The Visitor Series

The Visitor Series
Zimi



                 Zimi Samune


   "Aku...tidak terlambat...kan..? Hehe..." ujarnya. Seketika Patricia terbelalak melihat sosok di depannya yang menghentikan dua serangan pamungkas sekaligus.


  Patricia dan Hilda terlilit ranting pohon yang sangat banyak, yang membuat keduanya tidak bisa bergerak sama sekali. Akar itu juga menyedot 'mana' yang mereka punya sehingga membuat mereka semakin melemah. Hilda pingsan pada serangan terakhirnya. Nampaknya dia benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan dan harapannya pada serangan terakhir sebelum benar-benar kehabisan tenaga karena sebelumnya disedot terus menerus oleh Patricia. Disisi lain Patricia yang masih segar bugar dan sejak awal tidak menggunakan 'mana' sama sekali merasakan kelelahan sedikitpun. Meski begitu dia tetap terkejut karena kedatangan seseorang yang sangat dia


kagumi sebagai, teman, guru, bahkan rivalnya.


   "Ini...jukai..koutan?.." gumam Patricia sambil keringat dingin terus mengucur dari keningnya. Kemudian batang-batang pohon tersebut menurunkan mereka berdua. "Halo Patricia bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita saling bersapa." ujar perempuan itu dengan ramah dipenuhi senyumam. "Ba.. Baik... ada urusan apa Ketua Divisi 5 kemari. Bukan bermaksud lancang merupakan sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda, namun berkenankah Ketua memberitahu maksud kedatangannya?" Ujar Patricia sambil buru-buru menunduk berlutut.


  "Hentikan, kau tidak perlu berlutut. Jangan juga terlalu formal denganku. Kau membuatnya seolah aku orang yang arogan." ujar Perempuan itu sambil menjulurkan tangannya. "Tapi, guru. Ini bentuk penghormatan ku kepadamu, kau juga memiliki pangkat yang tinggi aku merasa tidak nyaman kalau berbicara lepas dengan orang hebat sepertimu". "Ah..ayolah Cia...(Patricia) kau tidak perlu berbicara seperti itu, kalau kau tidak setidaknya saat kita berduaan seperti sekarang ini kau tidak apa apa berbicara lepas. Lagipula aku ini temanmu terlebih kita ini seumuran. Panggil saja namaku. Jangan gitu ah, nggk enak jadinya. Hihi" ujar perempuan itu.


  "Ba.. baiklah... Zi... Zimi.. " Ujar Patricia malu-malu menyebut nama temannya itu sendiri\, wajah patricia sendiri memerah karena malu. *gyyuutt* "Kyyaaa... kau masih imut seperti biasanya Cia" ujar Zimi kegirangan sambil mencubit pipi temannya itu. "Aaahhh...he..hentikan...dong!" ujar Cia sambil menepis tangan Zimi. "Hihi sepertinya hanya aku yang bisa melihat sisi imut Cia. Karena biasanya kau hanya memperlihatkan ekspresi yang nampak seperti kakak perempuan yang dapat diandalkan. Aku jadi ingin tau alasan mengapa kau bisa seimut ini kalau kujahili. Apa jangan-jangan... kau... menyukai.. ku..?" ujar Zimi. "Ah...masa bodoh dengan itu...\, berisik kau! " bentak Patricia sambil memalingkan wajahnya yang semakin memerah karena tersipu malu.


  Tiba-tiba zimi memeluk Patricia dari belakang. "Aku juga menyukaimu kok. Cia... " Ujar Zimi lirih, sambil merangkul leher Patricia. "Kyaaa..... Zimi.... zimi-sama... menyukaiku... " jerit Patricia dalam hati, wajah Patricia memerah padam bahkan asap seakan mengepul dari kepalanya. Kepala particia saat ini mulai pusing karena mabuk cinta, kosong tidak bisa memikirkan apapun kecuali tentang satu orang. 'Zimi Samune' rupanya dia terkena penyakit cinta yang akut pada atasannya sendri.


   "Tu... tunggu... kau tau aku akan jadi begini kalau bersamamu... tapi kau belum menjawab pertanyaanku.... zi.. zimi.. " ujar Patricia sambil malu-malu. "Ehmmm... maaf Cia tapi bagian itu tidak bisa kujawab" ujar Zimi sambil tersenyum seolah menutupi sesuatu. "Eh... tidak adil, Zimi-chan. Aku harus menyelesaikan tugasku disini. Kalau ada campur tangan dari Divisi lain, maka kita harus mengkonfirmasi terlebih dahulu apa urusannya sebelum kita mundur." Ujar Patricia. "Aduh... sekali ini saja boleh ya... lepasin aku dong.. " ujar zimi sambil memohon dengan ekspresi yang memelas. "Kyaa... Zimi... zimi sama snagat imut... Jantungku tidak kuat... ugh ini berbahaya untuk kesehatan jantungku" gumam Patricia sambil tetap berusaha menahan ekspresi kegirangan nya. "Maaf zimi, tetap tidak bisa. ". " Iih pelit kalau begitu kuberi kau sedikit 'hadiah' boleh kan?". "Ha... hadiah.. ap.. "


  *Chhhuuuu...* Belum sempat Patricia menyelesaikan kata-katanya\, tiba-tiba saja Zimi mencium bibirnya. "a... Apa yang kau lakukan!!? " teriak Patricia sambil semakin memerah malu. *Chuup.. sllrpp* Zimi kembali mencium bibir Patricia\, kali ini Zimi mencumbunya dengan agresif\, mereka berdua bahkan sampai bertukar ludah\, bermain lidah. "phwaah... sesak... aku kesulitan bernafas..." ujar Patricia. *grep* Zimi terus saja mencumbu Patricia dengan ganas\, Patricia yang merasakan 'kenikmatan' bercumbu pun mulai kehilangan kesadarannya. (intinya jadi makin ***** berat gitulah) Tidak berhenti sampai situ\, Zimi juga membuka beberapa kancingnya sendiri serta memperlihatkan 'buah dada' nya yang masih kecil berwarna pink. Melihat hal itu membuat Patricia menjadi semakin menggila. Lalu Zimi membuka kancing Patricia serta meraba 'buah dada' besar dibaliknya\, dan memainkan isinya. Tahap terakhir bagian bawah kewanitaan yang sensitif juga ikut dimainkan oleh Zimi. Sampai di titik Patricia sudah total 'terkendalikan' tubuhnya oleh Zimi.


   "Ugghh, kyyaa...aaahhhhnnn " Desah Patricia sambil terus diraba dan dicumbu. Sampai saat momen Patricia dibuat 'keluar' oleh Zimi, dia merasakannya kaki dan tubuhnya lemas dan akhirnya dia pingsan karena tidak kuat menahan 'getaran cinta' dan 'gejolak birahi' yang dia rasakan.


         Rencana menghindari bencana


  Saat Patricia dicumbu. Hilda sempat sadarkan diri dan melihat pemandangan 'menggairahkan'.


  Ketika Patricia pingsan. Pakaiannya kembali dirapihkan oleh Zimi. Zimi juga merapikan pakaiannya kembali.


  "Menjijikkan... " ujar Hilda lirih. "Ah kau jahat sekali... itu tadi enak sekali loh...sllrpp " ujar Zimi sambil tersenyum. "Kau sudah sadar?" tanya Zimi meneruskan. "Apa maksudmu melakukan hal-hal yang tidak senonoh seperti tadi? Apa hanya karena kau ingin menghindari pertanyaan yang merepotkan? " tanya Hilda.  "Wah kau cerdas. Ya hanya dengan itulah aku bisa menghindari pertanyaan nya. Dan dengan cara itulah aku bisa 'mengalahkannya' tanpa menggunakan kekerasan. Walaupun aku juga pernah 'melakukannya' dengan 'keras' diranjang bersamanya. hihi. Seandainya dia lebih bisa mengendalikan dirinya dan tidak mencintaiku dia pasti bisa melampauiku" ujar Zimi sambil tetap tersenyum.


  "Kau...!! " Hilda menatap dengan heran. "Jangan salah paham aku bukan Yuri tapi aku merasa tidak masalah untuk 'melakukannya' dengan laki-laki ataupun perempuan. Semua memiliki keindahan masing-masing. Yang terpenting adalah aku bisa 'menghisap' mereka.. sllpp... dan kali ini giliran dirimu yang akan 'kuhisap' " ujar Zimi dengan ekpresi *****. "Dasar pelacur!! " bentak Hilda. Zimi memindahkan tubuh Patricia ke sebuah pecahan dimensi yang dia buka gerbangnya dengan pedang.


... Rikujoukoro : Ruriiro Suji Sabaku" ujar Zimi.


   Lalu muncul sulur-sulur bunga teratai yang kuncupnya masih tertutup, mengikat tubuh Hilda lalu melilitnya. Sesaat Kemudian Hilda terhisap seluruh 'kekuatannya' oleh bunga itu. Dan bunga-bunga itupun mekar.


  "Selamat tinggal. Saat bunga-bunga ini bermekaran maka itu artinya target telah 'terhisap' dengan sempurna. Sekarang tinggal membawa tubuhmu ke markas saja." Ujar Zimi.


        Lelaki yang menjadi musuh dunia


Tiba-tiba *Swiinggg..... DHUUAARRRTTTZZ* Ada pedang hitam terlempar dengan keras mengarah ke Zimi. Meski begitu pedang tersebut terhenti tepat di belakang tubuh Zimi seolah ada penghalang tak terlihat yang menahannya. ".... " Zimi berbalik menatap sinis pada pedang hitam yang mengarah kepadanya. "Cara serangan yang mirip dengan misteltein-sama... " gumam Zimi.


   "Hilda!! Kau masih hidup? atau Sudah mati? " tiba-tiba ada laki-laki yang berdiri dibelakang Zimi entah dari mana, bertanya pada Hilda yang terkapar ditanah. Sulur-sulur tadi sudah disingkirkan dengan misterius oleh lelaki tersebut. Hilda sekarang terpakar tak berdaya di tanah, tubuhnya sangat kurus seperti tak berdaging, kulitnya snagat keriput, wajahnya pun terlihat seakan sudah sangat tua renta. Hilda nampak awalnya hampir sudah tidak bernafas, namun lekaki tersebut menyelamatkan nyawa Hilda dengan meminumkan darah miliknya dan Memberikan 'mana'/anugrah dalam jumlah besar untuk Hilda. Hal tersebut tidak mutlak menyelamatkan nyawa Hilda, namun memperbesar peluang keselamatan. Sisanya tinggal tergantung pada keinginan serta tekad Hilda sendiri dalam bertahan hidup.


  "Sejak kapan...? Hmmm... " gumam Zimi, berusaha tetap tenang walau dia juga sebenarnya terkejut. "Halo tuan... bolehkah aku berkenan mengetahui namamu?" tanya Zimi dengan sopan, tapi tetap tanpa berbalik. "Gadis muda. Bukankah sebaiknya kalau kau bertanya kau menatap lawan bicaramu?" ujar lelaki itu. "Kurasa tidak perlu." jawab Zimi.


"Dasar anak nakal... haah... " lelaki itu menghela nafas. "Kalau begitu, paman. Maukah kau menjadi teman 'bermain' nakal ku?... slrpp" ujar zimi sambil menjilat bibir nya sendiri. "Cih rupanya kau orang mesum. Biar kuberi kau 'sedikit pelajaran'  lalu dengan kekuatan dahsyat lelaki itu melancarkan sebuah pukulan mengarah langsung ke punggung Zimi.


  *Swiinggg\, slaaashshh*  Secara mengejutkan tiba-tiba saja tangan yang hendak memukul itu tercincang-cincang menjadi potongan-potongan kecil. Zimi memotongnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Saking cepatnya potongan itu bahkan menyebabkan suara dengungan yang seolah 'meledak'.


  *Dhuuasshhh* lelaki itu terkejut namun malah meluncurkan sebuah tendangan kearah Zimi tanpa pelindung. *Zraat* "hah? " Zimi tiba-tiba menghilang\, begitupun dengan kaki lelaki itu yng tiba-tiba hilang. Terlihat ada bekas potongan yang rapih sampai kepahanya.


  "Kau mencari ini,Tuan?" Zimi tiba-tiba muncul dibelakang,lelaki itu. Zimi terlihat 'menghilangkan'(maksudnya ditiadakan sementara, kayak dimasukkan kedalam inventori gitulah) pedang bagian kanannya(pedangnya Zimi dan Gin mirip-mirip). Dia memegang pedang ditangan kiri, dan memegang 'potongan' kaki ditangan kanan.


  Laki-laki itu menjaga jarak kemudian menyembuhkan luka-lukanya dengan sangat cepat. Lalu dia berkata "Gate" ribuan pedang muncul dari suatu portal dan mulai menghujani Zimi dengan sangat dahsyat. Zimi melambaikan tangan mengendalikan pasir disekeliling nya. Lalu membentuk bola badai pasir padat raksasa yang berputar pada kecepatan yang  sangat tinggi. Menepis semua ribuan pedang yang dilontarkan kepadanya. "Lumayan juga kau nak" puji lelaki itu. "Terimakasih, paman" jawab Zimi.


"Baiklah... sepertinya kau bukan bocah biasa, kau ku perbolehkan mengetahui siapa namaku...Namaku adalah Kuro Dark Dragon. Senang bertemu denganmu" ujar Kuro.


  "Wah terimakasih paman Kuro. Nama ku Zimi Samune senang bertemu denganmu juga" jawab Zimi dengan senyuman.


                         ... Bersambung