
Queen berjalan mendekati sahabatnya yang masih berlutut. "Hei, ayo pergi dari sini."
Seketika Willa memandang Queen dengan melotot. Karena menurutnya belum saatnya pergi, karena masih ada Raja Charlez. Dan Queen yang tak mendengar jawaban sahabatnya, ia pun memegang tangan Willa. Gadis setengah Vampir itu bermaksud menyeret Willa untuk ikut pergi.
Raja Charlez memandang ke arah Gadis setengah Vampir yang mengajak temannya untuk pergi. Ia tahu, kalau teman dari Gadis setengah Vampir itu tak ingin pergi karena akan keberadaan dirinya yang merupakan pemimpin Kerajaan Ophelia.
Raja Charlez tersenyum. Lalu ia bersuara. "Jangan pergi dulu. Aku ingin berbicara denganmu, Queen." dan benar saja, Gadis setengah Vampir itu terdiam tak jadi bergerak mengajak temannya itu.
Queen menoleh dan memandang Raja Charlez. Sedangkan Raja Charlez ia masih tersenyum memandang Queen. Terutama warna kedua matanya, biru cerah seperti kedua warna matanya. Dan mengingat ia juga merasakan ada gejolak dari dalam dirinya seperti ada hubungan ikatan antara dirinya dan Gadis setengah Vampir itu.
Raja Charlez berkata. "Aku ada keperluan denganmu."
"Ada keperluan apa padaku ? Aku bersalah ? Ingin menangkapku ? Silahkan saja, kalau kau memang bisa menangkapku." sahut Queen memandang dingin ke arah Raja Charlez.
Semua pengawal disana dan Willa yang merupakan sahabatnya Queen, mereka terkejut mendengar ucapan Queen. Salah satu pengawal Raja bersuara keras. "Dasar Mahluk rendahan. Kamu harus benar-benar dihukum karena berani menantang Yang Mulia."
Queen tersenyum menyeringai. Ia sedikit memiringkan kepalanya. "Dihukum ? Memangnya siapa yang berani menghukumku ?"
Salah satu pengawal Raja melangkah maju, dan bersuara. "Cukup, aku sudah tak tahan dengan Manusia setengah Vampir ini. Aku yang akan memberimu rasa sakit yang sebenarnya." ia tak peduli berita tentang Gadis setengah Vampir itu yang merupakan seorang Petualang yang sadis. Tidak ada salahnua ia buktikan sendiri setelah mengalahkannya.
"Benarkah ?" sahut Gadis setengah Vampir itu yang tak lain Queen. Lalu ia mengeluarkan tongkat sabitnya. Lalu ia mengarahkan senjata ke arah salah satu pengawal Raja tadi yang telah berani mengancamnya. "Kau ingin memberiku rasa sakit yang sebenarnya ?" Queen terkekeh. "Jangan konyol, luka atau rasa sakit apapun yang kuterima takkan mempu membuatku takut." lanjutnya.
Queen memutar-putar tingkat sabitnya. Tap !! Ia menghentikan putaran senjatanya yang ujung bawanya menancap di tanah. Ia memandang remeh ke arah pengawal itu. "Justru kau yang akan kubuat menderita sebelum kematianmu."
Salah satu pengawal Raja itu yang telah berani menantang Queen bernama Zeg, menarik pedangnya dari sarungnya, ia pun berlari maju, lalu ia melompat dan akan melayangkan gerakan Vertikal ke arah Gadis setengah Vampir itu.
Tang !!
Suara benturan ataran pedang milik Zeg dan sabit milik Queen.
DUGH...!!
Gerakan cepat yang dilakukan oleh Queen, ia memutarkan tubuhnya dan melayangkan tendangannya ke perut Zeg. Zeg pun terdorong kebelakang setelah menerima tendangan kuat yang dilayangkan oleh Gadis setengah Vampir itu. Zeg terdorong dan terjatuh 10 meter setelah menerima tendangan dari Queen.
Zeg mencoba untuk bangkit dan berdiri. Baru saja berdiri, ia langsung memundurkan tubuhnya dan jatuh terduduk di tanah. Ia begitu karena terkejut. Ia terkejut karena Queen sudah berdiri dihadapannya. Tentu saja membuat Zeg berfikir keras, sejak kapan Gadis setengah Vampir itu tiba-tiba sudah ada dihadapannya.
Tongkat sabitnya yang Queen genggam di tangan kanannya, ia arahkan ke tepat du depan wajah Zeg. Gadis setengah Vampir itu tersenyum menyeringai. "Kita lihat, apakah kepalamu bisa terbelah ? Atau terlepas dari tubuhmu ?"
Zeg berteriak meminta tolong. Ia terus berusaha menggerakan seluruh tubuhnya. Dan tetap saja, hasilnya percuma, tubuhnya benar-benar membeku, tak hanya itu, ia juga merasakan sangat dingin. Tanpa basa-basi lagi, Queen langsung melayangkan senjatanya. Targetnya adalah leher Zeg.
Tap...!!
Queen mengerut dahinya. Pandangan beralih ke arah sosok Raja Charlez yang berdiri dihadapan, dan menahan sabit miliknya dengan tangan kosong. Raja Charlez tersenyum, dan berkata. "Bisakah kita bicara baik-baik saja ? Lagi pula aku tidak ingin ada pertumpahan darah di wilayahku."
Queen memandang dingin ke arah Raja Charlez. Ia pun menarik senjatanya. Lalu ia memasukkan kembali senjatanya ke dalam gelang penyimpanannya. Ia menurut kata-kata Raja Charlez, bukan karena ia takut, karena entah mengapa ia menurut saja kata-kata dari sosok Raja ini.
Raja Charlez tersenyum, meski Queen tak menjawab kata-katanya, tetapi menuruti kata-katanya. Dan tatapan dingin wajah cantik dari Gadis setengah Vampir ini, ia kembali teringat akan seseorang di masa lalunya. Sosok yang sangat ia rindukan, selagi dirinya masih menjadi Pangeran Mahkota.
Parahnya entah kenapa jika Queen membuat kekacauan, ia merasa tidak tega jika ia melemparkan hukuman terhadap Gadis setengah Vampir ini. Terlebih lagi, melihat sosok Queen, dirinya seakan ingin memberinya rasa kasih sayang, seperti orang tua terhadap anaknya.
Sedangkan Zeg yang masih membeku di belakang tubuh Raja Charlez, ia bernafas lega, setidaknya ia masih bisa hidup. Lalu pengawal lainnya membantunya memecahkan Es yang mengurung tubuhnya. Kadang mereka berfikir, kenapa Raja Charlez tidak melawan atau marah kepada Gadis setengah Vampir itu.
Sementara disisi Willa, ia masih berlutut. Ia tak bisa bertindak seenaknya. Ia tak bisa berkata apapun lagi. Melihat tindakan yang dilakukan oleh sahabatnya, ia hanya bisa diam. Terkadang ia heran, kenapa sahabatnya itu bertindak tanpa beban atau dosa sekalipun, setidaknya pedulilah pada dirinya sendiri.
Tetapi yang membuat para pengawal Raja dan Willa terheran-heran bukan main adalah, sikap Sang Raja. Entah apa yang dilakukan oleh Queen, Raja Charlez tidak marah, ia terus tersenyum memandang Gadis setengah Vampir itu. Seburuk apapun yang dilakukan Queen, Raja Charlez tetap terlihat tersenyum tulus dan tidak menghukumnya.
Raja Charlez masih tersenyum dan memandang Queen yang berdiri dihadapan. "Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan aku kesini karena memiliki 2 alasan ?"
Queen mengangguk kecil. Raja Charlez kembali bersuara. "Alasan pertamaku setelah selesai. Dan sekarang alasan keduaku, yaitu aku ingin berterimakasih padamu karena telah menghancurkan segel yang menyegel Benua ini."
Queen menjawab. "Tetapi maaf sekali Yang Mulia Raja, aku tidak melakukan apapun. Sebenarnya yang melakukan itu hanya Peter. Bahkan aku tak membantunya sama sekali."
Raja Charlez memegang dagunya dan mengangguk-angguk kepalanya, ia terlihat berfikir. Lalu ia kembali memandang Queen. "Jadi, kemana Peter ?"
__________________
Jangan Lupa Like.