnya." jawab Zhen.


"Hmph!? Jangan berani beraninya kau membohongi kami!? Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang?" sentak pak tua yang duduk di samping Patriak Wei. Dia terlihat sangat tegas dan menakutkan. Apalagi suaranya yang seperti petir menyambar, benar benar membuat bergetar hati seseorang.


Tidak lama pak tua yang lebih kalem darinya angkat bicara, "Anak muda, akui saja perbuatanmu!? Kau bahkan membunuh Wei Jiran dan penjaga yang dibawanya. Apa kau masih tidak ingin mengakui kejahatanmu?"


Mereka benar benar membuatnya kesal. Kenapa tidak satupun dari pak tua itu mau mendengarkan Zhen. Mereka selalu membuat pemikiran sendiri dan tebakan sendiri. Yang akhirnya menjadikan Zhen sebagai kambing hitam. 'Hah, tentu, memangnya ada dari dulu yang ingin mendengarkan omongan ku.' pikirnya sambil tersenyum sinis. Kalau sudah begini apa boleh buat. Sekalian saja ia mengaku sebagai penjahatnya.


"Benar, aku yang membunuh mereka semua dan termasuk wanita itu!?" ujarnya.


Seketika semua orang yang hadir memasang mata melotot marah.


Zhen bisa merasakan semua niat membunuh ditujukan pada dirinya. "Heh, apanya yang keluarga ternama, kalau melindungi anak mereka saja tidak bisa. Apa kau bisa bisa menyebut dirimu Patriak?!" teriak Zhen sambil tersenyum jahat.


"DIAM!? CAMBUK DIA DENGAN KAYU BESAR!?" teriak marah Patriak Wei Jinrui.


Dua orang pria membawa balok kayu yang tebal. Mereka berdiri di samping kanan kiri Zhen.


Duak Duak Duak Duak


Zhen menahan rasa sakit balok kayu yang di pukulkan ke punggungnya.


Deg


"Uhuk!?" batuk darah keluar dari mulutnya. Tiba tiba saja jantungnya terasa panas seperti terbakar. 'Kenapa api murni tiba tiba bereaksi? Padahal sebelumnya tidak pernah bereaksi.' Zhen mengeluarkan banyak darah dari mulut dan hidungnya. Api didalam dirinya seperti sedang membakar jiwanya. "Hosh… hosh…"


"Cukup!" ujar Patriak Wei Jinrui.


Dua orang itu langsung berhenti mendengar perintah Patriak Wei Jinrui. Orang itu langsung turun dari kursi, berjalan perlahan mendekati Zhen. Dia mengeluarkan pedangnya keluar dari sarung pedang. Tangannya mengangkat tinggi tinggi pedang panjang tersebut. Pedang di ayunkan ke bawah.


DUASSS


Sontak kekuatan yang sangat besar menghempaskan Patriak Wei Jinrui beserta orang orang di sana.


"Ugh, apa yang terjadi?" tanyanya keheranan.


Segel yang menempel pada Zhen terlihat sudah rusak. Tanduk yang bercabang serta putih mata yang menghitam.


"K kau!? Kau adalah ras naga?!" ujar Patriak Wei Jinrui terkejut.


Zhen melihat tangannya, jari jarinya terlihat menghitam dengan kuku hitam tajam yang mengerikan. Ia sedang berada dalam wujud setengah naganya.


"Serang dia!?" seru Patriak Wei Jinrui.


Keempat tetua menyerang Zhen sesuai perintah Patriak Wei Jinrui.


Zhen mengibaskan tangannya, kekuatan besar bergelombang panas langsung menghempaskan keempat tetua.


"Uhuk!? Cuh… dia… sangat kuat!?" ujar salah satu tetua sembari melempar ludah yang bercampur darah. Tidak lama setelah itu keempatnya mati.


Senyum lebar terlihat diwajah Zhen. Tidak disangkanya kekuatan dari api murni begitu kuat. Zhen melirik Patriak Wei Jinrui bergeming ketakutan melihatnya.


Greb


Gerakannya secepat kilat, dia mencekik leher Patriak Wei Jinrui dengan sangat erat hingga wajahnya membiru.


"Khuk, a ampuni aku!? Aku tidak tahu kau adalah salah satu ras naga!?"


"Lantas? Kalau kau tahu kenapa? Apa kau akan menarik kembali orang orang yang memukulku? Dan menjilat sepatuku? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" ia tertawa senang. "Katakan padaku, apa aku jahat?" tanya nya.


'Aku harus membuatnya senang agar mau membiarkanku hidup.' pikirnya. "A anda sangat baik tuan!? Anda…"


Blarr


Zhen membakar tubuh Patriak Wei Jinrui.


"Aku tidak suka kata kata manusia munafik sepertimu!?" ujarnya sembari melempar jauh tubuh Patriak Wei Jinrui.


Semua orang terperanjat melihat keempat tetua dan Patriak Wei Jinrui dikalahkan begitu mudah.


"A aku harus pergi dari sini." pria itu berjalan mundur ke belakang dan kemudian berlari keluar.


''T tunggu, aku juga…"


Tidak lama setelah itu diikuti dengan yang lain.


Wwuunngg


Pelindung tranparan tiba tiba terpasang.


"Siapa yang mengizinkan kalian pergi?" tanya Zhen. Tercipta perwujudan dari dewa naga. Sosok yang sangat besar berwujud manusia naga dengan tanduk panjang yang bercabang. Memiliki mata merah vertikal seperti ruby, rambutnya panjang berwarna putih, dan memiliki empat tangan memegang senjata yang berbeda beda. Wujud itu membuka mulutnya lebar dan…


DDDUUUAAAARRRR


Api besar menyembur dari dalam mulut dewa naga membabat hangus orang orang dan bangunan didalan dinding penghalang.


"AAGGHH!?"


"AAAHHH!?"


"AAAGGGHHH!?"


"HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA…"


...***...


Zhen berjalan jalan melihat sekelilingnya yang telah hangus menjadi abu. "Hm~ hm~ hm~ sayang sekali Qiyu tidak bisa melihat ini. Kurasa dia masih terpengaruh mantranya." ujarnya sembari bersenandung.


Deg


"Ukh?!" Zhen meremas dadanya yang terasa sakit. Ini terjadi lagi, pasti ada sesuatu di keluar Wei yang membuatnya sakit begini. Tidak sengaja ia melihat sesuatu yang berkilauan dari salah satu bangunan yang hancur. Ia mendekati benda yang membuatnya tertarik itu. Semakin mendekat rasa sakitnya semakin hilang. Mungkin benda itu yang membuat nya sakit.


Dipungutnya sebuah kelereng merah yang berkilauan seperti berlian. Entah kenapa itu terlihat sangat indah di mata Zhen.


"Itu…" ujar Qiyu tiba tiba di pundak kiri Zhen. "Itu adalah kristal naga. Sayangnya itu belum murni. Sayang sekali." Qiyu terlihat sangat menyayangkannya. Namun dia diam diam melirik Zhen, 'Heh, dasar bocah. Kau pikir aku akan membiarkanmu memakan harta surgawi itu? Jangan harap!? Aku akan memakannya untuk diriku sendiri agar jiwaku kembali utuh. Dengan kemurnian setinggi itu aku mungkin bisa meningkatkan kekuatanku meskipun sedikit. Saat kekuatanku pulih maka kau yang pertama akan ku mak…'


Glek


'Suara apa itu?' Qiyu melirik was was melihat Zhen yang telab menelan kelereng di tangannya. "Kau, kenapa kau memakannya?" tanyanya syok.


"Ah, tanpa sadar aku menelannya…? Kau seharusnya bilang kalau mau, aku bisa membagi dua denganmu." Zhen seperti terhipnotis untuk memakannya. Jadi tanpa sadar kelereng itu sudah tertelan olehnya.


"K kau apa? ugh, lupakan saja. Sial." … 'Membaginya dua, dia pikir biskuit? Dasar bocah sialaaaann!?' Qiyu menatap keadaan sekelilingnya yang hangus terbakar. Beberapa abu hitam juga ada di mana mana. 'Sepertinya bocah ini melakukan sesuatu yang menyulut kebencian lagi. Dia, pasti akan menjadi sosok yang ditakuti semua orang. Bahkan melebihi diriku dimasa lalu.' pikirnya.


Hari ini dirinya memang sial, tapi juga beruntung. Karena saat ia mendapatkan api suci, dirinya sudah naik tingkat ke immortal.


"Heh, kau sangat berbakat menjadi penjahat." ujar Qiyu.


"Apa?"


"Lupakan, aku masih marah dengan kelereng itu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...