The Visitor Series

The Visitor Series
Gentlemen vs Bratty kid



     Pria Gentlemen melawan seorang...bocah?


   "Yak... Racun Mizuki dan luka-luka nya sudah mulai menghilang. Hmmm, yosh, yosh..." ujar seorang bocah berjaket merah, berambut hitam sepundak.


"Cih, kau benar-benar meremehkanku dan aku juga terlalu meremehkanmu ya?" ujar Jormungadr.


"Kau sudah cukup tenang ya sekarang? Apa amarah mu diawal tadi disebabkan oleh keterkejutan akan rekanmu yang tiba-tiba terluka parah?" balas bocah itu.


"Ya tepat sekali. Tapi... "


"Tapi...? Hmm" tanya bocah itu sambil memiringkan kepalanya tanda keheranan.


"Yah... menyatakan kau bisa mengalahkanku tanpa harus bergerak berpindah dari posisimu... bukankah itu pernyataan yang terlalu sombong?" ujar pria berambut putih, dengan pakaian dan aksesoris yang serba putih dengan tersenyum. Pria itu tidak lain, tidak bukan adalah Jormugandr itu sendiri.


"Hmmm? Memangnya kenapa? Kau nggk terima? Paman kau seperti anak-anak saja ya. Terganggu oleh ucapan remeh seperti itu ahahaha" balas bocah itu.


Tiba-tiba bocah itu terdiam lalu melanjutkan perkataannya.


"Tapi... itu benar, aku tidak berbohong soal itu.  Kau tahu paman? Ketika ada cahaya bersinar semakin terang pada saat itu jua lah bayangan akan semakin gelap dan pekat. Tapi aku sebenarnya bukanlah orang yang mempersoalkan filosofi seperti itu, bagiku,dapat mengetahui kondisi menguntungkan atau tidak sudah cukup."


"..." Jormungandr terdiam.


Lalu dia berucap "Nak..., siapa namamu?" tanya Jormungandr.


"Aku? Kok tiba-tiba tanya sih... mesum... hi.. seran" bocah itu menatap datar dan terlihat memgigil ketakutan.


"Aaarrghhh! Jangan bercanda! Sebutkan siapa namamu!" tanya jormungandr lagi memasang wajah sebal namun tetap tenang. Dia tertunduk memengang jidatnya seperti tidak tahan menghadapi sikap bocah didepannya yang bertingkah seenaknya dan tidak memiliki rasa hormat.


"Sebentar" ujar bocah itu.


*Krakkk\,krakk\, ziing*


Sebuah lubah hitam tiba-tiba muncul dan seolah memecah dan menghancurkan sedikit bagian dari udara disamping kiri bocah itu.


"Nah kau akan aman disitu" ujarnya sambil meletakkan tubuh Mizuki kedalam lingkaran hitam itu.


"Baiklah...namaku?"


  *Bwaatsss*


Saat sebuah bayangan menutupi seluruh badannya lalu menghilang. Seketika baju bocah itu berubah menjadi jas tentara polos tanpa corak berwarna hitam dengan hiasan warna merah disekitar kerah dan pergelangan tangannya. Dia juga memakai topi komandan dengan beberapa hiasan2 berwarna emas dan merah. Di dadanya bagian kirinya terlihat berbagai macam medali dan bagian kanan dadanya ada pin nama yang terbuat dari perak yang dibawahnya ada sebuah hiasan yang membentuk angka 3. Pin nama tersebut berukuran lebih besar dari pin nama biasa. Pin nama tersebut bertuliskan 'Leader of Third Division' lalu bertuliskan nama dari pengguna nya.


Kemudian muncul sebuah jubah kehormatan (haori) besar berwarna merah gelap yang kemudian dia kenakan. Pada jubah kehormatan nya bertuliskan secara vertikal dibelakangnya kalimat "dritte Katastrophe" yang berarti 'bencana (Catastrophe) ketiga'


*Saaaat*


Dia mengangkat tangan kanannya sambil memegang topinya lalu mengayunkan kearah samping depan sembari menekuknya lalu meletakkan tangan kanannya didepan dadanya. Lalu diapun membungkuk menghadap Jormungandr.


Sebuah sikap yang biasa ditunjukkan oleh gentleman saat memperkenalkan dirinya kepada orang lain, yaah walau bagaimanapun keliatannya dia tetaplah seorang bocah perempuan yang masih terlihat lugu.


  "Dengan penuh rasa hormat. Sang pemimpin divisi tiga dari organisasi W.S.D , Pemimpin dan pendiri para ksatria bintang (Strenritter). Serta salah satu orang yang dijuluki sebagai bencana (Catastrophe) setelah mendapatkan sedikit bagian kegilaan dari puncak harapan dan do'a manusia(Kenja no Ishi). Aku menyambut mu dan berkenan memperkenalkan diriku.


  Namaku adalah Yuzuru Nishimiya!!!"


  "Hmm...... Gyaahahahhaah" Tiba-tiba Yuzuru tertawa sendiri.


"Hmmm...haduuh seharusnya aku yang tertawa melihat dirimu yang sebenarnya tidak terlihat cocok dengan pakaian mu" ujar Jormungandr sambil memegang kepalanya. Pening baginya meladeni bocah narsis didepannya.


"Ahahaha, lucu bukan??? Terkadang kami diharuskan untuk bersikap seperti itu sambil mengenakan pakaian norak ini ketika ditempatkan di Kekaisaran yang dipimpin oleh senat bawahan dewan 'tujuh' (merujuk kepada asisten (baca : keluarga mertua) istri-isti Gunji), ataupun rapat-rapat penting yang turut dihadiri oleh semua petinggi dari berbagai penjuru.


Ahahahah, padahal kalau kami para catastrophe rapat dengan Gunji kami bebas mengenakan apapun dan bertingkah sebebasnya selama tidak mengganggu rapat.


Lucu bukan? Entah dewan tujuh atau Gunji Tsuchiya-Sama yang terlalu santai, atau para dewan senat yang terlalu gila hormat. Bahkan jubah dan pakaian ini mereka yang membuatnya khusus untukku." ujar Yuzuru.


"Haaa...? Bukankah seharusnya kau merasa terhormat mengenakannya setelah berbagai prestasimu yang dihargai oleh mereka? Kenapa kau malah merasa tidak nyaman dengan hal itu? " tanya jormugandr.


*BBBBWAAASSS*


Sebuah api hitam menyelimuti badan Yuzuru kemudian mengembalikan pakaiannya menjadi sedia kala. Hanya memakai jaket merah berrestleting putih, dengan celana olahraga kendor panjang dengan campuran warna merah dan putih. Memakai sepatu olahraga berwarna hitam merah.


"Hmm... aku lebih nyaman dengan ini." ujar Yuzuru. kemudian menjawab pertanyaan Jormungandr.


"Ahaha... paman, apapun yang mereka katakan soal kehormatan, kemuliaan yang didasarkan pada prestasi, rasa hormat orang lain pada kita, ketenaran, kekayaan... semuanya sama sekali tidak ada nilainya dihadapan kami.


Bukan tujuan kami untuk mendapatkan hal itu semua. Bagi kami hal tersebut hanya sebuah hal yang dapat mengganggu fokus pada tujuan utama.


Hal yang menggelikan, terkhususnya bagiku mempertaruhkan nyawa hanya untuk hal sia-sia seperti itu. Tujuan kami lebih tinggi dari itu semua. Seperti kata-kata seseorang. 'ein verdienstvolleres Ziel, dort sein Leben zu riskieren' yakni buat tujuan yang lebih pantas untuk mempertaruhkan nyawa disitu" ujar Yuzuru.


         Pria Cahaya vs Bocah Kegelapan


   "Cih... bagaimanapun kau itu masih bocah jangan bertingkah seolah kau bijak. Mempertaruhkan nyawa katamu? Apa kau benar-benar berani untuk mencoba hal mengerikan seperti itu? Bocah manusia sepertimu lebih baik kembali ke kampung halaman,kemudian sekolah dan mengenyam pendidikan yang baik. Lalu menikmati masa muda,melewati masa pubertas, mengenal percintaan, menikah dan memiliki anak. Menikmati masa tua dengan bermain dengan cucumu lalu meninggal dengan penuh senyuman ketika engkau merasa berhasil sebagai ibu ataupun nenek." ujar Jormungandr.


"Bocah? Ahahahah... orang sepertimu memang tidak bisa mengenal lawannya dengan baik dan lupa daratan. Meski aku tidak bisa memastikan berapa tepatnya tahun umurku. Tapi aku bisa memastikan aku bukanlah bocah lagi.


  Aku bahkan sudah lahir jauh sebelum Keraajan yang kalian datangi ini dibentuk."


"... " jormungandr terdiam.


  "Hooo... begitu ya. Aku tidak bisa menyangkal kata-katanya, sebagai salah satu Ancient Dragon yang biasa bertarung aku bisa merasakan bahwa orang didepanku bukanlah bocah biasa. Lagipula dari bahasa tubuh dan refleksnya terlihat kalau dia punya pengalaman bertarung yang mungkin saja ada diatasku" gumam jormungandr.


"Hhmmm? Kenapa tiba-tiba terdiam? Oh ya... aku tidak berbohong looohhh... Gunji bilang jangan jadi pembohong. Hihihi" ujar Yuzuru sambil tertawa sedikit.


"Tekanan auranya terasa saat percakapan barusan selesai ya? Sudah kuduga dia cuma berpura-pura. Kalau dia benar-benar Pemimpin divisi tiga, lalu bagaimana dengan pemimpin lainnya? Apakah mereka juga ada disini? Aku harus mempertimbangkan kemungkinan adanya musuh baru yang bisa merepotkan ku.


  Tidak boleh bertindak gegabah, diawal pertarungan dia bisa terus menerus dengan mudahnya menghindari seranganku. Kalau begitu aku harus bisa membungkamnya dengan serangan yang jauh lebih kuat dan cepat. Harus menyerang saat dia lengah dengan percakapan ini. Kesempatan hanya satu kali, kalau gagal terpaksa harus melawannya dengan seluruh kekuatanku agar tidak terkepung oleh pemimpin divisi-divisi lainnya" pikir Jormungandr dalam hatinya. Dia tahu kalau dia ada di sebuah dimensi/dunia antah berantah yang baru saja dia datangi. Dia belum mengenal dengan baik kemampuan musuh maka dia tidak bisa mengambil keputusan yang tak didasarkan perhitungan yang menguntungkan. Dia sadar harus menghindari pertempuran yang berlarut-larut atau dia akan terkepung.


"Kecepatan adalah berat... " gumamnya lagi.


"Yuzuru Nishimiya ya? Sebuah kehormatan diriku bisa melawanmu. Perkenalkan juga diriku. Aku adalah salah satu dari 6 Ancient Dragon. Para monster yang memiliki kemampuan yang dapat menghancurkan segalanya. Namun dapat memiliki wujud manusia dan berkomunikasi dengan mereka. Saat ini dunia kami sedang tidak berseteru dan semuanya menyetujui pakta untuk tidak saling menyerang antara pihak Ancient dragon,pihak Great Beast serta manusia.


Tujuan kami kemari bukanlah urusanmu. Tapi biarkan aku terhibur dengan kemampuan mu" ujar Jormungandr sambil menghunus tombak putihnya.


"Woaa... paman bukan manusia? Wah... lawan yang menarik, senjata paman juga tombak ya? Itu jadi mengingatkan ku pada orang ini...hampir saja terlupakan. Kau mau menyelamatkan orang ini kan?" ujar Yuzuru sambil tiba-tiba memunculkan tubuh Ayako dari dalam bayangannya.


"... " Jormungandr hanya mengamati.


"Ya, kau boleh mengambil nya kembali setelah kau berhasil menang melawanku"ujarnya sambil kembali memasukkan tubuh Ayako kembali kedalam bayangannya.


"Kecepatan adalah berat... kau pernah merasakan ditendang dengan kecepatan setara cahaya?" ujar Jormungandr lirih.


  *DDDHUUUUUUAAAAAAARRRRRRRRRR*


"Tapi itu tidak berguna kalau tendangan mu salah sasaran" balas Yuzuru.


Kaki Jormungandr tertahan, tidak sampai situ, kakinya tertancap pisau dan kemudian kakinya putus diakibatkan oleh efek dahsyatnya kekuatan tendangan yang dia sendiri kerahkan.


"...Gagal... " gumam Jormungandr.


  Lalu pada posisi melayang tersebut tanpa menyembuhkan kaki kirinya yang putus tersebut dia menyerang dengan kuat menggunakan tombak ditangan kanannya kearah Yuzuru.


*DDDDHHHHHHHHUUAAAAARRRRRRRR*


Sebuah ledakan yang memekakkan telinga, sebuah ledakan yang jauh lebih dahsyat dari senjata nuklir manapun. Jormungandr benar-benar serius mengerahkan seluruh tenaganya pada dua serangan kilat yang mematikan tersebut.


Serangan kedua yang dikerahkan oleh Jormungandr 1000 kali lipat lebih cepat dari cahaya. Efek ledakannya pun mencapai ratusan kilometer jauhnya. Dimana hal tersebut mengenai beberapa rekannya diberbagai tempat.


               *************


   Disuatu tempat dimana Ayame dan Orochi bertarung.


*Ctraaanngggg*


  "Uhuk... " Orochi terbatuk darah dalam wujud monster ular Raksasanya.


"Haaaahhhh.... Haaaaah... Haahhh" Ayame nampak terengah-engah dalam wujudnya yang sudah bersimbah darah.


"Haaahhh.... Hanya segini??? Hanya segini kemampuan mu ular sialan!!??" ujar Ayame.


"Sudah sekarat pun masih banyak bicara... dasar bocah sialan!! " balas orochi


"Haaah??? Liat siapa yang kehilangan banyak kepala dan ekornya. Liat dirimu kaulah yabg sekarat!!!"


"Jangan besar kepala Bocah!!! Rasakan ini!!! Ini akan menjadi serangan pamungkas penutup!!! Bolo Breeaaathh!!!"


Orochi kemudian membuka mulutnya dan kali ini mengumpulkan seluruh racun dan energi ledakan di mulutnya secara bersamaan membentuk bola hitam besar (kek bijuudama gitulah) yang siap dia tembakkan.


"Majulah!!! Ame no Habakiri : Daijutsu, Shiranui!!" teriak Ayame.


Kemudian tubuh aura susanoo & Yasha  menghilang lalu tubuh ayame melayang, dia berjalan diudara dengan menggunakan api merah darah sebagai pijakan. Tubuh Ayame dilapisi dengan warna api merah darah dan aura ungu pekat yang sangat menyeramkan.


"MAJULAH SIALAAANNN!!!!" Keduanya pun menyerang lawannya dengan sebuah serangan bertenaga maha dahsyat. Ayame dengan tebasan api merah pekatnya, dan Orochi dengan bola hitam nya.


  Namun... saat serangan keduanya hampir bersentuhan, sebuah cahaya putih datang dari bagian barat. Sebuah cahaya putih yang sangat nenyilaukan. Menghalangi pandangan keduanya.


"Apa ini?" gumam Orochi.


"!!??" Ayame terkejut melihat cahaya tersebut merusak danku miliknya.


  *ZZZRRRRKKKKK\, CTARR\, PYAAARRR*


  *DDDHUUUUUUUUUUAAAAARRRRRRRRRRRRRR*


Cahaya tersebut ternyata adalah sebuah ledakan maha dahsyat yang mematikan. Keduanya terkena efek ledakannya karena Danku yang dibuat Ayame hancur oleh cahaya misterius itu.


  *DDDDHUUUAAAARRRRRRRRRRRRZZZTTT*


Ledakan yang besar itu menyapu habis apa yang ada didepannya. Bahkan orochi dan Ayame pun langsung terpental jauh dalam kondisi tak sadarkan diri setelah terkena cahaya mematikan itu. Hal itu juga disebabkan oleh luka-luka yang telah mereka derita sehingga melemahkan keduanya. Namun meski begitu seharusnya ledakan nuklir saja tidak akan cukup menghentikan Orochi dan Ayame yang terluka. Ledakan cahaya tersebut jauh lebih kuat dari ledakan nuklir yang pernah ada.


Nampaknya pertarungan keduanya berakhir imbang bukan disebabkan oleh imbangnya serangan mereka. Namun faktor ketiga yakni ledakan cahaya misterius yang mereka berdua sendiri tidak tahu apa sebenarnya cahaya itu.


                *************


    "Haaaa?!!! Ayahmu??? Orang ini??? Tapi bagaimana bisa??? Dia masih bocah!!" Ujar Suzaku sambil menarik kerah Izuna. Dia tidak percaya apa yang dia dengar.


  "I... iya..." ujar izuna sambil pasrah.


"Bukankah dia sudah menjelaskan kenapa aku bisa awet muda?" ujar Tatara.


"Tunggu Hatsune-Zama. Kalau begitu... kita semua, bertarung sia-sia? Apakah mereka ini rekan atau lawan? Siapa yang telah mengadu dombakan kami dengan mereka?? Lalu, apa sebenarnya yang anda perbuat sebelumnya, dan kemana anda sebenarnya? Walau dia adalah ayahmu kenapa anda bisa bersama kenja no ishi lain,bukankah hal ini bisa dianggap pengkhianatan kepada Tsuchiya sama bila diketahui secara luas? Tolong kejelasannya Izuna Hatsune-Sama!!" ujar Shizue dengan penuh kecemasan.


  Kekhawatiran dan kebingungan Shizue bukan tanpa alasan. Kalau memang mereka di adu domba, siapa orangnya? Kenapa bisa? dan Bagaimana caranya? Kenapa dia mendapatkan informasi laporan yang datang dari intelnya bahwa yang datang adalah outsider yang memiliki hubungan dengan Kenja no ishi Oushima? Sejak kapan dipalsukan? Oleh siapa? Bagaimana?.


  Semua pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan dikepala Shizue. Dia sangat paham bahwa operasi ini dibawah tanggung jawabnya, kalau misalkan ini adalah ulah adu domba seseorang maka divisi 13 sudah disusupi musuh, dan bila ada korban dari pertempuran sia-sia ini maka menurut undang-undang militer maka Divisi 13 bisa saja dibubarkan atas kesalahan mereka.


Pengambilan keputusan untuk menyerang outsider adalah merupakan keputusannya juga. Pengadilan militer mungkin akan memberikan kompensasi hukuman karena jasa-jasanya selama ini. Namun kesalahan adalah kesalahan. Hal ini akan memberikan tekanan mental yang luar biasa bagi Shizue sebagai pemimpin.


"Tenangkan dirimu Shizue. Kau juga... hnmn... namamu?" tanya Izuna


"Suzaku..." jawab Suzaku sambil melepas kerah leher izuna.


"urgg... terimakasih" ujar Izuna.


"Ya.. ya" ujar suzaku sambil menghela nafas panjang tanda pasrah dan bingung.


"Biar nanti kujelaskan satu-persatu, perlahan-lahan saja tidak perlu terburu-buru. Untuk saat ini yang paling penting kita harus menghentikan semuanya." ujar Izuna.


"Jangan Khawatir Shizue. Aku tahu operasi militer ini dibawah tanggung jawab mu. Tapi jangan terlalu dipikirkan divisi 4 juga akan ikut menanggung konsekuensinya nanti. Untuk saat ini kita harus cepat bergerak. Itulah kenapa aku kemari." ujar nya lagi.


"Melihat kondisinya. Bukankah orang itu tidak ada hubungannya? Kenapa dia mengikuti mu?" ujar Suzaku menunjuk kepada Tatara.


"... " izuna hanya diam.


"Ayo.. segera... mungkin lebih baik kita berpencar supaya lebih cepat dan efisien."


  Saat mereka berbincang-bincang sebuah cahaya putih datang dari arah barat daya mereka. Sebuah cahaya kilat yang menyilaukan dan membawa ledakan malapetaka maha dahsyat.


Izuna menujuk ke tanah dengan dua jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan lalu menggesernya kekiri kemudian mengangkat jarinya. Seketika itu barir raksasa melingkar transparan melindungi mereka semua dari ledakan cahaya misterius itu.


  *DDDHUUUUUUUUAAARRR\, ZZZZZRTTTTZZRTTT*


Nampaknya ledakannya tidak cukup kuat untuk menghancurkan bahkan menggores barir yang dibuat oleh Izuna. Debu bertebaran dimana-mana sehingga menutupi pandangan sekitar diluar barir.


  Saat cahaya dan shockwave yang disebabkan oleh ledakan maha dahsyat yang berasal dari barat daya mereka sudah lewat, dan debu mulai menghilang. Mereka dikejutkan oleh pemandangan di sekitar mereka.


  "....woaaahh... dia mengamuk ya?" Ujar Suzaku.


"Haha...menggelikan" ujar Tatara.


"Waaah..." ujar Izuna pasrah. Dia berpikir betapa beratnya masalah yang sudah dia berikan kepada Divisi Ke Sembilan selaku pengurus pengawasan, dan perawatan alam. Tanggung jawabnya bisa lebih berat lagi kalau divisi dua tahu akan hal ini.


"Haaa...." Izuna menghela nafas panjang.


Barir pun dihilangkan. Nampaknya semua bagian tanah sejauh mata memandang diluar barir hancur dan terbakar berwarna putih dan hitam. sebuah pemandangan yang sering didapati pada perang dunia manapun. Sebuah efek ledakan yang seolah menyapu segala harapan dari insan-insan yang berusaha untuk bertahan dalam perang yang tiada akhir.


                   .... Bersambung.