
Queen berdiri memandang ke-3 bandit yang juga tak berdiri tak jauh dari hadapannya. Ke-3 bandit itu mempelihatkan sifat-sifat yang menurut Gadis setengah Vampir itu menjijikan. Mereka ber-3 memandang Queen dengan tatapan nafsu. Mereka memandang Queen darj atas dan bawah sambil menjilat bibir atas dan bawahnya.
Queen tersenyum menyeringai. Salah satu bandit bersuara. "Kenapa kau tersenyum, Nona ? Apa kau sudah pasrah karena tak bisa melarikan diri dari kami ?"
Gadis setengah Vampir itu tidak menjawab. Ia mengeluarkan tongkat sakitnya dari gelang penyimpanannya. Bersamaan, mata kirinya berubah merah menyala, semua kuku tangannya dan keempat gigi taringnya memanjang. Dan tentu saja, melihat perubahan pada diri Queen, ke-3 bandit itu terdiam membeku.
Bahkan salah satu yang merupakan pemimpinnya, berdiam berdiri gemetaran melihat sosok Queen yang sebenarnya. Parahnya, kedua anak buahnya langsung menjatuhkan pantat mereka di tanah. Mereka berdua terduduk gemetaran ketakutan melihat Queen yang tersenyum pada mereka. Yang awalnya mereka meremehkan Gadis incaran mereka, kini mereka terlihat pengecut ketika melihat sosok asli dari Gadis itu.
Ya, mereka sangat tau cerita tentang mahluk mitos, ditambah mendengar berita tentang keberadaan mahluk mitos itu beneran ada dan tinggal di Kota Kerajaan Ophelia. Mereka juga mendengar tentang Mahluk itu sangatlah sadis ketika akan membunuh lawannya. Mereka sudah memiliki Visi, yaitu jangan pernah mencoba bertemu atau melawannya. Namun kini, Mahluk itu berdiri di hadapan mereka.
"Ada apa dengan kalian ? Kenapa kalian malah jadi takut ? Ayolah, permainan belum dimulai." ucap Queen sambil tersenyum, sambil memutar-putar senjatanya.
Mereka ber-3 membisu, terdiam gemetaran di tempat mereka. Queen yang melihat itu, memutar bola matanya seakan ia merasa bosan. Karena ketidaksabarannya, ia maju tanpa ragu. Slaashhh...!! Slaashhh...!!
2 kepala pun mengelinding menjauhi tubuhnya. Ya, Gadis setengah Vampir itu menebas 2 bandit yang terduduk di tanah. Kini tinggallah 1 bandit lagi, yang tak lain adalah pemimpinnya. Queen memperhatikan kedua mayat yang telah ia tebas.
Queen itu memasang wajah jijik sambil mengarahkan tongkat sabitnya ke arah pemimpin bandit. "Kapan terakhir kalian mandi ? Tadinya aku ingin meminum darah mereka berdua. Tapi aromanya menjijikan. Aku berani bertaruh kalian tak pernah mandi membersihkan diri kalian."
Pemimpin bandit tersadar. Kali ini ia bertekad untuk tidak takut. Mendengar kata-kata dari Gadis setengah Vampir itu, ia merasa dihina, tentu saja ia marah. Memang dirinya serta kelompoknya tak pernah mandi, tetapi itu karena ajaran kepercayaan mereka untuk tidak mandi sebelum melakukan persembahan.
Pemimpin bandit mengangkat kapak besarnya. Ia mengarahkan senjatanya itu ke arah Gadis setengah Vampir itu. "Aku sudah tak peduli kau adalah Manusia setengah Vampir atau tidak. Berita yang mengatakan bahwa kau adalah Mahluk yang kejam, mungkin itu hanyalah omong kosong."
Lalu ia menambahkan. "Kedua anak buahku yang sudah kau bunuh ini, mungkin pikiran mereka sudah terpengaruh oleh berita tentangmu. Jadi mereka lengah karena termakan berita yang omong kosong."
Queen terkekeh. Lalu ia menjawab. "Sebenarnya aku tidak peduli dengan orang-orang menyebut diriku adalah Mahluk yang kejam. Aku membunuh dan meminum darah musuhku, karena memang musuhku sudah lebih dulu berani mencari masalah denganku."
"Dan mungkin ketika terdesak, mau tak mau, aku menghisap darah siapapun." tambahnya.
Hap...!!
Pemimpin bandit melompat maju ke arah Queen tanpa ragu. Sedangkan si Gadis setengah Vampir, ia terdiam saja. Ia hanya menampilkan senyuman seringainya. Jarak mereka dekat, semakin mendekat, dan semakin lebih dekat lagi. Dan.....
Slaassshh....!!
Pemimpin bandit itu pun melewati Queen bergitu saja. Sedangkan Queen yang masih berdiri diam membelakangi lawannya, ia hanya terkekeh. Tiba-tiba pemimpin bandit itu terjatuh, dan bersamaan kepala bandit itu terlepas dari tubuhnya. Ya, menggunakan tongkat sabitnya, Queen juga melakukan gerakan cepat untuk menebas ketika lawannya dekat dengannya.
Aroma tubuh dari lawannya benar-benar sangatlah tidak sedap. Sampai-sampai Queen menjepit hidungnya. "Dasar gembel. Setidaknya menjadi bandit tuh mandi. Bau banget badan mereka."
Lalu Gadis setengah Vampir itu mengarahkan tangan kanannya ke arah mayat pemimpin itu. Ia menggunakan Sihir Esnya untuk membekukan mayat lawannya itu. Lalu ia juga menggunakan Sihir Esnya ke arah 2 bandit yang ia lawan sebelumnya. Ia membeku mayat mereka, karena ia tak tahan dengan aroma tubuh mereka.
"Lebih baik darah Hewan Hutan ketimbang Darah dari Gembel kalian." ucap Queen, lalu ia pergi dari tempat itu.
.....
Sementara Disisi Willa, ia tengah bertarung melawan ke-3 bandit lainnya. Willa masih dalam mode normal, ia tak menunjukkan jati Vampirnya. Masing-masing dari ke-3 bandit itu memegang senjata tombak, kapak, pedang. Dengan pedang katana miliknya, Willa masih mempu melawan mereka. Tetapnya, dirinya lebih unggul dari mereka bertiga.
Willa tak mendapatkan luka. Ia berhasil memberi luka sayatan ke masing-masing ke-3 bandit itu. Ke-3 bandit itu terlihat kelelahan. Dari wajah mereka, terlukis kalau mereka seakan pasrah bika kalah. Willa tersenyum melihat itu. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya terganggu.
Ya, tepatnya indra penciumannya terganggu. Entah sial atau bagaimana, karena terlahir sebagai Ras Vampir, mereka terlahir memiliki keistimewaan, salah satunya indra penciumannya yang cukup tajam.
Willa mencium aroma busuk di tempat ia bertarung. Ia bergumam. "Kenapa tiba-tiba ada bau busuk disini ?" Meski begitu, Willa tetap fokus bertarung.
Setelah beberapa lama kemudian, pertarungan Willa terhenti, setelah ia berhasil membunuh 1 bandit. Kini tinggal tersisa 2 bandit lagi. Dan sekarang aroma busuk yang ia cium, semakin pekat. Ia melirik sekelilingnya. Tak ada yang curiga di pandangannya.
"Kenapa semakin bau sekali tempat ini ?" batinya bertanya-tanya.
Willa memandang ke-2 bandit yang tersisa. Mereka terlihat terluka parah, nafas mereka terengah-engah. Pakaian mereka sudah basah karena keringat. Dan ada noda darah juga. Meski mendapat luka banyak, mereka masih saja kekeh berdiri dan bertarung.
Lalu Willa meneliti sekelilingnya. Ia masih tak menemukan sumber aroma busuk yang tercium di indra penciumannya. Gadis Vampir itu menyadari sesuatu. Ia memandang ke-2 bandit itu. Ia bergumam dalam hatinya. "Apa mereka tidak pernah mandi ?" sambil melempar tatapan dinginnya ke arah ke-2 bandit itu.
Willa yang merasa sudah tidak tahan di tempat ia bertarung, ia mulai menunjukkan jati dirinya. Kedua matanya berubah merah menyala, semua kuku di kedua tangannya, dan keempat gigi taringnya memanjang.
Gadis Vampir itu mulai serius untuk menghabisi ke-2 musuhnya. Tentu saja melihat perubahan pada Willa membuat ke-2 bandit itu terdiam membeku. Saat Gadis Vampir itu akan maju untuk menyerang, tiba-tiba terjadi gunjangan yang cukup besar di tempat itu.
__________________
Jangan Lupa Like.