
Unexpected
"Bangun...(ngab,subuh)" ujar seseorang.
"Hey,bangunlah...(bangun we,cuci muka,wudhu sholat subuh)" ujar orang itu lagi.
Rukaman tersadar di sebuah padang pasir berbatu yg tandus.
"Ini...dimana...?" tanya Rukaman dengan wajah yg mengantuk.
"Bangunlah...sudah dari tadi kubangunkan kau. Sepertinya kita dipaksa tidur oleh segel ini. Tp seperti yg kuduga kau punya 'antibodi' tersendiri dari segel ini" ujar Suzaku.
Rupanya sosok yg sejak awal berusaha membangunkan Rukaman adalah Suzaku.
"Bangun? Apa dari tadi kita tertidur?" tanya Rukaman.
Suzaku tak menjawab pertanyaan itu langsung. Dia tak ingat apa yg terjadi sebelumnya hingga tiba-tiba bisa terdampar ditengah padang pasir.
*srek*
Tubuh Shizue bergerak. Dia juga sepertinya terbangun.
Ada Hana,Shizue,Suzaku,Gin,dan Rukaman diarea itu.
Suzaku dan Rukaman berpikir keras. Mengingat-ingat apa yg terjadi. Namun seolah seperti ada penghalang dikepala mereka untuk mengingat itu.
"Sudahlah tak perlu ambil pusing dulu kita bangunkan mereka." ujar Suzaku yg mulai menggerak-gerakkan badan Gin dan Hana yg masih tertidur pulas.
Shizue mulai terduduk dan berusaha sadar dari tidurnya.
"Tunggu..." ujar Rukaman. Batinnya tak enak,dia merasakan hal yg janggal.
"Suzaku hal yg terakhir kau ingat apa?" tanya Rukaman.
"Hmmm...kurasa aku masuk ke sebuah portal,bersama beberapa orang lainnya yg tak kuingat. Katanya kau dalam kesusahan. Tp bangun2 kita sudah disini." ujar Suzaku.
Shizue yg baru setengah sadar ditanya hal serupa oleh Rukaman.
"Entahlah,kupikir hari ini aku akan bersantai menikmati teh pala hasil impor dari negara tetangga. Tp kenapa bisa ada disini ya... entah...lah" ujar Shizue tertidur kembali.
Dugaan Rukaman tepat. Sepertinya ada yg menghalangi/menyegel ingatan mereka.
Tp siapa?
Rukaman berusaha keras mengingat kembali sebab dan tujuan mereka,lalu alasan kenapa mereka bisa terdampar di gurun batu itu
Rukaman memperhatikan sekelilingnya.
'Ketakutan' , 'dendam' , 'benci' , 'amarah', 'putus asa'.
Semua emosi itu seolah-olah dia rasakan dari sayupan udara lembab di gurun yg sedang mendung itu.
*Braakkk*Brakk*
Dua tubuh manusia dilempar oleh sosok perempuan kecil berbaju merah yg dulu sangat dikenali oleh Rukaman.
Ingatannya kabur. Perlahan memori masa lalunya semakin menghilang. Rukaman dan Suzaku merasakan sakit kepala yg luar biasa saat berusaha mengingat-ingat kembali apa yg telah terjadi.
Tp setidaknya dia masih mengenali sosok itu dan sosok dua tubuh yg dilemparnya.
"Yuzuru!!! Apa yg kau lakukan pada Ayako dan Ryuuzaki!!!????, Kenapa mereka babak belur seperti itu!!!??" ujar Rukaman geram.
Rukaman dengan pandangan yg masih kabur mendekat kearah Yuzuru.
Rukaman dgn geram menarik kerah leher baju Yuzuru. Seketika itu dia baru menyadari bahwa Yuzuru juga babak belur dan berdarah-darah. Tangan Rukaman yg hanya memegang hoodie merah Yuzuru saja memerah total dilumuri darah.
"Rukaman,keputusanmu datang ke dunia ini adalah salah besar. Di dunia ini ingatan dan memori masa kecil bisa dimanipulasi dan dijadikan bahan kekuatan." ujar Yuzuru.
*Splah*
Yuzuru menampar tangan Rukaman yg menarik kerahnya.
"Walau kau tak ingat,tp karena kau sudah sadar. Bantulah aku. Shyva dan Aiko masih ditangannya." Ujar Yuzuru sambil membalikkan badan menunjuk seseorang.
Rukaman dan Suzaku akhirnya sadar disekitar mereka ada sebuah penghalang tak kasat mata yg melindungi mereka dari kabut aneh yg tiba2 muncul entah dari mana.
Samar2 sosok perempuan berambut panjang berwarna putih berkulit gelap disertai dengan sosok perempuan berambut pink panjang dengan pakaian serba hitam. Memegang tongkat baseball besi berlumur darah serta sedang mengunyah permen karet terlihat di sebuah sudut di gurun.
"Izuna?? Mengeluarkan? Siapa dia? Apa maksudnya? Shyva...siapa...dia?" kepala Rukaman mulai diserang pusing yg luar biasa. Nama Shyva mulai samar dia lupakan. Begitu juga dengan Nama Izuna.
"Tak perlu diingat. Intinya, sekarang kita dalam bahaya. Kalau masih mau hidup kita ulur waktu sebisa mungkin hingga bala bantuan datang. Shinobu dan Rees masih berusaha menenangkan Kuro yg mengamuk dilain sisi.
Setelah Kuro ditenangkan dan Hilda disembuhkan. Kurasa mereka akan menyusul kemari. Kalau kau bertanya kenapa Ryuuzaki dan Aiko bisa ada disini. Jawabannya sederhana. Orang itu penyebabnya.
Beruntung bagi Ryuuzaki,karena dia pingsan saat kalah melawan Aiko di saat-saat akhir. Jd aku bisa menyelamatkan dia. Tp malah buat Aiko yg langsung diserang dan ditangkap oleh mereka berdua.
Lalu Izuna masih terlibat pertarungan sengit dgn Sakura yg menyusulnya. Kuharap dia baik2 saja.
Jd didepan kita ada Zimi dan musuh bebuyutanku di perang melawan Kage Oushima beberapa waktu lalu.
Hinata Kawaragi"jelas Yuzuru.
"Tunggu...pelan2 ngab...aku pusing. Kau seakan ingin menjelaskan dengan sederhana. Tp justru kau memberikan informasi yg sangat kompleks ini sekaligus dan tiba-tiba." ujar Rukaman.
"Haha...tak masalah. Pasti kau akan terus mengingat kata2ku suatu saat nanti walau kau tak paham saat ini" ujar Yuzuru sambil menghunuskan pedangnya.
"Tunggu...jelaskan dulu woy...apa maksudnya memori dan ingatan bisa jadi sumber kekuatan? Dijadikan sumber? Oleh orang itu? Berarti ingatan kita diambil oleh dia???" ujar rukaman mengintrogasi.
Jelas dirinya sangat tak terima jika memori dan ingatannya diambil begitu saja. Banyak hal yg berharga serta mampu dia ambil pelajaran dari pengalaman yg telah dia rasakan.
'masa lalu membentuk dirimu' merupakan sebuah konsep pembentukan jiwa,dan diri seseorang yg berasal dari 'ingatan' yg berharga lalu orang ini mengambilnya begitu saja.
"Kau!!! Urghhh...Siapa namamu..." rukaman mulai tak ingat siapa nama sosok didepannya.
"Yu...Yuzu...Aaahh!! Siapapun itu. Jelaskan terlebih dahulu woy!!! Jgn seenaknya!!!" ujar Rukaman.
Yuzuru tersenyum lalu menatapnya dengan tatapan kosong.
"Gunakan insting saja..." ujarnya
"Insting gimana??? Kita tak ingat siapa musuh siapa kawan bisa sangat berbahaya. Jelaskan semua dan kembalikan ingatanku!!" ujar Rukaman yg perlahan mulai kehilangan hampir seluruh ingatannya.
Langit terlihat sangat gelap. Diatas kepala mereka seperti ada aura ungu yg perlahan-lahan masuk mengarah ke Hinata Kawaragi.
Hinata memegang tubuh Shyva yg makin lama makin menggeliat kejang-kejang. Siapapun tahu kalau Hinata sedang memasukkan energi negatif dan energi2 yg diambil dari ingatan mereka.
"Maaf..." ujar Yuzuru lagi-lagi dengan tatapan kosong.
Aura Yuzuru yg sangat pekat perlahan menipis. Berganti menjadi aura monster yg sangat kentara seperti yg dulu rukaman rasakan ketika bertemu Yuzuru di Q.
"Maaf...aku bahkan tak ingat lagi siapa diriku" ujar Yuzuru yg menyeringai dengan sangat mengerikan.
"Tp setidaknya instingku mengatakan dialah musuhnya"
*Dhhhuuaaaasshhhh*
Yuzuru menerjang kuat kearah Hinata bak hewan buas. Sebuah pertarungan sengit terjadi didepan mata. Yuzuru terus tertawa seperti psikopat yg sangat menikmati pertarungan berdarah-darah.
Pola bertarungnya kacau. Dia saat ini tak lebih dari hewan buas yg ganas berusaha menerkam mangsanya. Dia hanya bertarung dengan instingnya.
Shyva dan Aiko dibawa oleh perempuan berambut putih itu.
Tak ada yg terbangun kecuali Rukaman dan Suzaku. Rukaman & Suzaku tahu mereka harus mengejar perempuan rambut putih itu.
"Zimi,Bajingan!!!! Kembalikan mereka berdua!!!" ujar seorang berpakaian ksatria serba emas.
*ssssraaashhh*
"Bisa-bisanya kau bekerjasama dengan Hinata Kawaragi yg merupakan bawahan Kenja lawan kita dulu. Dimana harga dirimu!?"
"Alice ya...mau apa kau?? Dan jgn salah paham. Hinata juga keluar dari organisasi Kage Oushima. seperti yg kulakukan juga kepada kalian. Aku dan dia saat ini berstatus bebas. Kami punya target dan tujuan yg berbeda dari dulu. Kami bekerjasama karena tujuan kita saat ini sama." jelas Zimi.
"Apanya yg sama???? Apa rencanamu!? Akan kubuka mulut durjana mu itu untuk menceritakannya di meja interogasi nanti" ujar Alice dengan
Jutaan klip daun bunga matahari emas yg sangat tajam berukuran kecil,kokoh,keras dan sangat tajam dia kendalikan hingga terbentuk seperti ombak raksasa mengelilingi Zimi.
"Itu kalau kau bisa menangkapku" ujar Zimi.
"Kuharap aku tak perlu mencincang mu dengan jutaan pisauku. Tp keputusan ada ditangan mu. Apa kau akan menyerahkan diri? Atau kau akan berakhir menjadi serpihan?" ancam Alice.
....Bersambung.