
Semua warga di Desa Harun kini tengah berbahagia, bahagia bukan hanya karena mengetahui masa lalu tentang sejarah Benuanya saja, tetapi mereka juga sangat senang karena Desa mereka telah aman dan bebas dari ke-6 bandit sesat. Mereka berencana akan mengadakan pesta untuk merayakan kedua hal itu.
Queen dan Willa diajak, tetapi mereka berdua menolak, dengan alasan mereka harus kembali ke kota Kerajaan secepat mungkin. Beberapa Petualang pun juga karena mereka bebas, mereka memilih untuk ikut merayakan pesta di Desa Harun sebelum pulang ke Kota Kerajaan Ophelia.
.....
Setelah lama berlari pergi dari Desa Harun, Queen dan Willa memilih berhenti untuk beristirahat sejenak. Mereka berdua duduk bersebelahan di salah satu dahan pohon kering besar yang tergeletak di tanah. Disini Willa telah tersadar setelah mendapat efek hancurnya segel. Willa bercerita tentang ingatan sejarah Benua Arran yang sebelumnya tiba-tiba muncul di kepalanya.
Mendengar Willa bercerita, Queen terdiam, dalam harinya, ia berkata. "Sepertinya Peter telah menghancurkan segel itu. Apa dia sudah pergi dari Dunia ini ?"
Lalu Queen menyadari sesur. "Kalau memang Ras Campuran itu ada, jadi siapa orang tua dari pemilik tubuhku ?" katanya dalam hatinya bertanya-tanya.
Queen tersadar ketika Willa memanggilnya. "Queen, menurutmu siapa yang telah menghancurkan segel itu ?"
"Peter." jawab Queen, pandangan datar ke arah depan.
Willa yang duduk di sebelah Queen, mengerut dahinya. "Peter ? Siapa dia ?"
Queen menghela nafasnya, lalu ia menjawab. "Dia adalah seorang laki-laki dari Ras Manusia. Dia datang dari Dunia Lain. Dan dia juga anggota party kita."
Willa terbelalak. "Dia bukan dari Dunia ini, sama sepertimu ?"
Queen menganggukkan kepalanya. Willa tersadar. "Tunggu !! Dia juga anggota party kita ?"
Queen menganggukkan kepalanya lagi. Willa kembali bertanya. "Dia Ras Manusia ? Dan Kamu yang menerima dia masuk ke party kita ?"
Queen menganggukkan kepalanya. Willa menyipit kedua matanya dan memandang Queen yang pandangan terus ke arah depan tanpa menatapnya. "Apa kamu serius ? Dan dia yang telah menghancurkan segel itu ?"
Queen menghela nafasnya. "Ya. Dia yang melakukannya. Mungkin dia Manusia, dan usia belum sampai 20 tahun, Tapi dia jauh lebih kuat dariku."
Willa tersenyum melihat sahabat ini. "Ceritakan semuanya, Queen. Apa yang aku lewarkan saat aku pulang kampung ?"
.....
Sementara Disisi Lain, Peter berhenti setelah ia berlari hampir 1 jam. Ia masih di dalam hutan. Hutan itu juga masih masuk di wilayah Kerajaan Marigold. Peter memilih duduk santai di sebuah dahan pohon yang sudah terbaring kering di tanah. Hari masih siang, dan akan mendekati sore.
"Haaacuuuuhhhh....!!"
Tiba-tiba Peter bersin. "Siapa yang membicarakan aku ya ?"
Ia pun menepis pikirannya. Laki-laki muda itu merasa perutnya sudah lapar. Peter mengeluarkan sebuah potongan daging dari cincin penyimpanannya. Potongan daging itu adalah daging hewan kelinci hutan yang ia buru beberapa hari yang lalu. Kebetulan, didekatnya ada sebuah aliran sungai yang jernih.
Peter membersihkan dagingnya dan setelah ia mencari mencari ranting-ranting kering untuk dibakar. Setelah selesai mengumpulkanya, ia kembali ke tempat semulanya. Bumbu seadanya. Lalu ia membakar daging kelincinya.
.....
Beberapa lama kemudian, Peter bangkit dari duduknya. Ia telah selesai mengisi perutnya. Ia menatap langit yang sudah menandakan hari telah sore. "Rasanya betah sekali tinggal di Dunia ini. Tapi mau gimana lagi, aku tak bisa egois untuk tetap tinggal di Dunia ini."
Peter bergumam sambil memandang langit. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Peter memilih diam dan tetap memandang ke arah langit, karena ia bisa merasakan hawa kehidupan selain dirinya di hutan saat ini.
Peter tetap diam tak berbalik. Dan terdengarlah suara yang sangat tidak asing di indra pendengarannya. "Bagimana ? Kamu berhasil membujuknya ?"
Pandangan Peter menurun, ia menghela nafasnya. "Maafkan aku senior. Misi ini, aku terlalu bawa perasaan." ucapnya sambil membalikkan tubuhnya.
Ya, sudah dugaannya. Dihadapan sekarangnya ini adalah seniornya. Dia laki-laki berwajah asia dan tampan seperti Peter. Dia masih terlihat muda, dia memiliki rambut gondrong yang panjangnya hampir menyentuh bahunya. Dia berpakaian hitam. Ia memiki lengan kiri yang tebuat dari logam terkuat.
Dia berkata membalas kata-kata Peter sambil tersenyum. "Itu hal yang wajar bila kamu memiliki perasaan dengan lawan jenismu. Secara kamu masih muda, itu tak masalah."
Peter menjawab. "Rasanya percuma membujuk Queen untuk ikut. Awalnya aku tak menyangka kalau Gadis itu disebut Gila. Tetapi, ketika melihatnya dia sudah turun tangan, ia tidak segan-segah membunuh lawannya dengan sadis."
Laki-laki yang disebut senior oleh Peter, dia terkekeh. Lalu ia bersuara. "Jadi bagaimana ? Setelah kamu repot-repot berurusan dengan sesuatu hal yang tak masuk akal di Dunia ini, apa kamu ingin tetap pergi dan meninggalkannya ?"
Peter menjawab. "Ya, lagi pula aku ini hanyalah orang asing dimatanya."
"Mungkin kamu asing dimatanya, tetapi bagaimana bila kehadiranmu tidak asing di hatinya ?" balasnya sang senior.
Peter tersenyum. "Itu tidaklah mungkin. Mau bagaimanapun, aku tidak bisa memaksa seorang perempuan."
Sang senior memandang Peter dengan tegas. "Secara pribadi, aku tak bisa menyalahkanmu, bila kamu tak bisa menjalankan tugas yang diberikan oleh senior Reyhan dan Pak Tua karena kamu terbawa perasaanmu."
Lalu ia menambahkan. "Tetapi kamu sudah berjuang keras untuk Dunia ini, meski itu bukan tugas yang seharusnya tidak kamu lakukan. Disamping itu, kamu memiliki perasaan kepadanya."
"Jadi, aku harus bagaimana ?" tanya Peter sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sang Senior menjawab. "Tidak ada salahnya jamu mengutarakan perasaanmu. Meski itu tidak mudah."
Peter menoleh memandang Seniornya. "Aku tidak bisa."
"Jadi, kamu tetap pergi setelah berpamitan dengannya ?" tanya Sang Senior.
Peter mengangguk kepalanya. "Senior Sean, aku telah gagal menjalan tugas. Aku gagal membujuknya karena aku terbawa perasaan."
Senior yang bernama Sean membalas kata-kata Peter. "Hei, bukankah kamu betah disini ? Tinggal kamu ubah saja tugasmu. Ungkapkanlah perasaanmu. Bujuklah dia. Setelah kita semua menyelesaikan misi, kamu bisa hidup bersama-sama disini."
Peter memandang bingung kepada Sean. Laki-laki berlengan logam di kiri itu berkata. "Dari mana aku tau ? Tentu saja karena selama kamu disini, aku, Senior Reyhan, dan Pak Tua terus mengawasimu dari sana."
Peter tak menjawab. Sean kembali bersuara. "Aku masih mewajari sifatmu yang terlalu berlebihan. Secara kamu masih dalam tahap puber. Itu tak masalah, semua orang pasti mengalaminya."
Sean memijit pelipisnya. Ia menghela nafasnya. "Hahh..., sebenarnya apa yang kita bicarakan ya ? Kita malah membahas yang terlalu penting. Sebenarnya aku datang hanya untuk memastikan kondisimu. Sebagai senior, pasti khawatir keadaan juniornya."
__________________
Jangan Lupa Like.