VAMPIRE | Queen Of Psychopath

VAMPIRE | Queen Of Psychopath
BAB 48



Semua orang-orang yang tinggal di Desa Miran senang, karena Monster yang mereka anggap Naga telah mati. Semua warga yang tadinya memilih pindah tempat tinggal, mereka pun kembali ke rumah mereka yang di dekar pantai. Entah percaya atau tidak kalau mahluk Naga air itu sudah dikalahkan bahkan mereka sampai membela-bela pergi ke tepi pantai untuk melihat mayat Monster itu. Tak hanya itu, semua warga desa mengadakan pesta besar-besaran atas kematian Monster itu. Dan juga, mereka semua menganggap pesta itu sebagai ucapan selamat kepada si Pembunuh Naga Air.


Tetapi kenyataannya ia tak datang ke pesta itu dengan alasan kalau dirinya lelah. Meski Master Guild membujuk Queen, tetapi Gadis setengah Vampir itu tak mau datang, dan memilih ingin menghabiskan sehariannya di dalam kamar inapnya. Ya, seharusnya Peter yang mendapat julukan 'Pembunuh Naga Air'. Namun Peter menolak, ia menyerahkan julukan itu kepada Queen sebagai 'Pembunuh Naga Air', dan juga sebagai hadiah perminta maaf karena telah berani menyebutnya nenek-nenek.


Sebenarnya Gadis setengah Vampir itu tak tertarik dengan julukan itu, baginya yang terpenting adalah bukti atau bagian kecil dari tubuh dari Monster itu, tak lain adalah potongan Gigi yang diberi oleh Peter. Tetapi laki-laki itu memaksa dengan rasa bersalah, bahkan sampai berlutut sambil meminta maaf. Entah itu kesungguhan Peter, atau ada maunya. Mau tak mau Queen menerima julukan itu. Peter pun mengumumkan kalau Gadis setengah Vampir itu adalah sosok yang sudah membunuh Naga Air.


Sebenarnya tanpa ada yang tau, termasuk Queen sendiri, Peter bersungguh-sungguh apa yang ia lakukan. Maka dari itu, ia merasa bersalah atas masalah sebelumnya, sehingga membuat Queen marah besar, bahkan hampir membuat Peter kewalahan. Saat dimana Peter mengatakan diri Queen adalah nenek-nenek, Gadis setengah Vampir itu langsung memeluk, mengunci tubuh Peter dengan kedua tangan dan kedua kakinya dan, ia langsung menggigit leher laki-laki muda itu.


Tentu saja, hal itu membuat Peter panik mendapat serangan yang tak terduga, tak hanya lehernya digigit, darahnya juga dihisap. Sebenarnya dalam segi kekuatan, Peter lebih unggul, hanya saja mendapat serangan dadakan, membuat ia terkejut dan panik sehingga tak bisa kesulitan memberi perlawanan kepada Gadis setengah Vampir itu. Ditambah darahnya dihisap, sehingga membuat tubuh laki-laki muda itu sedikit lemas.


Dengan terpaksa, ia masuk ke dalam Mode Petirnya sehingga itu membuat Queen kejang-kejang dan melepaskannya. Mungkin luka yang didapat Queen cukup parah. Tetapi mengingat kalau Gadis setengah Vampir itu memiliki kemampuan regenerasi, itu tak membuat Peter khawatir, hanya saja akibat perbuatannya itu membuat Queen itu pingsan berjam-jam, dan siuman di Sore harinya.


Awalnya Peter sudah khawatir jika dirinya menjadi Vampir, tak ingin munafik, karena dirinya tak ingin menghilangkan sisi kemanusiaannya. Tetapi mengingat info tentang Vampir di Dunia D-10 berbeda dengan sejarah Vampir di Bumi asalnya. Yang dimana seseorang akan menjadi Vampir bila terkena gigitan Vampir. Tetapi di Dunia D-10 sungguhlah berbeda, yang dimana seseorang akan menjadi Vampir bila meminum darah Vampir.


Disamping itu, di dalam pesta, sosok 3 laki-laki yang merupakan korban Queen, seakan dilupakan oleh semua warga. Mereka tak lain Gorgon dan kedua anak buahnya (Ran dan Ron). Mereka bertiga memang selalu membuat masalah, buktinya ketidakhadiran mereka, semua warga Desa Miran tak menyadarinya. Memang terbukti keberadaan mereka bertiga adalah sebuah ganggaun.


.....


Keesokan Harinya, di pagi hari. Queen berpamitan kepada semua warga Desa Miran, ia memutuskankan untuk kembali ke Kota Kerajaan Ophelia. Ia tak sendirian, Peter mengikutinya. Mereka kini tengah berjalan berdua di dalam hutan.


"Apa kau yakin mengikutiku ?" tanya Queen berjalan tanpa menoleh. Pandangan terus memandang ke arah depan.


Peter, sosok laki-laki muda itu yang berjalan disampingnya. "Tentu saja, aku penasaran dengan Kota Kerajaan Ophelia itu."


Queen melirik ke Peter. Laki-laki muda itu mengenakan jubah hitam miliknya. Ya, Gadis setengah Vampir itu tak mau Peter jadi pusat perhatian karena model pakaian yang dipakainya layaknya pria Bumi abad ke-21. Tiba-tiba Queen berlari cepat meninggalkan Peter.


Peter yang melihatnya, ia tersenyum. Ia pun juga berlari menyusul Gadis itu. Dan benar saja, tak butuh 1 menit, Peter kini berlari disampingnya. Kecepatan milik laki-laki muda bisa mengimbangi kecepatan gerakan lari milik Queen.


"Kau takkan tertinggal olehku, secara kecepatanmu sebenarnya jauh lebih cepat dariku." balas Queen dingin yang pandangannya terus ke arah depan.


Peter terkekeh mendengarnya. Ya, kecepatan gerakan lari mereka kini berada di 100 km/jam, dan Peter mulai memperhitungkan lamanya mereka dalam perjalanan. Ia bergumam. "Kalau dalam kecepatan segini, mungkin kurang lebih 30 jam sampai di wilayah Kerajaan Ophelia jika terus berlari tanpa istirahat."


Peter melirik Queen yang masih berlari dan pandangan terus ke arah depan. Ia sedikit tersenyum kecil. Ya, ia akui kalau dirinya mulai tertarik dengan Gadis setengah Vampir ini. Sebelumnya, di Dunia asalnya ia tak pernah tertarik dengan lawan jenisnya. Sebelum dirinya bertemu dengan Queen, ia sudah diberi peringatan kalau Gadis setengah Vampir ini sungguh Gila.


Ternyata sosok Gadis setengah Vampir ini tak sesuai dengan bayangannya. Peter menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia terlalu banyak berfikir memikirkan Queen. Ia pun mengingat kalau dirinya memiliki misi untuk mengajak Gadis setengah Vampir ini.


.....


Hari telah siang. Sudah lebih 5 jam mereka berlari menulusuri hutan. Queen dan Peter berhenti sejenak. Awalnya mereka istirahat sejenak, tetapi ketika akan melanjutkan perjalanannya tiba-tiba ada 4 orang Ras Manusia yang menghalangi mereka, ya ke-4 Manusia itu adalah bandit. Dengan mudahnya Queen dan Peter mengalahkannya.


Dan kini Peter, ia terduduk lemas sambil menahan rasa mual. Awalnya ia membuat mereka ber-4 mati tanpa rasa sakit, tetapi dihalangi oleh Queen dan membiarkan ke-4 bandit itu sekarat. Dan sekarang, salah satu dari mereka di siksa oleh Queen. Jujur saja, Peter tak pernah membunuh seperti itu. Biasa yang ia lakukan saat membunuh, ia tinggal bunuh tanpa harus membongkar isi tubuh musuhnya.


Kini Gadis setengah Vampir itu tengah asik membelah dada salah satu dari ke-4 bandit hingga mati. Tanpa ragu ia mengambil jantung, lalu menggigitnya dan menghisap darah di dalamnya. Peter yang terduduk lemas tak jauh dari Queen, ia berkomentar tanpa melihat aksi sadis dari Gadis setengah Vampir itu. "Aku sungguh tak kuat melihatnya, Queen."


Queen membuang jantung bandit itu, lalu ia berjalan mendekati salah satu bandit yang terlihat sekarat. Ia membalas dengan ekspresi datar. "Kamu harus terbiasa melihatku seperti ini bila kamu terus mengikutiku."


"Tak bisakah kamu tinggal menggigit lehernya, tak perlu sampai membelah tubuhnya ? Setidaknya mereka dibunuh tanpa rasa sakit." kata Peter bertanya dan memberi masukan.


Queen yang sudah berdiri di depan salah bandit sekarat, ia menoleh memandang Peter yang jaraknya mungkin 10 meter darinya. Ia tersenyum memandang laki-laki muda itu. "Membunuh tanpa rasa sakit ? Itu membosankan."


__________________


Jangan Lupa Like.