
Pria bernama Albert membeku mendengar ucapan Gadis setengah Vampir itu. Dia memandang tajam ke arah Queen. Baru kali ini ia direndahkan oleh seorang Gadis. Biasanya gadis-gadis dari semua kalangan, entah dari kalangan Bangsawan dan biasa, selalu memujinya. Bahkan ada yang rela jatuh ke pelukannya.
Rupanya Albert tidak sendirian, ia datang bersama beberapa pengawalnya. 4 pengawal yang ia bawa terlihat marah karena tak terima tuannya diremehkan. Ketika mereka akan maju untuk menegur Gadis setengah Vampir itu, Albert mengangkat tangannya, menandakan untuk tidak bergerak, dan tetap di tempat.
Albert memandang marah, ia pun membentak. "Lancang kamu. Kamu berani berkata seperti itu kepadaku yang merupakan seorang Bangsawan. Apa kamu sudah tidak sayang nyawa, hahh...?!!"
Willa terkejut mendengarnya. Ia terkejut bukan karena takut akan ancaman Pria itu, tetapi ia terkejut karena Pria yang bernama Albert itu berani membentak sosok Vampir yang Gila dan Sadis. Sedangkan Queen yang mendengar bentakan Albert, ia menoleh kepalanya, ia memandang Albert yang berdiri di hadapannya.
Gadis setengah Vampir itu sedikit memiringkan kepalanya, kedua matanya memandang dingin ke arah Albert. "Apakah kamu sungguh berani mengancamku ? Atau ancamamu itu hanyalah gertakan saja ?"
Albert tersenyum menyeringai. Lalu ia berkata. "Apa kau takut ? Tentu saja aku tak pernah bermain-main dengan kata-kataku."
Queen tak menjawab, ia masih memandang dingin ke Pria itu. Albert tersenyum remeh, ia kembali bersuara. "Kamu diam 'kan ? Kau tau, kau tak perlu melawan. Kau kira kau takut padamu mengingat kamu adalah Manusia setengah Vampir ?."
"Hei..., Manusia setengah Vampir sepertimu itu memang ada dan bukan Mahluk Mitos, jadi untuk apa takut sama cerita karangan yang telah dibuat oleh Raja terdahulu." tambahnya.
Gadis setengah Vampir itu masih diam duduk di batu besarnya. Ia masih memandang dingin ke arah Albert yang terlihat sudah berani padanya. Lagi-lagi Albert berkata. "Sungguh mengecewakan, padahal aku datang bermaksud melamar kalian berdua menjadi istriku."
Willa melotot, dan Queen masih memasang wajah datarnya dan tatapan dinginnya. Albert berbicara lagi. "Sudah jelas, sikap Manusia setengah Vampir ini, membuatku terpaksa menjadikan kalian berdua budakku. Tak hany...."
Grep...!!
Ucapan Alber terpotong, tiba-tiba sebuah tangan mencekiknya dan mengangkatnya. Queen memandang tajam ke arah Pria yang ia cekik ini. Ia tersenyum menyeringai. Mata kirinya pun berubah merah menyala. "Kata-katamu sungguh menyebalkan. Aku penasaran, bagaimana bisa kedua orang tuamu membuat anak menyedihkan sepertimu."
Ke-4 pengawal milik Albert yang akan maju menolong, Willa sudah lebih maju dan berdiri menghadangi mereka. Kedua matanya juga sudah berubah merah menyala. Ia juga sudah mengeluarkan pedangnya, dan ia siap dalam posisi kuda-kuda. Mengingat Willa salah satu Petualang Rank A, dan mengingat salah satu kemampuan Ras Vampir adalah kecepatan, mereka tak berani, dan memilih sikap waspada dalam diam.
Albert panik tak main. Lehernya benar-benar terasa sakit. Ingin sekali berbicara dan meminta Gadis setengah Vampir ini melepasnya, tetapi percuma, cengkraman di lehernya benar-benar membuatnya kesulitan mengeluarkan kata-kata, bahkan ia sangat kesulitan bernafas. Wajahnya pun memerah.
Beruntung, di taman itu sangatlah sepi, karena lokasinya yang memang di pinggir Kota Kerajaan. Jarang ada pengunjung yang datang, kalau pun datang mereka hanya untuk mencancing. Ya, karena taman ini memiliki sungai.
Jadi sudah pasti taman yang sepi tak pernah dikunjungi, tetapi memiliki sungai yang banyak ikannya. Sudah pasti kalau pengunjung yang datang hanya untuk memancing ikan. Kalau disisi Queen, meksi taman itu sepi, ia tetap tak peduli bila ada pengunjung memperhatikannya.
Gadis setengah Vampir itu tersenyum lebar melihat Pria yang ia cekik ini. "Kamu kira, dengan hancurnya segel di Benua ini dan terungkapnya rahasia, kau terang-terangan berkata seperti itu padaku ? Hei.., pria manja, hal itu akan terpengaruh padaku. Tentu saja tidak, aku tetaplah Queen Blue, yang tak pernah memberi rasa kasihan kepada musuhku."
Queen sedikit menunduk, tangan kanannya mencengkram dagu Albert. "Lihatlah pria ini. Kau benar-benar terlihat menyedihkan."
Plak...!!
Tangan Queen ditepis oleh Albert. Bahkan hal itu membuat Queen membeku. Albert segera berdiri. Ia memadang wajah marahnya. "Kau akan menerima balasanku karena telah berani...."
Grep...!!
"Kau tau ? Aku paling benci dengan Pria semacam dirimu yang sudah berani padaku." ucap Queen dingin, kedua matanya melebar.
Albert berusaha melepaskan cengkraman di wajahnya. Ya, Gadis setengah Vampir itu memotong kata-kata Albert, dengan langsung mencengkram wajahnya. Cengkraman Queen semakin kuat. Queen berkata. "Jujur saja, aku sangat ingin darah Manusia, terapi aroma darahmu sangat tidak enak."
"Aku jadi ragu, kamu beneran seorang Bangsawan ?" tambahnya. Ya, Queen merasa ragu, pasalnya aroma darah Pria ini tidaklah enak.
Queen melemparnya. Albert terjatuh dan berguling. Queen mengeluarkan tongkat sabitnya. Ia berjalan mendekati Pria itu. Ke-4 pengawal Albert tak bisa membantu, pasalnya Willa masih berdiri menghalangi mereka. Tepatnya ia menggunakan Sihir Apinya, Apinya melingkar dan mengurung mereka di tengah-tengahnya.
Kembali disisi Queen yang berdiri menatap dingin ke arah Albert yang bangkit untuk berdiri. Albert menarik pedangnya dari sarungnya, lalu mengarahkannya ke arah Queen. "Kalau kau macam-macam padaku, kupastikan kau akan menjadi buronan."
Queen sedikit memiringkan kepalanya, ia tersenyum menyeringai. "Buronan ? Tidak buruk juga. Justru aku ingin ada lawan yang sebanding denganku. Lagi pula, di Wilayah ini belum ada orang yang bisa mengalahkanku."
Queen bergerak maju, dalam 1 langkah saja, ia sudah langsung dihadapan Albert dalam jarak setengah meter saja. Albert kembali terjatuh dan terduduk di tanah karena kaget bukan main. Ia gemetaran ketakutan. Albert yang awalnya percaya diri, kini ia sadar, kalah ia telah berurusan dengan orang yang salah.
Seharusnya Albert tidak termakan pemikirannya sendiri. Pasalnya setelah segel yang menyegel semua rahasia di Benua Arran, ia manjadi percaya diri. Mengingat akan fakta tentang Manusia setengah Vampir itu benar-benar ada, jadi ia berfikir, mereka tidaklah berbahaya dan tak perlu ditakutkan.
Ditambah mengingat kalau Raja terdahulu menganggap rendah terdapat Ras Campuran, jadi tak masalah bila ia menginginkan sosok Queen. Dan nyatanya pemikiran Albert salah, kalau sosok Gadis setengah Vampir yang ada di hadapan ini benar-benar berbahaya.
Gadis setengah Vampir itu masih tersenyum dan seringainya. "Wah, lihatlah dirimu. Kamu gemetaran. Hahahahaha." ucapnya lalu tertawa.
__________________
Jangan Lupa Like.