
Queen membeku, dengan kedua matanya yang melebar melihat sosok Gadis Vampir yang tak lain adalah sahabatnya. "Willa, kau 'kah itu ? Kenapa kau disini ?" tanyanya sambil menutup pintu dengan rapat.
Willa yang terlihat yang juga terkejut melihat sahabatnya. Ia berdiri tak jauh dari Gadis setengah Vampir itu. Willa mengerut dahinya. "Kau juga, Queen. Kenapa kau juga kenapa ada disini ?"
"Aku mengambil misi, yang misinya untuk mencari tau apa yang telah terjadi dengan desa ini. Dan juga misi ini tidak lengkap, dan sudah ada beberapa Petualang yang mengambil misi ini, tapi tak pernah kembali setelah datang ke desa ini. Jadi, aku penasaran dengan misi ini. Lagi pula bayarannya lumayan." jawab Queen menjelaskan.
Lalu Queen bertanya kepada Willa. "Kamu sendiri, kenapa bisa ada di Desa ini ? Bukankah seharusnya kamu sedang pulang kampung ?"
Willa menghela nafasnya, lalu ia menjawab. "Saat itu aku sedang dalam perjalanan berangkat kembali ke kota Kerajaan bersama yang lainnya, aku tak sengaja melihat sekelompok bandit. Karena penasaran, aku menyuruh yang lainnya untuk berangkat lebih dulu. Karena aku memutuskan mengikuti sekelompok bandit ini."
Queen mengangguk-angguk. Willa pun juga menjelaskan, bahwa dirinya lebih dulu bersembunyi di rumah ini untuk mengamati ke-6 bandit tersebut lebih dekat. Ia bersembunyi di dalam sebuah kamar kosong dengan sempurna. Willa mendengar pembicaraan para bandit itu yang telah berhasil membawa rampasan mereka.
Beruntung, Mereka semua rupanya Ras Manusia, jadi mereka tak bisa merasakan hawa keberadaan Willa, atau mencium aromanya. Bisa dikatakan, mereka ber-6 masih belum bisa menggunakan Sihir mereka masing-masing untuk mendeteksi keberadaan seseorang. Ketika ke-6 bandit itu keluar dari rumah, setelah terdiam sedikit lama, ia pun juga keluar dari persembunyiannya.
Tak terduga, sahabat itu masuk rumah dan akhirnya mereka pun bertemu. Willa menjelaskan, ternyata ke-6 bandit itu masuk ke dalam rumah rupanya hanya untuk berbagi rampasan mereka. Willa menjelaskan, kalau mereka sedang membicarakan rencana selanjutnya. Yaitu melakukan persembahan.
Yang dimana mereka membicarakan sudah waktunya mempersembahkan semua warga Desa Harun dan beberapa Petualang yang mereka tahan. Queen pun mengerti, kenapa Desa Harun sepi, dan beberapa Petualang yang datang sebelumnya tak pernah kembali.
Ada kemungkinan mereka dijadikan tahanan untuk dijadikan persembahan. Lalu Queen menyimpulkan, kalau misi yang ia ambil ini bisa jadi salah satu para bandit itu menyamar menjadi salah satu warga Desa Harun dan meminta bantuan kepada Guild Petualang untuk mengirim Petualang.
"Jadi pertanyaannya, kenapa mereka melakukan hal-hal yang tidak berguna ?" gumam Queen bertanya-tanya.
Willa yang mendengar gumaman sahabatnya itu, ia pun bertanya. "Hal yang tidak berguna ?"
Queen menjawab. "Ya, bagiku melakukan persembahan adalah sesuatu yang sia-sia. Buat apa mereka lakukan itu ? Mereka ingin memiliki harta berlimpah dengan cara seperti itu. Apa mereka ingin abadi ? Jadi mereka ingin melakukan persembahan ? Cih, kepercayaan yang menyedihkan."
Willa terkekeh mendengar kata-kata Queen. Lalu ia bersuara. "Jadi bagaimana, Queen ? Kamu sudah mengambil misi ini, secara aku pun juga pasti ikut menjalankan misi ini ?"
Queen menjawab. "Tentu saja menghancurkan mereka. Jangan sampai ajaran sesat mereka tersebar meluas." Willa mengangguk kepalanya setelah mendengar jawaban sahabatnya.
Mereka berdua pun segera keluar, dari rumah itu. Baru saja membuka pintu, mereka sudah dikejutkan kehadiran ke-6 bandit itu. Mereka ber-6 sudah berdiri di depan rumah itu. Mereka terlihat santai, dan tersenyum sambil menggenggam senjata mereka masing-masing.
Salah satu dari mereka, Pria berotot yang menggenggam senjata kapak bersuara. "Kalian kira, kami tidak tau keberadaan kalian ?" tanyanya sambil tersenyum.
Lalu ia menambahkan. "Jangan remehkan kami. Meski kami terlihat payah, setidaknya kami bisa menggunakan Sihir pendeteksi walaupun tidak sempurna."
"Mungkin, mereka ingin menyerahkan diri mereka kepada kita." salah satu anak buahnya yang menggenggam senjata pedang.
Lalu anak buag yang menggenggam senjata gada berkomentar. "Lebih baik, kita mengajari mereka, apa itu arti dari kenikmatan sebelum mereka disembahkan."
"Benar. Mereka berdua sungguh bening. Aku tak ingin mensia-siakan kesempatan ini." ucap anak buah yang menggenggam tombak.
Lalu anak buah yang memiliki senjata busur panah, ia mengesek-gesekkan kedua telapak tangannya, seakan ia tak sabar. "Lihatlah, tak hanya cantik dan bening, dari penampilan dan pakaian mereka saja, mereka pasti dari kalangan Bangsawan. Ahh, ini sudah membuat gejolak lelakiku tak sabar."
Tak ada yang bersuara. Mereka semua hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Yang menandakan setuju. Lalu pemimpin mereka menjawab. "Boleh juga apa yang kalian katakan. Kita tidak boleh melewatkan bagian penting sebelum mereka dijadikan sesembahan."
Queen dan Willa yang berdiri bersebelahan di depan mereka ber-6 saling melirik. Tak di disangka oleh ke-6 bandit itu, Queen melompat ke kanan dan Willa melompat ke kiri. Mereka berdua berpisah menjauhi ke-6 bandit itu.
Tentu saja, itu membuat mereka ber-6 marah. Pemimpin mereka bersuara. "Sial...!! Jangan biarkan mereka kabur dari sini !!" lalu ia membagi kelompoknya menjadi 2. Masing-masing berjumlah 3 orang untuk mengejar Queen atau Willa. Mereka pun mulai bergerak.
.....
Disisi Willa, ia berlari menjauhi ke-6 bandit itu. Willa berlari dalam kecepatan layaknya manusia normal. Karena sudah dipastikan, ke-6 bandit itu belum menyadari kalau dirinya adalah Vampir. Dan mungkin juga dengan sahabatnya belum menunjukkan jati dirinya.
Willa terus berlari di wilayah Desa Harun, ia tak berlari keluar dari wilayah desa itu. Disamping menjauhi ke-6 bandit, ia berlari berkeliling di desa untuk memastikan ada keberadaan seorang warga atau kelompok warga Desa Harun.
Willa pun bergumam. "Sepertinya, di Desa ini sudah tidak ada penghuni sama sekali."
Lalu Willa teringat sesuatu. Yang dimana ke-6 bandit itu akan melakukan persembahan. "Masalahnya sekarang, dimana mereka menyekap semua warga ?"
Willa terus berlari berkeliling dan memutari wilayah Desa Harun. Ia benar-benar tidak bisa merasakan keberadaan seseorang. Lalu ia merasakan 3 sosok yang juga berlari mengejarnya. Tak perlu menoleh, atau melirik ke kebelakang, Willa sudah menduga siapa yang mengejarnya.
.....
Sedangkan disisi Queen, berbeda dengan Willa. Ia tak berlari, melainkan ia berdiri anggun layaknya seorang Gadis Bangsawan, meski ia sendiri bukan dari kalangan Bangsawan. Ia berdiri memandang ke-3 bandit yang juga tak berdiri tak jauh dari hadapannya.
__________________
Jangan Lupa Like.