
Langit sudah gelap, dan memang hari sudah malam. Seharusnya para ke-6 Bandit itu tak datang, jika tidak mungkin nasib mereka masih dibilang beruntung. Lebih baik seharusnya mereka tak berbuat jahat dan sejenisnya. Mau berubah, sudah sangat terlambat. Dari ke-6 itu, 3 diantaranya sudah kehilangan nyawa. Peter membunuh mereka dalam sekejap. Peter adalah orang yang tak mau berlama-lama dalam membunuh orang. Lebih baik memberi mati tanpa rasa sakit kepada musuhnya.
Peter yang telah selesai membunuh 3 bandit. Ia lalu menoleh ke arah tempat yang terlalu berisik. Ya, yang dimana tak jauh darinya yaitu dimana Queen tengah berasik-asik menyiksa ke-3 bandit lainnya yang menjadi lawannya. Masing-masing dari ke-3 bandit yang tersisa, sudah kehilangan kaki kanan mereka. Ke-3 bandit itu, merayap di tanah ke arah mana tak menentu.
Suasana hati mereka saat ini adalah panik, rasa sakit, ketakutan, penyesalan, dan lain-lain menjadi satu. Mereka menangis seakan mereka benar-benar sudah kapok. Entah kapok karena menjadi penjahat atau kapok karena telah berurusan dengan sosok Gadis setengah Vampir atau Vampir Gila.
Jujur saja Peter yang melihat ke-3 merasa tak tega, ia masih memiliki rasa kemanusiaan dan sedikit kenaifan . Menurutnya seharusnya Queen lakukan apa yang ia lakukan terhadap lawannya, membunuh tanpa memberi rasa sakit, itu sudah cukup. Dalam batinnya ia berkata. "Apa dia tak memiliki rasa kasihan sedikit saja. Ya sedikit saja."
Sedangkan Queen, ia tengah duduk di batang pohon besar yang terbaring di tanah. Tangan kirinya masih menggenggam tongkat sabitnya, sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah lengan kaki yang penuh dengan darah yang mengalir. Queen menghisap darah yang terus keluar. Selesai sudah, ia membuangnya dan memandang ke-3 yang sudah ia buat kehilangan kaki mereka.
Ia bergumam. "Tak ku sangka, darah Elf sangat enak."
Saat akan bangkit dari duduknya, tiba-tiba dari belakang ada 2 tangan dan memegang kedua pundaknya dan menahannya agar tetap duduk. Lalu terdengar suara. "Cukup. Queen. Jangan buat mereka lebih menderita lagi."
Dia tak lain Peter, yang bergerak secepat kilat ke belakang Gadis setengah Vampir itu. Sedangkan Queen, ia tak menjawab, pandangannya terus ke arah ke-3 bandit itu. Ia menepis kedua tangan laki-laki muda itu dari kedua pundaknya, lalu ia berdiri, dan langsung melayangkan tongkat sabitnya ke arah Peter.
Wusss...!!
Peter langsung berpindah cepat, ia langsung berada di samping Gadis setengah Vampir itu. Namun, Queen melayangkan lagi senjatanya. Peter pun melompat mundur. Queen pun mengarahkan tongkat sabitnya ke arah Peter. "Jangan menghalangi kesenanganku !!"
Peter mengerut dahinya. Ia memandang Queen dengan rasa kesalnya. "Queen, setidaknya punyalah rasa kasihan sedikit saja, cukup beri satu serangan yang membuat mereka mati tanpa rasa sakit. Itu sudah cukup."
Gadis setengah Vampir itu tersenyum dan menjawab. "Aku bukan orang naif sepertimu." ia pun langsung bergerak maju ke arah Peter dan menyerangnya.
Tang....!!
Suara benturan antara pedang katana dan tongkat sabit. Peter menahan serangan Queen. DUGH...!!
Peter pun terdorong kebelakang beberapa meter setelah mendapat tendangan dari Gadis setengah Vampir itu di perutnya. Ia sedikit menunduk tubuhnya, tangan kirinya memegang perutnya yang menurutnya lumayan sakit. Disisi Queen, ia melompat maju ke arah Peter.
Peter yang melihat itu tentu saja dengan mudah menghindar. Ia bergerak ke samping. Lalu melompat sedikit menjauh dari Gadis setengah Vampir itu. Mengherankan baginya, karena hanya masalah sepele, Queen menyerangnya tanpa peduli siapa itu dirinya.
Perlahan, senyuman Queen menghilang, ia memandang dingin ke arah Peter. "Rekan ? Aku tak pernah menganggapmu rekan ataupun teman."
Peter berdiri, ia memandang datar ke arah Queen. "Jadi selama ini kamu menganggapku apa ?"
"Kau hanya sebatas yang akan menjadi mangsaku. Kau tau, aroma darahmu itu sangat enak, berbeda dari yang lain. Jadi jangan salah paham, aku datang padamu, aku mengikutimu karena aku tak ingin darahmu terbuang sia-sia bila ada musuh yang bisa mengalahkanmu, atau aku juga tak ingin ada Vampir yang tiba-tiba mengincar darahmu." jawab Queen, perlahan ia memperlihatkan senyuman seringainya kembali.
Peter terdiam memandang Queen. Mereka berdua pun saling melempar pandangan mereka. Peter pun teringat, akan tugasnya, ia mengela nafasnya, sejenak ia memenjam kedua matanya, lalu membukanya dan memandang Gadis setengah Vampir itu, dengan senyuman ramahnya. "Aku terlalu bodoh, dan naif. Seharusnya aku sadar, apa tugasku di Dunia ini." ya, dia teringat tugasnya yaitu membujuk Queen ikut dengannya dan menemui Pak Tua penjaga Multiverse.
Queen masih saja tersenyum. Ia sedikit memiringkan kepalanya. "Kalau kau sadar, seharusnya kau tak perlu ikut campur kejadian yang menyangkut di Dunia ini. Dan juga, seharusnya kamu tak menghalangiku atau merubah kebiasaanku. Memangnya aku ini siapamu. Kau hanyalah pemuda asing yang tiba-tiba datang padaku, seakan kau akrab denganku."
Peter masih tersenyum ramah. Ia pun memasukan pedangnya ke dalam cincin penyimpanannya. Ia berjalan ke arah Queen dengan tenang. Sedangkan Queen, ia juga berdiri tenang, ia sudah tak menampilkan senyumannya, ia memandang dingin ketika laki-laki muda itu mendekatinya. Namun, rupanya Peter hanya melangkah melewati Queen begitu saja, lalu langkahnya terhenti.
Mereka berdua berdiri saling membelakangi dalam jarak 3 meter saja. Peter bersuara. "Terimakasih, karena kajadian ini, aku sadar akan tugas yang seharusnya aku lakukan. Yang seharusnya tugasku untuk membujukmu, tetapi aku malah terbawa perasaan, dan suasana di hatiku ketika bersamamu. Bukankah jelas sekali, bahwa tugasku gagal."
Queen masih diam, Peter bersuara lagi. "Lebih kamu kembali ke Kota Kerajaan. Biarkan aku sendiri, lagi pula tempat ini masih di dalam wilayah Kerajaan Ophelia. Mungkin ini bukan tugasku yang sebenarnya, tetapi akan tetap kulakukan. Setelah kuhancurkan Segel yang ada di Kerajaan Marigold, aku akan pergi meninggalkan Dunia ini."
Zzzzz..., Tubuh Peter terselimuti Petir berwarna biru.
Wusss.....!! Dalam sekejap, ia sudah menghilang, dari tempat itu. Ia bergerak secepat kilat meninggalkan Queen disana. Tak masalahlah meninggalkan Queen, lagi pula, Gadis setengah Vampir itu tidaklah lemah.
Queen yang masih berdiri diam, ia menoleh ke belakang. Sosok laki-laki muda itu benar-benar sudah tak terlihat. Ia menoleh ke arah 3 bandit yang kehilangan kaki kanan mereka akibat ulahnya. Mereka bertiga telah terdiam, di tempat, tepatnya mereka telah mati kehilangan nyawa mereka akibat banyak kehilangan darah, sehingga mereka mati secara.
Gadis setengah Vampir itu sudah tak mood lagi meminum darah dari para korbannya. Ia memasukan kembali senjatanya ke dalam gelang penyimpanannya. Queen pun memilih pergi meninggalkan tempat itu. Ia memutuskan pergi dan kembali ke Kota Kerajaan Ophelia. Hari yang sudah malam, membuatnya harus pulang sendirian.
__________________
Jangan Lupa Like.